Namaku adalah Jeerewat biasanya aku dipanggil Jee saat ini usiaku masih 18 tahun. Selain kecantikanku tubuhku juga terlihat sangat menggoda para pria. Dan aku juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Bercita-cita menjadi wanita karir.
kehidupanku yang masih belia berubah menjadi kehidupan penuh kemisteriusan. Ketika seorang pria masuk di kehidupanku Alfy Syein Biglous pria tampan seorang pengacara muda anak dari sahabat ayahku.
Kami di jodohkan lantaran Ayah dari pria itu menderita penyakit dan khawatir jika ia pergi tanpa menikahkan kami dulu. Karena sejak kecil kedua orangtua kami sudah menjodohkan diam-diam.
Dari awal pria itu sudah menyukaimu, namun sayangnya aku yang begitu polos tidak tahu akan hal itu.
Tidak lepas juga dua orang pria kepercayaan Alfy yang selalu tampak menyusahkan diriku dengan semua peraturan-peraturan yang harus ku ikuti.
Penasaran kan bagaimana kelanjutan cerita gadis cantik dan seksi ini bertemu pria tampan. Ikuti ceritaku yah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepanikan Yang Berlebihan
Kini malam semakin larut angin pantai bertiup kencang bergoyang berganti ke kiri dan ke kanan suasan sudah sangat mencekam hanya lampu di sepanjang dermaga itu yang menemani mereka berdua berjalan menelusuri panjangnya dermaga itu. Dari kejauhan masih tampak sosok dua pria yang masih setia menjaga Tuan dan Nona mudanya meski rasanya sudah sangat dingin namun kewajiban tetaplah kewajiban keselamatan kedua orang itu adalah hal utama bagi mereka.
"Istriku apa kau sudah puas dengan berjalan-jalan selarut ini?" tanya Alfy yang memecah keheningan saat itu.
"Tentu saja suamiku aku sangat puas," jawab Jee sambil menoleh menatap wajah tampan suaminya.
"Jika benar seperti itu bisakah kita kembali ke kamar?" Sambil mengelus rambut indah milik istrinya berusaha membujuknya dengan lembut, yah hal itu karena sesuai permintaan sang istri jika ia benar mencintainya mulainya dengan segala hal yang bersifat lembut tanpa ketegangan itu yang di ingat Alfy.
"Baiklah suamiku," jawab Jee yang menyetujui dan segera mereka beranjak menuju kamar.
Saat melangkah menuju kamar tiba-tiba saja kaki Jee tersandung jembatan yang kayunya sedikit tidak rata dengan kayu lainnya dan akhirnya ia terjatuh dengan cepat suami tampannya itu pun menangkap tubuh istrinya dengan cepat Jac dan Delon datang menghampiri mereka sambil berlari.
"Ada apa Tuan?" tanyanya yang panik.
"Kau tidak lihat ini Jac?" tanya balik Alfy.
"Nona tidak apa-apa ? Kembali Delon melemparkan pertanyaan pada Nona mudanya.
"Tidak apa-apa Delon aku baik-baik saja," jawab Jee yang terlihat menahan sakit di kakinya.
"Apa kau bosan hidup Delon?" Ancam Alfy menatap kesal ke arah pria itu meskipun cahaya tidak begitu terang namun masih bisa terlihat jelas wajah kesal pria itu.
"Maafkan saya Tuan," jawab Delon yang terlihat mulai takut. Habislah ia malam ini hanya karena perkara jembatan saja sudah bisa di pastikan akan menjadi masalah besar.
"Kalian berdua tunggu di depan aku akan mengantar istriku," Perintah Alfy yang melangkah menggendong istrinya ke kamar.
Selama berjalan ia tidak mengeluarkan satu kata pun pada istrinya sedangkan Jee hanya menatap bingung pada suaminya astaga ada apa lagi dengan manusia satu ini entah hal konyol apa lagi yang akan di kerjakan malam ini dan apa itu dengan menyuruh mereka berdua menunggunya apa yang ingin ia lakukan pada mereka jangan sampai Alfy membuat hal yang tidak-tidak pada mereka hanya karena kaki istrinya yang tersandung saja.
"Kau diamlah di sini Bi Ria akan datang merawatmu," ucap Alfy yang beranjak pergi dari kamarr.
"Suamiku kau mau ke mana?" tanya Jee yang mencoba menahannya.
"Aku akan kembali," jawab Alfy dengan berhenti melangkah.
"Aku tidak apa-apa kau tidak perlu menyuruh Bi Ria untuk merawatku," jelas Jee yang mulai merasa aneh dengan sikap suaminya.
"Jee berhentilah mengucapkan kau tidak apa-apa aku membenci kata-katamu itu!" Perintah Alfy yang langsung melangkah tanpa menunggu ucapan istrinya lagi.
