NovelToon NovelToon
Rumah Di Tengah Sawah

Rumah Di Tengah Sawah

Status: tamat
Genre:Romantis / Misteri / Horor / Tamat
Popularitas:3.7M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

Selama 19 tahun, aku dan keluargaku mendiami rumah ini. Rumah di tengah sawah. Rumah nyaman khas pedesaan, jauh dari hingar bingar kota. Udara sejuk, malam yang tenang membuat aku betah berlama-lama di rumah.
Hingga akhirnya, kejadian-kejadian aneh menimpaku. Semakin lama kehidupanku semakin terusik. Ditambah lagi kisah asmaraku yang tidak semulus pipi Erni, gadis pujaanku. Ah, apa yang sebenarnya terjadi? Semua masih misteri.
Semua akan terbuka dan kalian akan menemukan satu persatu jawaban dari misteri yang ada, jika kalian mengikuti kisahku dari awal sampai akhir . . .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Warung Tenda

"Kecelakaan dimana Fee? Gimana ceritanya?", nafasku tersengal, beberapa bulir keringat menetes di tengah hawa dingin malam ini.

"Nggak ada yang tahu Daann. . .tadi Paklik ditemukan orang-orang di jalan dengan motornya yang rusak parah", Febi menjelaskan lirih.

"Te-terus, gimana kondisinya sekarang Fe?"

"Ini masih di Rumah Sakit Dan, aku nggak tahu, Bu lik daritadi nangis terus, kasihan. . .", suara Febi terdengar bergetar, kelihatannya dia benar-benar terguncang.

"Aku meluncur kesitu, kamu yang tenang ya", Aku menyambar jaket di gantungan baju, menutup telepon dan bergegas keluar rumah.

Baru melangkah beberapa kaki dari pintu kamar terdengar suara Ibuk berdehem.

"Mau kemana, ini dah malem lho . .", Ibuk menghentikan langkahku.

"Belum malem buk, baru juga setengah delapan kok. Aku tak metu sebentaaarrr aja Buk", Aku memasang wajah melas.

"Baru sembuh sebulan, wes arep ngluyur neh to lee", Ibuk mendekat, menyodorkan uang lima puluh ribu.

Aku meringis, cengengesan.

"Ibuk, pancen oyeee. . .", kucium tangan Ibuk dan bergegas keluar rumah.

* * *

Sesampainya di rumah sakit, aku menemukan Febi terduduk lesu di ruang tunggu. Aku mengambil tempat duduk di sampingnya. Matanya terlihat sembab. Dia tidak menoleh padaku, aku pun memilih diam, tidak tahu harus berbuat apa.

"Dann, Lik Wo. . .masih belum sadarkan diri", Febi menoleh ke arahku.

"Sebaiknya kamu pindah Dann, jangan di sana, sebelum ada yang celaka lagi", Febi terisak.

"Tapi Feee. ."

"Kemarin kamu, sekarang Lik Wo, besok? Lusa? Hari-hari berikutnya? Sopo neh Dan? Aku?", Febi memotong bicaraku, kali ini dia benar-benar menangis tersedu.

Aku bingung mau menjawab apa, hanya bisa menggelengkan kepala. Kuberanikan merangkul pundak Febi, untuk menenangkannya.

"Yang penting sekarang, kita bantu berdo'a, agar Lik Wo segera sadar dan pulih seperti sedia kala", aku menepuk-nepuk pundak Febi.

Febi mengangguk pelan.

"Sudah makan?" Aku bertanya, teringat uang lima puluh ribu dari Ibuk tadi. Febi hanya menggeleng. Aku mendesah pelan.

Aku berdiri, menarik tangan Febi pelan. Febi mendongak, menatapku.

"Kemana?" Febi bertanya lirih.

"Golek rosok. . .ya makan lahh. . .", Aku mencoba becanda.

Febi tersenyum sebentar, manis. Hmm, dadaku berdesir sekilas.

"Yukk", Aku melepas tarikan tanganku, berjalan mendahului Febi.

