NovelToon NovelToon
Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Janji-janji Yang Tertelan Kekeras Kepala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Slice of Life
Popularitas:252
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Niluh

Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.

Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.

Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selimut Hangat, Hati Beku

Matahari mulai meredup di ufuk barat Makassar, menyebarkan warna jingga dan merah ke langit yang masih sedikit berawan. Dewi baru saja selesai menggantungkan cucian di teras ketika dia mendengar suara orang asing berbicara dengan nada riang di depan rumah. Dia melangkah perlahan ke pojok teras, menyembunyikan diri di balik tanaman pandan yang tumbuh lebat, mengintip siapa yang datang.

Di luar rumah berdiri seorang pria berkulit gelap dengan rambut gondrong yang sedikit kusut, mengenakan baju batik yang sudah mulai pudar dan celana jeans sobek di bagian lutut. Dia sedang berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya penuh dengan senyum sombong sambil berbicara dengan suara yang cukup keras hingga terdengar jelas ke dalam rumah.

“Woi, siapa yang bilang Arif sudah berubah total ya? Ha! Kau tahu tidak, minggu lalu kita main kartu sama beberapa orang dari daerah Wajo di rumah kontrakan pak Soleh. Arif kan yang selalu jadi pemimpinnya dulu kan? Nah, kali ini dia keluar sebagai pemenang besar lho—jutaan rupiah langsung masuk kantongnya! Katanya mau beli motor baru untuk keluarganya, tapi aku rasa dia pasti bakal ajak kita main lagi minggu depan deh,” ujar pria itu sambil menepuk-nepuk tangannya dengan senyum yang makin lebar.

Dewi mendengarnya dengan tenang, matanya tetap kosong seperti biasa. Dia mengenali suara pria itu—dia adalah Toni, salah satu teman Arif yang dulu sering datang ke rumah untuk berjudi bersama-sama. Kadang-kadang mereka bahkan bermain sampai larut malam, membuat rumah penuh dengan suara teriakan dan tembakan jempol ketika ada yang menang atau kalah.

“Betul banget tuh mas Toni. Dulu Arif selalu kalah terus dan harus pinjam uang ke kita, tapi sekarang kayaknya kebalikannya ya. Minggu kemarin juga kan, kita main domino di pasar Cinde, Arif juga menang banyak lho. Katanya dia punya ‘rahasia baru’ buat menang terus,” sambung seorang pria lain yang berdiri di sebelah Toni, wajahnya juga penuh dengan kegembiraan. “Kita kan sudah lama tidak bisa kumpul kayak gini. Arif bilang kalau dia harus hati-hati aja biar istri nya tidak tahu. Katanya istri nya masih belum bisa menerima kalau dia berjudi lagi, padahal kan sekarang dia menang terus dan bisa kasih yang terbaik buat keluarga…”

Dewi tidak mendengar selanjutnya. Dia berbalik perlahan dan masuk ke dalam rumah, langkahnya tetap lambat dan tanpa suara. Dia pergi ke kamar dan duduk di sudut yang selalu jadi tempatnya—di dekat kasur yang sudah lama tidak digunakan bersama Arif, dengan punggung menyandar pada tembok yang dingin. Tangan nya diam di pangkuan, ekspresinya tidak berubah sedikit pun.

Tak lama kemudian, pintu rumah terbuka dan terdengar suara langkah kaki Arif yang terburu-buru. “Hai Dewi, aku bawa sate ayam nih dari warung Pak Slamet yang kamu suka banget. Kali ini aku pesen banyak lho, bisa makan sampai kenyang,” ujarnya dengan senyum yang tampak sangat antusias, meletakkan tas plastik berisi makanan di atas meja makan. Dia melihat Dewi yang duduk di sudut kamar dan berjalan mendekatinya. “Kenapa kamu diam saja ya? Coba kamu coba sate nya dulu, pasti enak banget…”

Dewi hanya melihatnya tanpa berkata apa-apa. Dia melihat wajah Arif yang tampak ceria, tapi di balik itu, dia bisa melihat tanda-tanda kelelahan dan juga sedikit kegembiraan yang tidak biasa—sama seperti ketika Arif dulu baru saja menang berjudi. Dia tidak mengatakan apa-apa ketika Arif mengajaknya ke meja makan dan memberikan piring berisi sate ayam yang masih panas dan harum. Dia mengambil tusuk sate satu per satu dan memakannya dengan lambat, dalam keheningan yang menusuk.

Arif mulai bercerita dengan penuh semangat tentang “pekerjaan barunya” yang katanya sangat menyenangkan dan memberikan penghasilan yang lebih baik. Dia bilang bahwa tempat kerjanya berada di pinggiran kota, sehingga dia harus pulang terlambat karena jarak yang jauh. Dia juga bilang bahwa bos nya sangat menyukainya dan bahkan menawarkan kesempatan untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. “Nanti kalau penghasilan kita sudah lebih banyak lagi, aku mau bawa kamu jalan-jalan ke Pantai ya, atau mungkin ke taman rekreasi. Kamu pasti suka kan?” ujarnya dengan mata yang bersinar.

Dewi hanya mengangguk tanpa memberikan tanggapan apapun. Dia tahu bahwa semua kata-kata itu hanyalah kebohongan. Dia tahu bahwa Arif tidak bekerja di tempat baru apa pun—dia hanya kembali ke dunia perjudian yang dulu hampir menghancurkan mereka berdua. Dia melihat bagaimana tangan Arif terkadang menggigil sedikit ketika dia bicara, bagaimana matanya terkadang melirik ke arah pintu seolah-olah khawatir ada orang lain yang akan datang, dan bagaimana dia sering menyembunyikan ponsel nya setiap kali bunyi notifikasi masuk.

