NovelToon NovelToon
Dibalik Tirani Pernikahan

Dibalik Tirani Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Tukar Pasangan / Balas Dendam / Teen / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Septi.sari

Rama dan Ayana dulunya adalah sahabat sejak kecil. Namun karena insiden kecelakaan yang menewaskan Kakaknya-Arsayd, membuat Rama pada saat itu memutuskan untuk membenci keluarga Ayana, karena kesalahpahaman.

Dalih membenci, rupanya Rama malah di jodohkan sang Ayah dengan Ayana sendiri.

Sering mendapat perlakuan buruk, bahkan tidak di akui, membuat Ayana harus menerima getirnya hidup, ketika sang buah hati lahir kedunia.

"Ibu... Dimana Ayah Zeva? Kenapa Zeva tidak pelnah beltemu Ayah?"

Zeva Arfana-bocah kecil berusia 3 tahun itu tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya sendiri. Bahkan, Rama selalu menunjukan sikap dinginya pada sang buah hati.

Ayana yang sudah lelah karena tahu suaminya secara terbuka menjalin hubungan dengan Mawar, justru memutuskan menerima tawaran Devan-untuk menjadi pacar sewaan Dokter tampan itu.

"Kamu berkhianat-aku juga bisa berkhianat, Mas! Jadi kita impas!"

Mampukah Ayana melewati prahara rumah tangganya? Atau dia dihadapkan pada pilihan sulit nantinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Tuan ibrahim tersenyum, "Kita akan sarapan bersama, Zeva," ucapnya sambil mencubit gemas hidung mancung sang cucu. Lalu Tuan Ibrahim kembali menoleh kearah Ayana begitu Bu Ratih.

"Ayana... Kamu ajak juga Bu Ratih untuk sarapan bersama!"

Bu Ratih memekik, "Tuan, tidak usah! Saya sarapan disini saja. Saya tidak ingin Bu Anita merasa terganggu dengan adanya kita berdua."

"Tidak, Bu! Selama saya di rumah, maka saya yang berhak mengatur semuanya, bukan Anita!" sahut Tuan Ibrahim dengan wajah seriusnya. "Ayana... Ayo ajak Ibumu juga!"

"Ibu... Ayo! Asikkk... Nanti di lumah utama ada puding coklat ya, Kakek?" Zeva begitu menatap antusias dengan celotehan-celotehan absurdnya itu.

Sementara Tuan Ibrahim, ia tampak antusias selalu menjawab apa yang di tanyakan cucunya.

"Aya...." Bu Ratih agak cemas, mendongak sekilas menatap putrinya.

Ayana tersenyum nanar. "Ibu nggak perlu khawatir. Ada Aya, dan Tuan Ibrahim disana. Bu Anita tidak akan menyakiti Ibu lagi!"

Meskipun agak ragu, namun Ayana mencoba menenangkan kegundahan hati Ibunya, seraya mendorong kursi roda itu menuju rumah utama.

*

*

"Papah... Papah ngapain gendong bocah kecil itu?" tegur Bu Anita sambil bangkit. "Dan... Itu? Itu si Ayana juga ngapain ngajakin Ibunya kesini segala?"

Milya reflek menoleh. Matanya sudah menatap remeh, lalu menyeletuk, "Bikin nafsu makan berkurang aja-"

"Milya!"

Seketika Milya tertunduk, baru saja di tatap Papahnya begitu kuat. Tuan Ibrahim lalu menatap keluarganya secara bergantian, "Selama Papah di rumah, tidak ada yang bisa menentang Papah, termasuk mengusik hidup keluarga Ayana!"

Ayana sempat menghentikan langkahnya beberapa detik.

"Ayana, Bu Ratih... Silahkan sarapan! Nggak usah sungkan-sungkan. Rumah ini milik saya, dan saya lah yang berhak mengatur," ucap kembali Tuan Ibrahim sambil melirik tajam Istrinya.

Zeva di turunkan, dan duduk disamping sang Kakek, berhadapan langsung dengan Ayahnya-Rama.

"Paman Lama... Telimakasih ya mainannya. Zeva seneng banget!" celetuk Zeva menatap damba kearah Ayahnya.

Rama mengangguk, "Sama-sama Zeva. Nanti kalau Paman nggak sibuk, Paman ajakin Zeva buat milih mainan kesukaan Zeva sendiri."

Kedua mata Zeva berbinar, "Yeayyy makasih, Paman!"

Meskipun mendapat tatapan tidak menyenangkan dari Bu Anita dan Putrinya, Ayana tampak acuh, dan kini sibuk mengambilkan makanan untuk putra serta Ibunya.

