Damian adalah seorang pria muda tampan pewaris perusahaan besar yang kaya raya. Suatu hari dalam perjalanan bisnisnya dia memberi tumpangan pada seorang pengantin wanita yang kabur dihari pernikahannya.
Kesalahfahamanpun terjadi, keluarga besar, teman dan koleganya mengira Damian sudah melangsungkan pernikahan.
Karena jadwal yang padat, Damian terpaksa membawa pengantin wanita itu dalam perjalanan bisnisnya keliling Eropa.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapakah wanita itu? Kenapa dia kabur dihari pernikahannya?
Apakah akhirnya mereka akan saling jatuh cinta?
Follow IG@rr_maesa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RR Maesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH-33 Apakah mulai ada cinta?
Setelah makan malam, Hanna bersantai menonton tv, sedangkan Damian berjalan jalan diluar rumah, entah kemana. Hanna menonton acara seorang artis yang difrank host acara untuk memperlihatkan isi tas juga dompetnya. Hanna senyum senyum sediri menonton acara itu.
Dilihatnya kearah jendela yang lebar yang menjadi penyekat di kamar itu yang tembus ke kolam renang di luar.
“Kemana pria itu? Dia meninggalkanku sendirian di rumah,” gumamnya. Tidak berapa lama pintu kamar ada yang membuka. Hanna langsung menoleh kearah yang datang.
“Nah akhirnya kau datang juga!” seru Hanna, sambil menghampiri Damian yang baru masuk, dia membawa sebuah tabloid Bisnis di tangannya.
“Kenapa?” tanya Damian, sambil menyimpan tabloid itu di meja. Diapun melepas arlojinya.
“Mana dompetmu?” tanya Hanna, membuat Damian keheranan.
“Dompet?” tanya Damian. Hanna mengangguk.
“Buat apa?” tanya Damian.
Hanna menarik tangan Damian, menuju depan televisi.
“Kau lihat itu? Para artis di frank untuk memperlihatkan isi tas dan dompetnya,” jawab Hanna.
“Hubungannya denganku apa?” tanya Damian, dia akan pergi tapi ditahan oleh Hanna.
“Aku ingin melihat isi dompet pengusaha sepertimu isinya apa saja?” tanya Hanna.
“Kau ga ada kerjaan!” gerutu Damian, dia akan pergi tapi langkahnya ditahan Hanna.
“Apa lagi?” tanya Damian.
“Mana dompetmu? Aku ingin tau isi dompetmu!” ucap Hanna.
“Aku buru-buru mau ke toilet. Aku akan pergi keluar, ada janji dengan teman-temanku. Aku pulang larut, jangan menungguku. Kalau aku mau tidur, aku akan membangunkanmu untuk memelukku,” kata Damian.
“Aku mau tau isi dompetmu! Ayo berikan!” pinta Hanna.
Damian menatapnya. Hanna mengulurkan tangannya.
“Kau ini ada-ada saja,” gerutu Damian sambil memberikan dompetnya.
Hanna menerimanya dengan tersenyum senang. Sementara Damian ke toilet, Hanna membuka isi dompet itu sambil duduk di sofa, yang menghadap ke televisi.
“Aku penasaran, orang seperti Damian, apa isi dompetnya? Apa uang milyaran juga di bawa? Hihi…” gumam Hanna sambil tertawa sendiri.
Dibukanya dompet Damian itu. Dikeluarkanlah isinya. Kartu-kartu ATM, tanda pengenal, dibacanya lalu tersenyum. Kartu-kartu itu disimpan diatas meja. Ada beberapa uang ratusan ribu, dia jajarkaan juga diatas meja. Tidak ada yang aneh.
Hingga Hanna menemukan sesuatu di dalamnya. Sebuah foto.
Dalam foto itu ada anak kecil bersama seorang wanita muda yang cantik. Sepertinya itu foto lama, karena sudah usang.
Siapa wanita di foto itu? Kenapa dia merasa pernah melihat wajah dalam foto itu? Tapi siapa? Kening Hanna berkerut, mengingat wanita dalam foto itu mirip dengan siapa?
Terdengar suara Damian keluar dari toilet.
Hanna menoleh pada Damian.
“Ini foto siapa?” tanya Hanna, sambil mengcungkan foto itu pada Damian.
“Itu fotoku waktu kecil dengan ibuku,” jawab Damian, sambil berjalan menghampiri Hanna dan mengambil arlojinya yang tergeletak dimeja, lalu dipakainya.
Hanna kembali melihat foto itu.
“Kenapa?” tanya Damian.
“Aku sepertinya pernah melihat wajah ini. Ibumu mirip seseorang tapi siapa ya? Karena ini foto ibumu masih muda, jadi mungkin wajahnya akan agak berbeda,” kata Hanna.
