"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jawaban yang diberikan Naura
CAPTER 33
JAWABAN YANG DIBERIKAN NAURA
Ada dua orang yang menyita pikiran Naura, di rumah tak lain adalah Hanis sedangkan di butik tentu Lisa. Sebelum meninggalkan rumah, Naura menyempatkan diri singgah ke kamar Hanis.
'Tok tok'
Naura mengetuk pintu itu dua kali, kemudian mendorong pintu namun tidak sepenuhnya terbuka. Hanya secukup dirinya masuk saja. Di dalam, Hanis kala itu tengah rebahan di kasur, melihat Naura tiba-tiba berada di hadapannya Hanis bangun. Ia hendak turun namun dicegah oleh Naura.
"Nggak usah turun!" ujar Naura sambil berjalan.
Duduklah ia di tepi kasur, Hanis bergeser mendekat namun tetap bersandar. Sebelum berucap, Naura melempar senyum. Perlahan tangannya bergerak, meraih tangan Hanis. Digenggamnya tangan itu seraya berkata, "Gimana? Apa sudah mendingan?!" tanyanya hanya memancing saja.
Naura bisa menangkap ada hal lain yang menyebabkan lemahnya fisik Hanis. Lebih jelas, ia tidak hanya sekedar nampak lemah fisik namun juga pikiran. Hanis tidak bersuara, ia hanya mengangguk dan berusaha membalas senyum tulus Naura padanya barusan.
Ya, meski dia sudah berusaha tersenyum namun justru senyum itu menambah kegelisahan pikiran Naura. Hatinya tetap tidak tenang, seakan berbisik pada dirinya jika suatu hal sedang dihadapi oleh wanita itu.
"Hanis…." seru Naura dengan nada rendah.
"Iya Kak…." sahut Hanis tak kalah rendahnya.
"Mba perhatikan … bukan hanya fisikmu yang lemah tapi … pikiranmu juga sama lemahnya…." kata Naura memberanikan diri mengungkapkan uneg-unegnya.
"Nggak kok Kak, hanya lagi banyak tugas…." sahut Hanis tidak berterus terang.
Keheningan tercipta begitu saja seusai Hanis bersuara. Terlihat Naura terdiam dalam beberapa detik lamanya, ia juga memperhatikan Hanis dalam diam. Namun tak seberapa lama keheningan itu retak juga, tiba-tiba saja Naura berucap lagi. Kali ini suaranya terdengar tenang, intonasi yang tersemai juga tertata rapi; tidak ada lonjakan. Nyaris sama dengan gaya Hasan saat berbicara serius.
"Kalo ada hal yang ganggu ketenanganmu, terutama ketenangan hati dan pikiran mba selalu siap menjadi pendengar! Bahkan jika mampu, mba akan membantu mengembalikan ketenangan itu! So jangan dipendam sendiri, kita di sini ada buatmu dalam senang ataupun malang!" kata Naura panjang lebar.
Masihlah ia belum putus asa memancing Hanis buka mulut; terbuka pada Naura. Sayang, ketakutan akan apa yang ia hadapi nanti dan bagaimana respon orang-orang di sekitarnya memaksa wanita itu tetap bungkam.
"Makasih Kak, saya hanya lagi merasa berat sama tugas-tugas kampus," ucapnya masih tidak berubah.
"Oh … ya sudah mba berangkat dulu, kalo ada sesuatu yang dibutuhkan telepon saja mba!" kata Naura akhirnya menyerah.
Tidak mungkin baginya memaksa Hanis berterus terang, yang ada wanita itu akan semakin tertutup. Tidak hanya pada dirinya saja melainkan semua penghuni rumah nantinya.
Sambil berjalan keluar rumah, otak Naura tak hentinya berpikir. Mencari cara bagaimana memancing Hanis membuka mulut, berterus terang serta berbagi beban yang ia pikul sendiri.
"Tumben agak lama, Nona?!" tanya Angga yang sudah mulai merasa jenuh menunggu seorang diri di garasi.
