Sinopsis
Rania, seorang gadis desa yang lembut, harus menanggung getirnya hidup ketika Karmin, suami dari tantenya, berulang kali mencoba merenggut kehormatannya. Belum selesai dari satu penderitaan, nasib kembali mempermainkannya. Karmin yang tenggelam dalam utang menjadikan Rania sebagai pelunasan, menyerahkannya kepada Albert, pemilik sebuah klub malam terkenal karena kelamnya.
Di tempat itu, Rania dipaksa menerima kenyataan pahit, ia dijadikan “barang dagangan” untuk memuaskan para pelanggan Albert. Diberi obat hingga tak sadarkan diri, Dania terbangun hanya untuk menemukan bahwa kesuciannya telah hilang di tangan seorang pria asing.
Dalam keputusasaan dan air mata yang terus mengalir, Rania memohon kepada pria itu, satu-satunya orang yang mungkin memberinya harapan, agar mau membawanya pergi dari neraka yang disebut klub malam tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 30
"Kamar kamu di sini ya, Rania," ucap Airish sembari membukakan pintu sebuah kamar di sayap kanan rumah utama keluarga Demitri.
"Iya, Non. Terima kasih banyak," sahut Rania dengan nada rendah yang sopan.
"Istirahatlah dulu. Kamu pasti lelah setelah mengurus kepindahan mendadak ini," kata Airish sebelum berlalu, meninggalkan Rania sendirian di kamar itu.
Rania mengedarkan pandangannya. Kamar ini luas, bahkan setara dengan kamar pribadinya di vila sebelum ia akhirnya berbagi ranjang dengan Airon. Ada rasa getir yang menyelinap di hatinya. Di rumah ini, ia kembali menjadi orang asing. Seorang menantu yang harus bersandiwara menjadi pelayan demi menjaga kesehatan ibu mertuanya yang belum tahu apa-apa.
Setelah menata pakaiannya di lemari, Rania turun ke lantai bawah. Ia tidak ingin dianggap makan gaji buta. Begitu sampai di dapur, ia disambut oleh tatapan tajam seorang wanita yang usianya tak jauh darinya.
"Pembantu baru, ya?" tanya wanita itu ketus, tangannya bersedekap di dada.
"Iya, Mbak. Saya Rania," jawab Rania sembari mencoba tersenyum ramah.
"Gak usah senyum-senyum. Tuh, piring kotor numpuk di wastafel. Cuci semua sampai bersih!" perintah wanita itu dengan nada memerintah yang sangat kasar.
"Baik, Mbak." Rania mengangguk tanpa membantah. Ia segera menyingsingkan lengan bajunya dan mulai bekerja.
Setelah selesai mencuci tumpukan piring itu, Rania merasa tenggorokannya kering. Ia mengambil segelas air putih dan duduk sejenak di kursi dapur untuk menghela napas.
"Eh, enak bener ya kamu! Baru kerja segitu aja sudah duduk-duduk santai!" bentak wanita itu lagi, yang ternyata bernama Darti, asisten rumah tangga lama di rumah Tania.
"Saya haus, Mbak. Tadi cuma duduk sebentar," ucap Rania tenang.
"Alasan! Dasar pembantu manja! Nih, ambil!" Darti menyodorkan alat pel ke depan wajah Rania dengan kasar.
"Untuk apa ini, Mbak?"
"Ya buat ngepel lantai-lah! Masa buat nyanyi! Jangan malas kamu, sana kerjakan!" Darti mendengus kesal. Ia merasa terancam dengan kehadiran Rania yang memiliki paras jauh lebih cantik darinya.
Rania hanya bisa menghela napas panjang. Tampaknya, hidupnya akan kembali menemui kerikil tajam di rumah ini. Darti jelas-jelas menunjukkan taring kebencian sejak detik pertama.
Sore harinya, saat Rania sedang mencoba memejamkan mata sejenak karena kepalanya terasa sedikit pening, Darti kembali masuk tanpa mengetuk pintu.
"Heh! Malah tidur! Di dapur itu masih banyak kerjaan! Jangan mentang-mentang dibawa Tuan Airon kamu bisa malas-malasan!" teriak Darti.
"Darti? Apa yang kamu lakukan di sini?" Suara Airish tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.
Seketika, ekspresi Darti berubah drastis. Wajahnya yang tadi garang mendadak menjadi sangat lembut dan penuh pengabdian. "Eh, Non Airish... ini Non, saya cuma mau bantu Rania beres-beres kamar supaya dia nyaman."
Rania tertegun melihat perubahan sikap Darti yang begitu cepat. Luar biasa sandiwaranya, batin Rania.
