Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA BAB 29 — KONFRONTASI DI POLI ANAK DAN KA
SISI LAIN SUAMIKU — DEAN GALANG WIJAYA
BAB 29 — KONFRONTASI DI POLI ANAK DAN KALKULASI DEAN
Suasana di area rekap medis Poli Anak mendadak menjadi sangat dingin. Sinta mempertahankan senyum anggunnya, meski di dalam hatinya sifat "toa masjid"-nya sudah bersiap melontarkan protes.
Sekretaris yang kepedean itu... ngapain sampai nyamperin ke rumah sakit?! batin Sinta gemas.
"Oh, Sekretaris Anita dari Wijaya Group," ucap Sinta dengan suara lembut, tenang, dan sangat tertata—sepenuhnya berada dalam mode Nyonya Wijaya yang elegan. "Ada urusan dinas korporat apa sampai harus menemui saya di ruang rekap medis rumah sakit?"
Anita menyilangkan kakinya, menatap Sinta dengan pandangan menilai yang transparan. "Saya hanya penasaran, Dokter Sinta. Pak Dean adalah sosok pimpinan yang sangat mengagungkan efisiensi dan reputasi tinggi. Ketika beliau mendadak mengubah banyak protokol kantor demi seorang 'Nyonya Wijaya', saya mengira beliau menikahi wanita karir yang sepadan. Tapi ternyata... hanya seorang mahasiswi koas."
Senyum di wajah Sinta tidak pudar sedikit pun. "Tingkat kesepadanan dalam hubungan kami tidak dinilai dari status pekerjaan, Mbak Anita. Tapi dari bagaimana Pak Dean merasa nyaman dan utuh saat berada di rumah."
Wajah Anita sedikit mengejang mendengar jawaban tenang namun menohok itu. Belum sempat Anita membalas, langkah kaki yang mantap dan tegap bergema dari arah koridor luar.
Pria dengan setelan jas hitam premium dan kemeja putih tanpa cela melangkah masuk. Aura dingin dan berwibawa langsung menguasai seluruh ruangan. Dean Galang Wijaya berdiri di ambang pintu.
Mata hitamnya yang tajam melirik Anita sekilas, sebelum terkunci sepenuhnya pada Sinta.
"Batas waktu toleransi sepuluh menit telah terlampaui," kata Dean dengan suara berat dan datar. Pria itu melangkah mendekat, sama sekali mengabaikan keberadaan Anita seolah sekretarisnya itu hanyalah patung pajangan.
"Mas Dean?" Sinta mengerjap. "Kok turun ke sini? Kan janji jemput di basement."
"Parameter keamanan dan kenyamanan kamu di area ini terdeteksi mengalami gangguan," jawab Dean lempeng. Tangannya terulur secara alami, merapikan kerah jas putih dokter milik Sinta dengan gerakan yang sangat lembut dan protektif.
Anita yang menyaksikan interaksi itu secara langsung mendadak membeku. Wajahnya pucat pasi. Pria yang di kantor tidak pernah membiarkan siapa pun mendekati radius satu setengah meter, kini menyentuh gadis itu dengan penuh kehangatan yang tak terbantahkan.
"P-Pak Dean..." bisik Anita dengan suara gemetar. "Saya hanya... menyapa Nyonya Wijaya."
Dean memutar tubuhnya perlahan, menatap Anita dengan tatapan sedingin es kutub.
[POV Dean]
Kehadiran Sekretaris Anita di lokasi operasional medis Sinta mengonfirmasi adanya pelanggaran batas privasi tingkat tinggi. Berdasarkan analisis perilaku, tindakan ini dipicu oleh ketidakmampuan Anita menerima sanksi pemindahan meja kerja serta obsesi personal yang tidak rasional. Kehadirannya berpotensi meningkatkan tingkat stres Sinta sebesar empat puluh persen. Hal tersebut tidak dapat ditoleransi dalam sistem manajemen hidup saya.
"Sekretaris Anita," ucap Dean dengan intonasi berat tanpa ekspresi. "Kehadiran kamu di sini tidak ada dalam jadwal efisiensi perusahaan. Pemindahan meja kerja kamu yang dijadwalkan besok pagi, resmi dimajukan menjadi hari ini. Tim HRD telah mengirimkan surat pemutusan wewenang akses utama kamu."
"Pak Dean... tapi saya—"
"Tindakan kamu melampaui batas operasional," potong Dean dingin. "Silakan kembali ke kantor dan selesaikan proses administrasi kepindahan kamu."
Tanpa memberi kesempatan Anita untuk membela diri, Dean kembali menatap Sinta. Aura dingin di wajahnya seketika mencair, digantikan oleh tatapan jujur dan hangat yang hanya diperuntukkan bagi istrinya.
"Agenda makan siang kita sudah tertunda dua belas menit," kata Dean lempeng sambil menggenggam jemari Sinta dengan erat. "Ayo."
Sinta menahan tawa gigih di balik bibirnya, melirik Anita yang terpaku tak berdaya, lalu mengangguk anggun pada suaminya. "Baik, Mas Dean."