Diantara kita hanya ada kebaikan saja? tidak ada harapan untukku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MonAmour19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada yang kurang entah apa itu? (6)
Pagi itu, langit masih diselimuti awan kelabu.
Hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang memenuhi halaman SMA Bintang Nusantara. Para siswa berjalan tergesa-gesa menuju kelas masing-masing, sesekali menghindari genangan air yang masih tersisa di beberapa sudut sekolah.
Di kelas XI-B, bangku dekat jendela tampak kosong. Sudah lima belas menit pelajaran pertama dimulai. Naya belum datang. Tasya melirik bangku itu beberapa kali sebelum akhirnya membuka ponselnya di bawah meja.
> Tasya
> Masih demam?
Tak lama kemudian balasan masuk.
> Naya
> Iya. Semalam panasnya naik lagi. Hari ini izin dulu.
Tasya menghela napas pelan. Semoga besok sudah membaik.
---
Di sisi lain sekolah, Arga baru saja selesai mengikuti rapat singkat OSIS.
Hari itu jadwal mereka cukup padat. Selain mempersiapkan Festival Seni, mereka juga harus mengurus kegiatan upacara hari Senin.
"Ga." Steven menepuk bahunya.
"Rapat Festival nanti jadi, kan?" lanjut steven
"Jadi." ucap arga
"Jam tiga?"
"Iya." Arga membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa.
"Masih ada beberapa surat yang harus dicek." Steven mengangguk.
"Oke."
Bel istirahat berbunyi. Koridor kembali ramai seperti biasanya.
Arga berjalan menuju kantin bersama beberapa teman OSIS. Mereka membahas sponsor yang belum memberikan jawaban sambil sesekali bercanda.
Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang berbeda. Setidaknya, sampai sore tiba.
---
Pukul tiga tepat. Ruang OSIS mulai dipenuhi anggota panitia.
"Divisi acara udah lengkap?" tanya Arga
"Udah."
"Publikasi?"
"Hadir."
"Perlengkapan?"
"Lengkap."
Arga mengangguk sambil melihat daftar hadir. Tanpa sadar matanya berhenti pada satu nama.
**Naya**
Ia mengangkat kepala.
"Tasya."
"Iya, Kak?"
"Naya belum datang?"
Tasya yang sedang membuka laptop ikut melihat ke arah pintu.
"Oh..."
"Naya izin hari ini, Kak."
"Sakit." Arga mengangguk pelan.
"Sakit apa?"
"Katanya demam."
"Hm..." Hanya satu gumaman pendek. Lalu Arga menutup daftar hadir.
"Oke."
"Kita mulai aja."
Tidak ada ekspresi berubah di wajahnya.
Tidak ada tanda-tanda khawatir yang berlebihan.
Namun sepanjang rapat, tanpa sadar pandangannya beberapa kali mengarah ke kursi kosong di sampingnya.
Kursi yang biasanya ditempati sekretaris. Hari itu kosong. Dan entah kenapa...
Ruangan terasa sedikit berbeda dari sebelumnya.
---
"Jadi untuk proposal sponsor..." Arga menghentikan ucapannya. Ia melihat ke arah meja.
Biasanya sebelum rapat dimulai, sudah ada map biru berisi susunan agenda yang disiapkan Naya.
Hari ini tidak ada.
"Oh iya..." gumamnya pelan sambil tersenyum tipis. Ia baru ingat. Naya memang tidak masuk.
"Ada apa, Ga?" tanya steven
"Nggak." Arga menggeleng.
"Lanjut." Rapat kembali berjalan.
Namun beberapa kali Arga harus membuka kembali catatan lamanya karena tidak ada seseorang yang biasanya mengingatkan urutan pembahasan.
Rapat selesai hampir tiga puluh menit lebih lama dari biasanya.
"Capek juga ya." Steven meregangkan badannya.
"Biasanya lebih cepat."
"Iya." Arga menutup mapnya.
"Mungkin karena banyak yang dibahas."
Ia tidak menyadari bahwa penyebab rapat menjadi lebih berantakan bukanlah banyaknya materi.
Melainkan karena tidak ada Naya yang diam-diam selalu membantu mengatur semuanya.
---
Sore mulai berganti senja. Sebagian anggota panitia sudah pulang. Arga masih duduk sendiri di ruang OSIS sambil merapikan berkas.
Matanya tertuju pada sebuah pulpen hitam yang tergeletak di sudut meja. Ia mengenal pulpen itu. Pulpen yang beberapa hari lalu ia pinjamkan kepada Naya saat rapat pertama.
"Belum dibalikin..." gumamnya pelan. Namun ia justru tersenyum kecil.
"Nggak apa-apa." Lagipula, itu hanya sebuah pulpen.
---
Dalam perjalanan pulang, ponsel Arga bergetar.
Grup panitia Festival Seni ramai oleh pesan.
> Tasya
> Notulen rapat hari ini sementara aku yang catat ya. Maaf kalau berantakan 😅
Beberapa anggota langsung membalas.
>Steven
> Baru sadar ternyata kerjaan sekretaris banyak juga.
> Siska
> Iya, biasanya tinggal baca hasil catatan Naya.
Arga ikut membaca percakapan itu. Jari-jarinya berhenti di atas layar.
Beberapa detik kemudian ia mengetik.
> Arga
> Semoga Naya cepat sembuh.
Pesan itu langsung mendapat beberapa balasan.
> Aamiin.
> Cepat sembuh, Nay!
Di rumahnya, Naya yang sedang berbaring di tempat tidur mendengar notifikasi dari grup. Ia membuka layar ponselnya Matanya berhenti pada satu nama.
** Arga.**
*"Semoga Naya cepat sembuh."*
Kalimat itu sederhana. Bahkan semua anggota panitia ikut mendoakannya.
Namun entah mengapa...
Yang paling lama ia baca justru pesan dari Arga. Sudut bibirnya terangkat pelan. Demamnya memang belum turun. Kepalanya masih terasa berat. Tetapi untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum.
Sementara di rumah yang berbeda, Arga baru saja menutup buku catatannya. Ia mengembuskan napas pelan.
"Semoga besok udah masuk." Kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya.
Tanpa alasan yang ia pikirkan.
Tanpa makna yang ia cari.
Ia hanya merasa...
Rapat hari ini terasa ada kurang.
Dan ia belum tahu, bahwa perasaan "ada yang kurang" itu akan semakin sering ia rasakan setiap kali Naya tidak berada di dekatnya.
......................
soon to bee