IG : Srt_tika92
Adrian Putra Haidar adalah Pria tampan berprofesi sebagai sutradara terkenal, dia pria yang memiliki banyak kekasih. Tidak sedikit wanita yang mengejarnya demi popularitas.
Dunianya berubah saat menikahi gadis cantik akan kesederhanaan nya yaitu Elsa yang baru di kenalnya. Pernikahannya terjadi karena suatu kesalahan.
Akankah pernikahan mereka berjalan semestinya?
Apakah cinta akan tumbuh di antara mereka?
Ini karya ke 2 ku
Baca juga karya pertama ku yang berjudul Cinta Pertama Ceo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon susi sartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S2 Minta kiss ya.
Karin senang sekali menyambut pagi di hari ini, hari yang ia nantikan untuk bertemu dengan pujaan hatinya.
" Pagi mah.. pah.. " sapa Karin pada Wina dan Jordan yang sedang menikmati sarapan paginya.
" Tumben kamu udah bangun sepagi ini, padahal libur kerja. " cibir Wina yang Akhir-akhir ini melihat Karin bangun pagi saat weekend.
" Hehehe.. harus latihan dong mah biar jadi istri yang teladan. " ucap Karin yang sudah duduk di samping Wina dan mulai mengolesi dua lembar roti tawar dengan selai srikaya kesukaannya.
Wina cukup terkejut mendengar kata Istri dari mulut putrinya itu, semenjak perceraiannya Karin tidak pernah berbicara mengenai apapun yang berhubungan dengan masalalunya. " Emm.. kamu udah punya pacar baru Rin? " tanya Wina.
" Uhuk.. uhuk.. " Karin tersedak saat mendengar pertanyaan Wina.
" Emm.. udah. " jawabnya ragu.
" Beneran, kamu udah move on dari si David? " tanya Wina.
Karin mengangguk.
" Kenalan ke papa, bawa dia kesini. " Jordan.
" Tapi pah.. " Karin ragu jika Umar tidak sesuai harapan kedua orang tuanya. " Dia.. berbeda pah dengan kita. Apa papa sama mama mau menerima dia apa adanya. " jelas Karin.
" Jika dia mencintaimu tak masalah, yang penting kamu bahagia. " ucap Jordan.
" Yap.. benar, jika dia mencintaimu pasti dia akan membuatmu bahagia. Yang jelas dia harus bisa membuat mama senang menerima nya sebagai menantu mama. " jelas Wina.
" Maksud mama? " tanya Karin.
" Iikh kamu tuh yah gak peka. tentu dia harus menambahkan koleksi barang-barang kesukaan mama. " ucap Wina
" Mah, apa papa belum cukup memberikan apapun keinginan mama. " ucap Jordan memperingati Wina agar tidak menyusahkan calon menantu nya.
" Beda dong pah, calon mantu mama harus pinter ngambil hati mama. " ucap Wina dengan mengerlingkan sebelah matanya.
" Jadi, perusahaan apa yang dia jalani sekarang? apa papa mengenalnya? atau jangan-jangan rekan bisnis papa, " tebak Wina.
Glek.. Karin menelan ludahnya dengan kasar.
" Bagaimana ini, Umar jauh sekali dari harapan mama. "
" Karin! kenapa malah bengong. " seru Wina.
" Mm.. lain kali aja ya Karin kenalkan pada mama sama papa. sekarang Karin buru-buru ada janjian ama temen. " Karin memilih pergi meninggalkan mereka agar tidak di serbu banyak pertanyaan.
*
Karin memarkirkan mercedes-benz nya di depan ruko milik Umar, terlihat restoran sudah ramai dengan pengunjung. Kedatangan Karin menjadi pusat perhatian para pengunjung.
Penampilannya yang mencolok membuat para pengunjung menatapnya dengan kagum. Walau hanya mengenakan kaos dan celana jeans robek-robek tidak mengurangi kecantikannya di tambah dengan sepatu heels membuatnya semampai bak model papan atas.
Pandangan Karin tertuju pada pria yang tengah sibuk melayani para pelanggannya. Langkahnya semakin lebar ingin segera menyapa pujaan hatinya.
" Mbak. " panggil seseorang sambil menepuk bahunya, membuat Karin menghentikan langkahnya dan menoleh.
" Ya. " jawab Karin sembari melepaskan kacamata hitamnya yang bertengger di hidung mancung nya.
" Mbak Karin kan, " tanya Aisha meyakinkan dirinya tidak salah orang.
Karin tersenyum lalu mengangguk.
