NovelToon NovelToon
Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Terjebak Pernikahan Kontrak Dengan Dosen Pembimbingku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikah Kontrak
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Rezqhi Amalia

Shaqila Ardhani Vriskha, mahasiswi tingkat akhir yang sedang berada di ujung kewarasan.

Enam belas kali skripsinya ditolak oleh satu-satunya makhluk di kampus yang menurutnya tidak punya hati yaitu Reyhan Adiyasa, M.M.

Dosen killer berumur 34 tahun yang selalu tampil dingin, tegas, dan… menyebalkan.

Di saat Shaqila nyaris menyerah dan orang tuanya terus menekan agar ia lulus tahun ini,
pria dingin itu justru mengajukan sebuah ide gila yang tak pernah Shaqila bayangkan sebelumnya.

Kontrak pernikahan selama satu tahun.

Antara skripsi yang tak kunjung selesai, tekanan keluarga, dan ide gila yang bisa mengubah hidupnya…

Mampukah Shaqila menolak? Atau justru terjebak semakin dalam pada sosok dosen yang paling ingin ia hindari?


Semuanya akan dijawab dalam cerita ini.



Jangan lupa like, vote, komen dan bintang limanya ya guys.

Agar author semakin semangat berkarya 🤗🤗💐

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rezqhi Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nafkah

 Shaqila mengerjapkan matanya yang terasa berat, seperti baru saja bangun dari tidur paling panjang dalam hidupnya. Kepalanya sedikit pening, dan tubuhnya terasa lemas sisa kelelahan kemarin atau lebih tepatnya, sisa tekanan emosional beberapa hari terakhir.

Ia memutar tubuhnya perlahan, dan melihat ruangan yang sangat asing. 'Gue dimana? ini bukan kamar gue,' batinnya seraya mengedarkan pandangannya.

"Astaga Shaqila, ini kan kamar baru lo. Lo baru aja tadi pindah rumah, kenapa bisa lupa sih," gerutu gadis itu seraya menepuk jidatnya sendiri.

Ia bangkit, mengikat rambutnya sembarangan dan melangkah keluar rumah. Saat di ruang tamu, ia melihat seorang wanita paruh baya sementara membersihkan.

"Selamat sore nona, saya bi Asti asisten rumah tangga yang ditugaskan tuan Reyhan. Tuan Reyhan melarang saya membangunkan nona karena katanya nona butuh istirahat," ucap bi Asti dengan menunduk.

"Oke bi, nama saya Shaqila. Oh ya pak Reyhan dimana?" tanya Shaqila.

"Di halaman belakang non, beliau tadi berpesan jika nona sudah bangun silahkan temui dia dan jangan lupa bawa laptop," ucap bi Asti lagi.

Shaqila menegang mendengar itu. "Terimakasih infonya bi," ucap Shaqila sopan dan pergi ke kamarnya mengambil laptop.

Setiap langkah yang ia ambil menuju halaman belakang terasa seperti menuju ruang eksekusi. Jantungnya berdetak pelan tapi mantap, tidak kencang, tapi berat, seperti menahan banyak hal yang belum dipahami. Laptop di pelukannya terasa seperti sekantong batu.

"Mudah-mudahan saja dia nggak ngehujat revisi gue lagi," lirihnya.

Setibanya di dekat pintu kaca menuju halaman belakang, Shaqila berhenti. Ia menarik napas panjang, merapikan kaos yang ia pakai asal tadi, memastikan rambut ikatannya tidak terlalu berantakan, walaupun tetap berantakan. Setelah merasa cukup siap, ia mendorong pintu itu pelan.

Cahaya sore yang lembut langsung menyapu wajahnya.

Reyhan berdiri membelakanginya, memakai kaos warna abu dan celana hitam pendek selutut. Tangannya terlipat di depan dada, menatap kolam air kecil. Wajahnya nampak tenang seolah tidak ada beban.

Gadis itu menelan ludah. "Pe...permisi p..pak."

Reyhan menoleh perlahan.

Tatapannya langsung tertuju pada Shaqila, dan pada laptop di pelukannya. Mata tajamnya melunak sedikit, mungkin karena melihat wajah Shaqila yang masih tampak lelah.

"Segarkan pikiranmu, ambil nafas banyak-banyak dan kita mulai bimbingan secara bertahap. Tidak perlu terburu-buru, waktu masih panjang" ucap Reyhan dingin.

Gadis itu mengikuti arahan dosennya, bimbingan pun dimulai dengan jantung Shaqila yang tidak bisa di ajak kompromi.

