Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.
Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.
#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : Pertemuan dengan Masa Lalu
Siang itu, matahari ibu kota memantulkan cahaya terik melalui dinding kaca gedung-gedung pencakar langit di kawasan bisnis segitiga emas. Udara di luar terasa panas dan pengap, berbanding terbalik dengan sejuknya suasana di dalam sebuah restoran Jepang omakase kelas atas yang tersembunyi di balik pintu kayu minimalis bergaya Zen. Aroma kayu hinoki berpadu dengan wangi samar teh hijau panggang menyambut siapa pun yang melangkah masuk, menciptakan ilusi seolah dunia yang hiruk-pikuk di luar sana sama sekali tidak pernah ada.
Kirana melangkah masuk ke dalam restoran tersebut ditemani oleh Bi Inah—atas permintaan mertuanya yang mendesak agar Kirana sesekali keluar rumah untuk membeli beberapa keperluan dapur khusus dan bahan kue segar di pusat perbelanjaan terdekat. Sejak menikah dengan Arka, ruang gerak Kirana perlahan menyusut. Mertuanya kerap menuntutnya menjadi menantu teladan yang bisa diandalkan dalam urusan rumah tangga, sebuah peran yang kikuk ia jalani karena seumur hidupnya ia terbiasa dilayani, bukan melayani. Karena pusat perbelanjaan itu letaknya berdekatan dengan kawasan perkantoran elit tempat Arka bekerja, Kirana memilih singgah sejenak untuk mengisi perut sebelum kembali pulang ke rumah yang terasa kian asing.
Hari ini, Kirana mengenakan pakaian yang jauh berbeda dari masa lalunya yang penuh warna terang, gaun-gaun rancangan desainer muda, dan pernak-pernik mencolok. Dulu, ia adalah gadis ceria yang menyukai perhatian. Namun, hari-hari di bawah tekanan pernikahan paksa telah mengikis warna-warna itu. Kirana memilih sebuah midi dress berwarna abu-abu arang dengan potongan lurus yang sederhana, dipadukan dengan sepatu flat shoes hitam tanpa hak tinggi dan tas jinjing kulit berukuran sedang. Rambut panjangnya diikat ponytail rapi ke belakang, memperlihatkan garis wajahnya yang semakin tirus karena kurang tidur dan beban pikiran. Tidak ada lagi riasan berlebihan; hanya pulasan tipis di bibir yang membuatnya tampak dewasa, tenang, namun menyembunyikan kelelahan yang samar.
Saat pelayan yang membungkuk hormat membimbing mereka ke meja sudut dekat partisi bambu jepang—tempat yang dipilihkan agar Kirana bisa menikmati privasi—pandangan mata Kirana tanpa sengaja tersapu ke arah area semi-privat di sisi sebelah barat restoran.
Langkah kaki Kirana mendadak terhenti. Udara seolah tersedot dari paru-parunya.
Di balik meja kayu panjang berhias lampu gantung temaram, dua sosok yang sangat dikenal dan tidak asing sedang duduk berhadapan.
Arka. Suaminya.
Pria itu tampak begitu mempesona dalam balutan kemeja kerja putih dengan lengan digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan bawahnya yang kokoh dan jam tangan mewah berharga fantastis. Arka sedang tersenyum—sebuah senyuman tipis namun nyata yang nyaris tidak pernah Kirana lihat selama berbulan-bulan tinggal bersama di bawah atap yang sama. Di rumah, wajah Arka selalu tampak kaku, dingin, lelah, atau dihiasi kekesalan setiap kali ia melihat Kirana melakukan kesalahan kecil.
Dan tepat di seberangnya, duduk seorang wanita berpenampilan sangat memukau. Wanita itu mengenakan blazer kerja desainer ternama berwarna beige dengan potongan pas badan, rambut sebahu yang ditata elegan dengan gaya profesional, serta riasan wajah yang memancarkan aura kepercayaan diri yang tinggi tanpa terlihat berlebihan.
Kirana langsung mengenali wanita itu dalam sekjap mata. Sinta. Mantan kekasih Arka yang sempat menghiasi berbagai berita bisnis dan majalah gaya hidup sebelum hubungan mereka kandas beberapa tahun lalu karena perbedaan prinsip karier. Sinta adalah lambang sempurna dari wanita karier modern: cerdas, mandiri, memiliki posisi tinggi di perusahaan multinasional, dan berdiri sejajar dengan dunia para eksekutif sukses.
"Ada apa, Nyonya?" bisik Bi Inah pelan, menyadari langkah Kirana yang mendadak terhenti kaku bagaikan patung batu. "Kenapa berhenti di sini? Mari, mejanya di sebelah sana."
"Tidak apa-apa, Bi..." jawab Kirana lirih, suaranya terdengar datar, nyaris berbisik pada angin.