" Lama gak keliatan mbak. makin cantik aja nih mbak Karin. " Aisha.
Karin hanya tersenyum lebar, dia tidak tau harus berbicara apa pada Aisha, Karin ingin segera menemui Umar tapi merasa tidak enak jika mengabaikan Aisha.
" Mbak udah gak jadi kasir lagi di sini? " tanya Aisha.
" Hah? emm ini mau bantuin jaga kasir. " ucap Karin.
" Oh.. " Aisha.
" Kalo gitu aku permisi dulu yah, mau bantuin, lagi rame ruh. " Karin.
" Iya iya mbak silakan. " Aisha pun masuk kemabli ke dalam rukonya setelah Karin masuk ke restoran Umar terlebih dahulu.
Karin menghampiri Santi yang sedang menjaga meja kasir. " Santi, biar aku yang jaga disini, kamu bantuin yang lain aja. " ucap Karin yang memang sudah kenal dengan karyawan Umar.
" Iya mbak. " jawabnya.
Umar sangat sibuk melayani pelanggannya sampai tidak menyadari kedatangan Karin yang sudah cukup lama berjaga di meja kasir.
" Mbak Karin! " pekik Nisa yang baru menyadari keberadaan Karin. " Mbak udah lama disini. "
" Iya Nis, lumayan.. tapi mas mu masih sibuk aja tuh sampe gak ngeh cewek cantik udah disini dari tadi. " gerutu Karin.
" Hehehe iya tuh mas Umar saking sibuknya ampe gak nyadar kesilauan mbak Karin. " canda Nisa. " Mau aku panggilin mas Umar. "
" Gak usah Nis, biarin aja kasian lagi sibuk. "
" Oh yaudah Nisa ke dapur dulu ya, bantuin masak. "
" Iya Nis. "
Setelah kepergian Nisa, dua pelanggan menghampiri Karin.
" Hai mbak.. " ucap salah satu pria tersebut.
Karin tersenyum menyambut kedatangan pelanggan, " Meja nomor berapa ya mas. " tanya Karin yang mengira pria itu akan membayar tagihannya.
" Boleh minta nomor hape nya gak mba. " ucap pria itu tanpa menjawab pertanyaan dari Karin.
Karin mengernyit heran, " Maksudnya? "
" Mbak cantik banget deh.. kapan kapan jalan yuk. "
" Mas, yang sopan dong, aku ini lagi kerja. " seru Karin.
" Jadi, kalo lagi gak kerja boleh dong kita jalan bareng. "
Karin mulai geram tapi masih ia tahan karena tidak mau membuat risih para pengunjung.
Umar menoleh ke arah meja Kasir saat melihat Santi ikut berkutat di dapur. " Karin. " dengan cepat Umar menghampiri nya.
" Ada yang bisa saya bantu? " ucap Umar pada kedua pria yang sedang berdiri di depan Karin.
" Gak mas, cuma mau bayar aja kok. " jawab salah satu pria itu yang melihat tatapan tajam Umar.
Umar pun mengangguk.
" Kamu gak papa Rin. " tanya Umar setelah kepergian kedua pria itu.
" Gak papa. kamu sih nyuekin aku dari tadi. " Karin mencebikan bibirnya.
" Iya.. maaf sayang, " Umar mengelus pipi Karin.
Karin di buat senang bukan kepalang, pipinya merah merona menerima perlakuan manis dari Umar.
" Kiss dong. " Karin mengerucutkan bibirnya.
" Hus, malu dilihat orang. " Umar mengitari sekitar, dan benar saja, mereka menjadi pusat perhatian para pengunjung.
" Iya.. iya.. " ucap Karin dengan malas.
" Rin, kalo kamu cape biar Santi aja yang jaga. "
" Gak capek kok. "
" Kamu kalo ke sini gak usah dandan napa, cowok-cowok pada ngliatin kamu terus. " Umar memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatinya.
" Aku gak dandan kok ayang beb, cuma pake lip glos aja. "
" Emang udah cantik dari sananya sih, huft.. resiko punya pacar cantik. "
" Hehe.. iya sih. abis aku gak suka kamu di perhatikan banyak lelaki. "
" Lebay deh.. "
" Yaudah tunggu bentar ya, kalo udah sepi ntar kita jalan. gak papa kan nunggu lama. "
" Tapi minta kiss ya. " ucap Karin dengan rayuannya. Betapa susahnya mendapatkan sebuah ciuman dari Umar, jika bukan Umar sudah pasti mereka meminta lebih dari sekedar ciuman.
Sedangkan Umar hanya tersenyum pada Karin.
*
*
*