Arshaka Beyazid Aksara, pemuda taat agama yang harus merelakan hatinya melepas Ning Nadheera Adzillatul Ilma, cinta pertamanya, calon istrinya, putri pimpinan pondok pesantren tempat ia menimba ilmu. Mengikhlaskan hati untuk menerima takdir yang digariskan olehNya. Berkali-kali merestock kesabaran yang luar biasa untuk mendidik Sandra, istri nakalnya tersebut yang kerap kali meminta cerai.
Prinsipnya yang berdiri tegak bahwa pernikahan adalah hal yang sakral, sekeras Sandra meminta cerai, sekeras dia mempertahankan pernikahannya.
Namun bagaimana jika Sandra sengaja menyeleweng dengan lelaki lain hanya untuk bercerai dengan Arshaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Flou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layani Saya, Sandra!
Mempertahankan seseorang yang sama sekali tidak bisa menghargai hanyalah akan berakhir sia-sia. Di usia pernikahan mereka yang masih seumur biji jagung saja, Sandra sudah menggoreskan luka amat lebar di hatinya dengan segala sikap yang perempuan itu tunjukkan. Bagaimana bila Sandra dia pertahankan hingga akhir?
Arshaka tak ingin menjalani hidup dalam rumah tangga yang jauh dari ketentuan syariat. Sandra tak hanya sulit diajak berdiskusi, tetapi juga enggan berjalan di jalan yang benar. Meski ia selalu berpegang teguh pada prinsip bahwa pernikahan adalah ibadah yang harus dijaga sampai akhir, tetapi beberapa kejadian belakang membuatnya berpikir ulang. Islam mengajarkan kesabaran, tetapi juga menuntun umatnya untuk bersikap bijak, bahwa hidup harus realistis, tetap berlandaskan Al-Qur’an dan sunnah.
Kembali mereka tinggal dalam satu atap sejak empat hari terakhir. Namun, perubahan yang sangat kentara tampak pekat dari Arshaka. Pemuda itu cukup mendiami Sandra. Bicara seperlunya hanya untuk mengatakan bahan masakan semua tersedia di lemari pendingin. Menjalani kegiatan masing-masing hingga terlihat sangat asing. Tanpa ada komunikasi seperti dulu.
Kegiatan Arshaka juga tidak banyak di dalam apartemen. Dia lebih sering di kampus, di masjid-masjid untuk mengisi ceramah dan juga perpustakaan kota. Kembali ke apartemen hanya sekedar untuk istirahat dan memastikan Sandra baik-baik saja.
Benar adanya jika titik kecewa tertinggi seseorang adalah diam. Sebab untuk apa lagi berbicara jika setiap kata yang tertutur tak lagi bermakna. Pada akhirnya, orang lebih memilih menyimpan semuanya sendiri, bukan karena menyerah, melainkan lelah tak pernah dipahami dan dimengerti.
Sekarang, ia baru saja menyelesaikan ritual mandinya pada pukul lima sore. Matanya menilik ponsel yang sedang dicharger, tak ada pesan penting, ia keluar dari kamar menuju pantry selepas mengenakan pakaian.
“Kak.” Melihat kehadiran Arshaka, Sandra yang sedang asik nonton film sembari memakan snack itu lantas segera menghampiri Arshaka.
Arshaka melirik sekilas pada Sandra. “Mn,” jawabnya bergumam sembari membuka lemari pendingin.
“Ajarin aku masak dong. Aku mau bisa masak biar jadi istri yang baik.” Walau diacuhkan sejak beberapa hari lalu, Sandra tidak lelah untuk mengajak Arshaka bicara.
“Istri yang baik untuk siapa? Pacar kamu itu, Regan?” tanya Arshaka menohok. Ia mulai mengeluarkan sayuran dan dada ayam fillet serta bumbu-bumbu yang dibutuhkan.
Sandra mengentakkan kakinya kesal. “Kok gitu sih? Jadi istri yang baik buat kamu lah!” balasnya mendengus pelan.
“Oh.”
“Oh doang?” Dia mendelikkan mata.
“Dua tangan saya masih lengkap. Uang saya ada. Jika malas masak bisa membayar orang atau gofood. Saya lebih senang meladeni orang yang tidak bisa apa-apa tetapi memiliki adab yang tinggi.”
“Ya udah kalo gitu ajarin aku.”
“Agar bisa menghinakan saya lagi?”
Arshaka mendesah berat saat Sandra memeluk dirinya dari belakang. Ia meletakkan pisau yang ada di genggaman tangannya. “Apa maumu, Sandra? Saya sudah diam menuruti inginmu, membebaskanmu melakukan apapun. Apa lagi yang kamu mau?”
“Ajari aku jadi istri yang baik. Aku beneran mau belajar. Jangan diemin aku lagi. Aku minta maaf,” tutur Sandra serak pun purau.
“Rencana apa yang sedang kamu jalani untuk bisa bercerai denganku? Tidak ada tanaman yang tumbuh subur dalam waktu semalam!”
“Nggak boleh aku jadi istri yang baik buat kamu, Kak?” Sandra melepaskan pelukannya saat Arshaka memutar tubuh hingga kini keduanya saling berhadapan.
“Kamu tahu, saya adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang tidak suka dibohongi! Apa yang kamu lakukan dengan anak dari om kamu selama kamu berada di rumahnya?!” desak Arshaka dengan mata memicing.
Pemuda itu menahan geram setengah mati. Sudah dia cari tahu seluruh aktivitas Sandra selama empat malam itu, tetapi tidak ada satupun jejak yang dia temukan. Bahkan cctv jalanan tempat pria itu menemukan Sandra juga tidak ada rekamannya. Namun, untungnya ia memiliki Kenneth, bocah tengil yang sangat berguna.