Reyhan menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah Shaqila. Bukan terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat gadis itu menegang. Sore makin meredup, dan cahaya jingga membuat bayangan wajah Reyhan tampak lebih tegas, lebih dingin.

"Buka bagian pendahuluanmu!" perintah Reyhan tanpa menoleh, namun intonasinya sangat jelas...tidak bisa ditawar.

Shaqila buru-buru membuka file, jemarinya sedikit gemetar. Entah karena gugup, atau karena kedekatan jarak yang tidak sengaja tapi terasa menekan.

Reyhan memperhatikan layar laptopnya beberapa detik...hening yang sangat panjang bagi Shaqila.

Lalu ia bersandar, melipat tangan. "Hm, masih lemah dan gak layak."

Kalimat itu menghantam seluruh tubuh Shaqila. 'Kalimat keramat itu lagi, huft tidak ada kalimat lain apa selain itu?' gerutu Shaqila dalam hati.

Reyhan mencondongkan tubuhnya, menunjuk layar dengan satu jari.

"Semua yang kamu tulis terlalu lemah. Padahal pendahuluan itu harus punya hook."

Shaqila mengangguk cepat, padahal ia tidak sepenuhnya paham. Otaknya serasa macet.

Reyhan mendesah pelan. "Santai, nggak usah tegang. Kamu tidak akan bisa mengerjakannya dalam keadaan cemas," ucap dosen itu.

Reyhan menatapnya sepersekian detik, sudut bibirnya terangkat tipis, seperti menahan sesuatu.

Dosen itu menggambar garis besar di kertas kosong yang sudah ia siapkan sebelumnya.

Ringkas, rapi, dan tegas.

Persis seperti orangnya.

"Pendahuluan," ujarnya sambil menulis, "adalah gambaran besar. Bukan tempat curhat, bukan tempat menulis paragraf panjang tanpa arah."

Gadis itu refleks menegakkan punggungnya.

Reyhan melirik. "Rileks,"

Shaqila langsung melonggarkan bahu.

Reyhan kembali menulis. "Pendahuluan terdiri dari lima bagian besar,"

 Belakang!

Rumusan Masalah!

Tujuan Penelitian!

Manfaat Penelitian!

Batasan Penelitian!

Ia menuliskan poin-poin itu dengan garis tebal. Kemudian ia berbalik, menatap Shaqila.

"Sekarang perhatikan baik-baik," ujar dosen itu dengan nada suaranya menurun lebih pelan, tapi justru lebih fokus.

 "Latar belakang adalah bagian terpenting. Kalau ini salah, semuanya ikut salah," lanjutnya.

Shaqila mengangguk. "Latar belakang… penting banget."

"Bukan ‘banget’." Reyhan menatapnya keras. "Tapi fundamental."

Shaqila menggigit bibirnya saat matanya tidak sengaja bertemu dengan tatapan tajam dosennya.

Sepersekian detik tatapan itu berlangsung dan sampai pada akhirnya Reyhan yang memutuskan tatapan itu duluan.

Ia menyilangkan tangan. "Latar belakang itu menjawab satu hal...kenapa penelitian ini perlu dilakukan?"

Reyhan mendekat, mencondongkan tubuh sedikit, memberi ruang tapi cukup dekat sehingga membuat Shaqila merasakan tekanan kecil di dadanya.

"Kamu harus jelaskan masalah utama. Data pendukung...fakta, kondisi terkini. Bukan opini." jelasnya lagi.

Ia mengambil laptop Shaqila dan membuka draft pendahuluannya.

"Ini," ujar Reyhan sambil menunjuk paragraf pertama. "Kamu menulis: Di era modern ini, teknologi berkembang sangat pesat…"

Shaqila langsung ingin menutup wajahnya dengan kedua tangan.

Kalimat pembuka itu memang yeah… klasik dan pasaran.

Reyhan menggeleng pelan. "Ini kalimat pembuka yang dipakai seribu mahasiswa lain. Tidak ada bobotnya."

Shaqila menghela nafas mendengar itu.

"Latar belakang harus dimulai dari masalah nyata. Misalnya..."

Reyhan mengetik cepat. Jemarinya teratur, suaranya pelan tapi jelas.

"Berdasarkan survei X tahun 2023, sebanyak 62% mahasiswa mengalami keterlambatan kelulusan karena kesulitan dalam penyusunan skripsi, khususnya pada proses analisis data. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya pemahaman mahasiswa mengenai teknik analisis yang tepat."