Sebelum menjawab, Naura tersenyum pada laki-laki itu. Kunci yang ia pegang juga dilemparkan pada Angga. Sigap, Angga menangkapnya, kemudian menekan remot; membuka mobil. Sambil berjalan mendatangi Angga yang saat itu menarik pintu pengemudi, Naura berkata, "Maaf, tadi masih ngobrol sama Hanis!."
"Oh, saya pikir masih telponan sama sang kekasih hati!" ujar Angga menggoda Naura. Memancing senyum cerah terlukis di wajah cantik wanita itu.
"Kamu ini!" seru Naura dan masuk ke kursi belakang.
"Oh iya Nona, bagaimana soal penambahan karyawan produksi itu? Sudah dapat?!" tanya Angga teralihkan.
Naura menghela nafas, raut wajahnya seketika berubah drastis. Ia yang tadi sempat terlihat cerah sebentar kini tergeser mendung. Angga melirik, mulutnya terbuka hendak bersuara namun didahului oleh Naura.
"Belumlah, Lisa kan masih belum masuk!" kata Naura menjawabnya.
"Oh … Ngomong-ngomong sekarang ini bulan apa ya, Nona? Kok banyak orang sakit? Ada yang sakit raganya, ada hatinya yang sakit " ujar Angga sekedar berpendapat.
Senyum yang tadinya tertutup mendung kini terlihat meski hanya singkat saja. Tangan kiri Naura menekan tombol, menurunkan kaca mobil. Pandangannya teralihkan ke luar jendela, sementara mulutnya tertutup rapat.
"Duh kayaknya aku salah bicara!" gumam batin Angga, merasa bersalah.
Dalam keheningan yang sempat tercipta, tiba-tiba saja Naura bersuara meski tak begitu lantang suara yang keluar.
"Kadang seseorang tertutup pada keluarganya namun terbuka pada orang lain," kata Naura yang tidak dimengerti oleh Angga.
Dahi laki-laki itu ringset manakala mendengar pernyataan Naura, pernyataan yang terkesan lebih mengarah pada curahan hati. Mengingat tugasnya tidak hanya antar jemput saja, melainkan menjaga dan memastikan keadaan Naura, rasa tanggung jawab itu menggugah Angga untuk mengetahui lebih dalam lagi.
"Apa Nona lagi ada masalah?!" tanyanya langsung ke inti, tidak perlu menggiring atau basa-basi belaka
"Apa?!" seru Naura tersentak dari kekosongan pikiran.
Apa yang diucapkan Angga barusan mampu merembet ke telinga namun tidak benar-benar jelas apa yang diucapkan. Bukan karena suara Angga yang rendah, melainkan fokus Naura yang terpecah.
Sekali lagi Angga mengulangi pertanyaannya yang tadi. "Apa Nona lagi ada masalah? Kok tadi bicara kayak gitu?!."
"Oh itu … Nggak! Cuma aku rasa Hanis itu tidak fit bukan karena lelah fisik tapi pikirannya juga lelah! Apa tugas kampus memang seberat itu?!" kata Naura menceritakan keadaan Hanis sekaligus mengungkapkan kecemasannya.
"Ada juga orang yang memang pikirannya nggak mampu Nona, pas terus dipaksa jadinya stres!" sahut Angga berpendapat.
"Tapi … Aku rasa Hanis itu otaknya mampu…." sambung Naura tidak sepaham.
"Mungkin kampusnya itu ketat banget dan banyak tugas! Kan ada tuh Nona kampus yang over ketatnya, sampai-sampai yang otaknya encer juga mengalami stres!" imbuh Angga berargumen, menyampaikan pandangannya.
"Benar juga! Bahkan waktu istirahat aja dibatasi! Tapi setahuku di negara kita ini … Lebih-lebih di kota ini nggak ada yang over ketat!" balas Naura.
“Bener juga sih Nona!” ucap Angga membenarkan pernyataan Naura.
Hingga sampai butik obrolan mereka tidak berpindah topik, tetap membahas masalah hati dan pikiran. Obrolan itu dihentikan saat setelah mobil parkir manis di depan butik. Naura lebih dulu keluar, langkahnya agak cepat memasuki butik. Selama Lisa tidak masuk ia turun tangan mengenai penjualan butik, maksudnya memantau langsung.