“Apa? Aku nggak ngelakuin apa-apa. Dia nemuin aku di jalan terus bawa aku pulang ke rumahnya.”
“Benarkah?” Sebelah alis Alkhaiz naik tinggi-tinggi.
“Kenapa nuduh gitu sih? Aku nggak ngelakuin apa-apa sama Farel! Lagian kita sodara ya!” Sandra berdecak sembari menghentakkan kakinya kesal. Dia bicara apa adanya, tidak melakukan apa-apa dengan Farel—anak omnya itu.
“Kalau begitu layani saya! Layani saya, Sandra. Layani saya malam ini,” bisik Arshaka tepat di telinga Sandra dengan penuh emosi terpendam. “Saya sudah kamu rendahkan dengan sangat hina. Maka bersedialah untuk berada di bawah saya dengan tanpa saya hinakan, juga untuk membuktikan tidak ada sesuatu yang kalian lakukan malam itu!”
Sandra merinding merasakan hangat embusan napas Arshaka di telinganya. Bulu kuduknya kontan berdiri, suara berat nan serak itu membuat tubuhnya meremang.
Arshaka. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, menatap dalam pada netra hitam Sandra yang tampak shock. “Pergilah jika tidak ingin membuat saya memaksakan kehendak!” ucapnya lalu kembali fokus pada bahan masakan.
“Kak ….”
“Saya tidak akan memaksa kamu untuk melayani saya walau saya berhak memintanya.” Lekat Arshaka menatap dalam hitam manik Sandra yang terpancar sedikit keraguan.
“Aku mau, aku siap,” balas Sandra lalu memalingkan wajah ke arah lain.
Arshaka termangu untuk beberapa saat. Ia raih dagu Sandra yang mencoba menghindari tatapannya itu. “Berterus terang lah pada saya, Sandra,” pinta Arshaka dengan nada rendah. Mempertahankan sorot mata teduhnya.
“Berterus terang apa?”
“Apa yang membuatmu tiba-tiba jadi seperti ini?”
Arshaka jelas tidak ingin terpedaya dengan sesuatu yang tampak di depan mata lalu berakhir terjadi malapetaka. Juga ada sesuatu yang menjadi pertimbangannya.
“Nggak ada. Aku nggak mau lagi jadi istri durhaka. Udah nggak ada yang temenin, nggak diterima di rumah, terus nggak diterima juga sama suami?” Sandra mencoba memberanikan diri untuk menatap Arshaka.
Diam, sinar mata Arshaka berpendar dengan sangat sulit diartikan. Menilik tanpa jeda pada wajah Sandra, mencari-cari kebohongan yang mungkin saja disembunyikan.
“Jujur, Sandra. Saya tidak suka dibohongi.”
Sandra kesal, dia dorong dada Arshaka seraya mundur beberapa langkah. Wajahnya memerah, mulai terpancing emosi dengan pertanyaan Arshaka yang terus memojokkan dirinya.
“Kamu nuduh aku tidur sama Farel terus ngelakuin hal yang nggak-nggak?” seru Sandra menatap Arshaka dengan kecewa.
Arshaka bersedekap dada, ia bersandar pada dinding, tatapan Alkhaiz terlihat semakin intens. “Kamu pikir saya bodoh? Setekah tanda kepemilikan di leher kamu, saya melihatnya walau tampak sangat samar! Kamu pikir saya percaya kalau tubuhmu tidak dijamah olehnya?!”
Kecewa yang Arshaka rasakan bukan main, saat ia mendapatkan penghinaan luar biasa dari Sandra, pria yang bahkan belum pernah Arshaka lihat batang hidungnya justru bisa menikmati tubuh Sandra walau ia tidak tahu seberapa jauh Farel melakukannya. Benar ia melihat bekas tanda kepemilikan di leher Sandra saat di lift kala itu, sebuah tanda yang sangat samar. Arshaka bukan lelaki bodoh yang tidak tahu itu apa.
Hal tersebut lah yang menjadikan alasan mengapa Arshaka sangat ingin mendiami Sandra. Hal itu pula yang membuat ia tidak henti-henti istikharah, bermunajat pada Tuhan, meminta diberikan petunjuk agar bisa bersikap lebih tegas atas pernikahan ini.
“Stop nuduh nuduh aku!” seru Sandra. “Aku nggak ngelakuin apa-apa sama dia. Tanda kepemilikan apa yang kamu maksud? Aku tidur di kamar adiknya dan bangun juga di kamar adiknya!”
“Sandra, Sandra, Sandra. Kamu tahu, semua lelaki itu bajingan! Begitu mudah kamu percaya padanya padahal kalian baru saja bertemu setelah sekian lama kamu tidak pernah sowan ke rumah Om-mu? Siapa yang bisa menjamin dia tidak melakukan sesuatu padamu saat kamu tidur? Tidurmu seperti mayat hidup, dari kasur dipindahkan ke tempat mana pun jika tidak dibangunkan dengan mencubit hidung kamu, tidak akan kamu terjaga!” balas Arshaka dengan tegas dan penuh emosional yang terpendam.
“Nyaris mati saya kamu tinggalkan di sini dan kamu bersenang-senang dengan kebebasanmu. Jika saya tidak memiliki belas kasihan sebab kamu tidak diterima lagi oleh orang tuamu, tidak akan sudi saya membiarkan kamu masuk kembali ke sini. Saya katakan dengan tegas dan ingat ini baik-baik, penghianatan adalah sesuatu yang tidak bisa diterima di hidup saya.”
“Kamu minta aku buat ngelayanin kamu buat buktiin aku melakukan sesuatu nggak sama Farel?!” tuding Sandra memicingkan mata.
Ini novel pertama saya, semoga kalian suka ya. Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar, Sayangku🥰