NovelToon NovelToon
Sandiwara Cinta Sang Presma (Presiden Mahasiswa)

Sandiwara Cinta Sang Presma (Presiden Mahasiswa)

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!

"Pernikahan kontrak yang akan kita jalani mencakup batasan dan durasi. Nggak ada cinta, nggak ada tuntutan di luar kontrak yang nanti kita sepakati. Lo setuju, Aluna?"

"Ya. Aku setuju, Kak Ryu."

"Bersiaplah menjadi Nyonya Mahesa. Besok pagi, Lo siapin semua dokumen. Satu minggu lagi kita menikah."

Aluna merasa teramat hancur ketika mendapati pria yang dicinta berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.

Tak hanya meninggalkan luka, pengkhianatan itu juga menjatuhkan harga diri Aluna di mata keluarga besarnya.

Tepat di puncak keterpurukannya, tawaran gila datang dari sosok yang disegani di kampus, Ryuga Mahesa--Sang Presiden Mahasiswa.

Ryuga menawarkan pernikahan mendadak--perjanjian kontrak dengan tujuan yang tidak diketahui pasti oleh Aluna.

Aluna yang terdesak untuk menyelamatkan harga diri serta kehormatan keluarganya, terpaksa menerima tawaran itu dan bersedia memainkan sandiwara cinta bersama Ryuga dengan menyandang gelar Istri Presiden Mahasiswa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33 Bukan Adik, Tapi Istri

Happy reading

Permasalahan yang tengah dihadapi oleh Kunto bukanlah hal sepele--mudah diselesaikan dalam waktu yang cukup singkat. Melainkan rumit dan memakan waktu lama.

Butuh dukungan berupa aksi nyata dari berbagai pihak. Bukan hanya dari warga setempat, tapi juga dari pemangku jabatan dan seluruh lapisan masyarakat. Tak terkecuali para mahasiswa.

Ba'dha Isya, Ryuga dan anak-anak BEM inti berkumpul di rumah Darma. Mereka berbincang dengan Darma--kepala desa, Hafidz--perwakilan dari LBH Tentrem, dan Danu--pegawai BPN yang tidak diragukan lagi kinerjanya.

Selain menjunjung tinggi profesionalitas, Danu juga merupakan pegawai BPN yang amanah. Menolak uang haram yang sering dijanjikan oleh orang-orang culas.

Teh nasgitel dan dua piring pisang goreng hangat tersuguh di meja, menjadi teman berbincang. Santai tapi serius.

"Terima kasih Pak Darma, sudah menjamu kami malam ini. Mas Hafidz, Mas Danu, dan teman-teman BEM inti, kita tau kondisi Mbah Kunto sudah sangat terdesak. Sertifikat beliau beralih nama tanpa sepengetahuannya, melalui prosedur yang sangat janggal. Saya mengusulkan, kita bergerak di dua lini--jalur legal dan jalur tekanan publik," ujar Ryuga--membuka obrolan. Menanggalkan logat Slank dan bertutur dengan nada sopan, sebab lawan bicaranya bukan hanya teman sebaya. Tetapi juga para tokoh yang disegani.

"Dari sisi BEM, saya mengusulkan pengadaan petisi online melalui Change.org untuk menarik perhatian publik. Namun yang lebih krusial, saya ingin kita membuat petisi fisik yang ditandatangani oleh seluruh warga desa dan para pemangku jabatan, termasuk Pak Bupati. Sebagai bukti sosial bahwa Mbah Kunto adalah pemilik sah secara historis sekaligus sebagai wujud penolakan warga terhadap praktik mafia di tanah ini."

"Setuju, Pak Ketu. Jika diizinkan, saya dan Nofiya akan mulai mendata warga besok pagi. Sementara Dimas yang akan mengurus draf petisi online-nya." Tara menimpali--mengamini perkataan Ryuga.

Danu mengangguk pelan dan mengulas senyum. "Saya juga setuju dengan usulan Mas Ryuga, karena langkah tersebut sangat penting untuk mengawal kasus Mbah Kunto. Secara administratif, besok pagi ... saya dari BPN akan mulai melakukan pemblokiran internal terhadap sertifikat tersebut agar tidak bisa dipindahtangankan lagi ke pihak ketiga, selama proses sengketa berlangsung. Saya akan menelusuri warkah--dokumen dasar penerbitan sertifikat yang tersimpan di kantor. Kita harus cek, oknum yang telah memalsukan tanda tangan Mbah Kunto di Akta Jual Beli."

"Sependapat. Saya juga setuju sekaligus mendukung langkah yang akan diambil oleh Mas Ryuga dan Mas Danu. Dari sisi LBH Tentrem, kami akan segera melayangkan Gugatan Perdata ke Pengadilan Negeri atas dasar Perbuatan Melawan Hukum. Tujuannya untuk membatalkan peralihan hak tersebut. Bersamaan dengan itu, kami juga akan membuat Laporan Pidana ke Polda terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penipuan." Hafidz menyahut.