Dari tempatnya berdiri, tertutup sekat tipis dan bayangan lampu, Kirana bisa mendengarkan sayup-sayup percakapan ringan di antara kedua orang tersebut. Mereka sedang membahas sebuah proyek ekspansi bisnis berskala besar—topik profesional yang dibawakan dengan begitu lancar, setara, dan penuh penguasaan materi. Tidak ada kecanggungan. Yang ada hanyalah simbiosis dua pikiran tajam yang saling memahami. Sinta tertawa renyah menanggapi komentar Arka, lalu dengan santainya mengulurkan tangan untuk menepuk pelan punggung tangan Arka di atas meja, sebuah gestur keakraban masa lalu yang dibalut profesionalisme matang yang telah teruji waktu.
Arka tidak menarik tangannya. Pria itu justru membalas tawa kecil Sinta dengan tatapan mata yang memancarkan rasa hormat dan kenyamanan yang mendalam—sesuatu yang tidak pernah Kirana dapatkan darinya.
Melihat pemandangan itu, sebuah hantaman telak mendadak merayap naik dari perut Kirana, menciptakan rasa mual yang tiba-tiba dan menyesakkan dada.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kirana merasakan gelombang rasa inferior yang begitu pekat dan mematikan. Ia menunduk, memandangi pantulan dirinya di permukaan kaca meja restoran yang mengkilap. Ia melihat pakaian sederhananya, tangannya yang sempat kapalan karena mencoba belajar memasak dan memegang peralatan dapur demi memuaskan amarah mertuanya, serta statusnya yang tidak lebih dari seorang istri paksaan—wanita manja yang diusir dari kamar utama, dicemooh karena tidak mandiri, dan diabaikan di setiap sudut rumah besar milik Arka.
Dibandingkan dengan Sinta... batin Kirana bergejolak perih. Wanita anggun itu berdiri megah di dunia luar, bisa berdiskusi sejajar dengan Arka, menguasai bahasa bisnis, dan memiliki andil besar di dunia nyata. Sementara dirinya? Kirana merasa dirinya hanyalah bayangan kecil yang tidak berarti, beban hidup yang disingkirkan di sudut rumah.
Pantas saja... batin Kirana berbisik getir di dalam dadanya, menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Pantas saja Mas Arka jijik melihatku. Pantas saja dia menganggapku sebagai beban kekanak-kanakan yang merepotkan. Bagaimana mungkin seorang CEO berdarah dingin yang terbiasa dengan wanita cerdas bisa menghargai istri yang tidak bisa apa-apa selain merengek di sudut rumah?
Rasa sesak itu mencengkeram tenggorokannya semakin kuat. Dulu, saat emosinya masih meluap-luap, Kirana mungkin akan mendatangi meja itu, meluapkan amarah cemburunya, melempar gelas air, atau menangis histeris di hadapan suaminya untuk meminta pengakuan. Tapi hari ini, di bawah sisa-sisa kehancuran harga dirinya, Kirana tidak melakukan satu pun hal bodoh itu.
Ia tidak marah pada Sinta. Ia bahkan tidak lagi merasa benci kepada Arka. Yang ia rasakan hanyalah sebuah kebekuan yang menyadarkan dirinya secara brutal tentang siapa dirinya di mata sang suami: sebuah kesalahan masa lalu yang terjebak dalam sangkar emas.
"Nyonya? Mau pindah ke meja lain atau kita cari tempat makan yang lain saja?" tanya Bi Inah cemas, melihat wajah Kirana yang mendadak pucat pasi bagaikan mayat hidup. Asisten rumah tangga paruh baya itu menatap Kirana dengan pandangan iba.
Kirana mengangkat wajahnya perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam, menelan seluruh rasa sakit, air mata yang mendesak keluar, dan rasa rendah diri itu hingga tenggelam kembali ke lubuk hatinya yang paling dalam. Matanya yang tadinya sempat meredup kini kembali memancarkan ketenangan yang dingin dan datar—sebuah pertahanan diri yang baru ia temukan detik ini.
"Tidak perlu, Bi," ucap Kirana dengan suara yang sangat tenang, begitu kontras dengan badai emosi yang baru saja menghantamnya. "Kita cari meja di sudut yang lain saja. Saya tiba-tiba tidak selera makan di dekat sini."
Kirana membalikkan badannya dengan anggun. Ia melangkah menjauh dari area pandang tersebut tanpa menoleh sekali pun, duduk di meja lain yang letaknya jauh di ujung ruangan, membelakangi posisi Arka dan Sinta. Ia lalu memesan makanan dengan tenang, membaca buku menu seolah-olah ia tidak baru saja menyaksikan suaminya tertawa bersama masa lalunya.
Namun, di balik ketenangan topeng luar itu, sebuah keputusan besar mulai mengakar kuat di dalam kepala Kirana. Hari ini, di restoran mewah itu, di hadapan bayang-bayang kesempurnaan mantan kekasih suaminya, Kirana bersumpah pada dirinya sendiri di dalam keheningan batinnya: ia tidak akan pernah lagi membiarkan dirinya diremehkan, dikasihani, atau hidup sebagai bayangan tak berharga. Jika dunia luar menuntut seorang wanita untuk mandiri, cerdas, dan berdiri di atas kakinya sendiri agar dihargai, maka ia akan membangun dunianya sendiri—mulai dari titik nol, tanpa bantuan sepeser pun dari Arka Pratama.
.. mending pretty cure