Evan Bramasta, cowok berbadan tinggi, kulit putih dan hidung bangir. Berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai guru olahraga di sebuah Sekolah Menengah Atas dan sudah mempunyai seorang istri atas perjodohan dari orang tuanya. Istrinya bernama Sabina Elliana yang bekerja di sekolah yang sama dengan suaminya.
Beberapa bulan belakangan ini, Evan selalu memperhatikan seorang murid perempuan yang selalu membuatnya sakit di bagian bawah. Ia menginginkan gadis itu menjadi miliknya dengan cara apapun.
Namanya Ziyara Liffyani, gadis yatim piatu berparas cantik di usianya yang baru 17 tahun. Dia harus bekerja paruh waktu di toko buku untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Ziyara juga diam-diam sangat menyukai guru olahraganya itu. Apa pun akan Ziyara lakukan untuk menggapai cita-citanya dan mendapatkan keinginannya, termasuk menjadi istri simpanan guru olahraga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Main Basket
Setelah 30 menit, Ziyara selesai dengan memasaknya dan menyiapkan semuanya di atas meja makan lalu berjalan ke arah Evan untuk membangunkan suaminya.
“Mas, bangun, yuk."
“Mmhhh, ngantuk sayang," ucap Evan.
“Udah sore banget ini, mandi dulu lah biar seger baru makan."
Evan pun langsung bangun dan menoleh ke arah meja makan.
“Masak SOP ya?" tanya Evan.
“Hm."
“Pantes enak banget bau nya, mas makan dulu deh baru mandi," ucap Evan.
Evan dan Ziyara berjalan ke meja makan, sampai di meja makan Ziyara menyendok kan nasi suaminya dan mengambilkan lauk pauk yang ada di atas meja.
“Bill udah selesai mom," ucap Bill.
“Sini, makan dulu," balas Ziyara.
Bill duduk di samping ibunya dan enggan menatap sang ayah.
“Bill mau pake apa nak?" tanya Ziyara.
“Sop ayam sama perkedel kentang mom," jawab Bill.
Setelahnya mereka makan dengan tenang tanpa suara.
Sesudah makan Evan langsung masuk ke kamarnya untuk mandi, Bill yang melihat ayahnya yang hanya diam pun semakin takut.
“Mommy, Daddy marah ya sama Bill?" tanya Bill.
“Enggak sayang, makan dulu ya nanti Daddy beneran marah kalo Bill lagi makan tapi sambil ngobrol."
Bill menganggukkan kepalanya dan melahap habis makanan yang ada di piringnya.
Setelah mereka makan, kini mereka berada di depan tv dan duduk dengan ber alaskan karpet berbulu tebal.
“Bill," panggil Evan.
Bill dengan takut-takut mendongakkan kepala dan melihat wajah sang ayah.
“Iya dad."
“Daddy minta maaf udah teriak sama Bill tadi," ucap Evan.
“Noo, Bill yang minta maaf karena masih ngamuk dan nangis."
“Janji sama Daddy gak boleh ngamuk lagi, Bill udah gede nak," ucap Evan lagi.
“Bill janji Daddy!" janji Bill.
“Sini peluk Daddy," ucap Evan sambil merentangkan tangannya.
Setelah berpelukan, Bill bertanya tentang bakwan yang ada di atas meja makan tadi.
“Mommy, kok bakwan yang mommy bikin beda rasanya?" tanya Bill.
“Bukan mommy yang bikin sayang," jawab Ziyara.
“Jadi siapa?" tanya Bill lagi.
“Tanya sama Daddy."
“Siapa dad?" tanya Bill pada ayahnya.
“Maminya Elisabeth," jawab Evan.
“Ceileh, tau aja nama panggilan Elisabeth ke ibunya, ngobrol banyak ya tadi?" tanya Ziyara pada Evan.
“Ngomong salah, ngejawab pun salah. Astagfirullah," ucap Evan.
“Kenapa gak ayah bunda aja ya kayak waktu kali—"
“Sayaaang," geram Evan yang memotong ucapan istrinya.
“Kenapa sih?" tanya Ziyara.
“Kamu bahas-bahas ini nanti kamu sendiri yang ngambek sama mas," ujar Evan.
Bill yang tak tau apa permasalahan orang tuanya apa, ia berjalan menuju pintu dan membukanya. Ia melihat ada beberapa orang di sana yang bermain basket lalu meminta izin kepada ibunya untuk melihat kesana.
“Mommy, Bill liat orang main basket ya."
“Iya, jangan ke mana-mana, di sana aja," jawab Ziyara.
Bill langsung berlari ke arah lapangan dan duduk dengan diam melihat orang orang bermain basket.
