Keegoisan istrinya, yang bersikeras menolak untuk hamil. Membuat Sam terpojok dengan permintaan neneknya. Satu sisi wanita yang dia cinta sepenuh hati menolak untuk hamil, satu sisi, wanita yang Sam cinta, yaitu nenek dan ibunya. Sangat menginginkan akan kehadiran penerus keluarga Ozage. Sam terpaksa menyetujui, untuk menikah lagi, demi membahagiakan neneknya dan ibunya.
Pernikahan kedua pun terjadi. Seorang wanita bernama Moresa Haya. Menjadi istri kedua Sam. Apakah Sam akan berpaling hati pada istri keduanya? Atau dia tetap setia dengan perasaannya pada Vania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kamu Sehat?
Sam langsung menghubungi Vania, dengan panggilan Video. Saat panggilan Video terhubung. Sangat jelas, Sam melihat Vania berada di mana.
"Sial!" Upat Sam. Saat dia melihat Vania, berdiri di samping mobilnya yang terparkir tepat di depan Villa.
"Hallo sayang, kau rindu padaku?" Goda Vania.
"Cepat masuk beb, aku sangat rindu," ucap Sam. Sam berusaha tampak santai.
"Aku sendirian ke sini, siapa yang menurunkan koperku?"
"Aku sedang makan, sebentar, aku cuci tangan dulu"
Sam langsung memutuskan panggilan video dengan Vania. Setelah mencuci tangan. Dia berlari menuju kamar Resa. Sampai di depan kamar Resa, berulang kali Sam mengetuk, akhirnya pintu kamar itu terbuka.
"Vania datang, kemari." Ucap Sam.
Resa nampak tegang, kedua matanya melotot, mulutnya juga menganga, mendengar hal itu.
"Pikirkan apa yang harus kita katakan, soalnya, hanya kita berdua di sini."
Resa berusaha mengembalikan kesadarannya. "Um … akan aku pikirkan," jawab Resa.
Sam segera pergi, dari kamar Resa. Dia melangkah menuju pintu utama, villa itu. Di halaman depan villa itu, terlihat mobil Vania, terparkir. Senyuman Vania terlihat begitu lebar, saat melihat Sam, menghampirinya.
"Kalau aku tau, kau ikut kemari, lebih baik kita pergi sama-sama," ucap Sam.
"Maafkan aku, aku sangat egois," rengek Vania.
Sam langsung memeriksa bagian kepala Vania. Berulang kali dia mengecek bagian-bagian itu. Tapi, tidak ada sesuatu yang aneh. "Kamu sehat?" Tanya Sam.
Vania langsung mendorong Sam, menjauh darinya. Jemarinya merapikan rambutnya yang berantakan karena di acak-acak, Sam.
"Apa maksudmu?" Tanya Vania, langsung.
Sam memandangi wajah istrinya itu dengan jeli. Tidak ada satupun yang berubah pada fisik, Vania. Tetapi, tiba-tiba ada perubahan sikap yang signifikan.
"Sendirian di rumah, beberapa jam, membuatku, sadar. Aku tidak bisa jauh darimu," rengek Vania, begitu manja. Dia menggelayut di tubuh Sam.
"Kalau kau kesini, artinya kau harus terima apapun yang kami minta."
Vania mengangguk cepat, menjawab perkataan Sam.
Dua orang suami istri itu nampak mesra, keceriaan terlihat jelas dari wajah Sam. Di bagian jendela Villa itu, sepasang mata yang memperhatikan keadaan di bagian halaman, hanya bisa menahan napasnya.
"Akan lebih mudah, Sam. Jika Anda tidak dekat dengan saya," gerutu Resa.
Tangannya mengusap bagian dadanya, ada sesuatu yang sakit, di dalam sana. Berulang kali Resa menarik napasnya, lalu membuangnya kembali. Resa meraih ponselnya. Dia langsung menelepon Ramida.
Panggilannya langsung diangkat Ramida.
"Iya, Resa." Sahutan di ujung telepon sana.
"Nyonya, ini Nona Vania datang, sepertinya dia akan menginap lama di sini, sebaiknya kita katakan saja tentang kehamilan saya," pinta Resa.
"Kau ingin katakan kalau kau, hamil anak Sam?" Suara Ramida terdengar sedikit berbisik.
"Tidak, Nyonya. Bisa katakan kalau saya hamil anak suami saya, dan suami saya sudah menjual anak ini pada Nyonya." Ucap Resa.
"Idemu bagus juga, baiklah, lanjutkan sandiwara ini, tidak mungkin juga selamanya kita bisa menyembunyikan kehamilan kamu."
"Baik, Nyonya. Kalau begitu, saya tutup teleponnya."
Panggilan mereka pun, berakhir.
Resa menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di sampingnya. "Mana bisa di sembunyikan lagi, perut ini mulai menyembul," gerutunya.
Suara langkah kaki, dan canda tawa orang yang masuk kedalam Villa itu membuyarkan lamunan Resa. Dia segera mempersiapkan dirinya, untuk menyambut Vania.
"Selamat siang, Nona Vania," sapa Resa.
"Resa?" Vania nampak bingung melihat keadaan Resa.
"Baru sebentar kita tidak bertemu, banyak hal yang berubah dari dirimu," seru Vania.
Resa tersenyum menanggapi perkataan Vania.
"Bagaimana keadaan Nona?" Sapa Resa.
"Baik, oh ya, yang lain mana?" Kepala Vania nampak menengok kesana kemari.