Febi sedikit berlari kecil, menyusulku. Dan dengan cepat meraih tanganku. Entah, kali ini aku nggak bisa menolaknya. Kami bergandengan tangan berjalan sepanjang koridor rumah sakit.

Febi memilih warung tenda penyetan samping rumah sakit. Aroma ayam gorengnya memang menggoda, tercium dari kejauhan. Aku memesan ayam penyet dan es teh, sementara Febi memilih bebek goreng dan es jeruk. Kami memilih duduk lesehan di belakang.

"Nanti sehabis makan, kamu segera pulang ya Dann, udah malem", Febi membuka percakapan.

" Lha kamu?", aku bertanya balik.

"Tadi aku udah telpon ayah, katanya bakal nyusul kesini kok", Febi melihat jam tangan. Aku mengangguk mengerti.

Pesanan kami datang, aromanya benar benar menggugah selera. Cacing di perutku serasa langsung berteriak-teriak. Makanan mungkin memang pelarian yang tepat dari segala campur aduk permasalahan yang datang. Dengan memuaskan nafsu makan, untuk beberapa waktu kita bisa terlupa dari segala problematika kehidupan. Kulirik Febi, dia makan dengan lahap. Bibirnya yang mungil bergerak-gerak lucu menikmati santap malam hari ini. Teringat kembali bagaimana bibir itu telah menyentuh bibirku, hmmm. . .pikiran apalagi ini? Husshh huushh, aku harus mengusir pikiran semacam ini. Kulanjutkan makanku, dengan tidak lagi mencuri pandang pada Febi.

Pukul sembilan malam setelah selesai makan, akupun berpamitan pada Febi, dia melambaikan tangannya, memberikan tanda untukku segera pulang. Aku mendongak sebentar menatap langit. Bulan sabit berpendar di antara jutaan bintang. Aku menarik nafas pelan dan memacu motorku dimalam yang cukup hangat ini.

Bruuummmmm

1
Alexander
good job author.
Alexander
lalu bagaimana dengan nasib anak kembar wira yang perempuan ?
Alexander
ngasih sesajen itu juga wujud ketundukan kita pada kaum lelembut itu.
Alexander
kenapa malah jadi lagunya judika ??
Alexander
kalau mbah kadir adalah anak dari wira, bukankah seharusnya usianya masih di kisaran 58 tahun ?
Alexander
ternyata rumah tembok. dalam banyanganku rumah lek diran adalah rumah kayu.
Alexander
menuntut orang lain bersikap terbuka, dianya sendiri suka main kucing2an.
Alexander
tapi perjanjian seperti itu tidak bisa putus begitu saja. anak keturunannya punya dua pilihan. meneruskan persekutuannya dengan bangsa jin atau memutus mata rantai dengan rukyah dan taubat sungguh2.
Alexander
seperti perempuan saja, merajuk tanpa kejelasan alasan 😅
Alexander
perhatian seorang ayah itu dititipkan melalui istrinya. ibu dari anak2 nya.
Alexander
dan dani sempat melihat pak ndori melayani pelanggan dengan mobil merah kan ?
Alexander
titik terendah itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya. kok menyalahkan roda takdir.
Alexander
kaburnya pakai motor yang dibeli dengan uang bapaknya. hadeehh 😅
Alexander
pemeran utamanya berpikiran sempit. menyimpulkan segala sesuatu dari sudut pandangnya sendiri.
Alexander
tapi bukan dengan cara seperti itu kamu meminta penjelasannya. tidak punya tata krama.
Alexander
kalau yang sakit bukan erni, apakah dani tetap berpikir demikian ?
Alexander
paracetamol sirup ?
Alexander
kalau di sini hari keramatnya hari kamis wage malam jumat kliwon tolu. di novel sebelah hari rabu wage manahil seingatku.
Alexander
seharusnya masjid bisa jadi pilihan untuk beristirahat atau tidur, tapi banyak masjid yang sudah digembok selepas sholat Isya.
Alexander
nangisnya belum sampai berjam jam lah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!