Reyhan berhenti, menatap Shaqila.

"Begitu! ada data, ada masalah, ada alasan mengapa penelitianmu penting."

'Kenapa harus kasih contoh yang seperti itu sih. Seolah dengan sengaja menyindirku,' dengus Shaqila dalam hati.

"Setelah latar belakang, rumusan masalah. Kamu harus buat dalam bentuk pertanyaan. Jelas, spesifik dan tidak kabur!" lanjut Reyhan.

Dosen itu kemudian mengetik lagi seraya mengucapkannya.

"1. Bagaimana proses penerapan metode X dalam menganalisis Y?

Seberapa efektif metode X dalam meningkatkan akurasi analisis?"

Shaqila menyimak itu dengan serius.

Reyhan kemudian menekan enter. "Tujuan penelitian. Sederhana... menjawab rumusan masalah." ucapnya.

"Terakhir, manfaat penelitian," lanjutnya. "Jangan yang lebay atau berlebihan. Tulis dua, manfaat teoritis dan praktis. Singkat!"

"Batasan penelitian. Ini untuk membuat penelitianmu tidak melebar seperti jalan tol." lanjut dosen itu lagi.

Reyhan mendelik kecil. "Sudah paham?"

"I-,iya pak," jawab Shaqila dengan gugup sekaligus kaget.

Reyhan berhenti mengetik.

Keadaan menjadi hening.

Shaqila menahan napas.

"Sekarang, coba kamu ulangi. Sebutkan lima bagian Pendahuluan dalam urutan yang benar." perintah Reyhan.

Shaqila menegakkan punggung, berdeham kecil.

"Latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian."

Reyhan mengangguk. "Bagus."

Shaqila merasa dadanya mengembang bangga.

Seolah ia baru dapat nilai A+, padahal hanya menghafal lima poin.

Reyhan kemudian menutup laptop itu perlahan.

''Pendahuluanmu sudah bisa diperbaiki jika kau mengikuti penjelasan ku tadi. Pelajaran hari ini saya rasa cukup, tugasmu nanti mengganti seluruh pendahuluanmu dengan mengikuti lima poin yang saya jelaskan tadi. Besok di kampus saya akan periksa. Dan kita tidak akan pindah bab dua jika ini masih salah," ucap Reyhan seraya berdiri.

Shaqila mengangguk, "Baik, pak."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pagi pertama di rumah baru itu terasa sangat sunyi.

Shaqila terbangun oleh cahaya matahari yang merayap pelan melewati tirai kamarnya. Udara masih dingin, dan aroma lavender dari diffuser memenuhi ruangan. Gadis itu membuka mata perlahan, lalu duduk sambil menarik napas panjang. Ia sedang datang bulan sehingga tidak bangun subuh.

Shaqila bukan tipe perempuan yang jika datang bulan maka hormonnya berubah. Datang bulan ataupun tidak, ia tetap sama.

Ia melihat sekeliling kamar yang menurutnya masih asing. Kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

Setelahnya, ia turun kelantai bawah karena perutnya minta di isi. Ia menemukan Reyhan yang sudah lengkap sudah duduk di meja makan.

Sementara bi Asih bolak balik ke dapur dan meja makan untuk meletakkan beberapa hidangan.

Shaqila gugup, perutnya sangat lapar. Tapi ia canggung harus semeja dengan Reyhan. Akhirnya gadis itu pun memutuskan untuk menghampiri bi Asih di dapur, namun langkahnya terhenti karena suara orang yang ingin dihindarinya.

"Duduk!" perintah Reyhan. Pandangan laki-laki itu tetap pada laptopnya, mengecek powerpoint yang ia buat untuk bahan ajarannya nanti.

"Duduk!" ulang Reyhan, kali ini lebih pelan tapi tetap tak memberi ruang untuk penolakan.

Shaqila menelan ludah. Jemarinya yang dingin meremas ujung kaus tidurnya sebelum akhirnya ia memaksa melangkah mendekat. Ia duduk di kursi yang paling tidak dekat dengan Reyhan...tepat di seberang, berusaha menjaga jarak sejauh mungkin meski tetap dalam satu meja.

Bi Asih melirik sekilas, seolah ingin memastikan keduanya tidak saling bunuh hanya dengan tatapan.

"Silakan dimakan dulu, non," ucapnya lembut sambil meletakkan semangkuk sup ayam hangat dihadapan Shaqila.

