NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:806
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Arpa menarik dalam napasnya. Perlahan-lahan tubuhnya lebih tenang. Dia mengangkat kepalanya. Dia menatap Depa dengan lembut dan tersenyum tipis. “Dep, walaupun mereka nggak bisa ngerti kita, tapi mereka bisa menerima kita.”

Alis Depa naik sebentar. Dia menekan bibirnya. “Menerima tanpa mengerti? Itu konyol!”

Rahang Arpa mengeras, tapi dia menarik napas panjang. “Itu nggak konyol, Dep. Perlahan-lahan mereka pasti ngerti, mungkin sekarang mereka udah ngerti.”

Arpa menatap tajam Depa. Tangannya mengepal. “Lu bilang, lu orang jujur kan? Lu jujur karena nggak mau kena masalah yang panjang kan? Dan sekarang masalahnya jadi panjang, gara-gara lu nggak jujur!”

Depa terdiam kaku. Mulutnya terbuka dan matanya membesar.

Arpa melangkah pergi. “Selamat tinggal, manusia kejujuran.”

Badan Depa bergerak perlahan-lahan. Dia menundukkan kepalanya. “Gua… juga manusia, gua bukan makhluk yang terus-menerus jujur,” kata Depa di dalam hatinya.

Arpa melangkah ke luar sekolah. Dia berjalan ke arah rumahnya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. “Gua… pengen sendiri, tapi gimana caranya? Gua harus kemana?” Arpa menghela napas.

Arpa berbalik ke arah. Dia menundukkan kepalanya dan berjalan menuju sekolahnya. “Mungkin bukan Depa yang ngerusak pertemanan kita, Jun, Yan. Tapi gua yang menjauh dari kalian. Gua… nggak tau, gua nggak tau kenapa, gua bener-bener nggak tau apa-apa,” Pikir Arpa. Bahunya merosot.

Saat di depan sekolahnya, Arpa menatap sebentar lalu pergi. Dia menundukkan kepalanya lagi.

Baru melangkah sedikit, tiba-tiba Arpa menabrak seseorang. Dia mengangkat kepalanya. “Bu Kila?”

Bu Kila memiringkan kepalanya. “Arpa? Kamu ngapain? Bentar lagi bel masuk bunyi loh.”

Arpa menggaruk kepalanya. “Saya cari angin bu, nanti saya masuk, ibu duluan aja.”

Alis bu Kila mengkerut halus. “Nggak, kamu pasti mau bolos kan? Sini ayo,” bu Kila menarik tangan Arpa.

Arpa menahan tarikan bu Kila dan mencoba melepaskan tangannya.

Rahang bu Kila mengeras sebentar. Dia menatap Arpa. Genggaman bu Kila lebih kuat dan menarik tangan Arpa lebih keras.

Arpa menatap tajam bu Kila. Napasnya lebih berat. Dia menarik tangannya dengan keras, hingga bu Kila terjatuh.

Tatapan Arpa melembut. Rahangnya yang tadi mengencang, perlahan mengendur. Dia mendekati bu Kila dan mengulurkan tangannya.

Tapi tangannya ditepis oleh orang lain. “Kamu ngapain sih, Arpa? Bu Kila kan wali kelas kita!” ternyata itu Mutia.

Mulut Arpa terbuka, tapi suaranya tidak keluar. Dia melihat Mutia, memalingkan pandangan darinya dan hanya fokus pada bu Kila. Arpa menutup mulutnya. Dan ingin melangkah pergi.

Baru saja Arpa ingin pergi. Ada Rinaya yang berdiri di depannya. Rinaya menatap tajam Arpa. Dia menampar Arpa. “Lu bukannya minta maaf, malah kabur.”

Arpa menatap kosong Rinaya. Bibirnya sedikit terbuka. Dia diam lumayan lama, dan dia… pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Rinaya mengepalkan tangannya. Tangannya bergetar halus. “Gua pikir lu orang baik, gua kecewa sama lu! Padahal lu yang ngebuat Dipa ketawa!”