"Mari sarapan semuanya!" ucap Tuan Ibrahim memulai sarapan pagi itu. Berada disamping Zeva, membuatnya tersenyum puas, sebab cucunya itu begitu lahap sekali dengan hidangan yang ada dipiring khususnya.

Meskipun belepotan, tapi Tuan Ibrahim tampak antusias mengelap wajah Zeva, hingga menuangkan air putih pada gelas milik cucunya.

"Papah sayang sekali dengan Zeva. Jika aku bercerai dengan Ayana... Berarti aku mematahkan harapan kecil Papah pada bocah kecil itu," batin Rama menatap interaksi orang didepannya, sambil menyuapkan makanan kedalam mulutnya.

"Rama... Ayana... Nanti setelah sarapan, kalian berdua datang ke ruangan kerja Papah! Ada yang ingin Papah bicarakan," kata Tuan Ibrahim setelah acara sarapan itu berakhir.

Tanpa sengaja, tatapan Ayana bertemu dengan Rama.

"Pah... Rama 'kan ada meting pagi ini-"

"Deril sudah mengurus semuanya!" balas Tua Ibrahim memotong ucapan Istrinya.

Dan tak lama itu Bik Sumi dan Bik Lastri datang, "Lastri... Antarkan Bu Ratih kembali ke Paviliun. Dan Bik Sumi, saya titip Zeva sebentar!"

"Baik, Tuan!" ucap keduanya serentak.

"Ayana, Rama... Ayo langsung keruangan Papah!" Tuan Ibrahim sudah bangkit terlebih dulu. Ia kembali mencium kepala cucunya, "Zeva... Nanti kita main lagi ya! Kakek ada urusan sebentar."

"Baik, Kakek! Daaaaa....." Zeva melambaikan tangan kecil, lalu melanjutkan kembali memakan pudingnya.

Ekor mata Bu Anita seolah mengikuti langkah suaminya. Ia merasa jengah, dan tak lama itu juga bangkit meninggalkan meja makan dengan wajah angkuhnya.

*

*

"Rama... Kunci pintunya!" perintah Tuan Ibrahim sembari duduk pada kursi kebesarannya.

Ayana sudah masuk. Ia menatap sekeliling ruangan luas itu, yang kini terasa lebih mencekam. Tidak hanya menyuguhkan interior modern, tetapi ruangan bernuansa putih tulang itu mampu mengikat perasaanya, menambah rasa berdebar yang menyudutkan kelangsungan rumah tangganya.

"Ayana, duduk nak! Dan kamu Rama, duduklah!" ucap kembali Tuan Ibrahim.

Detik sebelum menjatuhkan tubuhnya diatas kursi, Rama menatap sekilas wajah Istrinya. Disana, tak ada rasa cemas maupun panik yang menyamai. Wajah Ayana begitu tenang, seakan ia sudah pasrah mau dibawa kemana pernikahan mereka nantinya.

"Papah tidak berbasa basi lagi, mengenai pernikahan kalian berdua," ujar Tuan Ibrahim menatap keduanya secara berganti. "Rama... Papah mau tanya sama kamu sekali lagi," terdengar tarikan nafas dalam yang berhembus berat. "Kamu yakin untuk melanjutkan lamaran kamu dengan Mawar?"

Dengan lantangnya, Rama menjawab, "Aku belum bisa memutuskan itu, Pah!"

Tuan Ibrahim manggut-manggut kecil. Tatapanya beralih kearah Ayana. "Dan kamu, Ayana... Apakah kamu sudah yakin betul, untuk mengakhiri pernikahan kalian?"

Ayana mengangkat pandanganya, "Jika memang Mas Rama tidak dapat memutus hubungannya dengan Mbak Mawar... Maka saya tetap meminta berpisah!"

Rama terpaku mendengar ungkapan istrinya saat ini.

"Bagaimana, Rama? Semua keputusan ada di tanganmu! Tapi kamu perlu ingat satu hal!" Tuan Ibrahim kembali menjeda kalimatnya, dan hal itu membuat jantung Rama bergemuruh kuat. "Jika kamu masih merasa berat melepaskan Mawar, maka jalani saja hubungan kalian. Papah tidak akan menentang! Tapi dengan satu catatan! Warisan yang Papah berikan pada kamu, untuk sementara akan Papah alihkan pada Zeva, sebelum Mawar benar-benar melahirkan keturunan untuk Papah. Namun kembali lagi... Zeva sebagai cucu pertama saya, dan penerus pemimpin perusahaan... Akan Papah kasih warisan 70% dari warisan yang Papah berikan untukmu. Dan sisa 30% itulah nantinya yang akan anakmu dan Mawar terima."

Dagu Ayana semakin terangkat 2 centi, dari caranya menunduk tadi. Ia sebagai Istri SAH harus memperjuangkan haknya dan sang Putra, meskipun terasa lebih berat.

