Laura, adalah seorang menantu yang harus menerima perlakuan kasar dari suami dan mertuanya.
Suaminya, Andre, kerap bertangan kasar padanya setiap kali ada masalah dalam rumah tangganya, yang dipicu oleh ulah mertua dan adik iparnya.
Hingga disuatu waktu kesabarannya habis. Laura membalaskan sakit hatinya akibat diselingkuhi oleh Andre. Laura menjual rumah mereka dan beberapa lahan tanah yang surat- suratnya dia temukan secara kebetulan di dalam laci. Lalu laura minggat bersama anak tunggalnya, Bobby.
Bagaimana kisah Laura di tempat baru? Juga Andre dan Ibunya sepeninggal Laura?
Yuk, kupas abis kisahnya dalam novel ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Arumi
"Siapa yang bisa menebak alur hidup seseorang? Mengikuti kemana saja arus kehidupan ini mengalir, mungkin lebih bijak dari pada harus meratapinya"
Laura bingung melihat sikap Mark, yang menertawakannya. Apanya yang lucu? Tega kali hati suaminya yang menganggap apa yang dia rasakan sebagai lelucon.
"Sudah! Ngapain juga menertawakan aku jika memang cemburu," Laura menekukkan kepalanya makin sedih.
"Kenapa Mama harus cemburu? Gak percaya ya, kalau Papa itu cinta dan sayang banget sama, Mama." Mark mengangkat dagu Laura supaya menatapnya.
"Gak!" Laura memalingkan wajahnya. Air mata kembali meleleh di pipinya. Kesal, gak nyangka kalau suaminya gak peka dengan perasaannya.
"Ceritanya Mama marah betulan nih sama, Papa." Mark masih berusaha membujuk Laura yang ngambek. "Papa, minta maaf ya, Ma. Kalau kemarin sikap Papa mungkin terlalu berlebihan. Papa, kaget waktu itu. Papa gak nyangka akan melihat Arumi, setelah dia dinyatakan telah meninggal dunia sepuluh tahun yang lalu.
Tadi malam, Papa menelepon Abi, menanyakan khabar Arumi, katanya Arumi baik-baik saja. Mereka telah ķembali kepenginapan. Mereka mengundang kita, untuk makan siang bersama nanti. Mama, maukan? Abi mau menjelaskan hal yang sebenarnya." Mark mengusap lengan Laura. Menunggu sejenak, reaksi Istrinya.
Mimpi Laura semalam, melintas lagi dibenaknya. Membuat keresahan dan ketakutannya makin membelenggu.
"Kalau Mama tidak mau, Papa akan batalkan saja undangan itu." Mark membuka aplikasi berlambang telepon hijau, mencari sebuah nama.
"Tidak usah dibatalkan, Mama mau kok menemani, Papa." Laura mengiyakan.
"Makasih ya, Ma. Papa hanya ingin tau kisah Arumi. Sekalian mengenalkan Carry pada ibunya." Mark mengusap kepala Laura lembut. Seolah mau menyakinkan agar Laura tidak khawatir tentang hal apapun.
Sementara, Laura juga tidak mungkin menghalangi Mark, untuk menemui Arumi.
Soal mimpinya, Laura tidak berani bercerita. Disimpannya perkara itu didalam hati. Namanya saja mimpi, Laura tidak ingin suaminya menganggapnya aneh, sekalipun dia tidak bisa juga menganggap remeh mimpinya itu.
Seperti yang telah disepakati, sekarang mereka sudah kumpul bersama makan siang. Hidangan telah tersaji saat Mark dan keluarganya datang.
Mereka duduk lesehan, di rumah makan di pinggir Danau Toba. Angin yang berhembus dingin, menyejukan ruangan tempat mereka duduk.
Suasana masih terasa kaku. Carry selalu menempel pada Laura. Sejak diberitahu tujuan mereka ke sini, untuk bertemu ibu kandungnya Carry nampak pendiam.
Entah, apakah anak itu shock atau takut. Dari sikapnya, Carry nampak tidak nyaman.
"Begini Pak Mark." Abi memulai percakapan. "Sepuluh tahun yang lalu saat saya tugas ke Padang. Saya telah menabrak Hizkia. Malam itu hujan deras turun, saya membawanya ke rumah sakit. Tetapi dia tidak ingat siapa dirinya. Dokter bilang dia mengalami Amnesia. Saya sudah mencari kesana kemari keluarganya. Tapi tidak satupun yang mengenalnya. Akhirnya saya bawa dia ke Jakarta. Maksud saya untuk mengobati amnesia yang dia alami.
Namun, usaha kami sia-sia. Dokter bilang, amnesianya yang dia alami itu sifatnya permanen.
Akhirnya kami menikah, dan saya beri namanya Hizkia, nama mendiang istri saya.
Setahun terakhir ini, istri saya sering menderita sakit kepala. Ada yang menyarankan kami untuk berobat ke daerah ini. Tidak kami sangka, kejadian kemarin itu terjadi." Abimayu menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Arumi.
Semua terdiam, hening. Mark juga menimpali kalau kejadian yang menimpa istrinya lokasinya di daerah Padang. Sebuah bus travel yang ditumpangi istrinya jatuh ke jurang dan terbakar.
Tubuh istrinya terbakar hangus dan sulit di kenali. Saat itu memang tidak dilakukan visum, karena mayat istrinya telah dikenali dari sisa sweater yang melekat ditubuhnya.