“Pagi semuanya!” sapa Naura pada karyawan butik yang lagi menata beberapa busana pada rak gantung.
Naura melangkah ke back office, diamatinya seluruh bagian dari ruang kerja tersebut. Meja Lusi berada di baris paling depan, sementara baris lainnya berjejer saling berhadapan empat meja kerja admin. Naura mendatangi meja kerja Lisa yang kosong beberapa hari ini, tas yang ia tenteng diletakkan di meja itu sebelum menjatuhkan diri ke kursi. Hal pertama yang ia lakukan yakni memanggil empat orang admin, dalam hitungan detik mereka berempat yang terdiri dari tiga wanita dan satu orang laki-laki berjejer di hadapan Naura.
Angga baru beberapa langkah saja setelah memasuki butik kala ponselnya berdering, terhenti ia. Dirogohnya ponsel yang terselip di saku celana, dahi Angga membuat garis kerutan kala melihat nomor kontak Naura yang menghubungi.
“Nona?!” gumamnya.
“Oh Angga apa Kamu sudah di lantai tiga?” tanya Naura saat terhubung.
“Belum Nona, ini baru di lantai satu mau naik tangga!” jawabnya.
“Kalo gitu … Tolong ke back office dulu!” pinta Naura dan mengakhiri panggilan.
Mulut Naura sudah terbuka kala Angga masuk, seketika itu pandangan Naura teralihkan pada sosok Angga yang berjalan pelan ke arah meja. Melalui isyarat tangan Naura meminta Angga datang bergabung segera. Namun saat Angga sudah bergabung, Naura malah mengalihkan briefing singkat yang hendak ia lakukan.
“Mari kita ke meja rapat! Sepertinya nggak enak bicara sambil berdiri!” ujar naura.
Alhasil mereka yang sudah baris berjejer tadi bubar barisan. Bersama dengan Angga mereka menuju ruang rapat yang masih satu ruangan, hanya terpisah beberapa meter saja dari meja kerja mereka. Naura datang terakhir, ia tidak langsung beranjak tadi, melainkan meminta yang lain lebih dulu beranjak.
“Maaf, memanggil kalian dadakan!” ucap Naura kemudian mengambil kursi di depan.
“Bagaimana? Apa ada kendala selama Lisa nggak masuk?” lanjut Naura mulai memainkan peran sebagai atasan yang sebenarnya.
Satu-satu dituntut membuka mulut, menyampaikan laporan dari hasil kerja mereka selama empat hari selama Lisa tidak masuk. Kedua tangan Naura terlipat ketat, sambil bersandar dengan santai namun serius di kursi putar; ia dengarkan setiap penjelasan dari empat orang tersebut.
Setelah satu persatu bersuara, kini giliran Naura yang bersuara. Dalam kesempatan yang tidak direncanakan, Naura menyampaikan perihal rencana pengembangan bisnis yang sudah ia diskusikan dengan Lisa dan juga melibatkan Angga tiga minggu sebelumnya.
"Tapi di tahap awal busana yang dijual terbatas hanya pada busana formal saja, untuk bagian busana pria saya akan memanfaatkan sisi kosong yang berada di sebelah mini kafe! Mungkin hanya akan ada beberapa rak baju terpajang!" kata Naura menjelaskan rencana serta konsep baru mengenai tatanan rak busana baik busana perempuan ataupun busana pria agar ruangan yang ada tidak nampak supek.
Sebelumnya ia sudah meminta jasa desain interior untuk mengubah tatanan di lantai satu. Ia ditemani Angga membuat janji temu, menyerahkan landscape lantai satu untuk dipelajari.
Berikutnya yang ia jelaskan tak lain penambahan karyawan, baik karyawan di back office, produksi ataupun yang sebagai pramuniaga. Pada saat pembicaraan seputar itu, Angga menyela; memberi masukan pada Naura.
"Nona, aku rasa itu … Lisa membutuhkan partner! Mengingat tugas akan bertambah, biar nggak ngedrop kayak sekarang!" kata Angga tidak memiliki maksud lain. Hanya saja buatnya, seiring dengan rencana pengembangan bisnis pekerjaan yang dibebankan pada wanita itu tentu akan semakin menggunung.
