Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Menyelamatkan Sofia
Suara mesin mobil meraung memecah kesunyian malam.
Empat mobil hitam milik keluarga Alvaro melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah Sofia Valentia, ibu Aurora.
Di dalam mobil utama, Aurora duduk dengan gelisah. Kedua tangannya saling menggenggam erat hingga jemarinya memutih.
"Ibuku tidak akan apa-apa, kan?" tanyanya dengan suara bergetar.
Raven yang duduk di samping hanya menatap lurus ke depan.
"Aku sudah mengirim anak buah untuk mengamankannya."
"Itu bukan jawaban."
Raven akhirnya menoleh.
"Selama aku masih hidup, tidak akan kubiarkan mereka menyentuh ibumu."
Aurora terdiam. Kalimat itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus bingung.
Mengapa Raven begitu bersungguh-sungguh melindungi keluarganya?
Tak lama kemudian, iring-iringan mobil memasuki kawasan perumahan tempat Sofia tinggal.
Namun suasana di sana sudah berubah kacau.
Beberapa mobil rusak terparkir di pinggir jalan. Kaca rumah Sofia pecah, sementara pagar depan roboh akibat ditabrak kendaraan.
Aurora langsung membuka pintu mobil.
"Ibu!"
Raven meraih pergelangan tangannya.
"Jangan gegabah."
"Aku harus masuk!"
"Biar orangku memeriksa lebih dulu."
Belum sempat Aurora menjawab, suara tembakan kembali terdengar dari dalam rumah.
Dor! Dor! Dor!
"Tuan! Mereka masih di dalam!" teriak salah satu anak buah Raven.
Raven langsung mencabut pistolnya.
"Leo, kepung bagian belakang."
"Siap."
"Yang lain ikut denganku."
Tanpa ragu, Raven menerobos masuk ke dalam rumah.
Aurora tidak bisa hanya diam. Ia mengikuti dari belakang meski beberapa penjaga berusaha menghentikannya.
Ruang tamu dipenuhi pecahan kaca dan bekas tembakan.
Dua pria bersenjata tergeletak tak bernyawa di lantai.
Dari arah dapur terdengar suara wanita menangis.
"Ibu!" seru Aurora.
Ia berlari menuju sumber suara.
Di sana Sofia terduduk di lantai dengan kedua tangan terikat. Wajahnya pucat, tetapi tidak mengalami luka serius.
"Aurora..."
Air mata Sofia langsung mengalir saat melihat putrinya.
Aurora segera memeluk ibunya erat.
"Syukurlah... Ibu tidak apa-apa."
Sofia mengangguk sambil menangis.
"Mereka datang mencarimu."
Aurora memejamkan mata.
"Maafkan Aurora, Bu."
Sementara itu, Raven terus menyisir rumah.
Tiba-tiba seorang pria bertopeng muncul dari balik lorong dan langsung menembakkan pistolnya.
Dor!
Raven memiringkan tubuhnya hingga peluru hanya mengenai dinding.
Tanpa membuang waktu, Raven membalas.
Dor!
Pria itu roboh seketika.
Namun sebelum kehilangan kesadaran, ia sempat tertawa pelan.
"Kau terlambat, Raven..."
Raven mengernyit.
"Apa maksudmu?"
Pria itu mengeluarkan sebuah amplop dari balik jaketnya.
"Bosku... menitipkan ini..."
Setelah mengatakan itu, napasnya berhenti.
Raven mengambil amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat secarik kertas bertuliskan tangan.
"Kalau ingin mengetahui siapa pembunuh Matteo Alvaro, datanglah sendiri ke Pabrik Tua Black River. Datang sendirian."
Tanpa nama.
Tanpa tanda tangan.
Leo datang menghampiri.
"Tuan?"
Raven menyerahkan surat itu.
"Menurutmu?"
"Jebakan."
"Aku juga berpikir begitu."
Aurora yang baru selesai menenangkan ibunya ikut mendekat.
"Apa yang terjadi?"
Raven melipat kembali surat itu.
"Tidak ada."
Aurora menatapnya curiga.
"Kau berbohong."
Raven tidak menjawab.
Ia tidak ingin Aurora ikut terlibat lebih jauh.
Sofia yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
"Terima kasih... sudah menyelamatkan saya."
Raven mengangguk sopan.
"Anda tidak perlu berterima kasih."
Sofia menatap Raven lebih lama.
Meski pria itu tampak dingin, ia melihat cara Raven memandang Aurora.
Tatapan itu berbeda.
Tatapan seseorang yang diam-diam sedang menjaga orang yang dicintainya.
"Namamu Raven, kan?" tanya Sofia.
"Ya."
"Tolong... jaga putriku."
Aurora langsung tersipu.
"Ibu..."
Namun Raven menjawab dengan suara tenang.
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku."
Aurora menoleh cepat ke arahnya.
Jantungnya berdetak lebih cepat mendengar jawaban tersebut.
Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan gelap, Vittorio De Luca duduk sambil memainkan bidak catur hitam.
Di hadapannya berdiri seorang pria bertopeng.
"Apakah suratnya sudah sampai?"
"Sudah, Tuan."
Vittorio tersenyum puas.
"Bagus."
"Raven pasti akan datang."
Pria bertopeng itu bertanya pelan,
"Kalau dia benar-benar datang... apakah kita bunuh?"
Vittorio menggeleng.
"Tidak."
"Aku ingin dia hidup."
"Karena penderitaan akan terasa jauh lebih menyakitkan daripada kematian."
Sambil tersenyum licik, Vittorio menggeser bidak rajanya satu langkah ke depan.
"Permainan sesungguhnya... baru saja dimulai."