Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Sore itu, ruang tamu terasa begitu hangat dan menenangkan.
Tikar pandan yang aromanya khas digelar rapi, teh tubruk yang masih mengepul disajikan dalam cangkir-cangkir keramik kecil, ditemani toples berisi rengginang dan astor yang bertumpuk di tengah-tengah lingkaran.
Umah duduk di kursi goyang jati, senyum keibuan tak pernah lepas dari wajahnya yang teduh.
Di sebelahnya duduk Aisah, lalu Zahira di sisi kanan dengan posisi duduk yang sangat anggun dan sempurna.
Kanza Arumi? Ia duduk di paling ujung dengan posisi siaga, persis seperti ninja yang siap melakukan langkah seribu kapan saja jika situasi memanas.
“Nduk Kanza ini,” kata Umah lembut sambil mengelus lutut menantunya.
“Tiap hari memang Hanan titip ke sini. Kasihan kalau ditinggal sendirian di rumah, apalagi rumah mereka agak jauh masuk ke dalam. Suaminya juga sedang sibuk-sibuknya mengurus jurnal di kampus.”
“Iya, Umah,” Kanza nyengir kuda, mencoba mencairkan kecanggungannya.
“Daripada Kanza sendirian di rumah lalu berakhir mengajak bicara cicak di dinding, lebih baik di sini. Bisa ngemil gratis sambil mendengarkan pengajian yang bikin hati adem.”
Aisah tertawa kecil sambil menyenggol lengan kakak iparnya.
“Dan bisa bikin Umah pusing juga. Mbak Kanza itu hobinya menyanyi lagu galau dengan suara high note pas pagi-pagi saat santri sedang khusyuk mendaras, Umah sampai hanya bisa geleng-geleng kepala.”
Kanza langsung pura-pura malu, menutup wajahnya dengan ujung kerudung.
“Ish, Mbak Aisah! Itu namanya teknik vokal untuk melatih kesabaran para santri!”
Zahira tersenyum tipis, menyeruput tehnya dengan gerakan yang sangat berkelas.
Matanya melirik Kanza sekilas, sebuah lirikan yang sulit diartikan.
“Wah, enak ya… ada yang ditungguin, dititipin, dan langsung disayang sama semua orang di sini. Padahal kadang… yang tiba-tiba datang tanpa persiapan itu justru yang paling dimanja oleh takdir,” ucap Zahira dengan nada yang terdengar halus namun memiliki undercurrent yang tajam.
Kanza langsung menoleh cepat, radar "nyolotnya" mulai menangkap sinyal frekuensi yang aneh.
Aisah yang masih polos, hanya tertawa tanpa curiga.
“Iya, Mbak Zahira. Tapi kan Mbak Kanza ini istrinya Mas Hanan, wajar dong kalau dimanja seisi pondok.”
“Oh tentu, tentu saja…” Zahira tersenyum lagi, meski matanya tetap terlihat dingin.
“Zaman sekarang memang luar biasa ya. Perempuan bisa langsung jadi istri seseorang tanpa proses panjang atau pengabdian yang melelahkan. Dulu saya pikir yang namanya cinta dan perjuangan itu harus seimbang dengan ilmu. Tapi ternyata... yang instan itu memang kadang lebih laku dan lebih cepat dipetik.”
Kanza mengerjapkan mata, mencoba memproses metafora tersebut.
“Instan ya? Mbak sedang membicarakan mie instan atau bumbu balado kemasan? Soalnya kalau mie instan, memang enak sih kalau ditambah telur.”
Umah terkekeh kecil, mencoba menetralisir suasana yang mulai terasa "berlistrik".
“Zahira ini memang suka puitis kalau bicara, bahasanya tinggi,” komentar Umah bijak.
“Tapi benar juga sih, setiap orang jalannya beda-beda. Allah yang sudah mengatur garis jodohnya masing-masing.”
Zahira masih tetap tersenyum, kali ini tatapannya jatuh pada cangkir tehnya.
“Iya, Umah. Tapi kadang... sulit bagi manusia biasa untuk menerima kenyataan ketika jalan yang sudah diimpikan diambil orang lain yang... kita pikir, tidak berjalan sejauh dan seberat kita.”
Kanza menarik napas dalam, bahunya mulai tegak.
“Masya Allah... Sindiran ini kok lebih perih daripada ditolak Beasiswa LPDP berkali-kali ya?” batinnya mulai bergejolak.