"Oleh karena itu, kami butuh kesaksian Pak Darma dan warga untuk memperkuat bukti bahwa Mbah Kunto tidak pernah melakukan transaksi jual beli tersebut," imbuhnya.

Darma mengangguk mantap. "Saya selaku Kepala Desa, menjamin seluruh warga akan berdiri di belakang Mbah Kunto. Saya sendiri yang akan memimpin pengumpulan tanda tangan petisi warga. Saya juga akan mengeluarkan Surat Keterangan Riwayat Tanah yang asli untuk mematahkan klaim mafia itu. Mbah Kunto sesepuh kami sekaligus sosok yang disegani di desa ini. Tidak ada yang boleh mendzalimi beliau di tanah kelahirannya sendiri," tuturnya.

"Kalau begitu, besok pagi kami mulai bergerak ke lapangan, Pak. Kami akan pastikan suara warga Bantul terdengar sampai ke pusat." Dimas turut bersuara. Sementara Nofiya, menyimak dan menulis poin-poin penting dari obrolan mereka.

"Baik, berarti strategi kita jelas. Mas Danu mengunci sertifikat, Mas Hafidz menyerang secara hukum, dan kami bersama Pak Darma menggalang kekuatan massa."

Darma, Danu, Hafidz, dan anak-anak BEM inti mengangguk--mengindahkan kalimat yang dicetuskan oleh Ryuga.

Hening

Tidak ada lagi obrolan serius.

Ryuga menyesap teh nasgitel--menikmati teh racikan khas Desa Bantul. Begitu juga Tara, Dimas, dan Nofiya.

"Bagaimana teh nya? Seger kan?" Darma memecah suasana. Usir keheningan yang sesaat menyelimuti.

"Iya, Pak. Seger. Panas, manis, dan kental-nya pas," ujar Ryuga--menanggapi.

"Itu teh racikan putri saya--Anisa. Kembang desa, tapi masih gadis. Belum punya suami. Kalau Nak Ryuga menyukai teh racikannya, Insya Allah Anisa bisa membuatkan setiap hari," ucap Darma. Memperlihatkan sebaris senyum dan mengunci tatapannya pada satu titik--Sang Presma.

Ryuga tersenyum tipis. Urung menandaskan teh yang hanya tinggal setengah cangkir dan meletakkannya kembali di atas meja.

"Nak Ryu seorang pemuda berpikiran maju dan cerdas, tampan, pemberani, sopan, serta kharismatik. Alangkah senangnya jika Anisa bisa bersanding dengan pemuda seperti Nak Ryu."

"Pak Darma berlebihan. Saya rasa, Anisa lebih pantas jika bersanding dengan pemuda seperti Mas Hafidz atau Mas Danu. Karena aslinya, saya slengean. Mantan ketua geng. Dikenal galak di kampus."

"Saya tidak berlebihan, tapi Nak Ryu yang terlalu merendah. Begini saja, Nak Ryu mengobrol dulu dengan Anisa. Biar bisa saling mengenal. Kalau kalian cocok, Alhamdulillah. Kalau tidak, mungkin belum berjodoh."

Nofiya berdehem. Menyikut pelan lengan Ryuga. Memberi kode, agar Pak Ketu mengatakan yang sebenarnya.

"Oh ya, Mbak Aluna ... adik Nak Ryu kan? Wajahnya ada kemiripan --"

Ryuga menarik kedua sudut bibirnya. Mengejapkan mata. Benahi posisi duduk, sebelum memberi jawaban sekaligus mengutarakan pengakuan.

"Aluna bukan adik saya, Pak. Tapi istri saya."

Speechless

Darma bergeming.

Pria paruh baya itu serasa tak percaya jika calon menantu idamannya sudah memiliki seorang istri.

Lesap sudah keinginan untuk menjodohkan Anisa dengan Ryuga Mahesa, Sang Presiden Mahasiswa yang berhasil menjerat hati putrinya di hari pertama jumpa.

Meski rasa kecewa bercokol di hati, Darma berusaha untuk terlihat legawa dan kembali memecah suasana dengan obrolan ringan.

Bukan lagi mengenai permasalahan Kunto, mafia tanah, atau Anisa, melainkan tentang acara bersih desa yang rutin dilaksanakan sebelum ramadhan tiba dan kehidupan warga desa yang menjunjung tinggi guyup-rukun.

"Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah. Rukun atau hubungan yang harmonis akan membawa ketenangan dan kekuatan, sedangkan pertikaian akan menyebabkan kehancuran," tuturnya.

Tepat pukul sebelas malam, obrolan berakhir.

Danu dan Hafidz bermalam di rumah Darma. Sementara Ryuga, Aluna, dan anak-anak BEM bermalam di joglo--bangunan yang berdiri tidak jauh dari Balai Desa.

