"Enam bulan," lirih Diana dengan pelan bahkan terdengar ada rasa takut di nada bicaranya.
Sherly yang mendengar itu benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, jantungnya terasa ditikam saat mendengar pernyataan dari adik kandung yang rela berselingkuh dengan suaminya sendiri.
Sakit? Bukan saatnya memikirkan rasa sakit ini, dengan tenaga yang masih tersisa, Sherly menatap Rian dengan tatapan kecewa.
"Ceraikan aku, mas!"
"Tidak! Jangan pernah berharap hal itu akan terjadi!"
Apa yang akan dilakukan Sherly saat Rian tidak mau menceraikannya? Apa yang akan terjadi antara Sherly dan Diana? Sanggupkah Sherly menahan rasa sakit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lujuu Banget, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Sherly
"Kalian masuklah ke dalam," ujar Ayah dengn lembut, dia tidak mau terjadi keributan di sini.
Sherly dan Fahri melangkah duluan yang diikuti oleh Diana dan ayah. Bahkan saat masuk ke dalam, Sherly hanya terdiam tanpa harus mengatakan apa-apa. apalagi melihat tatapan ibu yang bukan mengarah kepadanya, melainkan kepada Diana. Tatapan yang selalu ingin Sherly dapatkan, tatapan penuh kasih sayang yang selalu membuat Sherly iri dengan adik perempuannya itu.
"Diana," lirih Ibu berniat untuk duduk, tetapi ditahan oleh ayah.
Diana yang mendengar itu tampak tidak peduli, dia datang supaya tidak dicap sebagai anak durhaka oleh orang-orang.
"Kenapa selalu aku sih?" kesal Diana sambil mendekat ke arah ibu, dia menatap wanita yang telah melahirkannya itu dengan tatapan malas.
"Diana, kenapa kamu meninggalkan ibu di saat ibu tengah sakit?" Suara Sherly terdengar tetapi tidak dipedulikan oleh Diana, dia benar-benar benci dengan Sherly.
"Jika mbak mau, mbak aja yang merawat ibu. Aku sibuk," jawab Diana tanpa beban membuat Sherly mengepalkan kedua tangannya.
Dia melirik ibu sekilas, di mata ibu hanya ada Diana, apakah dia siap menanggung sakit tersebut. Apalagi atas perlakuan mereka yang membiarkan Diana kembali ke rumah atas semua yag dilakukan Diana kepadanya.
"Ibu mau kamu bukan aku, lagian bukannya kamu anak kesayangan mereka?" sinis Sherly seraya melirik ayah yang hanya menundukkan kepala, tentu saja ada perasaan bersalah menyelinap karena telah membedakan kedua orang itu.
Sedangkan Diana hanya menghela napas pelan, dia sekarang sedang tidak ada tenaga untuk melawan Sherly, walau alasan utamanya adalah takut akan Fahri.
"Aku akan merawat ibu asalkan mas Rian mau menikah denganku!"
Sherly melototkan matanya, ternyata wanita ini masih berharap kepada Rian, padahal pria itu sendiri sangat jelas membuangnya.
"Itu urusan kalian berdua, aku tidak ikut-ikutan! Lagian aku tidak peduli dengan pria itu jadi ambil saja," jawab Sherly dengan santai membuat Diana meliriknya sekilas lalu tersenyum tipis.
"Apa karena ada Fahri di sini?" ejek Diana.
Sherly langsung tersadar jika Fahri memang ada di sini, dia tampak sejenak terdiam lalu tersenyum bahagia.
"Tentu saja, setelah masa iddah selesai, kami akan menikah. Tidak apa-apa bukan?"
Diana menatap Sherly dengan kesal, dia tidak terima jika Sherly lebih dahulu menikah daripada dirinya. Padahal dia yang membuang Fahri, tetapi kenapa dia tidak rela jika Sherly mendapatkan Fahri?
Kenapa Sherly selalu bernasib baik? Sedangkan dirinya selalu sial?
"Mbak tidak bisa menikah begitu saja."
"Kenapa tidak bisa? Bukankah kalian sudah bercerai? Lagian Fahri juga mau menikah denganku, iya 'kan?" Kali ini pandangan Sherly beralih menatap Fahri yang sejak tadi hanya terdiam kaku seraya mencerna setiap ucapan Sherly.
"Fah?" panggil Sherly membuat pria itu tersadar dan menganggukan kepala dengan antusias. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
"Apa mbak enggak malu menikah dengan mantan suami adiknya sendiri?"
"Kamu sendiri emang malu merebut suami kakaknya sendiri?" balas Sherly membuat Diana tidak bisa mengatakan apa-apa, karena ini semua berawal dari dirinya.
Dirinya yang begitu terobsesi dengan Rian sehingga tidak ingin memiliki Rian seutuhnya, tanpa sadar jika semua itu merupakan awal kehancuran dirinya. Tetapi Diana tidak akan menyerah, dia tidak akan membuat hidup Sherly tenang dan dia akan menikah dengan Rian.
