Seorang gadis kampung yatim piatu yang terpaksa tinggal bersama pamannya di kota Jakarta karena dia ingin melanjutkan pendidikannya. Hidupnya begitu sulit karena istri dari pamannya menjadikan Naomi layaknya seorang pembantu sampai akhirnya dia diusir tanpa sepengetahuan pamannya.
Naomi terpaksa bekerja sebagai pelayan restoran untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang tinggal sebatang kara di Kota Jakarta. Disaat yang sama, dia bertemu dengan seorang CEO tampan nan sombong.
Mampukah dia melanjutkan cita-citanya? Mungkinkah sang CEO jatuh cinta kepadanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
💖Bantu like, komen dan vote, terima kasih💖
Kenzo tersenyum melihat Naomi yang menutup matanya, dia mengira bahwa Naomi sedang menunggu ciuman darinya, padahal gadis tersebut sengaja menutup matanya karena sedang menahan sesuatu yang sedang bergejolak di dalam dadanya.
Tiba-tiba saja Kenzo menempelkan hidungnya pada dahi Naomi dan saat itu juga Naomi tersadar dengan mata melotot dia refleks menampar pipi Kenzo dengan sangat keras.
Plak.
"Kamu itu kenapa sih selalu saja mesum? Nyosor sana-sini tak tau aturan, enak bener jadi orang," ucap Nomi dengan mata tajam memandang dalam keadaan marah.
"Maaf aku kira kamu sengaja menutup mata karena memberikan kesempatan untukku cium," jawab dengan sedikit nada sesal memandangnya.
"Helleeeh memang dasarnya saja kamu itu buaya, jangan-jangan setiap perempuan yang menutup mata langsung saja kamu sosor. Tuh hidung mancung jangan kayak mulutnya bebek! Sedikit-sedikit sasar dan sosor."
Naomi merasa kesal dan dia melihat keluar mobil, dia tak menggubris saat Kenzo meminta maaf kepadanya.
"Maaf dong Sayang, biasanya perempuan kalau sedang menutup mata di depan laki-laki, berarti kan dia ingin menikmati dan menunggu ciuman dari laki-laki tersebut," alasan Kenzo sambil meliriknya.
"Ooh, aku lupa kalau Tuan Kenzo itu punya banyak perempuan, tetapi jangan samakan aku sama pacar-pacarmu yang berleak itu."
"Astagfirullah Naomi. Sumpah deh aku itu tidak punya pacar sama sekali sampai bertemu denganmu. Kalau tidak percaya, tanya saja sama Mama," jawab Kenzo mulai menstarter mobilnya.
"Kenapa nggak sekalian aja tanya sama Mbah Google, oh iya, aku lupa kalau Tuan Kenzo yang terhormat adalah Bocil nya mama hahaha," ejek Naomi mendengar jawaban dari Kenzo.
"Terserah Kamu deh, aku lagi malas berantem pagi-pagi. Yang ada mood ku malah bisa rusak apalagi aku lagi mau meeting nih," ujar Kenzo mulai melajukan mobilnya untuk mengantarkan Naomi ke tempat kerja.
"Halaah yang ngajak berantem juga siapa? Kamu sendiri yang mulai gitu kok. Makanya, lain kali jadi orang jangan suka mesum!"
"Iya aku memang salah, tapi nggak usah dibahas terus," jawabnya tanpa tanpa menoleh.
"Oke, aku juga tidak mau membuat mood mu menjadi rusak, jadi sebaiknya kita tidak usah bicara," kata Naomi mulai memejamkan matanya sambil menyandarkan kepala di kursi mobil.
"Tuh kan, belum apa-apa sudah ngambek duluan, aku kan cuma bilang, jangan membahas masalah yang tadi lagi tentang sosor menyosor itu terus. Aku janji tidak akan begitu lagi, tapi Kamu buka mata dong! Mana asyik bicara sendiri dalam mobil," ucap Kenzo sambil melirik wajah gadis yang ada di sampingnya.
Naomi hanya diam, dia tidak menjawab ataupun menoleh sama sekali, namun dia sudah membuka matanya dan tidak memejamkannya lagi. Kenzo meliriknya sambil tersenyum tipis walaupun sudah tidak bicara.
Akhirnya mobil Kenzo sampai juga di depan Restoran Perlente tempat bekerjanya Naomi. Dia turun ingin membukakan pintu mobil buat gadisnya, namun sebelum itu terjadi, Naomi telah duluan turun dari mobil tersebut. Saat Naomi hendak masuk ke dalam restoran lewat pintu belakang, dia berhenti sebentar melihat ke arah laki-laki yang baru saja mengantarnya.
"Terima kasih telah mengantar ku, aku masuk dulu."
"Sama-sama, nanti waktu pulang ku jemput lagi," kata Kenzo sambil tersenyum tipis.
"Baik lah, akan ku tunggu, assalamu'alaikum," ucap Naomi melangkahkan kaki meninggalkan pria tersebut yang masih berdiri di dekat mobilnya.
