Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Setelah Menyelamatkan Dunia
Keseharian Para Pahlawan Remaja
Setelah pertempuran epik menumbangkan Darking dan membubarkan lautan monster di dimensi kegelapan, kehidupan di empat kota—Zenith, Cyber, Harvest, dan Kosmik—kembali berjalan seperti sediakala. Tidak ada lagi langit ungu yang menakutkan, tidak ada lagi guncangan tanah akibat serbuan makhluk raksasa, dan yang paling penting, tidak ada lagi tugas menyelamatkan dunia dalam kurun waktu dekat.
Namun, kembali ke kehidupan biasa bukan berarti mereka benar-benar meninggalkan identitas mereka sebagai 32 Miracle. Kekuatan ajaib dan sihir elemen yang melekat di dalam tubuh mereka kini beralih fungsi menjadi sarana pempermudah hidup sehari-hari yang sangat berguna (dan sering kali mengundang tawa).
Di Kota Zenith, Ayyasy yang masih menjabat sebagai ketua Miracle sering kali memanfaatkan Dragon Flame Aura versi mikro hanya untuk menyalakan kompor gas saat ibunya kehabisan pemantik, atau sekadar menghangatkan makanan dalam hitungan detik. Abzari, yang malas berjalan jauh saat menyapu halaman rumah, tanpa ragu memanggil angin topan kecil untuk mengumpulkan daun-daun kering ke dalam satu wadah dengan sekali jepretan jari. Sementara Arkan kerap menggunakan sihir buminya untuk menata ulang pot-pot bunga di pekarangan tanpa perlu memeras keringat.
Di kelas, kehidupan akademik mereka berjalan penuh dinamika. Momen-momen krusial seperti mengerjakan tugas Matematika bersama menjadi jauh lebih cepat berkat bantuan sihir analisis. Sintia tidak jarang mendinginkan ruang kelas yang gerah saat AC sekolah mati dengan memancarkan aura es tipis di bawah mejanya.
Mereka tetap menjadi anak-anak remaja biasa: nongkrong di warung dekat sekolah, bermain gim online hingga larut malam, jalan-jalan ke pusat perbelanjaan saat akhir pekan, dan tentu saja, bersusah payah menghadapi jam-jam berburu nilai menjelang kelulusan SMP.
Hari-hari berlalu tanpa terasa, hingga lembaran masa SMP resmi ditutup. Hari kelulusan disambut gembira oleh seluruh anggota Miracle Zenith. Dengan mengantongi ijazah SMP dan deretan kenangan indah, mereka dihadapkan pada jenjang pendidikan berikutnya: Sekolah Menengah Atas (SMA).
Suatu sore di markas Zenith, sembari menikmati es teh dan camilan, kelompok Zenith duduk melingkar membeberkan rencana masa depan mereka.
"Gua dapet brosur sekolah bagus nih," kata Rehan sambil melempar sebuah brosur berdesain megah ke atas meja.
Azkailah memungut brosur tersebut dan membacanya keras-keras. "SMA Perbatasan. Sekolah unggulan interkoneksi empat kota. Fasilitas teknologi tinggi, laboratorium sihir modern, dan area olahraga seluas lapangan olimpiade."
"Gue denger, SMA Perbatasan itu berdiri tepat di titik tengah perbatasan Zenith, Cyber, Harvest, dan Kosmik," timpal Night sambil bersandar di kursi. "Seleksinya ketat banget. Cuma murid-murid dengan nilai akademik dan bakat terbaik dari empat kota yang bisa lolos."
"Gimana kalau kita janji masuk ke sana bareng-bareng?" usul Ayyasy memandang teman-temannya satu per satu. "Meskipun kita gak tahu teman-teman dari tiga kota lain bakal sekolah di mana, setidaknya kalau kita di SMA Perbatasan, kita bakal lebih dekat ke wilayah perbatasan mereka."
Semua anggota Miracle Zenith menyetujui ide tersebut. Mereka berjanji akan berjuang sekuat tenaga melewati ujian masuk SMA Perbatasan. Tanpa sepengetahuan mereka, ide yang sama ternyata terlintas di benak para anggota Miracle dari Kosmik, Cyber, dan Harvest. Karena kesibukan persiapan ujian dan pendaftaran yang dilakukan secara mandiri, tak satu pun dari ke-32 Miracle yang saling mengabari atau berjanji secara resmi lewat grup obrolan. Mereka semua mendaftar secara diam-diam!
Masa MPLS dan Teka-Teki Kelompok
Proses pendaftaran berlalu dengan ketegangan tinggi, diikuti oleh pengumuman kelulusan yang disambut rasa syukur luar biasa. Seluruh anggota 32 Miracle ternyata berhasil menembus seleksi ketat dan diterima di SMA Perbatasan!
Namun, cerita lucu dimulai saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) berlangsung selama tiga hari.
