Inayah, gadis cantik nan solehah, lahir disalah satu desa di kota Semarang harus menjalani takdir yang tak di sangka-sangka sebelumnya.
Tragedi tenggelam di sungai demi menyelamatkan baju kesayangan Ibunya, membawa dirinya harus menerima takdir menikah dengan laki-laki menyelamatkannya.
Menikah didesak warga karena sebuah kesalahfahaman. Menerima takdir adalah keputusan akhir yang tidak bisa diganggu gugat lagi.
Inayah yang berprinsip tidak mau berpacaran, dan Mas Gagah yang beberapa bulan lalu di tolak saat melamar kekasihnya. Mereka berdua ditakdirkan menjadi suami istri secara mendadak.
Bagaimana ya perasaan Inayah dan Mas Gagah, campur aduk tentunya.
Bagaimana kisah mereka yang sebenarnya??
Nantikan terus ya setiap episodenya, jangan lupa like, komen dan Vote😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santy puji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32
Assalamualaikum Readers semuanya, novel Kekasih Halal mohon dukungannya yah dengan cara like (tekan tombol icon jempol di bawah, jangan lupa icon love juga biar selalu tahu jadwal updatenya), komen (kritik, saran, kesan boleh banget😘), dan Vote. Terimakasih ya😘😘
☘️Selamat membaca☘️
Sudah 3 bulan aku menjalani kehidupan berumah tangga dengan Mas Gagah. Alhamdulillah sejauh ini aku dan Mas Gagah tidak pernah bertengkar atau ngambek-ngambek dan drama-drama😊. Kami berdua berusaha saling pengertian.
Aku masih setia di rumah, membuat baju gamis dan sesekali membuat kemeja untuk Mas Gagah. Aku juga menjual kemeja dan gamis yang ku buat lewat online. Mas Gagah tidak melarangku asalkan aku jangan terlalu ngoyo alias memforsir tenagaku untuk menjahit.
Aku senang bisa menghasilkan uang sendiri, walaupun uang dari Mas Gagah setiap bulannnya lebih dari cukup tapi memiliki uang dari usaha sendiri itu rasanya lebih bahagia saja.
Malam ini aku dan Mas Gagah sudah naik ke atas tempat tidur, Mas Gagah memainkan ponselnya, akupun demikian. Namun tidak sampai berlama-lama akhirnya aku meletakan ponselku di atas nakas, begitu pula dengan Mas Gagah.
"Dek"
Aku menatap Mas Gagah, " Iya Mas"
" Mas mau bicara penting"
Aku mengangguk, Mas Gagah lalu menautkan jemarinya pada jemariku. Tumben ini Mas Gagah terlihat sangat serius.
"Dek, Mas sayang Adek, apapun yang terjadi nanti dalam rumah tangga kita, Adek harus terus semangat, kita harus pertahankan rumah tangga kita yah, kita harus berjuang bersama." Terlihat kejujuran dan kekhawatiran di mata Mas Gagah.
Mas Gagah kenapa yah, kok bicara seperti itu, serem ih,kataku dalam hati.
"Bukankah selama ini kita sudah menjalani rumah tangga ini dengan baik Mas"
Mas Gagah mengangguk, "Sepertinya akan datang badai besar," ucap Mas Gagah sambil tersenyum.
"Badai besar? maksudnya?"
" Sudahlah, pesan Mas hanya itu, kita harus saling menguatkan." Mas Gagah mencium pucuk kepalaku.
Seperti biasa akan turun ke dahi, ke pipi dan berlabuh ke bibir untuk sepersekian detik lalu menjurus ke ceruk leher. Perlakuan ini yang membuatku merasakan ada gelenyer kenikmatan yang membuatku candu juga.
"Dek, sudah pulang kan tamu bulanannya?"
Aku mengangguk. Malam ini aku akan habis dilahap Mas Gagah. Sejak merawani aku😁 Mas Gagah setiap malam pasti akan meminta jatahnya. Mas Gagah tidak akan membiarkan pagiku berambut kering, kecuali saat aku sedang kedatangan tamu bulanan. Mas Gagah ini memang benar-benar DOYAN😁😁. Tapi normal sih, siapa sih yang tidak doyan🤭.
"Sekarang Mas?" tanyaku ketika Mas Gagah mulai ndusel-ndusel di dadaku. seperti bayi kehausan.
Mas Gagah menjawab dengan anggukan.
" Tidak besok lagi Mas?" Ledekku.
Mas Gagah menghentikan aktivitasnya lalu menatapku.
" Adek keberatan?"
Aku menggeleng, " Ya kan baru saja selesai sore tadi Mas"
Mas Gagah melanjutkan lagi ndusel-nduselnya.
"Kan adek tau kalau Mas ..."
" Nepsongan"kataku.
Mas Gagah malah tertawa, " Nah itu tau"
Akhirnya malam ini aku membiarkan Mas Gagah berbuat sesuka hati. Sepertinya malam ini aku akan jadi bergedel karena seminggu ini Mas Gagah menahan hasratnya gara-gara tamu bulananku datang.