Dengan cepat Bi Ria langsung membawa peralatan kompres dan beberapa alat p3k lainnya untuk merawat kaki Nona mudanya, namun saat ia sampai di kamar wajah khawatirnya berubah menjadi bingung melihat Jee yang berdiri menatap ke arah jendela sambil membelakangi posisi Bi Ria yang baru saja membuka pintu dengan sopannya.
"Bibi tidak perlu sepanik itu," ucap Jee membalikkan tubuhnya dengan kedua tangan yang saling menyilang di depan perut ratanya.
"Tapi Tuan bilang Bibi harus merawat Nona," ucap Bi Ria yang bingung.
"Bibi seperti tidak tahu saja pria satu itu memiliki keanehan yang luar biasa bukan?" tanya Jee sambil tertawa lucu menatap wajah wanita di hadapannya itu.
"Maksud Nona?" tanya Bi Ria yang masih belum mengerti.
"Astaga Bibi kemarilah duduk bersamaku aku akan menceritakannya," ucap Jee sambil memukul pelan kursi di sampingnya yang empuk. Kemudian Bi Ria mendaratkan bokongnya di sofa empuk itu.
"Apa yang terjadi Nona?" tanya Bibi yang masih penasaran setengah mati.
"Kakinya hanya tersandung kayu sedikit saja bi namun pria itu bertingkah seoalah kaki ku seperti habis terjatuh dari lantai tingkat enam saja," Jelas Jee dengan tertawa lepas pada wanita di depannya itu.
"Maaf Nona bibi kirain juga separah itu karena kedengarannya Tuan sangat serius saat menelefon Bibi tadi," ucapnya lirih sambil tertunduk.
"Sudah mulai saat ini Bibi tidak perlu khawatir jika mengenai saya semua pasti baik-baik saja tidak separah yang terdengar dari mulut suamiku yah Bi," ucap Jee dengan memberi penjelasan pada Bi Ria.
"Baik Nona," jawab Bi Ria dengan menunduk sopan.
Sementara di sisi lain Alfy, Delon, dan Jacobie tengah merasakan hal yang menegangkan kedua pria itu tertunduk merasa bersalah karena tidak memeriksa dengan baik di sekeliling istri Tuan mudanya.
"Apa saja yang kalian lakukan ?" tanya Alfy dengan nada kesalnya.
"Maafkan kami Tuan," ucap bersamaan kedua pria itu karena mau bagaimana lagi keamanan memanglah tugas mereka meskipun terdengarnya sedikit tidak masuk akal.
"Karena malam ini aku ingin bersama istriku baiklah aku tidak akan membuang waktu hanya untuk kalian, tapi malam ini juga kalian urus jembatan itu," ucap Alfy tanpa dosanya menunjuk arah dermaga yang harus mereka kerjakan malam ini.
"Baik Tuan," jawab serempak kedua pria itu.
Sementara dalam fikirannya sudah terbayang rasa lelah karena harus memanggil beberapa tenaga yang bertugas untuk memperbaiki jembatan dan mereka juga harus mengawasi untuk memastikan pengerjaannya dengan baik sementara malam sudah sangat larut suasana angin pantai itu sukses membuat mereka merasa tersiksa.
Setelah memberi pekerjaan yang tidak tahu waktu itu kini Alfy melangkah menuju kamarnya dengan wajah yang sudah kembali tersenyum lagi meskipun terlihat memaksa. Karena itu adalah permintaan sang istri, Alfy sagat tidak ingin jika istrinya beranggapan ia tidak benar-benar mencintai istrinya jadi mulai saat itu ia berjanji akan bersifat menyenangkan dan ramah. Sesampai di kamar ia melihat Bi Ria yang duduk di sebelah istrinya namun belum terlihat melakukan apa-apa.
"Bi, mengapa tidak merawatnya?" tanya Alfy menatap datar.
"Maaf Tuan ta-" (Belum sempat Bi Ria menjawab Jee sudah memotongnya dengan cepat).
"Suamiku tadi Bibi sudah mengompres kaki dan sekarang sudah tidak apa-apa," jawab Jee sambil menggerakkan kakinya yang tersandung tadi.
"Baiklah jika benar seperti itu sekarang Bibi bisa beristirahat," ucap Alfy yang terlihat tenang di depan kedua wanita itu.
"Permisi Tuan," ucap Bi Ria sambil beranjak pergi dari kamar dengn setengah menunduk sopan.
Hai readers terimakasih yah sudah setia menunggu kelanjutan cerita Alfy dan Jee jika kalian berkenan mohon untuk memberikan koment atau like di setiap episode yang sudah kalian baca untuk memberi dukungan author terus berkarya. Dan jangan lupa menekan tombol love yah dukungan kalian sangat berarti bagi author Terimakasih Asslamualaiku Wr. Wb.