Di seluruh alam semesta ini banyak sekali mahkluk hidup, termasuk manusia. Tapi ini bukan tentang kisah manusia melainkan kisah sang NPC Dewa yang berkelana ke berbagai Dimensi dan bertemu banyak makhluk hidup, YA anda tidak salah baca! Disini memang akan menceritakan NPC Dewa.
Kisahnya berawal dari dimensi (dunia) para dewa mulai hancur gegara kekuatan misterius yang membuat retakan besar dan banyak di dimensi para dewa.
Bagaimana para dewa bisa mengembalikan dimensi mereka menjadi utuh kembali?
Segera baca novel ini untuk mendapatkan lanjutannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AHMU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MASUK KE DIMENSI MANUSIA BIASA
*Didalam dungeon*
Setelah beberapa saat, Kaito merasa tulang-tulang di badan nya seakan bergeser ketempat yang tak seharusnya. Dia menggerakkan sedikit demi sedikit tubuhnya dan memperbaiki posisi tulang-tulangnya.
Setelah sudah memperbaiki posisi tulang-tulangnya, Kaito melihat Arinka disampingnya tidak terluka sama sekali, itu pun membuat dirinya senang. Dia pun mencoba membangun kan Arinka dengan memangil manggil nama Arinka. Tak lama setelah itu Arinka akhirnya bangun.
"Erh! Di-dimana ini?" Ucap Arinka yang masih pusing.
"Entahlah! Tapi sepertinya ini masih didalam dungeon, sebelumnya kan kita habis terbentur."
"Benar juga." Arinka mencoba berdiri dengan dibantu Kaito. Mereka menyusuri sekitar yang agak gelap.
Tapi ditengah kegelapan itu, mereka mendengar suara air mengalir, jadi mereka pun mengikuti suara arus air itu.
Dalam jalan agak gelap mereka mulai mendengar dengan jelas suara air itu. Sampai pada akhirnya mereka melihat cahaya, yang menandakan jalan keluar.
Setelah keluar dari dalam kegelapan itu, keduanya melihat sekeliling dan merasa bingung, karena wilayah disana seperti tempat asing bagi mereka. Disana hanya terlihat gunung-gunung besar dengan sekian banyaknya.
Keduanya hanya bisa berjalan menyusuri sekeliling dengan waktu yang sudah pagi. Sampai akhirnya, Kaito menemukan sebuah jalan yang aneh. Jalan itu tidak seperti di tempat mereka yang berlandaskan batu bata, melainkan sebuah material yang hitam. Tapi Kaito tidak terlalu memperdulikan hal itu dan terus berjalan untuk menyebrang.
Ketika menyebrang, jalan mereka injak seperti bergetar kuat membuat keduanya sedikit panik. Lalu di waktu yang sama, terlihat makhluk mengerikan yang besar melaju menghampiri mereka. Dengan sigap Kaito memeluk erat Arinka dan melindungi kepalanya dari benturan.
Namun, benturan ternyata tidak terjadi. Kaito melepas pelukannya dan berbalik menghadap monster besi yang besar itu. Keduanya sangat amat terkejut dengan ukuran monster besi itu, ukuran yang besar Seakan-akan ukurannya bisa sebanding dengan naga.
Bunyi yang dikeluarkan monster besi itu sangatlah aneh, kedengarannya itu seperti mengeram tapi juga bukan disebut mengeram. Seseorang pun keluar dari dalam monster besi dengan ungkapan yang memaki-maki, "Woi! Elu mau mati atau apa hah!" Ucap seseorang yang turun dari monster besi itu.
"Kami tersesat pak." Ucap Kaito dengan sopan.
"Kemana tujuan kalian?" Ucap seorang bapak itu yang sudah menurunkan amarahnya.
"Ke kota pahlawan pak." Jawab Kaito.
"Kota pahlawan? Belum pernah dengar!
"Belum pernah dengar ya! HM!!!! Bagaimana dengan kita terdekat dari sini pak."
