laki-laki diuji tiga hal, harta, keluarga dan wanita.
Semuanya bisa mereka atasi tetapi satu yang kerap membuatnya lemah yaitu godaan wanita.
Sepuluh tahun pernikahan kandas karena satu wanita yang dizinkan Alim hadir di tengah keluarganya. Erna tak sanggup hidup dengan laki-laki yang sudah berani mengkhianati janji suci, merobohkan komitmen, dan merusak kepercayaan. Erna memutuskan pergi jauh meninggalkan kedua putrinya, Zaskia Alifta dan Rania Anggraeni di usia masih kecil. kelahiran mereka hanya selisih setahun dan terpaksa menjadi korban keegoisan orang tua. Kepergian Erna justru dicap istri yang durhaka dengan suaminya, dan itu membuat Alim tidak ada rasa bersalah dan berencana menikah dengan selingkuhannya. Zaskia tidak menerima Ibu tirinya dan lebih memilih hidup sendiri. Sementara Rania ikut sang ayah dan hidup enak bersama keluarga barunya tanpa memikirkan sang kakak.
Bagaimana nasib dan masa depan kedua saudara itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annisa Khoiriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Terjadi Dua Tahun Lalu
Malam itu, Cafe Cemara lebih sunyi dibanding hotel kemarin malam. Lampu temaram memantul di permukaan meja kayu, membentuk bayangan yang bergerak pelan. Seorang pria duduk di pojok ruangan, ponsel di tangannya, matanya sesekali menatap pintu masuk.
Burhan menelan napas, mencoba menenangkan tangan yang masih gemetar. Uang yang diterimanya dari Revan tadi hanyalah sebagian kecil dari ketegangan yang terasa di dadanya. Ia tahu, malam ini bukan sekadar pertemuan biasa. Ada rahasia yang harus dijaga, ada informasi yang harus disampaikan.
“Saya tahu ini berisiko, tapi saya tidak berani menentang Pak Revan,” gumamnya pelan, lebih untuk dirinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari luar. Burhan menoleh, menyesuaikan posisi duduknya, bersiap menyambut. Hening sesaat, hanya terdengar suara gelas dan musik lembut di kafe.
Pintu terbuka, dan sosok Revan masuk. Ia tetap tenang, tapi membawa aura yang membuat Burhan tahu—malam ini, setiap detik akan penting.
Revan melangkah ke meja, menatap Burhan singkat.
“Selamat malam, Pak Burhan. Terima kasih sudah datang,” ucapnya datar, tapi tajam, seolah bisa membaca kegelisahan orang di depannya.
Burhan mengangguk, menelan ludah.
“Selamat malam, Pak Revan.”
Revan meletakkan tas tenteng hitamnya di atas meja.
“Baik. Kita bicara di sini. Silakan, Pak Burhan.”
Hening sejenak. Udara malam terasa lebih tegang. Burhan tahu, percakapan berikutnya akan menentukan banyak hal—lebih dari sekadar informasi biasa.
Revan tahu betul ada ketakutan dalam diri Burhan. Dahinya berkerut, di ruangan ber-AC, tak mungkin pelipisnya berkeringat.
“Pak Burhan, jangan khawatir. Siapa pun yang terlibat dengan saya akan terjamin keamanan dan keselamatannya, termasuk orang-orang terdekat Anda,” lanjut Revan, menenangkan.
Revan menangkap perubahan napas Burhan saat kata keluarga terucap. Ancaman pada orang terdekat—itu bahasa lama, bahasa orang-orang yang ingin jejaknya lenyap rapi.
Burhan bernapas lebih ringan. Ada kelegaan di dadanya setelah mendengar ucapan itu.
“Malam itu, tepatnya dua tahun yang lalu. Saat ada renovasi di lantai atas. Kondisi hotel agak merenggang karena fokus ke sana. Tapi tidak dengan saya.”
Ia terdiam sejenak, mencari kata-kata yang tepat.
Sementara Revan mendengarkan dengan santai, tangan terlipat di atas meja.
“Saya sedikit tersentak saat melihat foto yang Pak Revan berikan. Saya yakin dia perempuan yang datang malam itu.”
“Dia datang sendiri?” tanya Revan.
“Tidak,” jawab Burhan spontan dan yakin.
Revan kembali menyenderkan tubuhnya. Satu tangan diletakkan di atas meja, yang satunya di paha, lebih siap mendengarkan kelanjutannya.
Burhan melanjutkan.
“Ada dua orang yang bersamanya. Perempuan dan laki-laki. Mereka berdua memakai masker sebelum masuk ke area reservasi. Saya hanya melihat wajah perempuan itu di foto—itu pun dalam kondisi ia pingsan di kursi roda.”
Tidak ada ekspresi terkejut atau bingung. Revan tahu mana yang berbicara jujur dan mana yang tidak lewat gestur. Diam dan mendengar adalah caranya menganalisis seseorang.
“Dari cerita Pak Burhan, saya yakin Anda tahu banyak tentang ini.”