***
Pagi hari ini seperti biasa Mas Gagah sholat subuh di Masjid sedangkan aku di rumah.
Saat aku sedang berdoa tiba-tiba Mas Gagah yang baru pulang dari Masjid langsung memelukku dari belakang, lalu menompang tanganku yang sedang menengadah meminta permohonan kepada Allah.
Aku menengok ke belakang, Mas Gagah mengecup pipiku kilat. Aku tersenyum lalu kembali melanjutkan berdoa.
Selesai berdoa aku mencium tangan Mas Gagah yang masih ada di belakangku.
"Minta apa tadi sama Allah?" Tanya Mas Gagah.
" Minta sederhana"
Mas Gagah mngernyitkan dahinya, "Maksudnya sederhana?"
Aku mengelus pipi Mas Gagah," Aku meminta hal sederhana saja, Semoga setiap hari, aku masih bisa mendoakan keselamatan untuk Mas.’"
Mas Gagah tersenyum lalu mengecup pucuk kepalaku. Mas Gagah berdiri begitupun juga Aku, Aku merapikan mukenah dan sajadah.
Setelah itu aku merapikan tempat tidur.
Aku mengambil jilbabku sambil menatap cermin. "Astagfirullah"
"Kenapa?"
"Mas ih ini." Aku menunjukan begitu banyak kiss mark di leher juga di dadaku.
Mas Gagah hanya terkekeh, " Itu kan karena seminggu Mas puasa dek"
" Gak kira-kira ih"
Mas Gagah kembali terkekeh, " Habis gemes"
"Ini kalau orang liat pasti mikirnya bukan karena habis bercinta," ucapku sambil mengenakan jilbab.
"Mikirnya apa dong?" tanya Mas Gagah dengan mimik muka heran.
" Di serudug banteng," jawabku sambil berlalu dari kamar menuju dapur.
Terdengar suara tawa Mas Gagah yang begitu renyah dari dalam kamar.
Aku membantu Ibu dan Bi Asih di dapur. Setelah itu menyiapkan keperluan Mas Gagah seperti biasa.
"Mas ini kemeja buatanku, dipakai yah"
Mas Gagah mengangguk. Aku memakaikannya ditubuh Mas Gagah.
" Cakep, Pas." Senyumku mengembang melihat baju Mas Gagah pas dipakai di tubuhnya.
"Padahal setiap dibuatkan baju, Adek tidak pernah mengukur tubuh Mas, tapi selalu Pas, pinter banget istri Mas ini." Mas Gagah mengusap kepalaku.
"Ih kan Adek istri Mas, jangankan ukuran baju, ukuran dalaman saja adek tahu."
Mas Gagah tergelak lalu mencubit pipiku.
Aku memasangkan dasinya juga jas nya. Aku menatap penampilan Mas Gagah sekilas.
"Ini kalau Adek foto terus dijadikan model iklan untuk kemeja buatan adek pasti laku keras ini, ganteng modelnya, ah tapi adek tidak mau bagi-bagi wajah Mas di sosmed"
Mas Gagah tersenyum, "Wajah Mas kan punya adek ya Dek"
Aku mengangguk lalu berjinjit.
Cup...
Kecupan kecil mendarat di pipi Mas Gagah.
" Yuk sarapan dulu." Aku menggandeng Mas Gagah yang sudah rapi ke ruang makan. Seperti biasa kami sarapan bersama.
***
"Dek, nanti jangan lupa makan siangnya yah antar ke kantor Mas"
Aku mengangguk, " Sip"
"Mas berangkat yah, Adek baik-baik di rumah, Assalamualaikum"
Aku tersenyum, "Waalaikumsallam."
Aku melambaikan tanganku, menatap mobil Mas Gagah yang semakin menjauh.
Aku masuk kedalam, seperti biasa setelah Mas Gagah berangkat kerja, Aku akan mengisi waktu dengan menjahit.
***
Sebelum Adzan Dzuhur berkumandang, Aku mengantarkan makan siang ke kantor Mas Gagah. Aku menyapa Mbak Nia terlebih dahulu. Oh ya, Aku dan Mbak Nia sekarang cukup akrab. Akhirnya Mbak Nia sebagai satu-satunya temanku di Jakarta saat ini. Mbak Nia juga tahu tentang pernikahanku dengan Mas Gagah, Mbak Nia ini sangat baik sekali.
Mbak Nia mencegahku saat akan masuk ke dalam ruangan Mas Gagah.
"Ada bos besar Mbak Nay, dan sepertinya sedang marah-marah dengan Pak Gagah, suaranya terdengar sampai sini, Mbak Nay mending nunggu saja disini." Nia memberikan saran padaku agar aku tidak masuk ke ruangan Mas Gagah terlebih dahulu.
Aku mengernyitkan dahiku, " Bos besar?"
Nia mengangguk, " Ayah Pak Gagah"
menurut ku ya thor 🤭✌