"Ayah sudah mendengar semuanya bukan? Jadi aku tidak perlu mengulangnya!"
"Eh? Iya," ucap Ayah dengan pelan.
Dia tidak akan melarang Sherly menikah dengan Fahri karena dia juga telah gagal menjadi seorang ayah. Dia gagal memberikan kebahagiaan untuk Sherly dan sekarang dia gagal untuk mengajari Diana. Dia juga tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi.
"Mbak tunggu undangan pernikahanmu dengan Rian," ejek Sherly karena dia yakin Rian tidak akan mau menikah dengan Diana.
Setelah mengatakan hal barusan, Sherly dan Fahri segera berpamitan pergi dari sana, dia juga sudah malas berdebat dengan Diana, lagian ada ayah di sana untuk merawat ibu, setelah menjemput Amelia dia juga akan kembali ke sana.
"Sherly."
Sherly menghentikan langkah kakinya saat sebuah suara memanggil namanya, tentu saja wanita itu mengerutkan kening karena Fahri tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit dimengerti oleh Sherly.
"Ada apa? Aku harus menjemput Amelia karena sebentar lagi dia akan pulang," ujar Sherly membuat Fahri menjadi kaku sendiri.
Dia ingin menanyakan ucapan Sherly barusan, apakah wanita itu serius atau hanya sekedar drama karena ada Diana di sana, dia harus tahu! Tapi ... jantungnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama.
"Itu ...."
"Kenapa?"
"Kamu serius dengan ucapanmu tadi?" Fahri mengalihkan pandangannya, dia rasa pipinya tengah memerah karena baru saja menanyakan hal barusan.
Sedangkan Sherly yang tersadar dengan perubahan Fahri hanya tertawa pelan, dia sudah mengerti maksud Fahri barusan.
"Tenang saja, jika kamu tidak mau menikah denganku, aku tidak mempermasalahkan hal itu. Tetapi, aku hanya memikirkan bunda yang begitu baik kepada kami," jelas Sherly membuat Fahri sedikit tertegun.
Jadi ... Sherly mau menikah dengannya karena bunda? Bukan karena dia juga menyukai ... memang tidak mungkin Sherly menyukai Fahri.
"Ah, aku mau menikah denganmu," ujar Fahri setelah beberapa menit terdiam.
Setidaknya saat mereka menikah, dia akan lebih leluasa untuk mendapatkan hati Sherly, dia harap cepat atau lambat Sherly akan jatuh cinta kepadanya.
Mereka mulai masuk ke dalam mobil, selama di perjalanan, benar-benar tidak ada percakapan, Sherly malah larut dalam pikirannya. Bagaimana tidak? Dia memikirkan keputusannya untuk menikah dengan Fahri, apa keputusannya ini sudah tepat?
Jujur saja, dia masih sedikit trauma jika menikah lagi, tetapi dia serasa tidak tega menolak permohonan bunda, dia benar-benar berada di posisi serba salah.
"Amelia!" teriak Sherly saat melihat Amelia yang berlari menuju gerbang.
Wanita itu bahkan tersenyum lebar seraya memeluk Sherly, dia sangat bahagia karena ada Fahri juga yang menjemputnya.
"Mel, bunda mau tanya," ujar Sherly saat mereka sudah sampai rumah dan Fahri berpamitan untuk pergi karena dia ada pekerjaan yang mendadak.
"Kalo om Fahri jadi ayah Amelia. Amelia senang enggak?" tanya Sherly dengan hati-hati karena dia tidak mau karena keegoisan dirinya, Amelia yang menjadi korban. Dia tidak mau hal itu terjadi.
"Mau aja, om Fahri orangnya 'kan baik," jawab Amelia dengan polos membuat Sherly tersenyum lega, dia tidak menyangka jika Amelia akan menerimannya.
"Jadi ... Amelia punya dua ayah?" cicit anak itu seraya melihat dua jarinya, untung saja saat itu Sherly tengah keluar membeli sayuran.
Amelia memang masih SD, tetapi karena situasi ini, dia menjadi paham akan beberapa hal, dia tahu jika Rian dan Sherly telah bercerai, tetapi dia bahagia karena Rian mau menemaninya jalan-jalan.
"Sekarang ... Amelia ada ayah baru," cicitnya lagi seraya menatap lurus ke depan.
...****...
Untuk semuanya, terima kasih sudah mau membaca cerita ini, maaf jika updatenya cuma satu bab satu hari.
Jujur aku lagi agak sibuk karena belajar untuk UTBK-SNBT. Agak sulit rasanya membagi waktu ditambah ada beberapa masalah lain:)
Aku minta doa semuanya ya, semoga aku lolos SNBT dan mendapat warna biru saat pengumumannya nanti.
Terima Kasih♡
jalang ini dah bunuh org dgn mencelakai HBS it minta maaf dan selesai gK di penjara...anjing GK...y anjing bgt lah....anjingggggggggggg
bangettt