Namun, berbeda dengan dulu yang membuat dia merasa marah, sakit hati, dan terjebak—kali ini dia hanya merasa tenang dan pasrah. Semua rasa yang dulu ada di dalam hatinya sudah tergantikan oleh dinginnya yang tak terlukiskan. Dia sudah tidak punya kekuatan lagi untuk marah, untuk menangis, atau bahkan untuk mencoba mengubahnya lagi. Dia sudah melihat bagaimana Arif berubah dulu dan kemudian kembali lagi ke jalan yang salah. Dia sudah tidak punya harapan lagi bahwa sesuatu akan benar-benar berubah.

Beberapa hari kemudian, Toni datang lagi ke rumah mereka. Kali ini dia datang dengan membawa botol minuman keras dan beberapa makanan ringan, dengan senyum yang makin lebar di wajahnya. “Hei Arif, siapakah bilang kamu tidak bisa kumpul dengan kita lagi ya? Kita sudah tunggu kamu di rumah pak Soleh malam ini lho. Ada beberapa orang baru nih yang ingin bermain dengan kita dan mereka bilang mau taruh uang yang banyak banget. Pasti kamu bakal menang lagi deh!” ujar Toni dengan suara yang keras, tanpa peduli kalau Dewi ada di dalam rumah dan pasti bisa mendengarnya.

Arif terlihat sedikit terkejut dan cemas ketika melihat Toni datang ke rumah. Dia segera berdiri dan mengantar Toni keluar ke depan, berbicara dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Dewi. “Hei, kamu tidak boleh datang kesini lagi ya! Dewi nya bisa tahu kalau aku masih berjudi,” bisik Arif dengan wajah yang penuh kekhawatiran. “Kita bisa bertemu saja di tempat lain aja kan? Jangan datang kesini lagi ya!”

“Ya sudah lah, ya sudah lah. Tapi jangan lupa ya malam ini ya! Kita tunggu kamu jam 8 di rumah pak Soleh ya,” ujar Toni sambil tertawa dan kemudian pergi meninggalkan Arif yang masih berdiri di depan gerbang dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

Dewi melihat semua itu dari balik jendela kamar. Dia melihat bagaimana Arif berdiri diam beberapa saat kemudian sebelum masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sudah kembali dibuat-buat ceria. Dia tidak merasa apa-apa ketika Arif masuk ke kamar dan mulai bercerita lagi tentang hal-hal yang tidak penting. Dia hanya duduk di sudut kamar, melihat ke arah luar jendela, memikirkan semua yang telah terjadi.

Malam itu, Arif bilang bahwa dia harus keluar sebentar karena ada “urusan penting” dari tempat kerja. Dia berpakaian rapi dan mengambil dompet nya sebelum keluar dari rumah dengan senyum yang paksa. “Aku cepat kembali ya Dewi. Kamu jangan tunggu aku kalau kamu ingin tidur duluan,” ujarnya sebelum menutup pintu rumah dengan suara pelan.

Dewi tetap duduk di sudut kamar, tidak bergerak sedikit pun. Dia tahu bahwa Arif tidak akan pergi untuk urusan kerja—dia akan pergi untuk berjudi bersama Toni dan teman-temannya. Dia tahu bahwa uang yang katanya dari pekerjaan baru sebenarnya adalah uang yang dia dapatkan dari menang berjudi. Dia tahu bahwa semua janji yang dia berikan hanya omong kosong belaka.

Namun, dia tidak merasa sedih atau marah lagi. Hatinya yang sudah membeku seperti es tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia hanya merasa lelah—lelah dengan semua kebohongan, lelah dengan semua harapan yang hancur, dan lelah dengan kehidupan yang terus berputar tanpa akhir. Dia melihat langit yang mulai gelap dengan bintang-bintang yang bersinar lemah. Di dalam hatinya, dia hanya berdoa bahwa suatu hari nanti, semua ini akan berakhir dengan sendirinya—bahkan jika dia sendiri tidak tahu kapan atau bagaimana hal itu akan terjadi.

Arif tidak pulang sampai larut malam. Ketika dia akhirnya masuk ke rumah dengan wajah yang merah dan penuh dengan kegembiraan, dia melihat Dewi yang sudah tidur di kasurnya dengan tubuh yang menggigil sedikit karena dinginnya malam. Dia mendekati kasur dan menutupi Dewi dengan selimut yang hangat, sebelum duduk di sisi kasur dan melihat wajah Dewi yang tertutup mata. “Besok aku akan bawa kamu membeli baju baru ya, Dewi. Aku sudah menang banyak malam ini,” bisiknya dengan suara yang penuh kebanggaan.

Dewi tidak merespon. Dia masih sadar dan mendengar semua yang Arif katakan, tapi dia memilih untuk tetap diam dan berpura-pura tidur. Dia merasakan hangatnya selimut di tubuhnya, tapi hatinya tetap dingin seperti es yang tidak akan pernah mencair lagi. Dia tahu bahwa besok Arif akan kembali membawa makanan kesukaannya atau membeli sesuatu untuknya dengan uang yang dia dapatkan dari berjudi. Dia tahu bahwa sikap Arif yang baik hanya akan bertahan sampai dia kembali kalah dan kehilangan semua uangnya lagi.

Dan seperti biasa, dia tidak akan mengatakan apa-apa. Dia hanya akan menerima semua itu dengan tenang dan pasrah, hidup dalam dunia yang sama tapi berbeda dengan Arif—seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang hanya berbagi atap rumah yang sama.

 

1
HIATUS DULU
wahhh tulisannya rapih banget, diksinya juga bagus. Siap jadi author bertanda tangan enggak sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!