SMA Perbatasan memiliki jumlah siswa baru yang sangat banyak, mencapai ratusan murid dari berbagai penjuru empat kota. Pihak panitia osis membagi seluruh siswa baru ke dalam belasan kelompok MPLS yang diacak secara ketat.
Selama tiga hari MPLS, anak-anak Miracle Zenith disibukkan dengan tugas-tugas khas MPLS seperti membuat nametag dari kardus bekas, membawa teka-teki makanan aneh, serta menghafal jargon kelompok. Karena kompleks sekolah yang luar biasa luas dan padatnya jadwal dari pagi hingga sore, mereka sama sekali tidak sempat berpapasan atau menyadari kehadiran teman-teman Miracle dari kota lain.
Ayyasy berada di Kelompok 3 yang sibuk mengelilingi fasilitas olahraga. Night ada di Kelompok 7 yang seharian mendekam di laboratorium sains. Abzari berada di Kelompok 12 yang heboh dengan tugas pemuatan yel-yel. Masing-masing fokus survival menyelesaikan masa orientasi mereka sendiri.
Hari Pertama Sekolah: Papan Pengumuman Kelas
Hari yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Hari pertama masuk sekolah resmi sebagai siswa kelas X SMA Perbatasan.
Pagi itu, suasana koridor utama SMA Perbatasan sangat ramai dan bising. Ratusan murid baru berseragam putih-abu-abu rapi berdesakan di depan papan pengumuman raksasa di dekat aula utama. Pihak sekolah baru saja menempelkan daftar pembagian kelas untuk tahun ajaran baru.
Setiap kelas di SMA Perbatasan dirancang berkapasitas 35 orang murid.
Ayyasy, Rehan, Arkan, Abzari, dan Night berjalan bersama menembus lautan murid untuk mencari nama mereka.
"Rame banget, astaghfirullah..." keluh Abzari sambil berjinjit mencoba melihat kertas pembagian kelas. "Semoga kelas kita gak jauh-jauh dari kantin."
"Bisa diem sebentar gak, Zar? Gua mau nyari nama gua nih," potong Arkan yang matanya cermat menyisir barisan nama di papan pengumuman.
Tiba-tiba, mata Ayyasy tertahan di lembaran kertas berkode KELAS X-1.
"Eh, tunggu..." gumam Ayyasy pelan. Ia menggosok matanya berkali-kali, merasa tidak percaya dengan nama-nama yang tertera di sana.
"Kenapa, Yas?" tanya Rehan ikut mendekatkan wajahnya ke papan.
Satu per satu nama yang tercantum di kertas pembagian kelas X-1 dan X-2 dibaca oleh mereka. Wajah Ayyasy, Rehan, Night, Arkan, dan Abzari berubah dari bingung menjadi sangat terkejut!
"Ini... bukannya nama-nama anak Kosmik, Cyber, sama Harvest?!" seru Abzari setengah berteriak sampai beberapa murid lain menoleh heran.
"Gak mungkin..." bisik Night dengan mata membelalak. "Kita gak pernah janjian pendaftaran, kan?!"
Ternyata, tanpa disengaja sama sekali, sistem pengacakan kelas SMA Perbatasan telah mengumpulkan seluruh 32 Miracle ke dalam dua kelas yang berdekatan, yaitu Kelas X-1 dan Kelas X-2!
Sebab setiap kelas berisi 35 orang murid, maka di masing-masing kelas terdapat 16 anggota Miracle yang bercampur dengan 19 orang murid biasa dari berbagai daerah.
Berikut adalah susunan lengkap pembagian 32 Miracle di kedua kelas tersebut:
DAFTAR MURID KELAS X-1 (Kapasitas: 35 Murid)
(Berisi 16 Anggota Miracle + 19 Murid Biasa)
Anggota Miracle di X-1:
Ayyasy (Zenith)
Arunnaqa (Cyber)
Davi (Harvest)
Cheryl (Harvest)
Dimas (Kosmik)
Tsalwa (Kosmik)
Sintia (Zenith)
Iyan (Kosmik)
Abzari (Zenith)
Alya (Kosmik)
Fadhil (Kosmik)
Ghani (Cyber)
Ghofar (Cyber)
Nailu (Cyber)
Rehan (Harvest)
Cinta (Harvest)
ditambah 19 Murid Biasa lainnya.
DAFTAR MURID KELAS X-2 (Kapasitas: 35 Murid)
(Berisi 16 Anggota Miracle + 19 Murid Biasa)
Anggota Miracle di X-2:
Night (Zenith)
Azkailah (Zenith)
Arkan (Zenith)
Serafe (Zenith)
Ilham (Kosmik)
Nayya (Kosmik)
Nayla (Kosmik)
Rahman (Kosmik)
Rava (Kosmik)
Vikka (Cyber)
Delila (Cyber)
Delaya (Cyber)
Dhafina (Cyber)
Gita (Harvest)
Jessica (Harvest)
Tasya (Harvest)
ditambah 19 Murid Biasa lainnya.
