Sejak ribuan tahun lalu, dunia telah diatur oleh sang Dewi Takdir. Namun sang Dewi harus mengorbankan kehidupannya yang pada saat itu tengah terjadi perang di alam dewa, antara kubu dewa dewi dengan kubu iblis.
Namun, pengorbanannya itu tidak bertahan lama, sang Dewi harus melakukan reinkarnasi untuk kembali menyeimbangkan dunia.
Akankah sang Dewi Takdir mampu kembali menyatukan takdir yang telah dijaganya beribu tahun yang lalu?
ikuti kisahnya dalam bab berikut ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ShinZa_17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Perjalanan mereka pun akhirnya berbelok dari jalur utama. Jalan setapak yang mereka lewati makin sempit. Tanahnya retak-retak dan rerumputan pun seolah tak terlihat.
Jalan ini seperti tidak ada kehidupan di dalamnya. Pohon-pohon di setiap mereka lewati seperti layu, warna daunnya bahkan berwarna cokelat. Seperti ada yang mengambil inti dari pepohonan itu.
Mereka pun semakin jauh berjalan dari jalur utama, dan mulai terlihat jelas tanda-tanda kesulitan hidup.
Perangkap-perangkap untuk menangkap hewan kosong, ladang yang mengering, dan rumah-rumah jauh dari kata sederhana nampak nyaris roboh
Akhirnya, mereka tiba di sebuah desa kecil di cekungan bukit.
Desa itu sunyi, bukan sunyi yang tenang, melainkan sunyi karena kelelahan. Beberapa anak terlihat kurus yang mengintip dari balik pintu kayu, mata mereka langsung membesar ketika melihat orang asing.
Para wanita berhenti menumbuk gandum, karena memang hampir tak ada gandum yang tersisa.
Pemimpin bandit yang merupakan pemimpin desa itu menelan ludah. "Inilah desa kami."
Ling Xi melangkah pelan, hatinya terasa teriris dan juga berat melihat rumah-rumah yang nyaris roboh itu. Ia pun menghampiri salah satu rumah dan melihat periuk yang kosong di depan rumah.
Bahkan baju-baju pun sudah tak layak pakai karena banyaknya kain yang ditambal. Dan wajah-wajah mereka bahkan sangat tirus dan pucat karena menahan rasa lapar.
Terlihat seorang anak kecil berlari ke arah pemimpin desa. "Paman... apa paman dapat makanan?"
Pemimpin desa itu terdiam. Tangannya bergetar saat mengusap kepala anak itu. "Bentar lagi, ya..."
Ling Xi pun tak kuat untuk menunggu lebih lama.
Dengan segera ia menghampiri Lian dan yang lainnya.
"Lian," katanya lembut namun tegas. "Apa persediaan makanan kita masih ada?"
Lian segera membuka kantong penyimpanan. "Cukup untuk perjalanan panjang. Beras, daging, roti... dan beberapa pil pemulih masih tersedia."
"Bagikan," ujar Ling Xi tanpa ragu. "Mulai dari anak-anak dan orang tua."
Pemimpin desa terkejut. "T-tapi itu bekal kalian-"
"Kami masih bisa mencarinya lagi," potong Ling Xi dengan senyum kecil. "Kalian lebih membutuhkannya sekarang."
Semuanya ikut membantu. Dengan gerakan cepat, Bai Hu membelah kayu dan menyalakan api. Paman Yun mengatur pembagian dengan rapi agar tidak ada yang berebutan.
Dan dalam waktu singkat, aroma bubur hangat menyebar bahkan aromanya membuat warga desa meneteskan air mata
Tangis tertahan pun akhirnya pecah
"Sudah lama kami tidak mencium bau seperti ini..." bisik seorang nenek.
Saat warga mulai makan, Ling Xi memperhatikan lingkungan sekitar. Tanah desa ini... dingin dan kering tak wajar. Ia berlutut, menyentuh tanah dengan telapak tangannya.
Ia merasakan dalam tanah itu seperti ada bekas energi yang mengganggu aliran alam.
"Tuan kepala," panggilnya pelan.
"Sejak kapan desa ini mengalami hal seperti ini?"
"Ini terjadi sudah sejak lama, namun ini yang paling parah."
"Apa sebelumnya pernah terjadi sesuatu?"
"Saya juga sebenarnya kurang yakin, walaupun saya sudah lama tinggal di desa ini. Tetapi, waktu itu ada seorang pemburu mengatakan bahwa dekat Lembah Tianlong, yang tak jauh diri sini, ada sebuah bayangan hitam besar dengan mata memerah. Tapi, ia tidak bisa melihat apa itu, karena pemburu itu takut terjadi apa-apa pada dirinya, akhirnya ia pergi dengan cepat meninggalkan tempat itu," jelasnya.
Ling Xi pun mengangguk, kemudian memanggil Paman Yun, Lian dan Bai Hu.
Mereka pun mendekat. "Tadi, Xie'er sudah bertanya pada pemimpin desa, bahwa sebelumnya ada seorang pemburu yang melihat bayangan hitam dengan mata merah..."
"Itu pasti ulah iblis," potong Lian.
"Coba kalian rasakan tanah yang kita pijak ini, aku merasa ada aliran energi yang mengganggu tanah di sini."
Mereka pun mulai merasakan tanah yang mereka genggam.
"Kau benar, Xie'er. Energi tanah di sini ada yang aneh."
"Karena itu, Xie'er ingin menyelidiki kasus ini. Dan Xie'er juga minta sama kalian bertiga untuk menjaga desa ini selama Xie'er melakukan penyelidikan..."
"Tapi itu bahaya kalau kau sendiri yang melakukannya," potong Paman Yun.
"Iya, biarkan aku atau Lian atau juga Paman Yun yang menemani. Bahaya jika pergi sendiri. Kami tidak ingin terjadi apa-apa denganmu," tambah Bai Hu.
"Xie'er mohon, biarkan kali ini Xie'er menyelidiki sendiri. Xie'er yakin tidak akan terjadi apa-apa. Kalian percaya padaku kan?" ucapnya dengan wajah memelas.
Mereka yang melihat tatapan memelas Ling Xi langsung dibuat tak berkutik.
Mereka pun menghela napas pasrah. "Tapi... kalau ada sesuatu, segera beri tahu kami lewat telepati."
"Eumm... Baiklah. Karena kalian sudah setuju, Xie'er pergi sekarang," ucapnya dengan semangat.
"Hati-hati Xie'er," ucap mereka bertiga.
...... to be continued ... ...