"Kota yang terdekat dari sini jaraknya mencapai beberapa mil dari sini."
"Jadi begitu." Kaito pun berpikir dengan mendalam.
"Apa kalian ingin nebeng? Aku bisa antarkan kalian ke kota itu, soalnya aku juga akan kesana."
"Wah! Itu sangat membantu sekali pak! Terimakasih banyak pak!"
"iya, sama-sama. Mari! Kita berangkat."
"Naik itu?" Kaito menunjuk monster besi itu dengan pelan.
"Iya, mau naik pakai apa lagi?"
"Itu tidak berbahaya kan pak?"
"Ya enggak lah! Ini kan benda mati, ya enggak akan bahaya lah."
"O-oh! O-oke! Ayo, kita naik." Keduanya pun naik bersama bapak itu dan mulai melaju.
"Bapak tiap hari naik ini pak?"
"Maksudnya truk, yah? Iya, saya sudah lama kerja kaya beginian, udah berapa tahun ya? HM! Mungkin udah lima sampai enam tahun, Waktu yang melelahkan. Jadi, kenapa kalian bisa tersesat?"
"Kami dari dunge-" Sebelum Arinka menyelesaikan omongannya, mulutnya sudah ditutup dengan tangan Kaito.
"Itu kenapa!" Tanya bapak itu.
"Bukan apa-apa, kami tersesat saat kami menelusuri tempat gelap dan sunyi pak."
"Maksudnya Goa, ya. Memang disitu gelap dan sunyi, jadi tak jarang seseorang akan tersesat disana."
"iya pak."
"Oh iya, kita lupa berkenalan. Nama bapak Jhonson, panggil aja Jhon."
"Saya Kaito, dan ini Arinka, pacar saya."
"Oooh! Jadi begitu."
Mereka berbincang-bincang beberapa waktu, hingga akhirnya sampai di kota tujuan.
*Di kota*
Truk besar yang menjadi tunggangan Arinka dan Kaito akhirnya sampai di kota yang semuanya terlihat sangat asing bagi keduanya. Keduanya turun dan mengucap salam perpisahan kepada bapak yang mau mengantarkan mereka sampai ke kota ini.
"Apa kalian yakin mau turun disini?" Tanya bapak itu dari dalam truk yang masih menyala.
"iya pak, Kami akan berjalan saja lagi mulai sekarang." Jawab Kaito yang mengatakan kepada bapak itu ingin berjalan saja ditempat yang jarang ada orang, Padahal Kaito tidak tahu kalau disana banyak kriminal yang melakukan transaksi ilegal, Kaito hanya merasa kalau bapak itu memiliki maksud lain jadi dia mencoba mencegah hal buruk terjadi. Namun sayangnya, hal buruk sudah mereka datangi.
Bapak itu hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah bapak itu meninggalkan mereka, Arinka merasa bingung dan bertanya, "Kenapa kamu mau turun disini?"
"Aku hanya merasa bapak itu memiliki maksud lain dari mengantar kita. Saat aku dan bapak itu mengobrol saat perjalanan tadi, sekilas aku kadang melihat bapak itu selalu menatapmu dengan tatapan mesum."
"Jadi begitu, Terimakasih sayang ^~^
"Ayo! Kita cari tempat tinggal untuk beristirahat." Keduanya pun berjalan mengikuti trotoar yang lurus, ditemani dengan samping kiri yang seperti rumah-rumah terbengkalai. Kaito merasa kalau mereka telah diturunkan oleh bapak itu ketempat yang berbahaya.
"Apa mungkin bapak itu salah menurunkan kita?" Tanya Kaito.
"Tapikan, kamu sendiri yang ingin turun disini." Jawab arinka.
"Yah! Memang sih, tapi tidak ketempat yang agak berbahaya juga, 'kan. Setidaknya saat aku meminta untuk diturunkan, bapak itu mencari tempat yang ada orangnya."
"Memang ada benarnya sih."