Aisah yang merasa suasana agak kaku segera mengganti topik.
“Mbak Zahira sekarang sedang mengambil program magister di kampusnya Mas Hanan ya?”
“Iya. Dulu... saya juga sering membantu Umah di pondok ini. Dulu, sering sekali saya berdiskusi panjang dengan Mas Hanan tentang kajian-kajian kitab kuning yang mendalam. Tapi ya... sekarang semuanya sudah beda.” Senyum Zahira terlihat sangat tipis dan getir.
Kanza langsung nyeletuk tanpa filter.
“Iya, jelas beda. Dulu Mbak Zahira diskusinya soal kitab kuning dan kajian filosofis, sekarang kalau di rumah Mas Hanan diskusinya sama Kanza soal gas elpiji yang habis atau cucian yang numpuk gara-gara mesin cuci macet.”
Umah dan Aisah saling melirik, mulai menyadari bahwa ada "perang dingin" yang sedang berkecamuk.
Zahira masih mampu mempertahankan senyumnya, tapi kali ini ia sedikit menunduk seolah memberi nasehat.
“Tapi ya, semoga rumah tangga yang dibangun bukan cuma dari tawa dan hal-hal sepele... tapi juga didasari dari kedalaman ilmu dan adab yang tinggi, ya Mbak Kanza.”
"TELEK KOMODO! " batin Kanza berteriak gemas.
Rasanya ia ingin sekali membalas dengan kalimat yang lebih pedas, tapi mengingat ia sedang berada di depan Umah, ia hanya bisa membalas dengan senyuman yang paling manis, namun paling menantang yang pernah ia miliki.
Hanan Arkan memarkir mobil dengan sangat hati-hati di garasi rumah mereka yang minimalis namun berkelas.
Kanza Arumi duduk di sebelahnya, masih sibuk menyuap sisa es krim ke mulut dengan gaya santai sambil menyandarkan kepala ke kaca jendela, menatap lampu garasi yang otomatis menyala.
“Kanza kenyang banget sumpah, Mas. Di rumah tadi dikasih bakwan lima biji, teh manis kental, terus disodorin tumpeng mini pula. Kanza sampai takut mau dikurbanin tadi karena dipaksa makan terus,” keluh Kanza sambil mengelus perutnya yang terasa begah.
Hanan tersenyum tipis, matanya memancarkan keteduhan.
“Ya harusnya kamu senang. Itu tandanya orang rumah sangat perhatian dan sayang padamu.”
“Perhatian sih perhatian, tapi ada satu yang perhatiannya aneh bin ajaib. Sumpah, Om… eh, Paklek… eh, Mas… ya pokoknya kamu lah!” Kanza mendadak duduk tegak, es krimnya nyaris tumpah ke jok mobil.
Hanan yang baru saja mematikan mesin mobil langsung menoleh sepenuhnya.
“Kenapa? Ada apa lagi?”
Kanza menahan napas sejenak, wajahnya berubah serius yang dibuat-buat.
“Ada perempuan di sana tadi. Menatap Kanza itu seperti... seperti Kanza ini maling kotak amal masjid yang tertangkap basah.”
Hanan mengernyitkan dahi.
“Siapa maksudmu?”
“Tidak tahu pasti. Tapi tadi dengar-dengar namanya Zahira. Kanza tidak kenal dia sama sekali, tapi dia itu seperti punya dendam kesumat selama delapan ratus tahun ke belakang. Tatapannya itu... seperti... ular kobra yang dikasih hutang terus tidak dibayar-bayar.”
Hanan mendadak diam. Terpaku. Tangannya yang masih memegang kunci mobil tampak sedikit kaku.
Kanza menoleh heran.
“Lho? Mas kenapa diam membatu begitu? Jangan-jangan... Mas benar-benar punya hutang sama dia?”
Hanan tetap bungkam. Raut mukanya berubah menjadi sangat serius, ada gurat kegelisahan yang coba ia sembunyikan di balik wajah tenangnya.
“Paklek... Mas Hanan... Kamu kenapa? Kok wajahnya jadi horor begini, seperti kena kutukan Ratu Laut Selatan,” goda Kanza, berusaha mencairkan suasana yang mendadak membeku di dalam mobil.
Hanan menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terasa sangat berat. Perlahan ia berkata.