Langkah Arpa terhenti sebentar. “Gua… nggak minta dipandang baik,” Arpa melanjutkan langkahnya.

Langkahnya pelan dan dia menatap tanah. “Terserahlah… gua nggak peduli lagi, Juan, Rian, Depa, bu Kila, Mutia, bahkan Rinaya. Apa-apaan ini semua? Kenapa hari ini semuanya sibuk banget? Gua bahkan belum tidur yang cukup hari ini,” Kata Arpa di dalam hatinya.

Kepala Arpa pusing. Matanya setengah terbuka, gerakannya pelan. Dadanya sesak. Tapi dia terus melangkah.

Tapi langit tiba-tiba gelap. Angin kencang dan dingin mulai berhembus ke arah Arpa. Daun-daun berterbangan di sekitarnya.

Rintik-rintik hujan turun mengenai kepala Arpa. Arpa menatap langit sebentar dan lanjut berjalan.

Hujan perlahan-lahan semakin deras. Arpa basah kuyup, tapi langkahnya tetap pelan.

Arpa mendengar langkah kaki dari belakangnya. Langkah kaki itu semakin mendekat. Tiba-tiba ada yang memayunginya.

“Arpa kan ya?” orang itu tersenyum.

Arpa mengangkat kepalanya. Mulutnya terbuka. “Iya, lu siapa?”

“Gua Fino, hehe,” Fino tersenyum lebar.

Fino menatap Arpa dari bawah sampai ke atas. Dia memegang dagunya. “Hmm, lu basah kuyup, mau mampir ke rumah gua nggak?”

Arpa memalingkan mukanya dan menggelengkan kepalanya.

Tapi Fino mendorong pelan punggung Arpa. “Udah, ayo.”

Arpa dan Fino pun berjalan di bawah payung yang sama, menuju rumah Fino.

Setelah berjalan lumayan lama, langkah Fino berhenti. “Ini rumah gua, ayo masuk.”

Ternyata rumah Fino adalah toko roti. Arpa melirik-lirik isi rumah Fino, kadang dia menatap Fino. “Dia siapa sih? Kenapa tiba-tiba gua di bawa ke rumahnya?” pikir Arpa.

Mereka berdua masuk dan duduk. Arpa natap Fino. “Terus? Lu siapa?”

Fino tersenyum tipis. “Gua satu sekolah sama lu, SMA Kuantama. Gua kelas 10A.”

Fino menatap lembut ke arah dinding rumahnya. “Dan lu… lu bagi gua itu pahlawan. Gua sering di pukulin dan di mintain duit sama anggota PG, tapi lu dateng ngeberantas mereka semua. Arpa, lu pahlawan gua.”

Mulut Arpa terbuka. Matanya berkaca-kaca.

Fino Melirik Arpa. Kepalanya mundur sedikit. “E-eh? Lu kenapa?”

Arpa mengusap matanya. Dia tersenyum. “Nggak, gua boleh numpang tidur nggak? Gua baru tidur bentar, gara-gara tadi malem nggak bisa tidur.”

Fino senyum. “Boleh, tidur aja di kamar gua, di situ tuh,” Fino menunjuk pintu kamarnya.

Arpa mukul pelan Fino. “Makasih ya,” Arpa bangun dari duduknya.

Fino ngangguk. “Santai.”

Arpa jalan ke kamar Fino. Dia masuk dan langsung berbaring. Dia… langsung tertidur.

Sedangkan Fino. Dia lanjut menjaga tokonya. Ayah dan Ibunya sedang tidak ada di rumah, itu alasan dia tidak sekolah dan menjaga tokonya.

Banyak pelanggan yang membeli rotinya. Dan Fino selalu menyambut pelanggannya, dengan senyuman yang ramah.

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!