Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.
Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.
Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.
Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.
Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Saat Freya akan menjawab, ponsel Lingga berdering. Otomatis pertanyaan itu akhirnya menggantung di udara.
Lingga menempelkan benda pipih itu ke telinga, suara sang ibu di seberang sana langsung menyambut rungunya. "Lingga, kamu dan Freya masih di mana? Pulang sekarang, Nak. Makan siang sudah siap."
Lingga mendesah berat. "Iya, Bun. Aku pulang sekarang." Panggilan itu diputus oleh Lingga. Lalu ia menatap Freya. "Ayo kita kembali ke rumah. Bundaku bilang ... makan siang sudah siap."
Freya tersenyum tipis. "Ayo."
Mereka pun berjalan kembali ke tempat Lingga memarkirkan mobilnya.
Sejengkal lagi langkah mereka sampai ke mobil, tiba-tiba suara sepeda motor menggaung dari belakang. Refleks Lingga dan Freya menoleh ke belakang.
Napas Freya tertahan sejenak, matanya agak melebar. "Safwan ..." bisiknya dalam hati.
Mantan pacarnya itu membonceng ibunya: Halimah yang adalah seorang ustazah.
"A Lingga!" sapa Safwan sambil menghentikan motornya sejenak. Bibirnya menyapa Lingga, tapi tatapan matanya tertuju pada Freya.
"Mau ke mana, Wan, Bu Ustazah?" Lingga bertanya.
"Mau ke kabupaten, Nak Lingga." Halimah yang menjawab. "Ada undangan pengajian dari ibu wagub," lanjut wanita berpenampilan syar'i itu.
Lingga mengangguk sopan. Kontras sekali dengan sikap aslinya.
Freya hanya diam, tak ikut masuk ke obrolan itu. Meski dalam hatinya ia ingin sekali mengatakan pada Safwan, bahwa dirinya adalah Galuh.
"Kami duluan ya, A Lingga, Teteh ..." Safwan membagi tatapan ke arah Lingga, lalu ke Freya.
"Iya, Wan. Hati-hati." Lingga membalas.
Freya hanya mengangguk dan melempar senyum kecil.
Dan senyum itu berhasil membuat Safwan menegang. Batinnya bergumam lirih. "Kenapa aku jadi ingat pada Galuh?"
Selepas Safwan dan ibunya menghilang, Lingga berkata tenang sambil membukakan pintu mobil untuk Freya. "Freya ... lelaki yang barusan itu namanya Safwan. Dia anak lurah di tempat ini. Dia pacarnya Pitaloka, adikku."
Freya menegang samar, "Dugaanku ternyata benar. Jika Safwan dan Pitaloka berpacaran," ucap Freya dalam hatinya.
____
Ruang makan rumah Zainal Buana siang itu dipenuhi cahaya yang jatuh dari jendela-jendela tinggi berbingkai kayu jati. Tirai tipis berwarna gading bergerak pelan tersapu angin, menyebarkan aroma masakan rumahan yang hangat ... gulai ikan, tumis buncis, ayam bakar, rendang dan sambal yang tampak menggoda.
Meja panjang telah tertata rapi, piring porselen berkilau, sendok garpu berjajar simetris seolah tak ada satu pun yang boleh melenceng dari aturan rumah ini.
Freya duduk dengan punggung tegak, kemeja putihnya terlihat sempurna, rambutnya tergerai sederhana namun rapi. Di sebelahnya Nova dan Gopal tampak menyesuaikan diri, mencoba menyelaraskan sikap dengan atmosfer rumah besar itu.
Nova sesekali tersenyum sopan, sementara Gopal ... yang biasanya santai, kali ini memilih diam, menunggu ritme percakapan.
Lastri, nyonya rumah, duduk di ujung meja berseberangan dengan suaminya, Zainal Buana. Lastri dengan aura dominan yang dibungkus keramahan. Senyumnya terlatih, suaranya lembut namun tegas.
Di sebelahnya Lingga bersandar, menatap ponsel sesekali, sesekali pula melirik Freya dengan tatapan yang terlalu lama untuk disebut kebetulan. Lebih ke menatap gadis itu dengan penuh damba.
Pitaloka, putri bungsu Lastri dan Zainal, duduk anggun dengan gaun pastel dan kalung tipis di lehernya, memperhatikan semuanya dengan mata yang tampak ramah namun menyimpan penilaian.
"Silakan, jangan sungkan," kata Lastri, memulai. "Anggap saja rumah sendiri.”
Freya mengangguk. "Terima kasih, Bu Lastri. Masakannya terlihat lezat."
Percakapan mengalir ... tentang cuaca, tentang proyek kerja yang sedang dijajaki, tentang kebun belakang yang baru direnovasi.
Nova menjelaskan rencana kerja dengan suara mantap, Gopal menambahkan detail teknis. Freya sesekali menyela, memberikan penekanan yang tepat. Ia tahu kapan harus bicara, kapan harus diam. Ia tahu kapan harus tersenyum.
Namun di balik ketenangan itu, ada denyut lain yang bergerak. Freya memperhatikan segalanya ... arah tatapan, jeda napas, kebiasaan kecil yang sering luput. Ia menyimpan detail itu rapi di kepalanya, seperti menata bidak catur sebelum permainan dimulai.
Seorang pembantu datang membawa minuman dingin. Gelas-gelas tinggi berisi es dan sari buah diletakkan satu per satu. Ketika tiba di depan Freya, langkah pembantu itu sedikit goyah.
