NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Lingga Buana termenung di kamarnya yang luas dan dingin. Lampu temaram memantulkan bayangannya di dinding, seolah memperlihatkan sisi gelap yang selama ini ia sembunyikan. Ingatannya kembali pada Galuh ... pada perbuatan bejat yang pernah ia lakukan tanpa sedikit pun rasa sesal.

Ia tertawa kecil, lalu berbicara pada dirinya sendiri dengan nada meremehkan.

"Seandainya kamu tidak melawan ... seandainya kamu pasrah saja, Galuh. Kamu pasti masih hidup. Keluargamu pun tidak akan bernasib sama."

Rahangnya mengeras, matanya memancarkan kekesalan yang kejam. "Tapi kamu terlalu berisik. Terlalu berani menuntut pertanggungjawaban," gumamnya. "Makanya aku dan keluargaku terpaksa menyingkirkanmu."

Ia berdiri, melangkah ke jendela, menatap gelap malam seolah mencari pembenaran.

"Padahal, kalau saja kamu diam ... aku akan membiarkanmu hidup," lanjutnya dingin. "Menjadikanmu milikku. Tapi kamu memilih melawan." Di balik kata-katanya, tak ada penyesalan, hanya kesombongan seorang lelaki yang merasa berkuasa, dan keyakinan bahwa nyawa orang lain hanyalah harga kecil demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Setelah beberapa menit melihat ke luar jendela, bayangan tubuh Galuh kembali menyusup ke kepala Lingga Buana. Kulit putih gadis itu, tatapan ketakutan yang dulu justru membuatnya merasa berkuasa. Suara rintihan Galuh yang seksi, dan ... rasa penyatuan malam itu yang terasa begitu nikmat.

Napas Lingga berubah berat. Ada api kotor yang menyala, membuat dadanya sesak oleh hasrat yang tak pernah mengenal rasa bersalah. "Galuh ..." gumamnya lirih, seolah mengutuk sekaligus merindukan. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menepis ingatan, namun sia-sia. Nafsu itu bangkit, liar dan tak terkendali. Bagi Lingga, kenangan bukan untuk disesali ... melainkan untuk dilampiaskan.

Tanpa mengganti pakaian, ia meraih kunci mobil. Langkahnya panjang dan tergesa saat meninggalkan kamar besar itu, seakan dikejar oleh pikirannya sendiri. Malam menelannya bulat-bulat.

Di luar sana, ia tahu ke mana harus pergi. Tempat-tempat gelap yang selalu siap menerima uang dan kuasanya. Tempat di mana wajah bisa diganti, nama tak penting, dan jerit hanya dianggap hiburan.

Mesin mobil menderu, memecah kesunyian. Lingga tersenyum tipis, senyum seorang predator yang kembali berburu, yakin bahwa dunia masih tunduk pada kehendaknya.

Namun jauh di balik malam itu, takdir mulai bergerak pelan. Setiap langkah pelampiasan hanya menambah utang dosa ... dan utang itu, suatu hari, pasti ditagih.

Mobil Lingga berhenti di depan sebuah bangunan remang, yang nyaris tak mencolok dari luar. Lampu neon redup berkedip malas, seolah sudah terbiasa menyambut dosa demi dosa setiap malam. Ia turun tanpa ragu, langkahnya mantap, sebab tempat ini bukanlah hal baru baginya.

Lingga tak menyadari apa pun saat pintu tempat prostitusi itu menutup di belakangnya. Ia merasa aman ... terlalu terbiasa dilindungi uang dan nama besar keluarganya.

Namun dari sebelahnya, di balik kaca mobil yang gelap, sepasang mata mengamatinya sejak tadi.

Seseorang mengangkat ponsel, fokus pada sosok Lingga yang baru saja masuk ke dalam bangunan remang itu. Lensa kamera merekam jelas: wajahnya, langkahnya, hingga papan nama tempat tersebut yang samar namun cukup dikenali.

