Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Dengan wajah cemberut, Rani pun melaksanakan perintah Irfan. Dia segera mencuci piring bekas pakai diri nya dan Irfan, dia tidak mau membuat Irfan semakin marah.
Sejak sore tadi hingga saat ini, Irfan selalu bicara pada nya dengan nada tinggi. Padahal Rani merasa tidak melakukan kesalahan apapun, dia hanya memberi tahu Nadila tentang kebenaran hubungan nya dan Irfan.
"Kenapa sih mas Irfan selalu marah- marah? Padahal aku cuma bantuin dia buat ngasih tahu Nadila!" Omel Rani dengan kesal.
Sementar itu di ruang keluarga, Irfan sudah duduk di hadapan mertua dan juga istri nya. Dia merasa perlu bicara dengan mereka, mengenai keadaan mereka sekarang.
"Dil, Mama ke kamar dulu ya. Mama ngantuk dan pengen istirahat!" Ucap Mama Nilam.
"Silahkan Ma!" Jawab Nadila sambil mengangguk kan kepala nya.
Mama Nilam tidak ingin mengganggu waktu Nadila dan Irfan, saat ini status mereka masih sebagai pasangan suami istri yang sah. Jadi mungkin mereka mau bicara sesuatu berdua saja, dia memberikan waktu pada anak dan juga menantu nya untuk mencari solusi dari masalah rumah tangga mereka.
"Nadila, aku minta maaf. Aku akui aku memang bersalah pada mu, tapi tolong dengarkan alasan ku dulu!" Irfan mulai membuka pembicaraan antara mereka berdua.
Nadila hanya terdiam, dia asyik dengan ponsel nya. Dia sengaja belum mau bicara, dia ingin memberikan kesempatan pada Irfan untuk bicara.
"Aku melakukan semua ini karena desakan ibu, dia mengingkari cucu dari ku!" Kembali Irfan menjelaskan.
"Tapi kau tidak bisa memberikan nya, kau adalah wanita mandul! Aku lah yang bisa memberikan mas Irfan keturunan!" Tiba - tiba Rani yang baru datang dari pintu dapur langsung menimpali.
Nadila hanya tersenyum mendengar ucapan Rani, dengan percaya diri dia mengatakan bahwa itu adalah anak nya Irfan.
"Lalu apakah kau yakin bahwa anak yang sedang kau kandung saat ini adalah anak nya Irfan?" Tanya Nadila dengan nada yang penuh dengan ejekan.
Rani langsung tersentak, bagai mana Nadila bisa tahu tentang anak ini. Bahkan dia sendiri tidak tahu pasti, siapa ayah dari anak ini. Tapi Rani dengan cepat mengubah ekspresi nya, dia berusaha menghilangkan kegugupan nya.
"Jelas ini adalah anak nya mas Irfan, aku wanita subur tidak seperti mu yang mandul!" Ejek Rani.
"Apa kau bisa membuktikan bahwa itu adalah anak nya Irfan? Atau anak dari banyak laki - laki yang kau layani di ranjang?" Tanya Nadila lagi.
"Nadila, kurang ajar kau,,,,!"
Rani belum selesai bicara, tapi Irfan dengan cepat memotong ucapan nya.
"Cukup Rani, sekarang juga kau masuk ke dalam kamar!" Bentak Irfan pada Rani.
"Mas, aku cuma,,,,!"
"Masuk sekarang, nanti kita bisa bicara lagi!" Kembali Irfan memberikan perintah pada Rani.
Tak ingin membuat Irfan semakin Marah, Rani pun akhir nya pergi ke kamar nya. Dia berjalan sambil menghentak - hentak kan kaki nya, dia sangat kesal karena Irfan lebih memilih unyuk bicara dengan Nadila di banding kan diri nya.
"Awas saja kau Nadila, aku pasti akan mengusir mu dari rumah ini!" Umpat Rani sambil menjatuhkan pantat nya di atas tempat tidur.
Rani tampak lebih tenang, tidak ada emosi atau pun kemarahan di mata nya, sekalipun hati nya terasa sakit atas pengkhianatan ini.