"Jadi bisa saja, Arumi kehilangan ingatannya saat kecelakaan itu. Mungkin dia terpental dari dalam bus. Sehingga luput dari api, karena Carry juga ditemukan disemak-semak." lanjut Mark mengingat kejadian sepuluh tahun lalu.
"Jadi, kamu sama sekali tidak ingat siapa kami. Aku dan Carry putri semata wayang kita?" Mark menatap tepat dinetra Arumi.
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak mengingat apa-apa. Aku selalu dihantui mimpi yang sama setiap malam. Tapi, aku tidak bisa melihat wajah orang yang saya impikan. Semua itu sangat menyiksa hidupku, karena aku sama sekali tidak ingat apa-apa soal masa laluku. Siapa orangtuaku, saudaraku. Bahkan aku sudah punya suami dan anak. Auh...." Arumi memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit. Abi segera mengambil obat dari dalam tas istrinya, dan menuyruh Arumi meminumnya.
"Maaf, Hizkia, eh maksud saya, Arumi, selalu begini setiap kali dia mencoba mengingat sesuatu." ungkap Abi prihatin pada Mark.
"Jadi kamu, Carry, putri Mama?" Arumi menyapa, Carry, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Cendrung ke orang yang sedang kebingungan. "Boleh Mama, memelukmu, nak?" Arumi mengulurkan tangannya. Hendak memeluk Carry. Carry menurut, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam pelukan Arumi.
Carry, menangis sedih, karena ibu yang selama ini selalu dia rindukan dan setahunya sudah meninggal ternyata masih hidup. Namun, sayang sama sekali tidak mengingatnya. Sama seperti dirinya yang tidak memiliki ingatan tentang ibunya.
Karena saat kejadian itu, umurnya masih dua tahun. Terlalu kecil untuk mengingat wajah ibunya. Hanya lewat fotolah selama ini dia mengenang ibunya.
"Mas, maafkan saya, ya?" ucap Arumi pada Mark lirih. Entah untuk apa kata maaf itu dia ajukan. Apakah karena keadaan dirinya yang sudah menikah atau karena ingatannya yang hilang.
Arumi bisa merasakan kalau Mark, adalah seorang suami yang hangat. Terlihat dari sikap dan perlakuannya pada istri dan anaknya.
"Tidak perlu meminta maaf. Semoga suatu hari kamu bisa sembuh dan bisa mengingat kembali masa lalumu. Saat itu, mungkin akan menjadi sesuatu yang berharga bagi kita semua."
"Iya, kita akan menjadi keluarga. Bagaimanapun saya juga merasa bersalah karena membawa pergi jauh, Arumi. Besok kami mau kembali ke Jakarta, semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu. Oh, iya mari kita nikmati makan siang ini," ajak Abi mempersilahkan kepada Mark untuk menikmati hidangan yang telah dia pesan.
Abi membuka tutup makanan, satu persatu, lalu memulai mengambil nasi serta lauk memberikannya pada Arumi.
Begitu juga dengan Mark, melakukan hal sama dengan Abi. Namun, Laura bergegas mendekati Mark.
"Biar Mama saja yang ambilkan,Pah." Laura berbisik lembut pada Mark. Mark diam tidak menolak dan mengucapkan terima kasih saat Laura meladeninya. Hal yang sama juga dia lakukan pada Carry dan Bobby.
Terakhir, dia melakukan untuk dirinya.
Selama acara makan, Mark dan Abi masih terlibat percakapan ringan. Banyak hal yang mereka bicarakan, mulai dari musik hingga masalah politik.
Laura juga berusaha bersikap seramah mungkin. Mengajak Arumi berbincang, terutama setelalh usai makan siang. Mereka mencari tempat masing- masing sambil menikmati hidangan penutup.
Mark dan Abi, makin serius dengan pembicaraan mereka ditemani segelas kopi dan rokok, mereka duduk agak dipojokan.
Sementara Carry dan Bobby asyik dengan bermain di sekitaran taman didepan rumah makan.
Laura sendiri duduk menghadap danau. Menikmati gelombang air yang saling berkejaran dan memecah di pantai.
"Sepertinya, Mark sangat mencintaimu." Arumi menghampiri dan duduk di dekat Lalura, memulai percakapan dengan Laura.
"Terima kasih, Kak Arumi. Saya juga sangat mencintai keluargaku," sahut Laura tersenyum manis.
"Iya, saya dapat melihatnya. Kalian adalah sebuah keluarga yang hangat. Saya jadi mereka-reka seperti apa kehidupan keluarga kami dulu, sebelum peristiwa itu terjadi. Apakah aku keluargaku sehangat yang aku saksikan saat ini. Apakah aku punya kesalahan sehingga cobaan ini aku alami. Kehilangan ingatan, suami dan anakku." Arumi tersenyum pahit.
"Jangan berburuk sangka, Kak. Mungkin Tuhan punya rencana yang lain untuk kehidupan kita. Masing-masing kita diuji dengan percobaan." Laura dapat merasakan kesedihan yang dalam dihati Arumi dalam ucapannya.
Sama seperti dirinya, yang mengalami peninda
san dari suami dan mertuanya.
Ah, kenapa masih juga mengingat mereka dan bagaimana khabar mereka sekarang? Jujur, Laura baru merasakan seperti apa keluarga yang saling mencintai dan menghargai didalam sebuah keluarga.****
anak orang tua sma kkejam x ...
wanita baik baik ,mna ad mau tidur sma suami orang ...
padaha sudah ad bukti ...
kesempatan untuk meusir suami laknat sepeeti itu ,cinta jua gk buat ap lg di pertahan kan ...