Evan yang melihat anaknya pergi, ia langsung mendekati istrinya dan ingin menerkam Ziyara di tempatnya.
“Eitsss, no no no. Liat anak kamu sana," ucap Ziyara dan meninggalkan Evan di depan tv.
“Sayaaaaaaaaanggg."
“Liat anak kamu sayang," ujar Ziyara dari lantai atas.
Evan menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar, ia bangun dan berjalan menuju lapangan basket untuk menemui anaknya.
Sampai di sana dan sudah bertemu dengan anaknya, Evan ingin duduk dan tanpa sengaja bola basket mengenai tubuhnya.
“Aduhhh."
Evan mengambil bola basket itu dan langsung melemparkannya masuk ke dalam ring.
“Waaaaaah, Daddy hebat," ucap Bill sambil bertepuk tangan.
Anak-anak yang sedang bermain basket tadi langsung mengajak Evan bermain, Evan yang memang pintar dalam segala jenis olahraga pun langsung bergabung untuk bermain.
“Ayo Daddy, kalahin om-om itu," ucap Bill.
“Come on dad."
“Daddy hebat."
“Huu Daddy terbaik."
Hanya suara anaknya saja yang berteriak di lapangan basket itu.
Setelah satu jam bermain, mereka pun berhenti dan beristirahat.
Evan yang penuh dengan keringat membuka bajunya dengan tanpa berdosa dan terpampang lah perut six packnya yang keras.
Ziyara yang melihat dari balkon kamarnya langsung berteriak.
“Heh bapak Evan, pulang!" teriak Ziyara.
“Ayo pulang, nanti mommy kamu ngomel." Ajak Evan pada Bill.
“Daddy sih buka buka baju, udah tau mommy marah kalau Daddy buka baju di luar rumah," ucap Bill.
Evan berpamitan pada anak-anak yang mengajaknya bermain tadi dan berlalu meninggalkan lapangan dengan bertelanjang dada.
Tetangga mereka yang merupakan mantan istrinya pun tak kalah tergiur dengan badan mantan suaminya.
Ia membayangkan tubuhnya berada di atas tubuh Evan.
Setelah Evan masuk Sabina pun masuk ke dalam rumahnya dengan wajah mesem mesem karna habis melihat otot-otot perut Evan.
“Kenapa senyum senyum?" tanya Taufan.
“Ha? Hm gak apa apa kok Pi," jawab Sabina.
“Masih suka kamu sama pak Evan?" tanya Taufan.
“Ngomong apa sih Pi."
“Aku selalu berusaha untuk jadi suami yang baik dan selalu berusaha supaya kamu lepas dari bayang-bayangnya pak Evan, tapi kelihatannya usaha aku sia sia," ucap Taufan.
“Pi, kamu kenapa sih?" tanya Sabina.
“Aku yang harusnya nanya sama kamu, kamu kenapa? Aku liat gimana cara kamu Mandang wajahnya pak Evan, aku juga liat gimana tadi kamu nganterin makanan ke rumah pak Evan dengan wajah senyum kamu, apa gak cukup cuma punya aku di hidup kamu? Atau selama ini aku sama Elisabeth cuma pelarian kamu aja? Aku juga punya sabar yang terbatas Sabina," ujar Taufan.
Sabina terdiam dengan semua kata-kata yang keluar dari mulut suaminya, kentara sekali kah sikapnya setelah bertemu kembali dengan Evan?
Ia akui ia masih mencintai Evan, tapi ia juga sangat mencintai Taufan, suaminya.
“Kamu salah paham Pi," ucap Sabina.
“Salah paham aku di mana?"
Sabina terdiam tak dapat menjawab pertanyaan suaminya.
“Cukup buk Ziyara yang ngerebut pak Evan dari kamu dulu, jangan kamu yang ngerebut pak Evan balik dari dia. Dan lagi sekarang kamu udah bersuami."
“Pi."
“Apa? Kamu mau bilang ini salah buk Ziyara? Iya Buk Ziyara emang salah, tapi biar tuhan dan karma yang bales semuanya, bukan kamu, lagian mereka udah bahagia sama kehidupan mereka."
“Aku nyesel ceritain semuanya sama kamu, kamu sekarang malah ngebelain Ziyara, kamu gak tau gimana sakitnya aku," ucap Sabina.
“Aku gak ngebelain siapa siapa karna aku gak pernah di posisi kalian, tapi kalau kamu bilang sakit, gimana sama sakitnya aku? Dulu setiap kali kita berhubungan, nama siapa yang selalu kamu sebut? Pak Evan, Sabina ... kamu mikirin perasaan aku gak?" tanya Taufan.