Aroma hangat sup langsung membuat perut Shaqila memprotes keras. Kuahnya bening keemasan seperti hasil rebusan tulang ayam yang dimasak lama hingga mengeluarkan rasa gurih alami. .

"Terimakasih bi," ucap Shaqila dengan senyuman dan mulai menyuap sup itu ke mulutnya dengan canggung karena dihadapannya ada Reyhan.

Suasana kembali sunyi.

Hanya terdengar dentingan sendok Reyhan yang mengaduk kopinya, suara klik-klik laptopnya yang memainkan slide PowerPoint dan suara dari mulut Shaqila ketika memakan sup.

Reyhan tampak mengusap pelipisnya sejenak sebelum menyelipkan tangan ke dalam saku celananya. Gerakannya tenang, nyaris tanpa suara, lalu ia mengeluarkan sebuah kartu tipis berwarna biru... kombinasi warna biru tua yang elegan dan sedikit aksen kuning keemasan di sudutnya.

Laki-laki itu meletakkannya di atas meja makan sehingga menimbulkan suara yang pelan namun tegas. Setelahnya kartu itu ia dorong perlahan ke arah Shaqila, seolah tidak memberi ruang untuk penolakan.

"Gunakan itu untuk keperluanmu," ucap Reyhan, tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop. Nada suaranya datar, nyaris seperti ia sedang memberikan instruksi pada asisten kerja, bukan pada seorang istri.

Sendok yang baru saja akan masuk ke mulut Shaqila berhenti di udara. Gadis itu menatap kartu tersebut, jantungnya bergemuruh campuran bingung, canggung, dan… sedikit tidak percaya. Dalam diam, ia menyeka ujung bibirnya, kemudian menunduk sedikit, tak berani melihat mata Reyhan.

"Untuk apa, Pak?" tanyanya hati-hati.

"Nafkah." Jawaban itu meluncur begitu singkat, tajam, tanpa memberi ruang interpretasi lain.

Reyhan menutup laptopnya, dan memasukkan barang elektronik itu ke dalam tas kulit hitam yang rapi di samping kursinya, lalu berdiri.

Sementara Shaqila hanya bisa menatap punggung Reyhan, masih tercengang melihat kartu ATM yang kini tergeletak pasrah di depannya.

Sebelum benar-benar pergi, Reyhan berhenti di ambang pintu ruang makan. Tanpa menoleh sepenuhnya, ia berkata dengan suara yang lebih rendah, hampir seperti peringatan.

"Ingat, nanti siang datang ke ruangan saya!"

Ucapan itu membuat Shaqila menegakkan punggungnya refleks. Ia sangat tau maksud dari perintah itu. Meskipun tadi malam ia sudah membuat pendahuluan sesuai dengan penjelasan laki-laki itu, tetap saja rasa takut menghampirinya.

Ia menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang panik. Ia sangat trauma akan penolakan.

Tidak ingin larut dalam suasana canggung yang masih tersisa, Shaqila memutuskan untuk ke halaman depan hewan- hewan peliharaan terbarunya.

Matanya berbinar-binar melihat semua hewan yang nampak sangat menggemaskan di matanya.

Pertama ia mengeluarkan kura-kura dari kandangnya dan menggendongnya gemas. "Hai kura-kura, mulai hari ini nama kamu Pipo. Aaaa lucu banget sih, kamu makan yang banyak."

Setelah itu ia memasukkan Pipo kembali ke kandangnya dan membuka kandang kelinci. Gadis itu sedikit kesulitan saat ingin menggendongnya karena kelinci itu selalu menghindar.

"Ishh, jangan menghindar, aku bukan orang jahat," ucapnya dengan nada sedikit kesal.

Seolah paham dengan perkataan Shaqila, kelinci itu mendekat dan membiarkan dirinya di gendong. Senyum Shaqila merekah sempurna menampilkan lesung pipi begitu berhasil menggendong kelinci berbulu putih itu.

"Aaa kau sangat tampak menggemaskan, kira-kira nama apa ya yang cocok untukmu," ucap Shaqila sembari berpikir.

Lima menit kemudian wajahnya kembali cerah, "Karena bulu mu sangat putih seputih salju, Shnowy sepertinya nama yang cocok," ucap Shaqila seraya menatap kelinci itu dan tidak lupa membelai bulunya.

Setelah itu ia meletakkan Shnowy di kandangnya dan memberinya makanan. Terakhir matanya tertuju kepada makhluk berbulu tebal bertubuh gemuk berwarna orange. Ia membuka kandang hewan itu dan berusaha menggendongnya. Namun sialnya Shaqila mendapat cakaran dari hewan itu.