Masukan dari Angga dicerna dengan baik oleh Naura, ia menyadari jikalau tugas Lisa tidak hanya mengenai penjualan di butik, melainkan masih harus membantu Naura setiap menerima pesanan gaun. Tidak ada asisten lagi dan ia belum berniat menambah seorang asisten baru. Bukan masalah pengeluaran gaji karyawan yang menjadi alasan, melainkan mencari seseorang dengan kemampuan dan keuletan yang sesuai dengan kriterianya tidaklah mudah.
"Aku rasa pendapatmu benar juga … biar ini menjadi pr buatku, sambil menunggu Lisa kembali kerja!" seru Naura menyetujui masukan yang dipaparkan oleh Angga tadi.
Briefing dadakan itu berakhir, sebelum mengakhiri Naura meminta setiap admin dari masing-masing bidang untuk mengumpulkan laporan dalam seminggu terakhir dan dikirim ke email Naura. Mereka yang tidak tahu menahu akan email milik atasannya, akhirnya diberi alamat email yang dikhususkan untuk urusan bisnis semata.
Setelah beranjak dari meja rapat, Naura berjalan ke meja Lisa. Bukan untuk pindah meja kerja, melainkan hanya untuk mengambil tas yang tadi ia taruh di sana. Angga sudah keluar dari back office namun ia tidak segera naik ke lantai tiga. Laki-laki itu menunggu di luar ruangan back office agar bisa naik ke atas bersama-sama.
"Aku pikir Kamu sudah naik duluan!" seru Naura saat mendapati Angga.
"Mana mungkin, Nona!" sahut Angga.
Kemudian, ia memberi jalan bagi Naura supaya melangkah lebih dulu. Sedangkan dirinya menyusul, namun Naura tidak nyaman jika seseorang harus berjalan di belakangnya. Ia sengaja melangkah dengan lambat, agar Angga bisa berada di samping dirinya.
"Angga!" panggil Naura rendah.
Ia tak tahan karena seolah Angga malah kian memperlambat langkah kakinya juga. Spontan Angga mempercepat langkah kaki, bergerak maju hingga persis di samping Naura.
"Angga, nanti sore Kamu masih ada rencana lain di luar? Maksudku, apa Kamu nggak sibuk?!" tanyanya, sesuatu terlintas barusan.
"Nggak terlalu Nona," jawab Angga, padahal ia mempunyai pekerjaan lain yang menunggu.
"Kalo gitu temani aku jenguk Lisa, kasihan anak itu pasti masih sakit … dia amat jarang ijin lama terkecuali benar-benar sakit," kata Naura membocorkan rencananya.
Mau gimana lagi? Menolak tentu tidak mungkin, sudah terlanjur menjawab kosong. Akhirnya dengan amat terpaksa Angga menerima ajakan Naura, namun ia memberanikan diri meminta tenggat waktu.
"Tapi Nona…." ucapnya tidak dilanjutkan.
Sontak Naura menoleh, "Tapi apa?!" desaknya bertanya.
"Itu Nona … Jangan lama-lama ya...." seru Angga.
Naura menahan tawa, dari nada suaranya yang terdengar memohon, Naura berasumsi Angga memiliki janji dengan seseorang nanti malam.
"Ok, aku nggak bakal ganggu urusan pribadimu … biar nggak telat, sebaiknya kita pulang lebih cepat saja," kata Naura menanggapi.
Obrolan mereka yang sambil berjalan tak terasa mengantar mereka ke lantai tiga. Terpaksa obrolan disudahi, keduanya masuk ke ruang kerja masing-masing.
----
Terdesak waktu dan keadaan, Hanis membuang jauh rasa malunya. Melalui pesan chat ia meminjam sejumlah uang pada Ika, rupanya temannya tersebut tidak langsung memberi jawaban. Sebaliknya, ia mengajak Hanis bertemu sekalian nongkrong berdua.
Siang ini tepatnya waktu yang ditentukan kemarin, Hanis bersiap-siap. Tidak berdandan dan juga tidak berpenampilan bagus, hanya baju santai yang Hanis kenakan. Setelah memesan ojek, keluarlah ia dari kamar secepatnya. Hanis memilih menunggu di luar, di teras rumah tepatnya.
