Nicholas Alistair adalah definisi dari bahaya yang memikat. Seorang Boss Mafia kelas kakap dengan kerajaan yang dibangun di atas ketakutan dan baja. la dingin, kejam, dan memiliki segalanya-kecuali hati. Hidupnya sempurna di bawah kendali, hingga ia harus melakukan perjalanan ke pelosok desa terpencil untuk menyelesaikan urusan bisnis yang berdarah.
Di sanalah ia bertemu Rania
Rania, si gadis desa dengan pesona alami yang polos dan lugu, memiliki keindahan yang memabukkan. Postur tubuhnya yang ideal bak gitar spanyol adalah magnet yang tak terhindarkan, membuat mata Sang Don tertuju padanya. la adalah bunga liar yang tumbuh di tempat yang salah, dan Nico, Sang Penguasa Kota, memutuskan ia harus memilikinya.
Apa yang dimulai sebagai obsesi, perlahan berubah menjadi hasrat yang membara. Nico menarik Rania dari kehidupan sederhananya, memaksanya
masuk ke dalam sangkar emas yang penuh intrik, kekayaan, dan bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aretha_Linsey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 Tenang Sebelum Badai
Perjalanan singkat kembali dari dermaga ke kediaman utama Alistair terasa sangat berbeda. Ada kepuasan brutal dari kemenangan kecil tetapi juga kesadaran akan bahaya yang belum berakhir. Luca telah dibungkam dan diserahkan ke ruang penahanan yang paling ketat, tetapi
Vito masih bebas
Saat SUV memasuki gerbang utama, Nicholas merasa beban berat terangkat dari bahunya. Ia telah membersihkan racun dari dalam.
"Kita tidak kembali ke jet, " kata Nicholas pada Rhino.
"Bawa kita ke suite utama. Pastikan tidak ada yang mengganggu kita selama dua jam ke depan. Perintahkan semua pengawal di perimeter untuk siaga penuh. Aku ingin markas ini dijaga seolah olah perang akan datang besok pagi." Nicholas dan Rania berjalan masuk ke suite utama.
Nicholas segera melepaskan blazer dan rompi anti pelurunya, lalu melemparkannya ke sofa. Ia adalah Don yang kelelahan.
Rania memperhatikan luka kecil di buku jari Nicholas bekas tinju yang menghantam Luca. Tanpa bicara, ia mengambil handuk hangat dan mulai membersihkan wajah dan tangan Nicholas dengan gerakan lembut.
"Kau harus mandi, " bisik Rania.
"Kau masih berbau Valetta dan pengkhianatan."
"Valetta berbau seperti pengkhianatan, " desah Nicholas. ia memejamkan mata, menikmati sentuhan Rania.
"Aku tidak menyangka kau akan bersikap setenang itu, Ratu. Kau tidak gemetar."
"Aku melihat monster yang kau sembunyikan. Dia mengerikan, Nicholas. Tapi dia adalah monsterku, dan dia melakukan apa yang harus dilakukan untuk melindungiku. Itu membuatku.. bangga, ” kata Rania, lalu mencium lembut tangan Nicholas.
Setelah Nicholas mandi dan berganti pakaian menjadi setelan casual gelap yang nyaman, mereka duduk di sofa. Tidak lama kemudian, Gio dan Marco masuk untuk memberikan laporan dan menyelesaikan perencanaan strategis.
Nicholas mendengarkan laporan tentang aset Vito yang akan dihancurkan dan penemuan bahwa Vito melarikan diri ke laut untuk sementara waktu.
"Ini bukan lagi soal penyelamatan, " kata Nicholas, suaranya kini kembali pada mode Don yang berkuasa.
"Ini adalah perang total. Aku ingin Vito dipancing keluar dari persembunyiannya."
Nicholas menoleh ke Gio.
"Gio, aku ingin kau memblokir setiap akun bank Vito di seluruh dunia. Hancurkan bisnisnya, jual asetnya di pasar
gelap dengan harga termurah. Buat dia bankrut."
"Dan Rania, " Nicholas mencondongkan tubuh ke depan, matanya tajam.
"Kau akan melakukan hal yang sama padanya, tetapi dengan cara yang lebih halus. Kita akan membuat Vito percaya bahwa aku sedang panik karena pengkhianatan dan bahwa kau, Ratu, adalah sasaran yang mudah. Kita akan memancingnya ke sini, ke wilayah kita sendiri, dan aku akan mengakhirinya di rumahku, di depan ratuku."
Rania mengangguk.
"Aku siap."
Marco dan Gio menyadari bahwa perencanaan telah selesai.
"Kalau begitu, kami permisi, Don. Kami akan kembali ke jet dan mengurus logistik Blackout Vito, " kata Marco.
Setelah Marco dan Gio pergi, keheningan kembali melingkupi suite itu, tetapi kali ini, keheningan itu dipenuhi oleh kebutuhan yang mendalam. Kelelahan luar biasa yang dirasakan Nicholas akhirnya mengalahkan
kewaspadaan.
"Ratu." bisik Nicholas. meraih Rania dan menariknya duduk di pangkuannya.
"Kita sudah melewati neraka malam ini. Aku tidak tahu bagaimana aku akan melewati ini tanpamu..."
Rania menyentuh wahah Nicholas, menelusuri garis rahangnya yang keras, merasakan kehangatan yang kontras dengan kekejaman yang baru saja ia saksikan.
"Jangan pikirkan Luca, Vito, atau uang. Aku butuh dirimu. Aku butuh suamiku. Kita tidak tidur semalam, dan kita baru saja bertempur."
Nicholas tersenyum, senyum yang akhirnya mencapai matanya menghilangkan bayangan kematian. Ia membawa Rania berdiri, dan memimpinnya ke ranjang.
"Aku akan memberimu diriku Ratu, " bisik Nicholas, suaranya dipenuhi janji.
"Obat terbaik untuk kelelahan dan kegilaan adalah kau. Kau adalah jangkar bagiku.-"
Di tengah tengah kekacauan yang akan datang, Nicholas dan Rania menemukan pelabuhan mereka. Sentuhan mereka bukan hanya gairah, itu adalah konfirmasi bahwa mereka nyata, hidup, dan utuh, meskipun dunia di sekitar mereka berusaha menghancurkan mereka. Nicholas memeluk Rania erat, membiarkan kehangatan tubuhnya menghapus rasa sakit dan trauma malam itu. Untuk beberapa jam yang berharga, Nicholas bukan lagi Don Alistair yang merencanakan pembunuhan, melainkan seorang suami yang menemukan kedamaian dalam pelukan istrinya.
Keduanya akhirnya tertidur pulas, dipeluk oleh kesadaran bahwa mereka akan terbangun untuk menghadapi perang, tetapi mereka akan menghadapinya bersama.