Setelah Naomi sudah tak terlihat lagi, Kenzo berjalan melangkahkan kakinya masuk ke dalam Restoran Perlente tersebut. Saat dia masuk, Ayu yang merupakan temannya Naomi pertama kali menyapa dengan ramah.
"Selamat pagi Tuan, silahkan masuk! Tuan mau sarapan apa?" tanya Ayu dengan sopan sambil menundukkan kepalanya ke arah pelanggan.
"Tolong panggilkan manajer restoran ini! Sekalian bawakan saya nasi goreng spesial telur angsa dua porsi!" jawab Kenzo dengan memerintahkan pelayan tersebut.
"Maaf sekali Tuan, kalau masih pagi begini manajer restoran kami belum datang," jawab Ayu masih dengan sopan menundukkan kepalanya.
"Kalau begitu kamu panggil Saga ke sini! Katakan Kenzo mencarinya!" perintah Kenzo pada sang pelayan yang tak lain adalah temannya Naomi.
"Baik Tuan, akan saya sampaikan dan juga sekalian membawakan pesanan Anda." jawab Ayu lalu meninggalkan laki-laki itu sendirian di meja restoran yang masih sepi tanpa penghuni.
Ayu berjalan hingga sampai di dapur restoran, dia sewot dan juga tidak senang sambil memperlihatkan wajah masamnya ke arah Pak Saga yang masih melakukan pemeriksaan terhadap beberapa pesanan yang diminta oleh kantor langganannya.
"Loh mbak Ayu kenapa mukanya ditekuk begitu? Lagi datang bulan ya," canda Naomi sambil menyapa Ayu.
Ayu belum menggubris ucapan Naomi, dia langsung bicara dengan pak Saga yang sudah duluan hadir di restoran tersebut.
"Maaf, Pak Saga, ada Tuan Kenzo di depan yang sedang mencari anda," lapor Ayu pada kepala pelayan yang langsung terkejut mendengar nama Kenzo.
"Apa?!"
Naomi dan Pak Saga serentak bertanya saat mendengar nama Kenzo diucapkan oleh Ayu. Sikap Naomi membuat Pak Saga langsung menoleh kepadanya dan bertanya.
"Apa Kamu kenal dengan Pak Kenzo,?" tanya Pak Saga pada gadis itu yang terlihat gugup.
Naomi sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh pak Saga, namun dia tak mungkin hanya diam.
"Saya baru juga beberapa hari kenal dengan Tuan Kenzo, Pak Saga." Jawab Naomi sedikit ragu dan juga kaku.
"Baguslah kalau begitu, jangan sampai kita mendapat masalah dengan Tuan Kenzo Heryanto. Jika sampai dia tersinggung, bisa saja Restoran Perlente ini ditutupnya dengan gampang dan kita semua akan kehilangan pekerjaan karena Tuan Kenzo itu sangat berkuasa di kota ini," jelas Pak Saga memperingatkan para pelayannya.
Pak Saga pergi meninggalkan Naomi dan juga Ayu yang masih sibuk di dapur. Dia menemui Kenzo yang sudah menunggunya di ruang bagian depan restoran.
"Cie cie, yakin kalau kamu hanya kenal dalam beberapa hari dengan Tuan Kenzo? Kalau nggak salah, mbak lihat tadi kamu turun dari mobil Tuan Kenzo. Jangan bilang kalo kalian Sebenarnya ada apa-apanya loh," kata Ayu sambil menyenggolkan siku tangannya ke arah pinggang Naomi.
"Mbak Ayu, apaan sih. Mana ada apa-apanya aku sama Tuan Kenzo. Dia itu kan orang terkenal, mana mungkin lah aku jalan sama dia," elak Naomi ngeles dari temannya.
"Helleeeh, ada apapun juga enggak apa-apa kali, hihihi." Ayu terkekeh.
"Mbak Ayu jangan gosip lah ya," pinta Naomi mengingatkan temannya.
"Aman, rahasia tergantung traktiran hahaha," jawab Ayu tertawa lepas.
"Iih dasar kawan tukang palak," canda Naomi tersenyum.
"Malak in kawan yang baru jadian halal lho, hehehe." Bicara santai tanpa merasa berdosa.
Sementara itu Pak Saga baru saja sampai di meja tempat duduknya Tuan Kenzo Heryanto.
"Selamat pagi, Tuan Kenzo. Ada apa gerangan ini, tiba-tiba memanggil saya dan Tuan juga tiba-tiba datang ke restoran kecil kami di saat hari masih pagi?" tanya Pak Saga sopan dan ramah pada pelanggannya.
"Pagi juga, Pak Saga. Tetap selalu semangat dalam kerja ya! Saya ke sini hanya sekedar mengantar seseorang yang baru saja bekerja di tempat Anda, Pak Saga." bicara dengan menatap wajah Pak Saga terlihat dingin dan juga tajam.
Tiba-tiba saja Pak Saga merasa ingin sekali kabur dari tatapan tajamnya Kenzo yang terasa menakutkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Baca juga karyaku OB KERUDUNG BIRU di bawah ini.