Sambil menunggu ojek datang, kembali ia membuka situs yang ia kunjungi kemarin malam. Tidak tahu apa yang dituju, hanya bolak-balik membuka setiap fitur yang terdapat di dalamnya.
Untung saja ojek segera datang, setidaknya itu menyudahi aktivitas tidak berarti Hanis. Dengan langkah cepat ia menuruni undakan teras, melewati halaman untuk mencapai pintu pagar. Ditempelkan tangannya pada sensor di bagian dalam agar pintu pagar terbuka, sekejap mata pagar itu bergerak. Saat sudah cukup bagi tubuhnya menerobos keluar, cepat-cepat Hanis bergerak.
Driver ojek sudah menyambut tepat di depan pagar rumah, begitu Hanis muncul ia menyodorkan helm pada wanita itu. Naiklah Hanis ke boncengan segera, menyuruh driver itu menjalankan motor saat ia sudah duduk nyaman.
Di tempat lain yang tak begitu jauh dengan kampus dimana mereka belajar, Ika sudah nampak duduk tenang seorang diri. Sesekali ia mengecek layar ponsel meski tidak ada suara notifikasi terdengar, seolah tidak percaya lagi dengan pendengaran telinganya.
Lumayan ia menunggu, membuat ketenangannya terusik perlahan. Tanda-tanda kebosanan mulai singgah, diraihnya ponsel yang sedari tadi rehat sejenak. Dinyalakan itu ponsel, namun sempat bingung. Haruskah ditelpon atau cukup hanya dengan mengirim chat? Alhasil jari-jemari Ika tertahan, menanti keputusan yang diambil otaknya.
"Apa anak itu bertambah parah kondisinya?!" gumam Ika, kecemasan kembali mampir mengganggu pikiran.
Sebelum sempat bertindak, tiba-tiba panggilan masuk dari Hanis melegakan dirinya. Cekatan, Ika mengangkat panggilan itu dan langsung berucap. Tidak memberikan kesempatan bagi Hanis untuk lebih dulu bersuara.
"Ada dimana Kamu? Jadi apa nggak?!" cerca Ika bertanya.
"Aku sudah di depan? Apa Kamu sudah di dalam?!" Hanis balik bertanya.
"Iya," jawab Ika singkat.
Hanis tidak berlanjut, ia putuskan sambungan telepon kemudian bergegas masuk. Matanya mengitari tiap meja, mencari keberadaan Ika di dalam sana. Ika yang lebih dulu nampak, mengangkat tangan saat itu juga, kemudian memanggil Hanis dengan suara lantang. Tidak peduli akan tatapan orang lain di dalam sana.
Mata Hanis mengarah pada sumber suara, saat melihat sosok Ika di meja sana berlarilah ia. Ika menawarkan minuman, ia sendiri juga belum memesan apa-apa. Seorang pelayan kafe mendatangi mereka berdua, menyerahkan daftar menu. Hanis tidak memilih, ia meminta disamakan dengan pilihan Ika.
Setelah mencatat pesanan itu, berlalu lagi pelayanan tersebut. Mulut Ika masih bersabar menahan diri, setidaknya hingga laki-laki itu cukup jauh dari meja dimana mereka duduk.
Saat sudah dirasa nyaman sekaligus waktu yang tepat, mulut itu segera berucap. Bertanya mengenai apa yang mengganjal pikirannya sejak kemarin. Hanis mulanya tidak ingin menjawab, tidak ingin berterus terang. Terus ia berkutit dengan jawaban yang semakin tidak jelas juntrungannya. Sebagai pendengar yang memang sudah menunggu jawaban, tentu Ika sangat tidak puas diri. Hanis yang terlalu bertele-tele membuat Ika memiliki keberanian lebih mendesak wanita itu.
Dan pada akhirnya, apa yang tidak ingin Hanis lontarkan jebol juga dari pertahanan. Mulut Ika menganga lebar, bola matanya nyaris loncat mendengar pengakuan Hanis. Tak ingin menjadi sorotan, seketika kedua tangannya menutupi mulut itu. Reflek, Ika mencondongkan tubuh, merapat agar lebih dekat lagi. Sebelum berusaha, ia melirik samping kanan kiri, mengamati situasi.
