Lanjutan My Kindergarten Teacher dan The Five Brothers
Bagaimana jika kamu adalah putri dan cucu pemilik salah satu bank terbesar di Indonesia tapi dikira miskin oleh duda kaya hingga menawarkan menjadi Sugar Daddy nya supaya bisa berdekatan karena pria itu mengalami gynophobia.
Salasika Hadiyanto tidak menyangka jiwa gabutnya membuat dirinya memiliki Sugar Daddy bernama Lingga Xavier Horance. Part konyolnya, anak Xavier, Xander sangat dekat dan mendukung ayahnya tinggal bersama Sasa.
Bagaimana reaksi Dewa dan Sagara Hadiyanto saat tahu cucu dan putrinya memiliki Sugar Daddy akibat salah paham?
Generasi ke 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Dewa
Sasa masuk ke dalam rumah kontrakannya dengan tubuh 3L, letih-lunglai-luesyu karena acara hari ini sangat melelahkan. Gadis itu pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi. Usai mandi, Sasa memasukkan baju kotor untuk dia cuci di mesin cuci.
Sasa pun masuk ke dalam kamar untuk sholat ashar dan melihat jam Kurominya. Masih jam empat sore. Sasa memasang alarm jam lima sore dan setelahnya dia naik keatas tempat tidur, lalu terlelap tanpa tahu ponselnya berbunyi.
***
Apartemen Xavier dan Xander
Xavier 'Papa Gula' Horance
"Kemana Sasa? Apa sudah sampai rumah?" gumam Xavier sambil tengkurap di atas tempat tidur dan memandang layar ponselnya.
Xavier tersenyum saat mengingat tadi gadis itu terkejut ketika pinggangnya dia peluk. Xavier merasa sudah kangen memeluk Sasa lagi dan tidak sabar menunggu Sasa pulang.
"Haaaaahhhh, masih dua hari lagi! Aku sudah kangen sama kamu Sasa ...." Xavier meletakkan kepalanya diatas bantal. "Tidur sebentar ah."
***
Rumah Rodrigo dan Prudence
Rodrigo menatap wajah cantik putrinya yang terlelap usai acara lomba di sekolahnya tadi. Jujur Rodrigo baru merasakan betapa hebohnya acara perayaan kemerdekaan suatu negara dengan lomba aneh-aneh. Keseruannya memang berbeda dengan kota New York, kota asalnya.
"Pru, kalau punya mama lagi dan itu miss Sasa, gimana? Jujur, Papa melihat, bagaimana miss Sasa bisa dekat sama kamu itu ... Dan itu bukan karena sebagai guru saja tapi memang miss Sasa kamu tulus sama kamu." Rodrigo mengelus rambut coklat Prudence. "Papa juga sepertinya jatuh cinta dengan miss Sasa. Cantik, pintar dan ... Menggemaskan."
Rodrigo mencium kening Prudence. "Dan ternyata miss Sasa, seiman ya Pru."
Pria itu pun berjalan keluar dari kamar putrinya dan menutup pintunya pelan. Rodrigo melihat foto almarhum istrinya yang cantik di meja Konsul. "Sayang, kalau aku menikah lagi, tidak apa-apa ya? Pru juga suka sama gadis itu."
Rodrigo mengelus foto istrinya. "Semoga Sasa jadi jodohku ya? Berkati kami ya sayang."
***
Sasa terbangun saat mendengar suara Kuromi teriak-teriak dan mematikan jam wekernya.
"Untung suaranya Kuromi. Coba waktu di Tokyo beli yang Brook atau Luffy. Bukannya nanti bangun malah horor. Hohoho ...." Sasa menirukan suara tawa Brook, salah satu nakama Luffy. "Lha Sa, kamu kok jadi sedeng? Ayo bangun! Nggak ilok jam segini masih di tempat tidur!"
Sasa memeriksa cuciannya dan mulai mengeluarkan semua dari mesin cuci lalu menjemurnya di area belakang. Jika orang melihat rumahnya seperti jelek, tidak terawat tapi jangan salah, di dalam sangat high tech dan high end. Prinsip Sasa, dari luar terlihat missqueen tapi di dalam tetap harus Sultan dong !
Setelahnya, gadis itu menyiapkan untuk makan malam sebelum adzan Maghrib dengan tujuan, habis sholat, dia bisa makan.
"... Minami no shima wa atta ke-e paina purupuru, atama pokopoko, aho baka... ( Pulau-pulau di selatan hangat... Dan kepala mereka menjadi sangat panas... Mereka menanam-nanas... Mereka menanam-kelapa... Dan mereka semua idiot! ) ...," dendang Sasa sambil memasukkan rajangan bawang merah dan putih.
"Niban! ( The islands in the north are snowy...)