Burhan mengangguk.
“Benar, Pak.”
“Lanjutkan.”
“Dia dibawa mereka dalam keadaan tidak sadar. Pekerjaan saya tidak boleh mencampuri urusan pribadi tamu jika mereka punya alasan yang logis.”
“Apa itu?” Revan mencondongkan tubuh, tangan terlipat di atas meja. Burhan tetap duduk tegap sejak awal Revan datang.
“Katanya dia sedang tidur karena tidak enak badan, efek perjalanan panjang dari luar pulau. Ada paspornya, Pak. Jadi saya tidak curiga sama sekali. Untuk memastikan, saya juga bertanya ke resepsionis. Jawabannya sama.”
“Lalu?”
“Saya kembali bekerja, Pak. Tapi keesokan harinya...”
“Pak...” suara Burhan kembali bergetar, seolah tak ingin melanjutkan.
“Kenapa berhenti, Pak Burhan?” Revan menatap kecemasannya.
“Saya takut terjadi apa-apa dengan keluarga saya, Pak.”
Revan menegakkan tubuh. Ia tidak meninggikan suara; justru ketenangannya membuat ucapannya terasa tak terbantahkan.
“Anda ingat dengan perkataan saya di awal tadi?”
Burhan mengangguk pasrah. Ada keberanian karena empati, tapi juga bayangan ancaman pada keluarganya.
“Sudah sejauh ini, tidak mungkin berhenti begitu saja,” lanjut Revan.
Akhirnya Burhan meneruskan. Kali ini ia hanya bermodal keyakinan pada Revan. Apa pun yang terjadi, pikirnya, sejauh yang ia tahu Revan selalu menepati ucapannya.
“Pagi itu, saya memeriksa tiap kamar yang menjadi tugas saya. Saya mendengar suara tangisan perempuan dari salah satu kamar. Berkali-kali saya panggil, tidak ada sahutan, tapi dia terus menangis,” Burhan menelan saliva, kembali mencari ketenangan.
“Terpaksa saya membuka pintu dengan kunci cadangan. Dari ambang pintu, saya melihat dia tertutup selimut. Pakaiannya rusak, berserakan di lantai. Saya mendekat ingin membantu, tapi dia berteriak histeris di tengah isak tangisnya—saya mundur, dan dia sedikit tenang. Saat saya keluar mencari bantuan, dia sudah tidak ada.”
“Saya tanya ke staf lain, tak ada yang tahu. Dan hari itu, CCTV mati. Saya tidak tahu dia ke mana, dalam keadaan seperti itu.”
Ada bagian dari cerita itu yang terdengar terlalu rapi. Dan kerapiannya justru membuat Revan semakin waspada.
Burhan menghela napas berat.
“Saya mencoba mencari datanya ke resepsionis. Tapi tiba-tiba ada nomor anomali mengirim pesan, meminta saya tidak mencari tahu soal apa yang saya lihat, dengan ancaman pada keluarga saya. Sejak itu, saya bungkam sampai sekarang, Pak.”
Revan mempertahankan sikap duduknya yang lurus. Ekspresinya tetap netral.
“Apa hanya ada tangisan? Dia sempat mengatakan sesuatu?” tanya Revan.
Burhan berpikir keras. Hening.
“Ada, Pak. Cuma sekali,” katanya pelan, mendongak mengingat.
“Dia bilang...Ada di rumah...”
Kalimat itu membuat Revan terdiam sesaat. Bukan terdengar seperti teriakan minta tolong—lebih seperti potongan petunjuk yang datang terlambat.
Burhan meyakinkan dirinya sendiri.
“Iya, Pak Revan. Itu yang saya dengar.”
“Saya mengerti sekarang.”
Burhan mengernyit. Ia tak sepenuhnya paham maksud Revan, tapi dari ekspresinya, pria itu tahu lebih banyak daripada yang ia ceritakan.
“Terima kasih atas kerja samanya, Pak Burhan.” Revan menjabat tangan Burhan dengan hormat.
“Setelah ini, Bapak akan selalu berada dalam pengawasan saya,” jelas Revan sekali lagi untuk meyakinkannya.
Burhan mengangguk pelan. Ia tidak tahu apakah itu bentuk perlindungan atau bentuk lain dari jerat, tapi setidaknya— malam ini ia masih bisa pulang dengan tenang.
Revan berdiri lebih dulu. Tidak ada janji lanjutan, tidak ada waktu pertemuan berikutnya. Itu justru membuat Burhan semakin paham: urusan ini sudah bukan lagi miliknya.
Mereka berpisah di depan kafe. Burhan berjalan menjauh tanpa menoleh. Revan memperhatikannya sebentar, lalu memalingkan pandangan.
Revan merogoh ponselnya. Nama yang tersimpan lama muncul di layar.
Zaskia.
Ia menatapnya lebih lama dari yang ia kira.
Ada sesuatu yang perlu ia sampaikan—dan Zaskia adalah satu-satunya orang yang harus mengetahuinya.