Rakha dan Keenan sudah bertahun-tahun saling benci. Satu keras kepala, satu lagi dingin dan gampang naik darah. Dua-duanya sama-sama ahli bikin masalah.
Sampai pelatih baru datang dan memaksa mereka jadi duo inti. Lebih parahnya lagi... ada aturan tambahan. Mereka harus selalu bersama, mulai dari latihan bareng, ngerjain tugas bareng, bahkan pulang pergi bareng. Pokoknya 24/7.
Awalnya terjadi keributan yang cukup besar. Tapi lama-lama, mereka mulai terbiasa. Bahkan tanpa sadar… mereka selalu menempel.
Dan masalahnya cuma satu, bagaimana kalau "benci" itu pelan-pelan berubah jadi sesuatu yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kairylee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Satu Frame (2)
Keesokan harinya, poster Rakha dan Keenan sudah tertempel di banyak sudut sekolah. Bukan hanya mereka—momen-momen tim juga memenuhi papan informasi besar di koridor utama, mencolok di antara pengumuman lain yang biasanya cepat dilupakan.
Beberapa siswa berhenti di depannya. Ada yang menunjuk sambil berbisik, ada yang hanya membaca sekilas sebelum melanjutkan langkah. Hampir semuanya menoleh dua kali, seperti ingin memastikan sesuatu yang sebenarnya sudah mereka duga.
Latihan sore pun terasa sedikit berbeda.
Lebih ramai, tapi bukan kacau.
Keenan tetap Keenan—suara paling keras di lapangan, lelucon datang tanpa diminta. Namun kini, sebelum drill dimulai, ia kerap menoleh ke arah Rakha. Menunggu satu anggukan kecil. Satu isyarat yang cukup.
Rakha tetap tenang. Tetap mengatur ritme. Hanya saja, tegurannya tidak lagi datang dengan nada tajam.
"Oi."
Satu kata itu saja sudah cukup membuat Keenan berhenti memutar bola. Rakha menatapnya singkat.
"Kebanyakan gaya."
Keenan terkekeh, bahunya terangkat sebentar. "Iri aja orang ini."
Rakha tidak menanggapi. Ia hanya menunjuk lapangan dengan dagunya.
"Main yang betul."
"Iya, iya."
Keenan berlari kembali ke posisinya—tanpa tambahan suara, tanpa protes. Gerakannya kali ini lebih rapi.
Nayla berdiri di pinggir lapangan. Kamera tergantung di leher, tidak ia angkat.
Bola dilempar.
Rakha menangkap.
Tanpa menoleh, bola itu sudah kembali—arahnya tepat, waktunya pas.
Keenan menerimanya tanpa perlu melambat. Tidak ada aba-aba. Tidak ada saling pandang. Gerakan mereka bersih, seolah ritme itu sudah tertanam dengan sendirinya.
Nayla menurunkan tangannya dari kamera.
Baru saat itu ia benar-benar mengerti.
Bukan karena poster. Bukan juga karena turnamen.
Ia melihatnya dari hal-hal kecil, dari cara Rakha kini cukup memberi isyarat, tidak selalu menegur. Dari cara Keenan menahan diri, tidak lagi memaksa jadi pusat perhatian.
Dari latihan yang terasa lebih utuh—tidak tergesa, tidak tercerai.
Mereka tidak berubah dalam satu malam. Mereka hanya diberi cukup waktu untuk saling terbiasa.
.
.
"Nayla!"
Keenan melambai dari tengah lapangan. Panggilan itu menarik pikiran Nayla kembali ke kenyataan.
"Ngapain bengong?" teriaknya.
Nayla tersenyum kecil. "Ngeliatin perkembangan kalian."
"Motret dong."
Ia menggeleng pelan. "Nggak semua moment perlu difoto."
Keenan mengangguk, setengah paham. "Wah," gumamnya. "Dalem."
Rakha lewat di belakangnya, mengambil bola yang tergeletak di lantai.
"Latihan lagi," katanya singkat.
Keenan nyengir, lalu bergerak kembali dengan langkah ringan. Rakha mendengus pelan, namun sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak terlihat.
Latihan berlanjut.