Reuni Tak Terduga di Koridor Sekolah
"Woy! Ayyasy!"
Sebuah suara bersemangat yang sangat familiar terdengar dari arah tangga. Ayyasy menoleh dan mendapati Davi, Cheryl, Ghani, Rahman, Fadhil, dan Nailu dari Harvest sedang berjalan cepat mendekati mereka dengan seragam SMA Perbatasan yang masih gress.
"Davi?! Cheryl?!" seru Ayyasy terkaget-kaget. "Kalian sekolah di sini juga?!"
"Bukan cuma kita berdua, kawan!" kekeh Cheryl sambil menunjuk ke belakangnya.
Di belakang mereka, berjalan rombongan Arunnaqa, Dhafina, Vikka, Cinta, Gita, Delila, dan Delaya dari Cyber, disusul oleh Tasya Dimas, Tsalwa, Alya, Iyan, Ghofar, Nayya, Ilham dan Nayla dari Kosmik. Dalam hitungan detik, koridor depan kelas X-1 dan X-2 mendadak dipenuhi oleh reuni riuh ke-32 pahlawan yang terpancar kaget sekaligus bahagia.
"Parah banget! Kalian semua pada daftar ke sini gak ada yang info di grup?!" omel Azkailah sambil melipat tangannya, tapi matanya memancarkan rasa senang yang luar biasa.
"Ya kan kita pikir kalian pada masuk sekolah negeri di kota masing-masing!" balas Arunnaqa sambil tertawa manis. Jemarinya sibuk membetulkan kacamata dan tas punggungnya. "Ternyata takdir memang gak bisa bohong ya. Kita disatuin lagi di sekolah yang sama!"
"Mana kelasnya bersebelahan lagi, X-1 sama X-2!" tambah Dimas sambil menunjuk dua pintu kelas yang berdampingan di koridor lantai dua itu. "Ini sih fix sistem komputer sekolahnya jodoh sama kita."
"Tapi inget ya," ujar Tasya dari barisan anak Kosmik sambil memperingatkan teman-temannya. "Di kelas kita masing-masing ada murid biasa. Ada 19 orang di X-1 dan 19 orang di X-2 yang gak tahu sama sekali soal kekuatan kita atau kejadian pertempuran di dimensi Darking. Jadi kita harus jaga sikap dan bertindak kayak murid SMA normal!"
"Tenang aja, Sya," sahut Abzari santai. "Gua kan ahlinya nyamar jadi murid normal. Yang penting nanti pas jam istirahat kita bisa ke kantin bareng-bareng!"
Bel masuk sekolah berbunyi nyaring menggema di seluruh penjuru SMA Perbatasan. Anak-anak Miracle segera berpisah membagi diri masuk ke dalam dua kelas bersebelahan tersebut.
Di dalam Kelas X-1, Ayyasy memilih duduk di jajaran meja tengah dekat jendela. Di sebelah kanannya duduk Davi, sementara di meja depan Ayyasy ada Arunnaqa yang duduk bersebelahan dengan Sintia. Di barisan belakang, Cheryl, Abzari, Iyan, dan Fadhil sudah asyik mengobrol ringan dengan beberapa murid baru biasa yang menjadi teman sekelas mereka.
Kehadiran 19 murid biasa di dalam kelas memberikan nuansa baru yang hangat. Anak-anak Miracle tidak bersikap eksklusif; mereka dengan cepat berbaur, berkenalan, dan bercanda dengan teman-teman baru yang berasal dari latar belakang beragam.
Tak lama kemudian, wali kelas X-1 masuk membawa buku absensi.
"Selamat pagi semuanya. Selamat datang di Kelas X-1 SMA Perbatasan," sapa guru tersebut ramah. "Hari ini kita akan memulai dengan perkenalan singkat, pembentukan pengurus kelas, dan penyusunan jadwal piket."
Ayyasy menoleh ke luar jendela kelas X-1. Di balik kaca, ia bisa melihat koridor yang cerah dan daun-daun pohon yang bergoyang tertiup angin sore. Ia juga bisa mendengar gelak tawa sayup-sayup dari jendela Kelas X-2 di sebelah, di mana Night, Arkan, Tasya, dan yang lainnya juga sedang memulai hari pertama mereka.
Ayyasy tersenyum tulus. Perjuangan berat mereka di masa lalu melintasi dimensi kegelapan memang telah berakhir dengan kemenangan. Namun kini, lembaran baru yang tidak kalah seru dan berwarna-warni baru saja dimulai: masa-masa putih-abu-abu sebagai siswa SMA Perbatasan, mengukir cerita, persahabatan, dan kenangan baru bersama ke-32 Miracle.
Dan tanpa sepengetahuan mereka, sebuah sosok sedang mengawasi mereka dari kejauhan.
"Tunggu saja para Miracle. Kalian bisa kalah dari Darking, tapi kalian tidak bisa kalah dariku" ucap sosok itu dengan nada berat.
Siapakah dia sebenarnya?