"Benar-benar nggak waras Kamu, Nis! Ayo kita laporin ke polisi aja," ucapnya.
Lagi-lagi Hanis malah membisu, respon yang benar-benar mengecewakan. Tubuh Ika terdorong ke belakang, bersandar lesu ke sandaran kursi. Setelah menghela nafas, ia pun berucap panjang lebar.
"Sampai kapan Kamu mau diperalat? Aku paham sama ketakutan Kamu, yakinkan dirimu dan beranikan dirimu … jika memang semua itu menyebar! Seiring berjalannya waktu dampak sosial itu akan sirna dengan sendirinya," kata Ika menegur Hanis.
"Lantas gimana sama sekolahku? Apa ada jaminan kalo aku tetap bisa melanjutkan kuliah? Atau mungkin aku bakal di drop out saat itu juga sama kampus," sanggah Hanis, mengungkapkan ketakutan yang ia pendam sendiri.
Ika terdiam, perkataan Hanis mencoba ia telaah dan ia renungkan. Pada akhirnya, wanita itu menyerah juga, ia tidak berkomentar apalagi menyalahkan tindakan yang dipilih Hanis.
"Hanis, kalo sekarang aku nggak bisa memenuhi uang itu … nunggu tiga hari atau seminggu apa Kamu mau?!" ucapnya mengajukan pertanyaan.
Masih sempat Hanis melempar senyum datar, "Asal tidak sebulan aku masih bisa menunggu," ucapnya menjawab.
"Ok, akan aku usahakan tidak lama … kamu yang tenang ya, biar pas cek kesehatan hasilnya bagus!" kata Ika dan juga menasehati.
Obrolan seputar masalah uang tidak berlanjut, ditambah lagi apa yang mereka pesan sudah datang diantar. Kali ini Ika yang membayar apa yang dipesan oleh Hanis, tidak tega ia dengan apa yang menimpa temannya tersebut.
"Mau kemana lagi habis dari sini?!" tanya Ika, kemudian menghabiskan makanan yang tinggal satu kali suapan.
"Nggak kemana-mana, langsung balik," jawab Hanis segera.
"Oh … kalo gitu aku antar Kamu balik," seru Ika.
Sayangnya, tawaran setulus hati itu ditolak oleh Hanis. Kali ini Ika tidak mendebatnya, sekalipun Hanis berucap langsung pulang namun Ika sepenuhnya menduga jika ada rencana lain sehabis dari sana.
Setelah membayar makanan, Ika menarik tangan Hanis. Mereka berdua keluar dari kafe, namun harus terpisah di depan. Ika beranjak lebih dulu untuk mengambil motor di parkiran sementara Hanis menuju ojek yang sudah dipesan tadi.
Tidak lama ia menunggu, begitu ojek tiba Hanis cepat-cepat mendatangi. Kemudian berlalu segera dari sana padahal temannya sendiri masih belum nongol lagi dari tempat parkir.
Ika sempat celingak-celinguk mencari keberadaan Hanis, saat sudah tidak bisa mendapati di setiap luaran kafe yang ia amati, Ika berni untuk menghubungi. Namun ia urungkan niatnya, ada hal lain yang lebih penting dan bersifat sangat mendesak.
Setelah beberapa hari yang lalu ia mencuri nomor kontak Andik, segeralah ia mengirim chat. Ada beberapa chat yang ia kirim, namun belum ada satupun yang centang biru, masih tertahan di warna abu-abu saja.
Sambil menunggu balasan datang, Ika menjalankan motor menuju kampus. Sebenarnya ia tidak ada materi dan juga praktek siang itu, namun ada buku yang hendak ia cari di perpustakaan sebagai bahan tugas yang harus diselesaikan. Mengingat ia tidak memiliki banyak kegiatan, Ika memutuskan meminjam buku itu sekaligus membacanya disana sambil menunggu sore.