"Bagus kalau begitu. Setelah ini, bantu Rania siapkan makan malam, ya," instruksi Airish.
"Baik, Non. Dengan senang hati," sahut Darti sangat manis. Begitu Airish menjauh, ia langsung melotot ke arah Rania. "Cepat turun! Kamu yang masak semuanya! Jangan sampai ada yang kurang!"
Rania pun bergegas ke dapur. Ia memasak berbagai hidangan dengan penuh ketulusan, berharap masakan itu bisa membantu pemulihan Nyonya Tania.
Deru mobil Airon terdengar di pekarangan. Pria itu masuk ke rumah dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak lelah namun matanya mencari-cari satu sosok.
"Di mana Rania?" tanya Airon langsung pada Airish.
"Mungkin di kamarnya. Tadi dia baru selesai masak," jawab Airish heran. "Ada apa, Ron? Kamu baru pulang bukannya cari Mama malah cari pelayan baru itu?"
Airon tidak menjawab. Ia langsung melesat naik ke lantai atas. "Rania..." panggilnya lirish.
Rania keluar dari kamarnya dengan wajah terkejut. "Tuan? Anda sudah pulang?"
Tanpa memedulikan risiko, Airon menarik Rania masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintu. Ia merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan yang sangat erat. "Hari ini rasanya waktu berjalan terlalu lambat tanpa kamu di kantorku," bisik Airon, membenamkan wajahnya di rambut Rania.
"Tuan... lepaskan. Bagaimana kalau ada yang lihat?" bisik Rania panik.
"Aku tidak peduli. Aku merindukanmu setengah mati," ucap Airon. Ia menatap bibir Rania yang mengoda, lalu menciumnya dengan lembut, menyalurkan segala rasa rindu yang tertahan sejak pagi.
Makan malam disajikan. Tania sudah merasa jauh lebih baik dan ikut bergabung di meja makan.
"Wah... aromanya enak sekali. Banyak sekali lauknya hari ini," puji Tania tersenyum.
"Iya, Nyonya. Saya sengaja masak banyak dan spesial supaya Nyonya cepat sehat," sahut Darti dengan wajah penuh percaya diri, seolah dialah yang berkutat dengan api dapur sejak sore tadi.
Rania hanya menunduk sembari merapikan piring di sudut ruangan. Ia tidak berniat membela diri atau merebut pujian itu. Namun, Airon yang tahu kebenarannya merasa hatinya panas.
"Rania, duduklah dan makan bersama kami," suruh Airon tegas.
Suasana meja makan mendadak hening. Darti menatap Rania dengan kilatan kebencian yang nyata.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya nanti saja di belakang bersama Mbak Darti," tolak Rania halus.
"Duduk saja, Rania. Di sini kamu itu tamu yang dibawa Airon, jangan sungkan," tambah Tania dengan ramah. Airish pun ikut menggeser kursi untuk Rania.
Airon melirik Darti yang berdiri kaku. "Darti, kamu juga bisa makan bersama kami jika mau."
"T-tidak usah Tuan, saya di belakang saja," jawab Darti gagap. Ia terpaksa pergi ke dapur dengan perasaan geram yang memuncak. Ia merasa posisinya terancam oleh "si anak baru" yang bahkan berani duduk satu meja dengan majikannya.
Sumpah Darti
Malam semakin larut. Di kamar Rania, Airon menyelinap masuk lagi. Ia tidak bisa tidur jika tidak berada di samping istrinya.
"Dania, maksudku Rania... bersabarlah sedikit lagi. Begitu Mama benar-benar pulih, aku akan mengumumkan semuanya," janji Airon sembari mengecup kening istrinya.
"Saya akan selalu sabar, Tuan. Saya beruntung memiliki Anda," balas Rania dengan senyum tulus.
Di sisi lain rumah, Darti tidak bisa tidur. Bayangan perhatian Airon pada Rania terus menghantuinya. Selama bertahun-tahun ia bekerja, Airon bahkan tidak pernah menoleh padanya, apalagi mengajaknya makan bersama.
"Dasar perempuan sialan. Wajah cantiknya itu pasti hasil menggoda Tuan Airon," maki Darti dalam kegelapan kamarnya. "Lihat saja, aku akan buat kamu tidak betah di rumah ini. Aku akan menyingkirkanmu, Rania!"
Penutup dari Author:
Aduh, Rania benar-benar dalam bahaya nih! Ada Darti yang siap menusuk dari belakang karena iri dan dengki. Ditambah lagi, risiko ketahuan oleh Airish makin besar setiap harinya. Kira-kira apa rencana jahat Darti buat fitnah Rania ya?
masa tangan kanan ga punya rencana 🤦🤦