Malam temaram. Suara bambu yang saling bergesekan berpadu dengan lengkingan hewan, mencipta suasana mencekam.

Rasa takut singgah, membuat Aluna sulit untuk pejamkan mata.

"Mas, kamu sudah tidur?" Aluna berbisik sambil menusuk-nusuk pelan pipi Ryuga dengan jari tangan. Berharap suaminya membuka mata dan memberi jawaban.

Tidak ada tanggapan.

Aluna kian dihinggapi rasa takut saat mendengar suara ayam--berisik. Sebab kata orang, ayam berisik atau berkokok di tengah malam sebagai pertanda bahwa ada makhluk halus di sekitar mereka.

"Mas, aku takut." Lirih, Aluna mengucap kalimat itu. Benamkan wajah di dada bidang Ryuga. Peluk erat tubuh suaminya.

Ryuga mendengus geli dan perlahan membuka mata.

"Lo takut apa, Love?" bisiknya. Balas memeluk Aluna.

"Hantu. Kata orang, kalau ada ayam berisik di tengah malam ... pertanda ada makhluk halus yang datang."

"Emang iya."

Aluna kian membenamkan wajahnya di dada bidang Ryuga. Takut yang dirasa semakin bertambah karena celotehan lelaki bergelar 'suami'.

"Makhluk halusnya ada di sini. Ada di deket lo."

"Mas, jangan bikin aku bertambah takut."

"Makanya, buruan tidur. Biar nggak dimakan sama makhluk halus."

Aluna mengangguk pelan. Paksa sepasang matanya untuk terpejam.

Hangat dan nyaman. Itu yang dirasa Aluna setiap berada dalam pelukan Ryuga Mahesa--suami sekaligus surga yang pernah dipinta dalam doa.

Bayu berhembus pelan. Menyebarkan aroma khas bunga sedap malam. Mengiringi insan--berlayar ke negeri mimpi.

Makasih udah hadir di hidup gue yang hampir berantakan ... Luna.

Benak Ryuga berbisik, menyertai kecupan dalam yang berlabuh di pucuk kepala.

Saat ini, sekedar rasa sayang yang memenuhi relung hati. Namun esok, rasa itu akan berubah menjadi cinta. Tulus dan tanpa terpaksa. Semoga.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Eridha Dewi
segera tinggalin ryuga, aluna
Elisabeth Ratna Susanti
like plus iklan 👍
Elisabeth Ratna Susanti
aaahhhh ikut meleleh nih🥰
Elisabeth Ratna Susanti
like plus 🌹 untuk chapter ini😍
Titik Subekti
ayu jgn dimatikan ya thor kasihan bang juna dan anaknya
Ayuwidia: Iya, Kak. Terima kasih udah komen 🥰
total 1 replies
Eridha Dewi
kapan Aluna ningalin ryuga
Ayuwidia: masih lama kaya' nya, Kak
total 1 replies
Najwa Aini
Ada temannya juga ya..yang butuh lbh satu hari utk satu bab
Ayuwidia: Betul, semangat. Niat kita kan nggak cuma ngasih hiburan, tapi juga nyelipin edukasi, Kak. Tetap pertahankan ciri khas, meski yg disuka sekarang cerita kaya' short
total 3 replies
Najwa Aini
yaa...kok ada scene kayak gini sih...
Ayu....jangan ikut arus jauh² ya...
Ayuwidia: bukan ikan, tapi gelondongan kayu buat bikin rumah 😆
total 3 replies
Najwa Aini
Oh pasti Bisa. Ayu itu kuat
Najwa Aini
Ya Allah...sampai kesini sedihnya...
Najwa Aini: Banget. Aku sampai merinding
total 2 replies
Najwa Aini
Naik Heli Wehhh...gak kebayang
Najwa Aini: Iya..di cerita Doraemon..😆
total 2 replies
Najwa Aini
Jakarta--Hongkong...
Jauhhh
Ayuwidia: Wkkkkkkk🤣🤣🤣
total 1 replies
Najwa Aini
kode kerasssd👍👍
Santai Dyah
hadir kk
Najwa Aini
Yakin??
Yang setitik itu terkadang yg sangat frontal
Najwa Aini
menyelesaikan satu kalimat aku kamu, pasti kayak habis nelen sambel secobek..😆😆
Ayuwidia: Hiyaaaa. Geli2 gimana gitu 🤣
total 1 replies
Najwa Aini
Ka-munya, aku-nya..🤣🤣 apaan sih Ryu..Aku geli ini bacanya
Ayuwidia: Yg nulis aja geli 😆
total 1 replies
Najwa Aini
Hujan lokal deh
Eridha Dewi
pinggunnya Aluna tahu KLo ryuga masih ada rasa sama ayu, terus ditinggalin deh
Ayuwidia: Semoga ya, Kak ✍🏻
total 1 replies
Nofi Kahza
iyaaa.. aku percaya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!