“Zahira itu... bukan orang asing. Dia dulu santriwati teladan di pesantren Abah. Dia... memang pernah sangat dekat dengan keluarga. Sama Mas juga.”
Kanza langsung menganga lebar.
“Dekat seperti... sering mengobrolkan kitab kuning atau mengobrolkan warna dasi yang cocok buat Mas?”
Hanan tersenyum hambar, matanya menerawang ke depan.
“Lebih sering mengobrolkan tafsir.”
Kanza langsung manyun, bibirnya maju beberapa senti.
“Oh, tafsir... Jadi bukan... tafsir tentang desain undangan pernikahan, ya?”
Hanan menoleh pelan, menatap mata istrinya dengan dalam.
“Sayang... tolong jangan bercanda dulu untuk kali ini.”
Kanza langsung terdiam seribu bahasa. Mukanya menunjukkan keterkejutan, karena ini kali pertama ia mendengar nada suara Hanan yang begitu serius dan sarat akan beban masa lalu.
Hanan menunduk, menatap setir mobil.
“Dia mungkin pernah menaruh harapan besar. Tapi Mas tidak pernah menjanjikan apa pun padanya. Semua orang di pondok juga tahu Mas tidak ada niat untuk menikah dalam waktu dekat saat itu.”
Kanza mencoba nyengir, meski hatinya sedikit mencelos.
“Tapi ternyata kenyataannya Mas malah nikahnya sama Kanza, si ratu ajaib dari planet sebelah yang hobi bikin rusuh.”
Hanan menatapnya dengan binar mata yang sangat lembut, lalu mengusap pipi Kanza pelan.
“Mas menikah karena yakin. Dan yang membuat Mas yakin itu... cuma kamu, Kanza.”
Kanza mendadak merasa panas di pipi, salah tingkah.
“Ish... gombalan dosen itu basi tahu!”
Hanan tertawa pelan, sedikit merasa lega, tapi di dalam hatinya tetap ada kegelisahan yang tersisa.
Ia tahu betul, kehadiran Zahira bukan hal sepele yang bisa diabaikan begitu saja.
Ini bukan hanya tentang masa lalu yang belum usai, tapi mungkin juga awal dari badai kecil yang siap mengguncang rumah tangga mereka.
Dan Kanza? Ia sudah kembali ke mode aslinya, asyik menggerutu sendiri.
“Besok kalau ketemu Mbak Zahira lagi, Kanza mau kasih dia teh hangat saja deh. Siapa tahu hatinya yang beku itu bisa mencair. Kalau tidak cair juga, ya sudah, kita buatkan es batu sekalian biar makin dingin!”
Pagi itu, Kanza Arumi duduk di teras rumah pesantren sambil membantu mengupas jagung untuk Umah.
Sambil selonjoran santai, gaya yang jauh dari kata formal untuk menantu seorang Kyai, ia sesekali mengoceh sendiri sambil menyuapkan butiran jagung ke ayam-ayam Umah yang mulai berkerumun mendekat.
“Eh, jangan ribut! Nih, ambil satu-satu, jangan pakai rebutan! Astaga, kalian tuh kelakuannya persis emak-emak yang sedang rebutan diskon detergen di Indomaret,” omel Kanza pada seekor ayam jago yang paling berisik.
Aisah datang membawa nampan berisi teh hangat.
“Mbak Kanza, kamu tuh ya... dari tadi aku perhatikan kok asyik mengobrol sama ayam. Memangnya mereka paham?”
Kanza manyun. “Daripada mengobrol sama tembok, Mbak. Kan lumayan ayam-ayam ini ada responnya, minimal bunyi petok-petok sebagai bentuk apresiasi.”
Belum sempat Aisah membalas, sebuah suara salam terdengar dari arah gerbang.
Suaranya lembut, sangat sopan, dan terdengar begitu terlatih. Suara yang mulai terasa familiar sekaligus membuat bulu kuduk Kanza berdiri.
“Assalamu’alaikum, Umah...”
Aisah langsung bersemangat. “Eh! Itu Mbak Zahira! Aku bukakan pintunya ya!”
Kanza yang tadinya duduk santai, mendadak kaku seperti kanebo kering.
Jagung yang dipegangnya mendadak terasa hambar. Ia mengintip diam-diam dari balik pintu kayu jati, mencoba mengamati situasi.
Zahira masuk dengan senyum teduh yang seolah sudah dipatenkan. Seperti biasa, ia memakai gamis dan kerudung lebar warna pastel yang sangat serasi.