"Yang lain masih di rumah Tuan, Arnaff. Istri Tuan Arnaff, meninggal," jawab Resa.
"Jadi … kalian di villa ini, hanya berdua?" Vania menatap tajam kearah Sam.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Vania.
"Nona, jangan menuduh saya yang bukan-bukan, saya sudah menikah, Nona," ucap Resa.
"Menikah?" Vania nampak tidak percaya.
Sam hanya diam, dia tidak punya keberanian untuk berbicara. Dia menatap Resa begitu lekat. Berharap mulut indah Resa, bisa melontarkan perkataan yang membuat Vania, percaya.
"Saat ini, saya hamil. Nyonya Ramida ingin saya sembunyi di sini, untuk menghilangkan jejak, kelahiran bayi ini, karena setelah bayi ini, lahir. Bayi ini milik keluarga Ozage." Resa mengusap perutnya yang mulai sedikit menyembul.
Vania menoleh kearah Sam. "Apakah anak Resa yang akan di adopsi, ibu?" Tanya Vania.
Sam menganggukkan kepalanya begitu santai. "Tapi, aku baru tahu sekarang," jawab Sam.
"Baguslah, ada dua wanita hamil di Villa ini," seru Vania.
"Sayang ... aku lapar," rengek Vania.
"Ayok kita, makan. Kau tahu, hal yang membuatku tersiksa itu, karena kamu tidak mau makan sayang," Sam meng acak-acak rambut Vania.
Sam dan Vania tampak begitu mesra, Sam seakan lupa, kalau ada orang lain dalam Villa itu. Resa memilih pergi dari ruangan itu, ada yang mengganjal di hatinya. Tapi, dia sadar, dia bukan siapa-siapa bagi Sam.
Sabar, Resa. Tinggal enam bulan lagi, kamu pasti akan pergi meninggalkan semua ini.
Resa menyemangati dirinya sendiri.
Di ruang makan. Vania duduk di kursi, sedangkan Sam berjongkok di depannya. Sam menyandarkan wajahnya di pangkuan Vania.
"Sayang, aku sangat-sangat mencintai kamu, ku harap kamu percaya itu."
"Maafkan aku ...." ringis Vania. Vania membelai rambut kepala Sam.
Sam dan Vania, berdamai. Mereka berdua menikmati makan siang mereka, bersama. Sam masih menyunggingkan senyumnya. Walau hatinya merasa ada sesuatu yang aneh pada Vania. Dia sangat mengenal Vania. Ada geritik di hatinya tentang Vania. Tapi, Sam berusaha santai.
"Terima kasih sayang, akhirnya. Kamu mau makan sesuatu untuk calon bayi kita." Sam memegang lembut tangan Vania.
Kehangatan Sam dan Vania, tiba-tiba terganggu oleh kedatangan dua orang, yang masuk tiba-tiba kedalam Villa.
"Vania---" Ramida tidak melanjutkan kata-katanya, saat melihat Vania makan dengan porsi yang normal.
"Baguslah, kalau kau sudah mau makan dengan benar. Aku takut, kalau kau datang hanya membuat ibu sedih," ucap Ramida.
Vania hanya tersenyum, dan melanjutkan kembali makan siangnya.
******
Di Villa ada dua orang pembantu yang menemani Resa. Suasana pedesaan yang hening, semakin menambah sunyi keadaan di dalam Villa itu. Sedang Ramida, hanya mampir sebentar. Dia kembali lagi ke rumah Arnaff setelah bertegur sapa dengan Vania.
Setelah selesai makan malam, Resa dan pelayan yang bertugas menemaninya hanya duduk di meja makan, sambil menikmati potongan buah-buahan segar. Dia tidak memandang kearah Sam. Pemandangan di sudut sana sungguh menyesakkan dada. Vania selalu menempel di tubuh Sam. Bahkan dia tidak malu sama sekali, bermesraan dengan Sam di depan mata Resa dan pembantu yang bekerja di Villa itu.
Resa ... sadar! Sam hanya mencintai istrinya, tolong! berhenti untuk cemburu.
Gerutu hatinya.
Terlihat Vania begitu nyamannya berbaring di sofa panjang, berbantalkan paha Sam. Sam sesekali melirik kearah Resa. Sedang tangannya membelai rambut Vania.
Ku harap, kali ini kau datang, karena ingin berbaikan denganku, kalau ada sesuatu dibalik ini, maafkan aku Vania, aku tidak akan segan-segan mengusirmu dari hati dan hidupku.
Gerutu hati Sam.
Vania terus tersenyum, dia meraih tangan Sam, lalu menciuminya dengan gemas.
Sam menoleh kembali kearah meja makan. Tapi, Resa dan pelayan itu, sudah pergi.
"Sayang, kita kekamar yuk, sudah malam, saatnya kita istirahat," pinta Sam.
Mereka berdua melangkah menuju kamar mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Namun, mata Sam enggan berpejam. Sam berusah untuk membangunkan Vania. Namun istrinya itu sungguh lelap.
Sam terpaksa keluar kamar seorang diri. Dia duduk di sofa tamu. Entah kenapa, ada yang mengganjal di dalam hatinya, bermesraan dengan Vania, di depan mata Resa. Sam memandang kearah kamar Resa. Ada rasa bersalah dalam hatinya. Karena hal itu.
*****
Bersambung
pokoknya serba ga masuk akal
seolah2 semua org suka merengek
bukannya merengek itu bearti seperti manja