“Kupikir kau akan memperjuangkanku.”
menikah dengan orang yang amat vivi benci , karna perjodohan yang sudah dilakukan sebelum dia lahir akankah keduanya akur , ikuti ceritanya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viviana Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
kamar
Saat ini vivi dan suaminya berbaring di atas ranjang dengan posisi saling memunggungi , karena perdebatan keduanya di ruang makan tidak ada yang mau mengelah dan sifat keduanya sama , sama- sama keras kepala membuat keduanya malas untuk menegur satu sama lain.
Hembuskan angin yang masuk ke dalam kamar , seakan menusuk ke dalam tulang , sudah beberapa kali vivi ke kamar mandi , kemudian dia berjalan untuk menutup jendela , “ sudah jam 11 malam” gumamnya , saat melihat jam didinding , kemudian merebahkan tubuhnya diatas ranjang , dia tidak bisa tidur sudah mengubah posisinya beberapa kali , kemudian dia menata ke plafon dengan gambar bintang yang bersinar di kegelapan malam , pikirannya melayang pada pernyataan lilis tadi siang
Dicky belum tertidur dia tahu setiap pergerakan istrinya , “ kau sudah tidur” pertanyaan itu keluar dari mulut istrinya, membuat dia membuka matanya .
“ mungkin dia sudah tidur” imbuh vivi kemudian memiringkan tubuhnya membelakangi suaminya
Entah kenapa pertanyaan istrinya seolah mengartikan sesuatu , hal yang dia tunggu tunggu “ ada apa?” ucapnya datar tetap dalam posisinya
Vivi kaget mendengar ucapannya seketika dia sadar dari kantuk yang baru saja menyerangnya , dia gugup untuk mengatakan apa yang akan dia katakan pada suaminya “ tidak ada ” ucap vivi sambil menelan syarifahnya dia pikir suaminya sudah tidur , rasa gugup menghampiri dirinya seketika.
“ emzz” seru dicky mendengar ucapan istrinya , kemudian kembali memejamkan matanya “ kau terlalu banyak berharap” gumam dicky pada dirinya sendiri, mengingat hal itu tidak akan dengan mudah istrinya setujui .
Pikiran vivi benar benar tak karuan dia tau hal itu wajar dilakukan oleh sepasang suami istri hanya saja dia tidak tahu harus memulainya dari mana , “ a aku” ucap vivi gugup sambil menelan sarifah “ aku siap jika kau menginginkannya” ucap vivi singkat dengan intonasi cepat , wajahnya memerah seketika setelah mengucapkan kalimat tersebut , dia menarik selimut yang dia kenakan sampai menutupi seluruh badannya jantung nya terasa berdetak begitu cepat seketika “ kenapa aku mengucapkan itu” gumam vivi dalam hati sambil menutup kedua matanya ingin rasanya dia memutar waktu , tentunya dia tidak akan mengucapkan kalimat itu dia akan memilih tidur seperti biasanya.
Sontak saja dicky membuka matanya lebar lebar mendengar ucapan istrinya , bahkan dia mencubit lengan tangannya untuk memastikan jika yang dia dengar itu nyata bukan mimpi , sontak saja dia berbalik menghadap punggung istrinya , dia tersenyum saat melihat istrinya bersembunyi di balik selimut “ apa kau tidak keberatan” bisik Dicky sambil membuka selimut yang menutupi wajah istrinya, dia menatap istrinya yang memejamkan mata rapat rapat “ karena aku tidak mau melakukannya jika kau terpaksa , aku akan melakukan itu jika kau juga menyetujuinya” ucap dicky , selama ini dia bisa saja memaksakan kehendaknya untuk melakukan hal tersebut , hanya saja dia lebih mementingkan perasaan istrinya dari pada hasratnya sendiri, walau sebenarnya dia sering tersiksa saat bersama dengan istrinya .
Hati vivi tersentuh mendengar ucapan suaminya selama ini dia sadar jika suaminya tidak seburuk yang dia bayangkan saat awal perjodohan dia membayangkan sifat dingin dan pemaksa seperti saat memimpin dikantor akan terjadi dalam rumah tangganya namun prediksinya salah , perlahan dia membuka matanya dan melihat suaminya menatapnya dengan sesama “ a aku” ucap vivi sambil menggenggam seprei dengan erat , tanpa sadar dia menganggukkan kepala tanpa dia sadari , tentu saja tindakannya mendapat respons dari suaminya ,
Satu jam kemudian semua baju bergeletakan di lantai , keduanya berada di bawah selimut yang sama , saling menghangatkan satu sama lain " terima kasih" ucap Dicky , dia mengecup kening istrinya , dia melihat beberapa bercak merah yang dia buat pada tubuh Wanita cantik yang sedang menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya " kenapa apa kau menyesal" ucapnya.
" Aku malu" sahut Vivi tanpa bergerak dari posisinya
" Bukankah aku sudah melihat semua , lantas apa yang membuat mu malu" ucap Dicky sengaja menggoda istrinya , jari tangannya mengelus rambut istrinya
"....."
" Apa sudah tidak sakit" tanya Dicky khawatir karena ini pertama kalinya untuk sang istri ,
" Sudah mendingan" sahutnya pelan ,
" Bagaimana kalau satu ronde lagi" tawar Dicky " aku akan bersikap pelan dan ini tak akan sesakit tadi" imbuhnya
Vivi mendongak dia menatap suaminya , mengangguk kecil memperwakili jawabannya pada pertanyaan suaminya itu .
※ beberapa hari kemudian
Vivi sudah bangun membersihkan kamar yang kacau balau karena kelakuan mereka semalam dan mengganti seprei , sedangkan Dicky dikamar mandi sedang membersihkan diri , “ akhirnya selesai” ucap vivi setelah selesai memasang seprei , kemudian merebahkan tubuhnya di atas ranjang dia mengingat apa yang terjadi semalam pipinya merona seketika mengingat kejadian tersebut .
“apa kau demam” ucap Dicky yang berada di samping ranjang saat melihat wajah istrinya,
“tidak , aku baik baik saja” ucap vivi , refleks dia duduk saat mendengar ucapan suaminya, sontak saja dia kaget saat menerima perlakuan suaminya yang tanpa pamit mengecup keningnya
“ suhunya normal” ucap dicky setelah mengecup dahi istrinya dan tidak panas seperti perkiraannya.
“ aku pikir aku yang terlalu mesum” gumam vivi dalam hati setelah tahi suaminya hanya berniat untuk mengecek suhu tubuhnya .
“ ciuman selamat pagi” ucap Dicky setelah mengecup kilas bibir istrinya , “ cepat ke kamar mandi aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu” ucap dicky tanpa dosa sedangkan wajah istrinya makin merona oleh tingkahnya , tanpa sepatah kata vivi pergi ke kamar mandi , sedangkan dicky terkekeh melihat tingkah istrinya .