Di tengah lapangan, Keenan dan Rakha bergerak berdampingan. Napas mereka perlahan menemukan irama yang sama. Gerakan saling mengisi, tanpa perlu saling menoleh.
Kebersamaan itu terasa ringan. Tidak dipikirkan. Tidak diusahakan.
Latihan hampir selesai ketika matahari mulai turun, menyisakan cahaya jingga yang menyelip di sela-sela tribun.
Peluit Pelatih Arwin terdengar panjang, memotong udara sore.
"Cukup!" teriaknya. "Pendinginan. Lima menit."
Selesai pendinginan, beberapa pemain langsung menjatuhkan diri ke lantai—ada yang rebahan, ada yang duduk bersandar di papan iklan.
Keenan berjalan ke pinggir lapangan sambil mengibas kausnya.
"Capek banget," keluhnya dramatis. "Gue ngerasa kayak abis dikejar anjing."
Rakha melirik sekilas. "Lu kebanyakan lari nggak jelas."
"Lari gue penting," Keenan membela diri. "Biar operan gue selalu nyampe ke lu dengan sempurna."
Rakha mendengus pelan. Kali ini ia tidak menjauh. Ia ikut duduk, bersandar di pagar rendah—jaraknya hanya sejengkal dari Keenan.
Nayla tetap fokus memperhatikan dari tempatnya duduk.
Keenan meneguk air, lalu menoleh. "Rakh," katanya tiba-tiba. "Lu sadar nggak?"
Rakha menghela napas. "Apa lagi?"
"Kita sekarang nggak ribut tiap lima menit."
Rakha diam sebentar. "Lu aja yang lebih nurut."
"WOAH." Keenan terkekeh. "Itu pujian?"
"Jangan gede kepala."
Keenan tertawa lepas mendengar itu.
Rakha menghela napas pelan. Bukan kesal, lebih seperti berhenti menolak sesuatu yang sudah terlanjur ada.
Di kejauhan, Nayla sempat mengangkat kamera. Lalu menurunkannya lagi.
Bukan karena tak ada momen.
Justru karena semuanya terasa utuh.
.
.
Pelatih Arwin menghampiri beberapa anggota lain lebih dulu, lalu berhenti di depan mereka.
"Kalian berdua," katanya. "Besok latihan strategi lagi. Kita mantapkan. Datang lebih awal."
Keenan mengangguk cepat. "Siap, Pak."
"Siap," Rakha menyusul.
Pelatih itu menepuk bahu mereka satu per satu sebelum berlalu. Gesturnya singkat, tapi cukup.
Lapangan makin lengang, meninggalkan sisa-sisa panas yang perlahan digantikan udara sore.
Keenan berdiri lebih dulu, lalu mengulurkan tangan.
"Bangun, Rakh."
Rakha menatap tangan itu sepersekian detik. Hanya sebentar. Lalu menerimanya.
Tarikannya pas. Tidak ragu, tidak berlebihan.
Keenan mendecak kecil, setengah bercanda. "Berat juga ya."
Rakha berdiri tanpa menjawab. Ia merapikan kausnya, lalu melangkah lebih dulu setengah langkah.
"Ayo mampir warkop," Keenan menyusul. "Yang deket sini."
Rakha melirik singkat, lalu mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan menuju lorong—tidak rapat, tidak berjarak. Seimbang.
Nayla berjalan beberapa langkah di belakang. Ia melihat bayangan mereka memanjang di lantai, saling tumpang tindih sebelum akhirnya menyatu di tikungan.
Dan baru saat itu Nayla sadar, ia tidak lagi sedang memperhatikan proses.
Tidak menunggu sesuatu terbentuk.
Tidak mengarahkan apa pun.
Semuanya sudah terjadi, pelan-pelan, tanpa perlu disadari saat berlangsung.
Di ujung lorong, Keenan berhenti sebentar lalu menoleh.
"Besok," katanya, ringan. "Kita lihat siapa yang datang lebih pagi."
Rakha mendengus kecil. "Siapa takut."
Keenan tersenyum lebar, tanpa dibuat-buat.
Nayla tahu, ini belum puncaknya. Tapi inilah titik ketika semuanya mulai benar-benar berjalan.
kayanya bakal keren, aku tunggu sampai chapter 20 baru kebut baca 🤭