“Kau pernah melihat wanita yang mirip dengan ibuku?” tanya Damian dengan serius, menatap wanita yang duduk di sofa itu yang memeperhatikan foto ibunya.
“Iya, aku seperti pernah melihat wajah ini, tapi wajah siapa? Aku lupa,” ucap Hanna masih berfikir.
Damian langsung jongkok di depannya. Memegang tangan Hanna yang masih memegang foto itu.
“Coba kau ingat-ingat, siapa tahu itu ibuku. Aku sudah mencarinya bertahun tahun, aku sangat merindukannya,” kata Damian.
Hanna menatap Damian yang menatapnya penuh harap. Tapi sayang, dia lupa siapa wanita yang mirip dengan foto itu.
“Aku lupa. Coba nanti aku berusaha untuk mengingatnya lagi. Soalnya aku merasa sering melihatnya juga, aku merasa tidak asing, tapi siapa ya? Kenapa aku lupa? Karena mungkin kan pasti wajahnya sekarang banyak berubah,” jawab Hanna.
“Aku mohon kau ingat-ingat ya. Aku benar-benar merindukan ibuku. Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memeluknya,” kata Damian, dengan wajah yang serius. Dia tidak main-main untuk mengatakannya.
“Ya aku akan coba mengingatnya. Siapa tahu itu ibumu,” jawab Hanna. Damian bangun dari jongkoknya lalu menatap isi dompetnya yang bertebaran diatas meja.
“Kenapa kau mengeluarkan isi dompetku?” tanya Damian. Hanna malah tertawa.
“Ternyata orang kaya isi dompetnya sama, hahha…” jawab Hanna.
“Tentu saja sama, kau fikir apa isinya?” gerutu Damian.
Terdengar handphone Damian yang tergeletak di meja rias berbunyi nyaring.
“Bereskan dompetku, aku mau pergi,” kata Damian, sambil berjalan menuju meja rias, mengambil handphonenya, lalu diangkatnya.
“Halo Sayang,” sapa Damian.
DEG!!! Ada yang jantungan saat mendegar Damian mengucapkan kata sayang pada si penelpon.
Hanna menghentikan gerakannya yang sedang memasukkan barang-barang Damian ke dalam dompet.
“Oh kau sudah dibawah? Kau tunggu sebentar!” kata Damian, lalu menoleh pada Hanna, tangan kirinya menutup handphonenya.
“Mana dompetku?” tanya Damian.
Hanna segera memberikan dompet itu. Damian mengambil dompet itu dan dimasukkan ke saku celananya.
“Kau jangan menungguku. Mungkin aku pulang larut atau aku tidak pulang,kunci pintu, aku bawa kunci serep,” kata Damian. Hanna tidak bicara apa-apa. Dia hanya terdiam mendengar ucapannya Damian.
Dilihatnya pria itu keluar dari kamar dan menutup pintu kamar.
Hanna segera berlari ke sudut kamar lain, ke jendela yang bisa melihatnya ke halaman depan rumah. Dia berdiri di jendela kaca yang lebar. Dilihatnya Damian turun dari tangga teras. Seorang wanita cantik dengan gaun yang bagian bahunya terbuka memperlihatkan kulit putih mulus si pemakai gaun itu.
Damian terlihat mencium pipi kiri dan kanan wanita itu, kemudian memeluk pinggangnya dibawa masuk ke dalam mobil wanita itu. Seteah wanita itu masuk, pintu ditutupnya, kemudian Damian berjalan berputar, masuk kepintu bagian kemudi. Sepertinya dia yang menyetir. Tidak berapa lama, mobil itu pergi meninggalkan rumah indah itu.
Hanna tertegun melihat pemandangan yang dilihatnya. Pria itu, suami palsunya itu pergi dengan seorang wanita dimalam hari, dan dia kemungkinan tidak pulang? Si siapa wanita itu? Kenapa Damian tidak akan pulang?
Tiba-tiba Hanna merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya. Kenapa dia merasa sedih? Cukup lama dia berdiri di jendela kaca itu. Menarik nafas panjang, mencoba mengontrol dirinya.
Diapun kembali ke sofa tempat dia menonton televisi tadi. Kini acara sudah berganti acara video video viral yang lucu. Tapi tak satupun video yang bisa membuatnya tertawa. Kenapa dia merasa hatinya sedih? Apa yang di sedihkannya?
Akhirnya, dia membuka pintu kamar yang langsung keluar menuju kolam disamping rumah itu.
Hanna berjalan menyusuri pinggiran kolam. Kenapa dia merasa sepi? Kenapa bayangan Damian pergi dengan wanita itu tidak bisa lepas dari ingatannya? Apakah wanita yang dipanggil sayang di telpon itu adalah pacarnya? Damian terlihat senang bertemu dengan wanita itu. Mencium pipi kiri pipi kanan, memeluk pinggangnya, membawanya masuk ke dalam mobilnya, mereka terlihat sangat mesra. Coba lihat raut muka Damian yang berseri-seri saat melihat wanita itu datang.