Rama menoleh kembali kearah Istrinya, meskipun Ayana sejak tadi tak tertarik untuk menatap wajahnya.

"Pah... 2 hari lagi acara lamaran Rama. Bagaimana caranya menjelaskan pada keluarga Mawar? Dan... Dan reputasi Rama di dunia pebisnisan pasti akan turun!" sanggah Rama.

Ayana memejamkan mata dalam-dalam, menahan rasa nyeri yang mulai menusuk relung hatinya. Tentang perlakuan Rama akhir-akhir ini, rupanya ia salah menilai.

"Oke! Lakukan saja lamaranmu! Papah tidak akan menentang itu, Rama!" Wajah Tuan Ibrahim begitu tenang, tegas, namun sorot matanya begitu kuat. "Ayana... Kamu sudah mendengar sendiri keputusan suamimu?"

Ayana mengangguk tanpa berkata. Energinya sudah terkuras habis, hingga hanya diamlah yang dapat mengekspresikan semua itu.

"Ya sudah, kalian sudah dapat keluar sekarang!"

Rama dan Ayana segera bangkit. Namun sebelum itu, Tuan Ibrahim kembali memanggil Ayana. "Ayana... Duduk kembali, karena ada yang ingin saya bicarakan!"

Ayana terhenti kembali.

Rama juga ikut menatap bingung.

"Kamu boleh keluar sekarang, Rama!" ucap dingin sang Ayah.

Dengan berat hati, Rama terpaksa keluar meninggalkan Istrinya sendirian. Entah pembahasan apa yang terjadi nanti, yang jelas, perasaan Rama mengatakan jika semua itu akan berimbas pada pernikahannya dengan Ayana.

Selepas kepergian Rama, Ayana kembali duduk.

Tuan Ibrahim menyodorkan sebuah kunci. Benda logam bewarna perak itu membuat kening Ayana mengernyit.

"Kunci? Kunci apa, Tuan?"

"Ini kunci rumah untuk Zeva, Ayana! Kamu bisa lihat sendiri 'kan, suamimu sudah tidak dapat menguatkan pernikahan kalian. Jadi, pagi ini juga... Kamu ajaklah keluargamu pindah kesana! Untuk masalah perceraian, itu akan menjadi urusan saya! Yang terpenting untuk saat ini... Kamu harus keluar dari paviliun, dan tenangkan dirimu disana."

Demi apa, Ayana terperanjat dengan hal yang sudah Mertuanya siapkan itu. Rumah-Hal yang paling ia semogakan, rupanya sudah masuk daftar tanggung jawab Mertuanya.

Ada perasaan bahagia bercampur berat saat meninggalkan paviliun. Bukan tentang Rama. Namun lebih ke Bik Sumi. Sosok pelayan yang selalu membantunya selama ini.

"Terimakasih, Tuan! Saya minta, tolong jangan biarkan siapapun tahu tentang keberadaan saya nantinya!" pinta Aya dengan sorot mata memohon.

"Saya tidak memberi akes siapapun, termasuk Rama sendiri! Biarkan dia merasakan kesunyian, bagaimana di tinggalkan oleh Istri serta putranya."

Ayana tersenyum dengan mata berkaca. Pria tua didepanya itu sudah ia anggap seperti pengganti Ayahnya sendiri.

"Oh ya... Pergilah nanti setelah Rama berangkat kerja! Amir dan Dika akan datang membantu kamu."

Ayana agak mengernyit. "Mas Dika? Bukannya...."

"Dika masih hidup, Ayana! Dia nantinya yang akan berjaga di rumah barumu," timpal kembali Tuan Ibrahim.

"Jika Mas Dika masih hidup, itu berarti dia tahu jika Bapak tidak bersalah," batin Ayana. Detik itu ia bersuara kembali, "Tuan... Jika Mas Dika masih hidup, itu berarti dia tahu jika selama ini Bapak tidak bersalah tentang kecelakaan Mas Arsyad beberapa tahu lalu?"

"Saya tahu apa yang saat ini kamu pikirkan, Ayana! Tapi percuma jika kamu validasi kepada penghuni rumah ini. Sudah! Cukup saya yang percaya saja! Saya sudah tahu semuanya tentang kecelakaan itu."

Ayana hanya dapat mengangguk kecil.

"Kamu boleh kembali, dan bersiap-siaplah!"

Barulah Ayana bangkit dan berjalan mantap meninggalkan ruangan mencekam itu.

*

*

Rama masih belum berangkat kerja. Ia sejak tadi terdiam diatas balkon, menunggu Ayana keluar dan masuk Paviliun.