Mungkin lantai licin, mungkin gugup. Detik berikutnya, gelas miring ... air tumpah, mengalir cepat membasahi kemeja putih Freya. "Ya Allah ... maaf, Non!" seru pembantu itu panik.
Freya tersentak kecil, lalu bangkit setengah berdiri. Air dingin merembes ke kemejanya, meninggalkan noda basah yang mencolok. Semua mata tertuju padanya. "Tidak apa-apa," ucap Freya cepat, menenangkan.
Lingga berdiri. "Astaga, bagaimana ini. Maaf sekali, Freya. Kamu pasti tidak nyaman." Ia seolah sengaja menonjolkan perhatian.
Lastri menegur pembantunya. "Seharusnya tadi kamu lebih berhati-hati Wati!"
Pembantu itu menunduk takut dan kembali meminta maaf.
"Sudah Bu Lastri, Mas Lingga ... aku tidak apa-apa. Si Bibinya juga pasti tidak sengaja."
Zainal ikut berbicara. "Sekali lagi, maafkan pembantu kami ya, Freya."
"Tidak apa-apa, Pak Zainal." Freya tersenyum tenang sambil mengusap kemejanya yang basah.
Pitaloka bangkit. "Kak Freya, kalau mau, kamu bisa pakai bajuku dulu. Ayo ikut aku ke kamar," ajaknya.
Freya ragu sejenak ... cukup lama untuk tampak sopan, cukup singkat untuk tak menolak. "Memangnya tidak merepotkan?"
"Tidak sama sekali, Kak," jawab Pitaloka, tersenyum. "Ayo."
Mereka meninggalkan ruang makan, melewati lorong panjang dengan dinding berhiaskan foto keluarga.
Langkah mereka beradu pelan di lantai marmer. Freya sangat hafal di mana kamar Pitaloka, karena dulu, setiap hari ia membersihkannya.
Mereka berdua menaiki tangga dan sampailah di kamar Pitaloka yang luas dan tertata rapi.
Tempat tidur berseprai krem, meja rias dengan cermin besar, rak buku berisi novel dan majalah, serta jendela yang menghadap taman. Aroma lavender tipis mengisi udara.
"Duduk sebentar, ya, Kak," kata Pitaloka sambil membuka lemari. "Aku ambilkan kemejanya dulu."
Freya mengangguk, meletakkan tasnya di kursi. Ia menatap sekeliling dengan santai, seperti tamu biasa. Padahal pikirannya bekerja cepat. Ini kesempatan. Satu-satunya celah yang ia tunggu.
Pitaloka menyerahkan kemeja berwarna biru muda. "Semoga pas. Aku tinggal sebentar, ya. Kalau perlu apa-apa, panggil saja."
Pintu menutup pelan. Kunci tak diputar.
Freya berdiri di tengah kamar, napasnya teratur. Ia menghitung detik. Sepuluh. Dua puluh. Ia bergerak. Dari tasnya, ia mengeluarkan benda kecil ... kamera tersembunyi seukuran kancing, nyaris tak terlihat. Tangannya cekatan, tanpa ragu.
Ia memilih sudut yang tepat: rak buku, di balik ornamen kecil, menghadap area yang strategis. Cukup tinggi, cukup tersembunyi.
Ia memastikan sudut pandang, menyesuaikan sedikit. Satu sentuhan. Lampu indikator mati ... mode senyap aktif. Selesai.
Lalu ia masuk ke kamar mandi, menempelkan kamera tersembunyi lagi setelah ia selesai berganti baju. "Perfect." Lalu buru-buru ia keluar dari kamar mandi.
Freya meluruskan napas. Ia merapikan rambut, lalu menatap dirinya di cermin rias milik Pitaloka. Wajahnya tenang, mata jernih. Tak ada yang bisa membaca apa yang baru saja terjadi.
Di sudut bibirnya, senyum tipis mengembang. Bukan senyum bahagia. Bukan pula senyum puas. Itu senyum seseorang yang akhirnya menekan tombol pertama pada mesin yang akan berjalan tanpa bisa dihentikan.
Balas dendam akan dimulai.
Ketika Pitaloka kembali, Freya sudah duduk rapi, kemeja biru muda melekat pas di tubuhnya. "Terima kasih banyak, Pita. Kemejanya cocok sekali," katanya tulus.
"Sama-sama," Pitaloka membalas. "Ayo kembali ke ruang makan sebelum makanannya dingin."
Mereka melangkah keluar. Freya menoleh sekali ke arah kamar, memastikan pintu tertutup kembali seperti semula. Tak ada jejak.
Di ruang makan, percakapan berlanjut seolah tak ada yang berubah. Lingga melirik Freya lagi, kali ini dengan ketertarikan yang terang-terangan.
Lastri tersenyum puas melihat semuanya kembali tertib.
Nova dan Gopal kembali ke pembahasan kerja.
Freya ikut duduk, mengambil sendok. Tangannya stabil. Suaranya normal. Ia tertawa kecil pada momen yang tepat.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa di lantai atas, sebuah mata kecil telah terpasang, merekam dengan setia.
Di dalam dirinya, Freya merapikan rencana. Satu demi satu. Dengan sabar. Dengan presisi.
Dan ketika sendoknya menyentuh piring, suara logam itu terdengar nyaring ... seperti tanda mula permainan yang sesungguhnya.
"Pembalasan ini akan dimulai darimu, Pitaloka Buana," desisnya membatin.