Klik.

Satu foto tak cukup.

Rekaman video menyusul, detik demi detik, bukti tak terbantahkan.

Orang itu tersenyum tipis, senyum dingin yang tak mengandung kegembiraan. "Masuklah," gumamnya pelan. "Semakin dalam kamu tenggelam, semakin mudah aku menarikmu ke permukaan ... untuk dihancurkan."

Ia mematikan mesin mobil, menunggu dengan sabar untuk beberapa menit sebelum ia juga akan ikut masuk ke dalam.

Malam masih panjang, dan Lingga belum tahu bahwa untuk pertama kalinya, malam ini ... ia bukan pemburu, melainkan buruan.

Sementara di dalam, Lingga melangkah tanpa rasa curiga, tak sadar bahwa setiap langkah pelampiasannya malam itu telah berubah menjadi senjata yang kelak akan mengakhiri segalanya.

Begitu Lingga masuk, aroma alkohol dan parfum menyambut indera penciumannya. Denting musik pelan bercampur tawa palsu para wanita malam. Beberapa pasang mata langsung meliriknya, mengenali sosok yang datang dengan dompet tebal dan watak kejam.

Lingga menghampiri resepsionis tanpa basa-basi.

"Panggilkan yang biasa," ucapnya datar, nadanya seperti memberi perintah pada benda mati.

Perempuan itu mengangguk cepat. Nama itu tak perlu disebut, di tempat ini, kebiasaan lebih penting daripada identitas.

Lingga duduk di sofa gelap, menyandarkan punggung, matanya menatap kosong ke depan. Ingatannya masih bercampur antara Galuh dan hasrat kotor yang menguasai pikirannya.

Tak lama, langkah kaki mendekat. Seorang wanita muncul dari balik tirai, wajahnya dihiasi senyum profesional yang tak pernah benar-benar sampai ke mata. Lingga melirik sekilas, lalu menyeringai tipis. "Lama," katanya singkat.

Wanita itu hanya tertawa kecil, seolah tak ada yang salah. Di tempat ini, waktu, tubuh, dan perasaan semuanya bisa dibeli.

Pintu kamar tertutup pelan, memisahkan mereka dari dunia luar. Namun tanpa disadari Lingga, setiap kunjungannya meninggalkan jejak dan malam itu, satu jejak akan menjadi awal dari kehancurannya sendiri.

Pria yang tadi mengikuti Lingga menjauh beberapa langkah dari ruangan itu, mencari sudut yang lebih gelap dan agak senyap. Ia menekan layar ponsel, membuka aplikasi pesan yang terenkripsi. Jarinya bergerak cepat, terlatih.

Sebuah video terkirim. Disusul beberapa foto ... wajah Lingga, pintu masuk tempat prostitusi, waktu dan lokasi tercetak rapi. Serta foto barusan, ketika Lingga merangkul wanita bayaran dan masuk ke sebuah kamar.

Tak lama, panggilan masuk.

Ia menjawab tanpa berkata apa-apa.

"Dia sudah masuk?" suara di seberang sana terdengar tenang, dingin, seperti seseorang yang terbiasa mengatur nasib orang lain.

"Sudah, Tuan," jawab si penguntit rendah. "Rekaman jelas. Tak bisa dibantah."

Hening sejenak. Lalu terdengar helaan napas pendek, bukan karena terkejut, melainkan puas. "Bagus," kata suara itu. "Simpan semuanya. Jangan sampai bocor sebelum waktunya."

"Perlu saya lanjutkan pengawasan?"

"Tidak perlu," jawabnya mantap. "Malam ini biarkan dia merasa aman. Besok ... kau lanjutkan lagi."

Panggilan terputus.