Hanna menggeleng gelengkan kepalanya, menghilangkan bayang-bayang Damian dari fikirannya. Terus berjalan menuju ujung kolam, yang semakin dekat dengan arah pantai.
Kini Hanna duduk di kursi dipinggir kolam. Angin bertiup cukup kencang dan terasa dingin di kulitnya. Terdengar deburan ombak yang tidak terlalu kencang. Hanna bersandar di sandaran kursi panjang itu dan menselonjorkan kakinya, menatap kearah pantai yang gelap, hanya sinar bulan yang menerangi.
Kenapa hatinya merasa gelisah begini? Ada apa? Kembali terlintas bayang-bayang Damian dan wanita itu, dia merasa tidak suka dengan kehadiran wanita itu apalagi Damian memperlakukannya dengan mesra. Dia tidak suka.
Tunggu! Kenapa dia tidak suka? Bukankah dia dan Damian tidak ada hubungan apa-apa? Mereka tidak ada ikatan yang serius, pacar juga bukan. Berarti Damian bebas berhubungan dengan wanita manapun. Hanna menghela nafas dalam-dalam. Dibiarkannya angin malam yang dingin menusuk nusuk kulitnya.
Tiba-tiba beberapa tetes air mata menetes dipelupuk matanya. Hei, kenapa dia menangis? Apa yang ditangisinya? Terus memikirkan Damian dengan wanita itu membuat hatinya sakit, apakah dia cemburu? Kenapa harus cemburu? Apakah dia mulai menyukai Damian? Kebersamaan mereka selama ini membuatnya menyukainya? Oh tidak, jangan sampai terjadi, dia akan patah hati. Pekerjaannya akan berat kalau menggunakan hati. Dia tidak boleh jatuh cinta pada Damian.
Hanna menghapus airmatanya. Meringkukkan tubuhnya yang mulai merasa kedinginan, tapi dia sama sekali tidak ingin mengambil selimut. Dia malas bangun dari kursi itu meskipun dia merasa kedinginan. Lambat laun diapun tertidur di kursi yang hanya dipayungi lingkaran payung kecil itu.
Hari semakin larut, udara semakin dingin. Langkah lebar itu terkesan terburu-buru memasuki rumah itu. Memasuki kamarnya, sosok itu tampak tertegun mendapati kamar yang kosong. Dilihatnya pintu kaca yang menuju kolam renang terbuka lebar, angin masuk ke kamar itu terasa dingin. Diapun berlari kearah pintu itu. Matanya menyapu ke sekeliling kolam. Sepi…Kemana wanita itu?
Langkah lebar itu kini menyusuri pinggir kolam dengan tergesa-gesa, matanya menyapu ke seputar kolam. Hatinya merasa gelisah tidak mendapati wanita itu di kamarnya.
Tiba-tiba matanya terhenti pada sosok yang meringkuk di kursi untuk berjemur.
“Hanna?” gumamnya.
Diapun segera berlari menghampiri sosok itu, lalu berjongkok disampingnya. Menatap wajah yang tertidur miring menghadapnya. Hatinya merasa lega menemukan wanita itu. Tangannya menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajahnya, dia benar-benar tertidur pulas. Disentuhnya pipi wanita itu yang terasa dingin.
“Kenapa kau tidur diluar? Bahkan tanpa selimut, tanpa jaket?” tanyanya pada diri sendiri. Akhirnya diangkatnya tubuh wanita itu, dibawanya masuk ke kamarnya, dibaringkan di tempat tidur dan menyelimutinya.
Diapun segera menutup pintu tadi dan menguncinya juga menutup gordennya. Kini dia kembali duduk disamping tempat tidur, kembali menatap wanita yang tertidur itu. Di dekatkannya wajahnya menatap wajah wanita itu lebih dekat.
“Kau tidur seperti orang mati. Cuaca dingin seperti ini kau bisa tidur diluar,” gumamnya, tersenyum kecil. Tangannya mengusap rambut yang sedang tidur itu. Perlahan didekatkannya bibirnya mencium keningnya. Kembali membetulkan selimutnya, kemudian beranjak. Menatapnya sekali lagi, lalu keluar kamar itu dan menguncinya.
Hanna hanya menggerakkan badannya sedikit, kini tubuhnya terasa hangat dibawah selimut tebal itu.
*******************
Cie cie…readers..mulai terbawa perasaan nih…
Jangan lupa like dan komen.
Diminta komen yang banyak malah tambah sedikit, bikin malas nulis aja. Mulai besok dua hari sekali aja nulisnya, atau seminggu sekali sampai akhir bulan, biar irit episodenya.
Baca juga “My Secretary” season 2(Love Story in London)