Ia menyalami Umah dengan penuh takzim, lalu mencium tangan Abah dengan sangat sopan, sebuah pemandangan yang membuat Kanza merasa dirinya seperti remahan rengginang di dasar toples. Aisah juga dipeluknya dengan sangat hangat.
Tapi saat pandangan Zahira menoleh ke arah Kanza...
“Mbak Kanza,” ucap Zahira dengan anggukan kecil. Senyumnya tipis, datar, dan terlihat kaku seperti stiker WhatsApp yang tidak bisa bergerak.
Kanza membalas dengan tawa kering yang dipaksakan.
“Eh... iya, Mbak... Zahira... ya? Apa kabar?”
Zahira duduk di dekat Umah dan mulai bercerita dengan sangat fasih tentang kegiatan mengajarnya di pesantren, program membantu anak yatim, progres hafalan Al-Qur'annya, hingga rencananya membuat program mengajar gratis bagi santri kurang mampu.
Umah sampai berkaca-kaca mendengarnya.
“Masya Allah... Semoga Allah membalas segala kebaikanmu, Nak.”
Abah juga mengangguk-angguk bangga.
“Anak muda yang berdedikasi seperti kamu ini... sudah sangat langka di zaman sekarang.”
Kanza hanya bisa terdiam, pura-pura fokus mengelus bulu ayam yang lewat di depannya. Tapi hatinya? Rusuh bukan main.
Rasanya seperti pasar malam yang mendadak mati lampu saat wahana tong setan sedang berputar kencang.
Setiap kali Zahira bicara, seolah-olah ada duri halus yang diselipkan di setiap katanya.
Lembut di telinga, tapi menghujam tepat di ulu hati Kanza. Apalagi saat Zahira sempat melirik Kanza sekilas dan berkata:
“Alhamdulillah ya Umah, sekarang keluarga jadi tambah ramai dan berwarna. Tapi ya memang... tidak semua orang bisa langsung cocok dengan lingkungan pesantren yang penuh aturan begini.”
Kanza yang mendengar itu langsung menahan napas. Tapi ia mencoba tetap tenang. Ia melempar senyum yang paling lebar yang bisa ia usahakan.
“Benar sekali, Mbak... Tapi tidak semua orang juga cocok kalau dilihatin orang terus seolah-olah orang itu punya alat X-ray di matanya.”
Aisah cekikikan mendengar celetukan jujur Kanza. Umah menyenggir tipis, tidak menangkap sepenuhnya sindiran halus menantunya. Tapi Zahira?
Ia masih tetap tersenyum tenang.
“Iya ya... kadang kalau mata hati kita bersih, kita memang bisa melihat apa yang selama ini tersembunyi di balik bungkusnya.”
Cling!
Kanza nyaris melempar jagung di tangannya ke udara karena saking gemasnya. Dalam hati ia mengomel habis-habisan.
“INI PEREMPUAN MAKSUDNYA APA COBA?? MAU MENANTANG PERANG DINGIN??”
Hari itu Kanza memilih pulang lebih awal. Di dalam mobil, Hanan Arkan yang menjemputnya hanya bisa mendengar istrinya menghela napas panjang berkali-kali sepanjang perjalanan.
“Kamu kenapa, Sayang? Kok kelihatannya lelah sekali?” tanya Hanan sambil melirik cemas.
Kanza melirik ke luar jendela, menatap jalanan yang mulai padat.
“Enggak apa-apa, Mas. Cuma... Kanza sedang ingin pindah ke dunia lain sebentar. Dunia yang isinya tidak ada perempuan dengan senyum palsu level dewa.”
Hanan terdiam, lalu melirik spion.
“Zahira datang lagi ke rumah?”
Kanza mengangguk pelan, wajahnya tampak lesu.
Hanan kembali terdiam. Tapi kali ini... dia tahu situasi ini akan semakin rumit dari yang ia bayangkan.
Hatinya mulai diliputi rasa was-was, bukan karena takut pada Zahira, tapi karena ia sadar perempuan absurd di sampingnya ini hatinya mulai terluka oleh sebuah persaingan yang bahkan tidak pernah ia minta.
Hanan mempererat genggamannya pada setir, bertekad tidak akan membiarkan Kanza Arumi merasa sendirian menghadapi badai kecil ini.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penuliss....