----
Waktu itu jam pelajaran sudah usai, cepat-cepat Andik menuju ruang guru. Setibanya di meja kerja, buku modul dan juga tablet ia taruh. Sebelum beranjak mengikuti kegiatan keagamaan di sore hari Andik iseng membuka ponsel. Sekedar ingin tahu ada apa saja di dalamnya selama masa hibernasi tadi.
Matanya menyipit kala ada chat masuk dari nomor kontak yang tidak terdaftar. Tidak ada dugaan apa-apa, hanya kebingungan dan rasa penasaran yang ada. Tak sanggup menahannya lagi, Andik lekas membuka chat tersebut.
Dadanya cukup dibuat tersentak saat nama Hanis disebut di dalam chat tersebut. Andik tidak berniat membalas, sebaliknya ia langsung menghubungi nomor kontak tersebut.
Keheningan serta fokus Ika terganggu, tiba-tiba ponselnya berdering lantang. Khawatir mengganggu para pembaca buku di perpustakaan dan juga mendapat teguran, Ika cepat-cepat menerima panggilan tersebut.
"Hallo!" seru Ika agak ragu, lantaran ia tidak menyangka akan langsung ditelpon oleh Andik.
"Iya hallo, ini siapa?!" tanya Andik.
"Saya … temannya Hanis, yang jemput dia tempo hari itu!" jawab Ika menjelaskan.
"Oh … ada perihal apa ya? Kok tadi di chatnya nyinggung nama Hanis?!" sesak Andik bertanya.
"Maaf, Kak … bisa kita bicara secara langsung? Nggak lewat telepon? Soalnya ini masalah sangat penting dan mendesak!" kata Ika langsung ke inti.
"Ok, kalo sekarang apa Kamu bisa?!" tanya Andik yang pikirannya tidak tenang lagi.
"Bisa Kak," jawab Ika.
"Dimana kita bisa ketemuan?!" tanya Andik lagi.
"Saya sekarang di kampus, gimana kalo datang ke kampus aja?! Kita bicara di luar kampus, mungkin di warung-warung gitu?!" jawab Ika.
"Ok, aku kesana sekarang!" sahut Andik dan menutup panggilan.
Ia yang tadi hendak mengikuti kegiatan keagamaan kini mengurungkannya, ada hal lain yang mendesak dan membuat pikirannya tidak tenang. Terlebih saat teringat perubahan sikap Hanis dalam beberapa minggu terakhir.
Setelah ijin pulang lebih cepat, Andik setengah berlari keluar dari ruang guru. Sapaan temannya Alfin bahkan tidak ia tegur balik. Bukan disengaja, fokusnya terpecah.
Setelah mencapai tempat parkir, segera ia jalankan motor. Menerobos gerbang sekolah yang masih tertutup. Berkat dua orang satpam yang siaga, gerbang itu terbuka segera. Andik melambaikan tangan, berterima kasih pada mereka berdua.
Dengan kecepatan di atas normal ia berkendara, membawa laju motor ke kampus Hanis. Di sana Ika yang tadi berada di perpustakaan kini sudah beralih tempat. Duduklah ia di trotoar jalan, di luar gerbang kampus. Cukup ramai di sana, setidaknya banyak anak-anak yang juga duduk di trotoar sekedar menunggu ojek atau sekedar nongkrong saja.
Tak seberapa lama tibalah Andik, laki-laki itu lekas mencopot helm. Kemudian, ia menghubungi Ika, memastikan apakah wanita itu masih di perpustakaan atau sudah di luar kampus.
Sambil menerima panggilan, Ika melambaikan tangan. Berteriak memanggil Andik dari jarak tidak begitu jauh. Saat sudah mendapati Ika, Andik menyelipkan lagi ponsel. Dijalankan lagi motornya dengan helm ia taruh di jok depan.
"Sudah lama nunggu?!" ujar Andik sambil turun dari motor.
"Nggak juga kok, Kak!" sahut Ika.
"Oh, ngobrol dimana kita ini?!" tanya Andik tidak sabar mendengarkan cerita Ika.
"Em … disini aja udah!" sahut Ika sambil mengitari sekelilingnya.
"Masak disini?!" seru Andik kurang setuju.
"Kalo bicara di warung atau sejenisnya khawatir didengar orang," kata Ika berpendapat.