"Yaa sudah lah, kita keliling dulu."
"Oke."
Mereka pun berjalan lurus mengikuti trotoar dan sampai di tempat yang agak nyaman. Walaupun tempatnya lusuh, tapi tetap bisa untuk ditinggali.
Waktu pun berlalu hingga sore hari, dan keduanya akhirnya telah selesai membersihkan tempat itu. Arinka yang merasa lapar memberitahu Kaito kalau dia akan keluar untuk mencari makanan, Kaito pun mengiyakan nya dan membiarkan Arinka pergi sendiri. Untungnya si bapak truk masih memiliki hati, jadi sebelum keduanya turun dari truk, bapak itu memberikan beberapa uang untuk Arinka dan Kaito dalam beberapa hari kedepan.
Arinka pun mencari makanan di tempat seperti restoran yang hampir bangkrut, toko market yang sudah tutup, warnet, kantor polisi, dan lain sebagainya. Tapi anehnya semua yang Arinka kunjungi semuanya tutup. Padahal Arinka merasa kalau ada orang disetiap tempat yang Arinka kunjungi.
Arinka pun terus mencari makanan disekitar situ, lalu hingga pada suatu belokan Arinka melihat dua orang yang sedang berbincang. Arinka mencoba melihat mereka, tapi sebelum Arinka tahu apa yang mereka pegang dan ucapkan. Mereka langsung masuk kedalam gang karena telah melihat Arinka. Merasa ada yang mencurigakan, Arinka berjalan memasuki gang dengan perlahan.
Arinka melihat kalau di gang itu terlihat lebih kacau daripada diluar. Setelah berjalan beberapa menit, Arinka terhenti sejenak karena melihat ada sebuah pintu yang terbuka ditempat seperti rumah bertingkat. Jadi, Arinka mendekati pintu itu dan mengintip kedalam rumah tingkat itu.
Dan betapa terkejutnya Arinka melihat beberapa kelompok yang tengah berbincang. Ada dua orang yang duduk di tengah-tengah orang-orang yang sedang berdiri. Ada juga yang sedang ber minum minuman, ada juga yang sedang melakukan kuda-kudaan dengan lawan jenis.
Arinka tahu bahwa mereka adalah orang jahat, jadi Arinka berinisiatif untuk pergi. Tapi langkah Arinka terhenti karena Arinka telah menginjak ranting pohon yang berserakan disana. Dan itu mengejutkan orang yang ada didalam sana, mereka pun berbondong-bondong keluar untuk mencari tahu siapa yang sedang mengintip mereka. Tapi sayangnya mereka tidak menemukan siapapun.
*****
Arinka terus berlari berjinjit supaya tidak ketahuan mereka. Lalu Arinka pun sampai ditempat Kaito berada. Dengan langkah panik Arinka memasuki tempat itu dan meneriakkan nama Kaito, Kaito pun keluar dari ruang yang bisa mengeluarkan air dari alat panjang seperti ular.
"Ada apa?" Tanya Kaito dengan rambut yang sudah basah.
Tanpa mengucapkan apa-apa Arinka langsung memeluk Kaito dengan pelukan erat. Dan Kaito pun hanya bisa diam. Setelah Arinka melepas pelukannya, Kaito membawanya ketempat tidur dilantai dua dan menenangkan Arinka. Setelah tenang, Arinka mulai merasa ngantuk, jadi dia berbaring di kasur itu dan tertidur, tanpa mengatakan apa yang telah dilihatnya.
Kaito pun mengecup kening Arinka lalu menyelimuti tubuh nya dengan selimut. Kaito pun turun kelantai satu untuk melanjutkan mencari tahu cara kerja yang ada didalam tempat itu (rumah)
Dan...........(Tunggu rilisan novel tersendiri dari Kaito dan Arinka yang telah memasuki dimensi manusia biasa. Apakah mereka akan selamat? Tunggu rilisan nya ya 😉 sampai berjumpa di side Story yang lain lagi)