“Sekarang kalau emang kamu nyesel nikah sama aku, aku bakal lepasin kamu," sambung Taufan lagi lalu meninggalkan Sabina yang berada di ruang tamu.
Seakan tersadar apa yang di ucapkan oleh Taufan, Sabina menyusul suaminya dan melihat Taufan sudah mengemasi baju bajunya ke dalam koper.
“Pi, kamu apa-apaan sih?" tanya Sabina lalu mengambil baju baju Taufan yang sudah di letakkan di dalam koper.
“Kamu mau apa lagi Sabina? Aku diem selama ini karna aku mikirin Elisabeth, aku juga capek," ucap Taufan.
Sabina memeluk tubuh suaminya dan mengucapkan kata maaf berulang kali.
“Maaf Pi, maafin mami."
Taufan melepaskan pelukan Sabina dari tubuhnya.
“Kenapa minta maaf?" tanya Taufan.
“Maaf udah nyakitin kamu, gak mikirin perasaan kamu juga, jangan tinggalin mami pi," jawab Sabina.
“Kamu cuma minta maaf tapi kamu gak nyesel, tanpa aku sama Elisabeth juga nanti kamu masih bisa tetep hidup kok." Jawab Taufan.
Sabina kembali memeluk tubuh suaminya dengan menangis.
“Enggak Pi, papi gak boleh pergi."
“Stop Sabina, kamu juga selama ini gak pernah mau tau sama Elisabeth, padahal Elisabeth anak kandung kamu sendiri," ucap Taufan.
“Mami mohon Pi, kasi mami satu kali kesempatan supaya mami bisa ngerawat kalian dengan baik, mami janji Pi."
Taufan yang tak tega melihat istrinya memohon dan menangis pun memberi kesempatan untuk Sabina berubah.
“Satu kali kesempatan, kalau kamu masih kayak sebelum sebelumnya, aku sama Elisabeth akan pergi jauh dari kehidupan kamu," ucap Taufan.
“Iya Pi, mami janji."
Taufan menarik tubuh Sabina dan membawanya ke dalam pelukannya.
“Maaf udah ngomong dengan nada tinggi," ucap Taufan dengan mengelus Surai istrinya.
“Engak Pi, mami yang minta maaf karna selama ini gak pernah mikirin perasaan papi, selalu mikirin diri mami sendiri," balas Sabina.
“Ssst, udah yaa, gak usah di bahas lagi, sekarang tepati janji mami untuk berubah, Elisabeth juga butuh perhatian dari mami," ucap Taufan.
Sabina menganggukkan kepalanya dan menduselkan wajahnya di dada Taufan.
“Tidur yu, udah malem," ajak Taufan.
“Papi gak mau?" tanya Sabina.
“Mau apa?"
“Ini," ucap Sabina dan membawa tangan Taufan ke rahimnya.
Taufan menatap wajah istrinya.
“Enggak, kalau mami masih mikirin pak Evan," jawab Taufan.
“Pii, mami mau berubah, jangan bawa nama orang lain, harusnya papi bantu mami," balas Sabina.
Sabina merajuk dan berjalan menuju ke kasur meninggalkan Taufan yang masih berdiri di depan lemari.
Taufan tak menghiraukan rajukan sang istri dan malah membereskan bajunya yang tak jadi ia masukkan ke dalam koper.
Setelah semuanya beres, Taufan pergi untuk mandi dan mencukur janggutnya, hanya menyisakan kumis tipis yang membuatnya semakin tampan, setelah selesai ia pun keluar dari kamar mandi dan hanya memakai boxer saja.
Taufan menuju ke arah kasur untuk bergabung dengan istrinya yang merajuk tadi.
Taufan memeluk Sabina dari belakang dan mengecup pipi istrinya.
“Mas Evan, jangan cium-cium ih," ucap Sabina.
“Brengsek," ucap Taufan.
Taufan langsung bangun dari kasur dan memakai celana serta bajunya lalu berjalan menuju kamar anaknya.
“Pi, mami cuma bercanda." ucap Sabina yang mengejar suaminya.
“Kamu mau berubah dan kamu mau minta bantuan dari aku, tapi bercanda kamu gak harus kayak gini, udah cukup Sabina, cukup."
“Pi, mami beneran bercanda," ujar Sabina.
Taufan menyeka air matanya dengan kasar.
“Aku gak tau, aku kamu anggap apa selama ini, tapi asal kamu tau, aku bener bener sayang sama kamu dan aku rasa aku harus berhenti sekarang juga," ucap Taufan dan meninggalkan Sabina di lorong kamar.
Sabina tertidur di depan kamar anaknya karna Taufan mengunci kamar itu dari dalam.