"Nadila, kita akan mengurus anak itu bersama. Anak itu akan memanggil mu dengan sebutan ibu, walaupun dia adalah anak ku dan Rani. Tapi dia juga akan mengenali mu sebagai ibu nya, kita akan merawat nya bersama!" Irfan berkata dengan percaya diri pada Nadila.
"Jangan libatkan aku dalam setiap urusan anak itu, sampai kapan pun aku tidak akan mau di panggil ibu oleh anak yang tidak jelas itu!" Jawab Nadila tegas.
"Nadila, dia adalah anak ku, bukan anak tidak jelas!" Ujar Irfan cepat.
"Terserah kau mau bilang apa, tapi yang pasti aku tidak akan mau merawat anak itu. Oh ya, jangan lupa mulai hari ini semua kebutuhan mu akan di layani oleh istri baru mu, bukan aku!" Nadila berkata dengan tegas.
"Dil, kau berubah Dil. Kau bukan lagi Nadila yang aku kenal dulu!" Irfan berkata dengan nada kecewa.
"Iya, aku memang berubah, Nadila yang dulu sudah mati dan kau yang membunuh nya!" Nadila berkata lagi dengan tatapan tajam.
Irfan mengusap wajah nya dengan kasar, jika sudah seperti ini maka sudah di pastikan diri nya sendiri yang kesusahan.
"Oh ya mas, satu hal lagi. Mulai hari ini aku serah kan semua tanggung jawab di rumah ini pada mu dan Rani sepenuh nya, termasuk cicilan rumah ini!" Nadila kembali berkata sambil memamerkan senyuman di sudut bibir nya.
"Tidak Dil, tetap kau yang mengatur semua nya seperti dulu!" Irfan berkata dengan cemas.
"Tidak lagi, semua nya aku serah kan pada Rani sebagai istri mu juga!" Jawab Nadila lagi.
Setelah itu Nadila langsung berdiri dan dia pergi meninggal kan Irfan yang masih terpekur di ruang keluarga, Irfan merasa bingung saat ini karena Nadia menolak untuk membantu nya lagi.
Selama ini cicilan rumah dan juga biaya kebutuhan sehari - hari di rumah ini di tanggung oleh Nadila, termasuk biaya wifi, listrik dan juga air. Sedang kan uang gaji nya Irfan untuk keluarga nya di kampung, dan untuk kebutuhan nya sendiri. Sisa nya dia tabung untuk keperluan mendadak.
Tapi semenjak dia selingkuh dengan Rani, sebagian besar uang gaji nya habis untuk memenuhi semua kebutuhan wanita itu. Tapi kini Irfan terancam kesulitan ekonomi jika Nadila tidak mau lagi membantu nya.
"Bagai mana ini? Uang tabungan akan habis dalam waktu dekat ini, jika harus aku gunakan untuk semua kebutuhan di rumah ini. di tambah lagi ibu meminta uang tambahan!" Irfan mengusap wajah nya dengan kasar.
Selamat ini jika Ibu nya meminta uang tambahan, Nadila selalu memberikan nya dengan uang pribadi nya. Karena dia menganggap bahwa keluarga nya Irfan juga keluarga nya, tapi itu dulu sebelum Irfan mengkhianati diri nya.
Di dalam kamar nya, Nadila tersenyum puas setelah melihat kecemasan di wajah Irfan. Mulai malam ini Irfan akan tertekan dengan semua kebutuhan di rumah ini, belum lagi semua kebutuhan Rani.
"Rasakan kamu mas, silahkan berpusing ria. Aku tidak akan pernah membantu mu lagi, tidak akan!" Guman Nadila sambil tersenyum.
Saat ini Nadila sengaja belum mau memberi tanu Irfan akan hasil tes kesehatan itu, karena jika dia tahu saat ini bahwa bayi yang di kandung Rani bukan lah anak nya. Sudah pasti Irfan akan mengusir Rani dan kembali pada Nadila, tapi Nadila tidak sudi lagi menerima Irfan sebagai suami nya. Dia tetap berada di sini hanya untuk memberi dan melihat penderitaan Irfan, dengan begitu rasa sakit hati nya akan terbalaskan dan dia merasa puas.