"Aww, galak banget sih. Kok di cakar, padahal kan Shaqila mau kasih makan," ucap gadis itu seraya mengusap tangannya yang kena cakaran.

Seolah mengerti ucapan Shaqila, kucing itu mendekat, dan menatap wajah orang yang telah dicakarnya seraya mengeluarkan suara khasnya.

Meski telah dicakar, Shaqila tetap tersenyum saat melihat kucing itu mendekat. Ia kemudian menggendongnya dan mencium kucing itu dengan dengan gemas.

"Kau sangat gembul, mulai hari ini namamu Mochi. Jangan galak-galak ya, nanti sulit dapat jodoh loh, terus nyusahin orang kek si dosen sok tampan itu," ucapnya.

Ia kemudian menurunkan kucing itu dan mengembalikannya di kandangnya kemudian memberinya makan.

Setelahnya ia ke kolam ikan yang menurutnya sangat indah.

Air di kolam itu berkilau tenang seperti lembar kaca hitam yang memantulkan langit dan dedaunan di atasnya. Di sudut taman, tiga tingkat air terjun kecil mengalir lembut, jatuh dari susunan batu alam yang sengaja dibentuk oleh waktu. Suaranya bergemericik halus yang tak pernah putus...menciptakan irama yang menenangkan, seakan mengajak siapa pun yang mendengarnya untuk duduk dan bernapas lebih pelan.

Gadis itu mengambil makanan ikan yang berada tidak jauh dari kolam itu, kemudian menaburkannya ke dalam kolam.

Seketika puluhan ikan-ikan muncul dipermukaan dan berebut makanan. Melihat hal itu, Shaqila semakin tersenyum.

"Indah banget, maaf ya ikan-ikan karena kalian tidak kuberi nama. Soalnya agak ribet kalau memberi kalian nama hehehe. Tapi kalian tetap Shaqila perhatikan kok, Shaqila suka sama kalian semua.

Setelahnya gadis itu beranjak masuk ke dalam, namun sebelumnya ia melambaikan tangan ke semua hewan-hewan peliharaannya. "Dadah semuanya, Shaqila mau siap-siap dulu ke kampus."

Tiba-tiba ponselnya berdering, ia pun merogoh saku celananya dan membaca notif pesan dari Siska.

Siska:

Qila, gue punya hot news. Lo ke kampus kan? Gue tunggu ya, sangat penting ini. Serius penting banget.

1
Icha sun
ya Ampun Shaq, kamu sampe sakit fisik gara" si Arga. rugi Shaq mikirin cowok redflag gitu 😢
Icha sun
ini adalah definisi sakit tapi gak berdarah ya Shaq... udhlah lupain aja si Arga
🇦 🇵 🇷 🇾👎
hny rs kcw kok jd jht
Aruna02
semakin seru aja ini 😩😩😩 Shakila kasihan ya tuhan kenapa jadi gila kamu nak.
tapi aku juga jika ada di posisi Shakila stress sih
NyonyaGala
tasyaaaaaaaaaaa ku tandain pala kamu yaaa
NyonyaGala
yup rayhan si biang keladi ada di deket kalian ituuu licik emang, kasian ama Qila semoga ga kenapa kenapa
Aruna02
si tasya hmmm gimana ya ngomong nya 🙄🙄p****k
Lisa Halik
double up thor...kesian reyhan
Rezqhi Amalia: besok aja ya kak hehehe 😅 Bru mau nulis lgi
total 1 replies
GreenForest
asyik honeymoon sebentar lagi
GreenForest
akhirnya kena juga Lo tasya
Aruna02
sok polos lagi 🤮🤮
Aruna02
si tasya nyebelin ya 🙄
Aruna02
usul bu typo😄
Mira
Si tasya nyebelin juga yakkk
Lisa Halik
yaa ketauan reyhan...huhuh kesian syaqila...bagaimana nasibnya
Mira
Ayoo Rayhannn bergerak cepat untuk memperbaiki semuanya
NyonyaGala
tasya gatellll caper jelekkk ihhhh sama main ama arga sanaaaaah
NyonyaGala
ini lebih ruwet perkaranya dibanding revisian Qila 😭😭 moga pak rayhan bisa cepet dapet solusi
Icha sun
senengnya bisa barengan Arga ya Shaq. tapi siapa Tasya?
Icha sun
kena batunya kan kamu Shaq... akhirnya kena tiup deh, untung aja wangi 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!