Kita no shima wa
Samui ~ ♪ ( And their heads get really cold... )
Hyakoi-koi-koi ( They're very chilly-chilly... )
Atama buruburu ( They're very willy-nilly... )
Aho bakaaa ~ ♫.. ( And they're all idiots! )," lanjut gadis itu.
Suara dering ponselnya terdengar dan Sasa mengambilnya dari dalam tasnya. "Ya Xander?"
"Sasa, ini bumbu buat semur daging ala kamu apa ya? Aku pengen buat," tanya Xander.
"Lho kamu mau buat semur daging? Oke bumbunya ...." Sasa lalu membimbing Xander menyiapkan semua bumbu dan cara memasaknya sambil dirinya juga memasak makan malamnya.
"Gitu ya Sa, tapi pasti enakan punya Sasa."
"Kamu coba buat dulu anak Viking. Nanti laporan ke Sasa rasanya gimana. Kalau memang ada yang kurang, besok Minggu kan Sasa sudah pulang kesana. Kita masak bareng. Oke?" senyum Sasa sambil mematikan kompornya.
"Oke Sasa. Kangen kamu di rumah," balas Xander dengan nada manja khas anak-anak.
"Dasar!"
"Papa juga lho Sasa. Galau tidak ada kamu."
"Papamu itu lebay aja."
"Katanya Minggu depan kita mau ke Solo? Kita bertiga kan?" Xander terdengar sangat antusias.
"Iya. Sekali-kali kan? Kalau di Semarang, bisa ketemu orang banyak jadi ramai nanti," jawab Sasa.
"Benar juga. Oke Sasa, akan aku buat semur sesuai dengan resep kamu. Thank you Sasa. Sayang banyak-banyak!" Xander mematikan panggilannya membuat Sasa tersenyum.
"Ampun deh anak Viking satu itu."
***
Kediaman Dewa dan Alina di Jakarta
"Jeng Alinaaaa ..." panggil Dewa dengan nada manja sembari mengelus kucing putihnya yang merupakan keturunan dari si jabrik. ( Baca The Five Brothers )
"Dalem mas Dewa?" jawab Alina sambil membawa segelas air putih seperti kebiasaannya meskipun kamarnya sudah ada kulkas dan meja kopi kecil tapi Alina selalu mengambil air dari ruang makan.
"Jalan-jalan yuk. Aku bosan!" pinta Dewa dengan wajah sok imut.
"Mau jalan-jalan kemana?" senyum Alina yang naik ke tempat tidur setelah meletakkan gelas air putihnya diatas nakas. "Jabrik ke dua puluh, kamu tidak tidur di kasur kamu?"
Kucing Persia putih dengan mata Dwi warna atau disebut heterochromia itu hanya menatap judes ke Alina. Baik Dewa atau Alina sepakat, jika keturunannya Jabrik tetap dipanggil jabrik tapi ada angka di belakangnya.
"Dia mau nya sama papa Dewa ya Brik?" kekeh Dewa membuat Alina gemas dengan suaminya yang tidak pernah hilang recehnya.
"Mas Dewa mau jalan-jalan kemana?"
"Gara-gara kan pulang besok Rabu dari Amrik ... Bagaimana kalau Jumat kita ke Solo. Aku kangen wedangan, pasar gede dan rumah kita disana. Gimana?" Dewa menoleh ke arah Alina dengan mimik memohon.
"Mas Dewa mau dawetnya? Mas, ingat gula. Kamu itu udah ada diabetesnya lho," ucap Alina yang harus semakin cerewet mengatur pola makan Dewa karena suaminya memang ndablek dikasih tahu. Dewa mendapatkan diabetes karena Bagas ada keturunan diabetes.
"Alah kan dikit Jeng. Lagipula, aku kan selalu minum obat rutin. Kemarin pas general check up, stabil kok. Kan berkat Jeng Alina yang sayang dan selalu memperhatikan suamimu yang awet ganteng ini," rayu Dewa.
"Awet ganteng dari mana? Wong ini garis botaknya kelihatan lho," kekeh Alina yang gemas dengan suaminya.
"Apa perlu aku dibotakin biar jadi The Rock atau Vin Diesel?"
"Badanmu tidak mendukung mas."
"Ya masa umur segini masih angkat barbel ? Yang ada encok aku kumat Jeng !"
Alika cekikikan. "Ya sudah, direncanakan sama Sagara nanti ... Sasa gimana? Shandi sudah pasti tidak mau ikut karena sudah mau akhir bulan."
"Sasa juga paling sibuk sama murid-muridnya dan weekend pasti hibernasi. Fix ya jeng Alina. Minggu depan kita ke Solo !"
***
Yuhuuuu up Siang Yaaaaaaaa gaeeesss
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
Sehat dan sukses selalu mbak Hana🥰
tapi sayang hati nya gak sehat