Di detik itu juga, Ayana terlihat sudah berjalan tegap menuju Paviliun. Langkahnya pasti, dengan dagu terangkat tinggi. Wajahnya begitu tenang, tak ragu untuk menoleh kembali ke belakang. Ia sudah mantap dengan keputusan yang dipilihkan Mertuanya.

Meskipun terkesan sedikit agak mengulur, namun Aya yakin, semua yang terjadi demi kebaikan hidupnya dan sang Putra.

"Apa yang di bicarakan Papah dengan Ayana tadi? Ahgggg...." Rama memukul pembatas besi itu, merasa kesal dengan hidupnya sendiri.

1
Dini Anggraini
Alhamdulillah akhirnya karina terbebas dari Arash si jahat dan neraka itu semoga karina bisa hidup bahagia dengan Arsyad. 👍👍😍😍
Daulat Pasaribu
kenapa jodoh similya harus dika si thor.gk sukalah thor.wanita gk baik yah jodohnya sama yg gk baik
Septi.sari: nggak jadi kak, keduanya saling tentang🤭
total 1 replies
Dew666
🪸🪸🪸🪸
Daulat Pasaribu
bisa bisa wanita kotor macam milya dpt nya dika,berzinah ma org lai tapi si dika yg tanggung jawab.gk adil itu thor namanya.uda jahat perangainya.klo baik tadi gk papa
Septi.sari: ia nih kak, dika si lugu kasian jadi korban😭🔥
total 1 replies
Dini Anggraini
Enak banget milya habis yang senang2 dika kena imbasnya Q gak setuju milya menikah dengan dika Thor biarkan anaknya hidup dengan milya sendiri saja agar milya merasakan bagaimana rasanya jadi ayana hidup sendiri mengurus ibu sakit suami gak peduli. 🙏
Dini Anggraini: belum bunda karena banyak yang masih jahat banget anita, mawar dan milya kapan mereka jadi baik masih saja jahat meskipun di penjara. 🙏😭😭
total 2 replies
Dew666
💎💎💎💎
اختی وحی
typo nya thor, imelda jdi anita sampe bingung bacanya
Septi.sari: oh iya kak, maapken😭
total 2 replies
Dini Anggraini
Alhamdulillah kakak author mendengar nasihat kami para pembaca dengan Arsyad balik sama karina agar karina hidupnya gak menderita lagi bila mawar dan keluarganya menderita biarkan saja karena mereka jahat banget tapi kalau karina kan baik kasihan. Makasih kakak author yang baik. 👍👍😍😍😍
Dini Anggraini: ya kak
total 3 replies
Daulat Pasaribu
uda hamil pun ditinggalkan cowoknya gk mau bertanggung jawab,malah tetap jahat.dasar milya perempuan bodoh
Septi.sari: kesel banget ya kak🤭
total 1 replies
Elly Irawati
ditunggu episode selanjutnya kak, gas up lagiiiii biar ndx penisirin😅😅.. critanya loh masyaallah bikin greget.. ternyata si mawar dalang dari semuanya😡
Septi.sari: masya allah, tersayang, macihhhhh❤❤❤❤🤭🤭🤭
total 1 replies
Daulat Pasaribu
itulah balasan buat si milya karena uda jahat sama kaka iparnya ayana
Septi.sari: biar kapok kak🔥
total 1 replies
Daulat Pasaribu
si pak arman apa gk syok kalao tau anaknya otak dari pelaku pembunuhan berencana arsyad
Septi.sari: ntar di penjara dua2nya kak🤭🔥
total 1 replies
Dew666
🍡🍡🍡🍡🍡
Dini Anggraini
Benar rama kamu sudah putuskan yang terbaik kamu tidak tahu saja yang mencoba membunuh Arsyad bukan anita saja tapi juga mawar malah mawar dalang dari semua ini. Semoga pak Ibrahim segera menemukan video rekaman percakapan mawar dan anita tentang perencanaan pembunuhan Arsyad dan menguasai kekayaan pak ibrahim ya bunda. 😍😍
Septi.sari: apa di buatin novel buat Karina ya kak, 🤭
total 3 replies
اختی وحی
gk rela klw ayana balik sama rama. sama devam aja biar rama kapok
اختی وحی
males bngt rama msih ketemu² ayana, jrs ny cerai aja beres
اختی وحی
suka bngt karakter pak ibrahim jos👍👍
Septi.sari: bijaksana banget kak🔥
total 1 replies
Daulat Pasaribu
smoga rama dan ayana serta zeva keluarganya hidup bahagia.
Daulat Pasaribu
jgn sampai ada masalah lagi,smoga aja rama betul betul berjuang untuk ayana dan zeva
Septi.sari: iya kak, setelah bahagia, mau lanjutin kisahnya Arsyad🔥
total 1 replies
kalea rizuky
novel terburuk yg pernah q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!