"Oh…." seru Andik.
Duduklah ia di samping Ika, namun menjaga jarak agar tidak dekat apalagi menempel. Ika membetulkan posisi duduk, bukan karena canggung, hanya saja mempersiapkan diri sekaligus mengumpulkan keberanian.
Sebelum bercerita, ia sekali lagi celingak-celinguk, menambah ketegangan Andik saja. Khawatir apa yang ia ceritakan masih terdengar, Ika tidak sungkan meminta Andik lebih merapat lagi. Bergeserlah Andik segera, telinganya sudah kadung mekar siap mendengarkan semuanya, namun Ika malah tak kunjung buka suara.
“Mau cerita apa sih?!” seru Andik, mendesak Ika yang tak kunjung bicara.
“Kakak … janji ya jangan marah ke Hanis, jangan cerita juga sama dia,” pinta Ika sebelum mulai bercerita.
“Iya aku janji, sudah cepetan mau cerita apa?!” sambung Andik tidak sabar lagi menanti.
Mulailah Ika bercerita mengenai permasalahan yang dialami Hanis, mulai dari awal ia mendapat kiriman foto yang disertai ancaman sekaligus pemerasan. Dada Andik terasa terhimpit batu, menyempit seketika hingga nafasnya terasa sulit keluar dari rongga dada.
“Mulanya minta uang lima juta, habis itu berlanjut lagi minta uang sepuluh juta! Aku sudah ngasih saran agar lapor ke polisi tapi….” ucap Ika terhenti.
“Tapi kenapa?” sambung Andik berusaha membuka mulut meski terasa mati lidahnya.
“Dia takut foto sama rekaman itu menyebar, aku saranin buat cerita ke Kakak tapi Hanis nggak mau,” lanjut Ika bercerita. Andik hanya terdiam, bingung harus bicara apa.
“Kakak bantu dia buat keluar dari masalah ini … sekarang anaknya butuh uang lima puluh juta kalo mau foto sama rekamannya dihapus….” imbuh Ika.
“Apa? Lima puluh juta?!.” Mata Andik terbelalak mendengarnya, debaran dadanya kian tak terkendali lagi. Antara marah, kecewa, sedih semua bercampur aduk di kepala.
“Iya Kak, tolong bantu dia … jangan sampai dia jual organ tubuhnya!” ungkap Ika.
Runtuh rasanya Andik mendengar pengakuan Ika tersebut, bayang wajah Hanis hinggap di benaknya. Andik tertunduk lesu, tampang wajahnya juga sulit digambarkan. Keheningan seketika tercipta, Ika hanya mampu menatap sosok Andik yang tertunduk dengan ditopang kedua tangannya.
Cukup lama ia dalam posisi itu, hingga perlahan satu tangannya terlepas menopang. Rupanya tangan itu merogoh ponsel dari saku celana, Andik membuat panggilan keluar. Siapa yang ia telepon?
Sebuah suara terdengar dari ujung sambungan, suara seorang wanita yang sangat akrab dengannya. Ya, wanita itu tak lain adalah Naura. Kala itu Naura dan Angga sudah berada di rumah Lisa, menjenguk wanita itu yang masih belum sehat kondisinya.
“Iya Dik, sudah di rumah?” seru Naura saat sudah tersambung.
“Mba … disaat seseorang mengecewakan kita, haruskah kita peduli padanya saat orang itu tertimpa masalah?.” Bukannya menjawab apa yang ditanyakan Naura, Andik malah balik bertanya.
Suara laki-laki itu mengusik ketenangan hati dan pikiran Naura, tersentak dadanya. Jelas Andik tidak baik-baik saja, dan itu berpengaruh juga padanya. Mulut Naura terpaku sepersekian detik lamanya, wajahnya datar tanpa ekspresi sehingga Angga dan juga Lisa yang memperhatikan dibuat tegang bersamanya.
“Jika itu menyangkut hidupnya, masa depannya … besarkan hatimu, raih tangannya! Mungkin itu jawabanku, juga jawaban suamiku!” ucap Naura akhirnya mampu bersuara.
“Makasih Mba,” sahut Andik dan menutup panggilan.
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura