Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Warung Tenda
"Kecelakaan dimana Fee? Gimana ceritanya?", nafasku tersengal, beberapa bulir keringat menetes di tengah hawa dingin malam ini.
"Nggak ada yang tahu Daann. . .tadi Paklik ditemukan orang-orang di jalan dengan motornya yang rusak parah", Febi menjelaskan lirih.
"Te-terus, gimana kondisinya sekarang Fe?"
"Ini masih di Rumah Sakit Dan, aku nggak tahu, Bu lik daritadi nangis terus, kasihan. . .", suara Febi terdengar bergetar, kelihatannya dia benar-benar terguncang.
"Aku meluncur kesitu, kamu yang tenang ya", Aku menyambar jaket di gantungan baju, menutup telepon dan bergegas keluar rumah.
Baru melangkah beberapa kaki dari pintu kamar terdengar suara Ibuk berdehem.
"Mau kemana, ini dah malem lho . .", Ibuk menghentikan langkahku.
"Belum malem buk, baru juga setengah delapan kok. Aku tak metu sebentaaarrr aja Buk", Aku memasang wajah melas.
"Baru sembuh sebulan, wes arep ngluyur neh to lee", Ibuk mendekat, menyodorkan uang lima puluh ribu.
Aku meringis, cengengesan.
"Ibuk, pancen oyeee. . .", kucium tangan Ibuk dan bergegas keluar rumah.
* * *
Sesampainya di rumah sakit, aku menemukan Febi terduduk lesu di ruang tunggu. Aku mengambil tempat duduk di sampingnya. Matanya terlihat sembab. Dia tidak menoleh padaku, aku pun memilih diam, tidak tahu harus berbuat apa.
"Dann, Lik Wo. . .masih belum sadarkan diri", Febi menoleh ke arahku.
"Sebaiknya kamu pindah Dann, jangan di sana, sebelum ada yang celaka lagi", Febi terisak.
"Tapi Feee. ."
"Kemarin kamu, sekarang Lik Wo, besok? Lusa? Hari-hari berikutnya? Sopo neh Dan? Aku?", Febi memotong bicaraku, kali ini dia benar-benar menangis tersedu.
Aku bingung mau menjawab apa, hanya bisa menggelengkan kepala. Kuberanikan merangkul pundak Febi, untuk menenangkannya.
"Yang penting sekarang, kita bantu berdo'a, agar Lik Wo segera sadar dan pulih seperti sedia kala", aku menepuk-nepuk pundak Febi.
Febi mengangguk pelan.
"Sudah makan?" Aku bertanya, teringat uang lima puluh ribu dari Ibuk tadi. Febi hanya menggeleng. Aku mendesah pelan.
Aku berdiri, menarik tangan Febi pelan. Febi mendongak, menatapku.
"Kemana?" Febi bertanya lirih.
"Golek rosok. . .ya makan lahh. . .", Aku mencoba becanda.
Febi tersenyum sebentar, manis. Hmm, dadaku berdesir sekilas.
"Yukk", Aku melepas tarikan tanganku, berjalan mendahului Febi.
Febi sedikit berlari kecil, menyusulku. Dan dengan cepat meraih tanganku. Entah, kali ini aku nggak bisa menolaknya. Kami bergandengan tangan berjalan sepanjang koridor rumah sakit.
Febi memilih warung tenda penyetan samping rumah sakit. Aroma ayam gorengnya memang menggoda, tercium dari kejauhan. Aku memesan ayam penyet dan es teh, sementara Febi memilih bebek goreng dan es jeruk. Kami memilih duduk lesehan di belakang.
"Nanti sehabis makan, kamu segera pulang ya Dann, udah malem", Febi membuka percakapan.
" Lha kamu?", aku bertanya balik.
"Tadi aku udah telpon ayah, katanya bakal nyusul kesini kok", Febi melihat jam tangan. Aku mengangguk mengerti.
Pesanan kami datang, aromanya benar benar menggugah selera. Cacing di perutku serasa langsung berteriak-teriak. Makanan mungkin memang pelarian yang tepat dari segala campur aduk permasalahan yang datang. Dengan memuaskan nafsu makan, untuk beberapa waktu kita bisa terlupa dari segala problematika kehidupan. Kulirik Febi, dia makan dengan lahap. Bibirnya yang mungil bergerak-gerak lucu menikmati santap malam hari ini. Teringat kembali bagaimana bibir itu telah menyentuh bibirku, hmmm. . .pikiran apalagi ini? Husshh huushh, aku harus mengusir pikiran semacam ini. Kulanjutkan makanku, dengan tidak lagi mencuri pandang pada Febi.
Pukul sembilan malam setelah selesai makan, akupun berpamitan pada Febi, dia melambaikan tangannya, memberikan tanda untukku segera pulang. Aku mendongak sebentar menatap langit. Bulan sabit berpendar di antara jutaan bintang. Aku menarik nafas pelan dan memacu motorku dimalam yang cukup hangat ini.
Bruuummmmm