Si penguntit menatap ke arah ruangan tadi. Ia menyimpan ponselnya, senyum tipis terukir di wajahnya. "Lingga Buana pasti masih berpikir bahwa dunia masih berada di bawah telapak kakinya. Ia tak tahu, jika di seberang sana, Tuanku telah menggenggam bukti pertama untuk menjatuhkannya ... perlahan, rapi, dan tanpa ampun." Penguntit itu pun keluar dari tempat remang-remang itu, sesuai perintah sang bos besar.

Di dalam kamar, napas Lingga terengah, bercampur antara panas tubuh dan bayangan masa lalu yang tak mau pergi. Langit-langit di atasnya mendadak kabur, yang ia lihat bukan lagi ruangan sempit itu, melainkan wajah Galuh.

Tatapan ketakutan itu. Air mata yang dulu ia anggap kelemahan.

Nama itu lolos begitu saja dari bibirnya, berulang, lirih namun jelas, seakan terucap tanpa kendali. Setiap helaan napasnya dipenuhi satu nama yang seharusnya sudah ia kubur dalam-dalam.

"Galuh ... oohh ..."

Wanita malam di atasnya terdiam sesaat. Alisnya berkerut, ada secuil rasa heran yang lolos dari wajah profesionalnya. "Galuh?" tanyanya pelan. "Pacar kamu?"

Lingga membuka mata. Sorotnya gelap, terganggu, seperti baru diseret paksa kembali ke kenyataan. Ia tak menjawab pertanyaan itu. Tangannya hanya memberi isyarat kasar, memerintah tanpa kata. "Lanjut," ucapnya dingin.

Wanita itu menelan ludah, memilih patuh. Di tempat ini, pertanyaan memang tak pernah punya harga.

Namun di dalam kepala Lingga, Galuh tetap ada ... menghantui, menatap, menuntut. Bukan ingat karena menyesal telah menghilangkan nyawa Galuh dan keluarganya, melainkan menyesal karena pemilik tubuh seindah itu harus mati sia-sia.

Di tempat lain, jauh dari kamar gelap dan dosa yang menjerat Lingga, Galuh berdiri di depan cermin bandara.

Wajahnya sebagian tertutup masker dan topi, menyamarkan luka-luka yang tak hanya merusak kulit, tetapi juga masa lalunya.

Bekas kecelakaan itu masih nyata ... guratan yang membuat orang nyaris tak mengenalinya lagi. Namun di balik mata yang lelah, ada tekad yang tak ikut hancur.

Shankara Birawa berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap, sorot matanya waspada. Sejak awal, dialah yang memastikan perjalanan ini berlangsung tanpa jejak.

"Semua sudah siap," ucap Shankara pelan. "Dokternya menunggu di Seoul. Mereka ahli rekonstruksi wajah. Tapi prosesnya akan sangat panjang."

Galuh mengangguk. Tangannya mengepal pelan, menahan gemetar yang tak ingin ia perlihatkan. "Aku siap, Tuan," jawabnya lirih. "Aku cuma ingin ... punya wajah baru. Hidup baru."

Shankara menatapnya sejenak, seolah ingin memastikan satu hal yang tak terucap.

"Setelah ini, Galuh tidak akan ada lagi," katanya hati-hati. "Kamu mengerti artinya?"

Galuh menarik napas dalam. Pandangannya beralih ke papan keberangkatan, ke arah tujuan yang akan mengubah segalanya.

"Aku sudah mati bagi dunia sejak malam itu," ujarnya tenang. "Yang tersisa sekarang hanya seseorang yang ingin bertahan ... dan suatu hari, menuntut keadilan."

Panggilan boarding menggema.

Mereka melangkah bersama menuju gerbang keberangkatan. Pesawat yang akan membawa Galuh menjauh dari rasa sakit dan sekaligus mendekatkannya pada takdir yang kelak berpotongan kembali dengan Lingga Buana.

Di dunia yang sama, dua jalan bergerak berlawanan arah ... satu menuju kehancuran, dan satu lagi menuju kelahiran kembali.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!