NovelToon NovelToon
Terjerat Pesona Ibu Tiri

Terjerat Pesona Ibu Tiri

Status: tamat
Genre:Ibu Pengganti / Cinta Terlarang / Pihak Ketiga / Ibu Tiri / Tamat
Popularitas:363.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Devy Meliana Sugianto

Benci jadi Cinta. Mungkin itulah ungkapan yang bisa menggambarkan perasaan Dimas. Namun bagaimana bila cinta yang tengah bersemi itu datang di saat yang tidak tepat?? Bahkan bercokol dengan sangat dalam hingga menutupi semua akal sehat, logika, dan dosa.

Hasrat yang begitu pekat teraduk dengan begitu indah dalam naungan gelora asmara.

Bahagia namun khawatir.
Senang namun takut.

Ketakutan dan juga kekhawatiran itu seakan tak lagi berarti saat geliat yang terjadi membakar gairah sampai menghanguskan nurani.

Cinta yang muncul di kala keduanya berstatus sebagai ibu dan anak. Cinta yang dianggap tabu oleh masyarakat. Cinta terlarang yang tak bisa mereka gapai.

Batasan norma menjadi penghalang bagi hubungan keduanya. Luna sang ibu tiri harus memilih antara mempertahankan rumah tangganya, atau memilih cintanya?

"Aku akan membuatmu bahagia, Lun. Meski itu berarti harus membuat semua dunia membenciku." Tatapan lembut Dimas membius Luna, di antara tetesan air shower, pandangan mereka saling mengunci.

"Dikucilkan pun aku tak peduli, Mas. Asal kamu selalu bersamaku." Luna mencium bibir Dimas lekat.

Sebuah Cinta yang muncul di saat yang tidak tepat, apakah bisa membawa mereka pada kebahagiaan sejati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devy Meliana Sugianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hubungan Terlarang

Surya hendak mendapatkan pelepasannya, ia menyibakkan rambut panjang Luna agar bisa mengecup pipinya, namun ...

"Apa ini, Luna?? Bekas merah apa ini??" Surya melihat adanya kissmark di leher Luna. Padahal Luna sudah menutupinya dengan rambut. Oh kenapa masih kelihatan juga??

Wajah Luna memucat, tak mungkin ia mengaku pada sang suami kalau ia sering bermain di belakang suaminya, bermain dengan anak tirinya.

"Ini?? Memang kenapa dengan leherku, Mas?" Luna justru berpura-pura tidak tahu. Surya mengusap noda merah biru keungunan, kiss mark pemberian Dimas.

"Ini seperti ..."

"Ah ... iya!! Ini pasti karena tadi aku kejatuhan tongkat pel, Mas. Makanya lebam." Luna berseru, berbohong.

"Tongkat pel??"

"Iya, tadi Luna bersih-bersih, soalnya Bibik Jaenap pulang kampung."

"Ya ampun!! Kenapa mesti bersih-bersih sendiri?? Kamu bisa memanggil pembantu infal, atau cleaning servis? Sampai terluka begini." Surya mengecup pundak Luna lembut. Tak ingin melihat istrinya terluka.

"Ya ampun Mas. Cuma ngepel saja, kalau bukan karena tadi ada Luna berjongkok untuk mengambil obat pel, tongkatnya juga tak akan mungkin kena ke Luna. Mas nggak usah khawatir ya."

"Iya."

Luna tersenyum, ia bisa bernapas lega karena suaminya percaya. Memang kiss mark itu mirip luka lebam, jadi mudah bagi Luna untuk membelitkannya sebagai luka benturan benda tumpul.

"Ayo dilanjutin lagi Mas. Dingin nih, lagi pula nanggung sudah separuh jalankan." Luna mengalihkan pembicaraan.

"Iya."

Surya kembali menghujam Luna. Luna bersandar pada dinding kamar mandi. Ia bernapas lega karena Surya percaya dengan alibinya.

[Dasar Dimas! Besok lagi awas kalau ninggalin jejak.] batin Luna kesal.

.

.

.

"Sudah pulang, Pa??" Dimas berpura-pura tidak tahu tentang kepulangan Surya.

"Iya. Kamu baru pulang kuliah?"

"Yup."

"Papa sudah makan malam?"

"Mama baru masak. Padahal sudah papa bilang untuk tidak memasak karena Jaenap pulang kampung. Nggak ada yang akan cuci piring kotor. Tapi mama kamu nekat. Katanya papa baru saja pulang, jadi harus makan makanan rumahan yang bergizi." Surya menunjuk Luna yang sibuk memasak sup ayam kampung di dapur. Terlihat cantik dengan apron berwarna pink dan rambut yang dikuncir ala ekor kuda.

"Dimas bantuin, Ma." Dimas beranjak ke dapur, Surya masih menonton televisi sembari sesekali membetulkan kaca mata bacanya.

"Kapan kamu keluar, Dim?"

"Tadi, pas mama usir Dimas."

"Ck, memangnya kamu mau ketahuan Papamu?"

"Ya enggak. Tapi sedih juga rasanya kalau harus diam-diam bermain di belakang papa. Lebih baik mama ceraiin papa dan menikah denganku," ucap Dimas, perasaannya tulus, ia menggenggam tangan Luna dengan erat sementara sorot matanya menembus ke iris mata Luna dengan penuh kesungguhan.

"Maaf, Dim. Aku nggak bisa."

"Kenapa?? Kalau memang mama nggak pernah mencintai papa kenapa harus takut untuk meninggalkannya??" Dimas terlihat kesal, habis dia cemburu karena Surya menyentuh kekasihnya.

Luna berhenti mengiris wortel, ia menaruh kembali pisau dan menoleh pada Dimas.

"Memangnya kalau aku sudah bercerai dengan Mas Surya kamu mau menikahiku?? Kamu tak peduli dengan perasaan papamu? Kamu tidak takut dengan suara-suara sumbang orang?? Hubungan kita ini bukanlah hubungan yang wajah Dimas. Hubungan kita ini tabu, bahkan untuk sekedar dibicarakan!! Kamu siap dengan konsekuensinya?? Temanmu, tetangga, keluarga besar, dan semua circle mu akan menghakimi kita, Dimas. Mereka akan mempergunjingkan amoralitas kita sebagai pasangan ibu dan anak yang menjalin hubungan gelap di belakang papanya." Tutur Luna. Ia menjabarkan semuanya, meski mereka tenggelam dalam gelombang cinta tetap saja mereka tak sebaiknya bersam.

"I dont care!! Aku tak peduli apa kata orang, Luna. Aku mencintaimu dan aku akan memperjuangkan hubungan kita." Dimas mengambil pisau dan membantu memotong wortel.

"Dim ... kamu jangan gegabah!! Jangan berbuat macam-macam!!" Luna mencegah Dimas berlaku implusif. Luna masih membutuhkan Surya untuk kebebasan sang ayah, sidangnya masih terus berlangsung. Dan Luna sendiri juga masih tidak yakin dengan hubungan mereka. Seperti yang tadi Luna bilang, tak ada kepastian dari hubungan mereka berdua karena memang melanggar norma dan pandangan masyarakat.

"Lantas apa maumu? Kamu mau aku pergi mencari wanita lain gitu?" selah Dimas. Dimas sangat mencintai Luna dan ingin segera menyudahi permainan kucing-kucingan dengan papanya. Namun Luna menolak seakan-akan dia yang tak pernah serius mencintai Dimas. Dimas menjadi lelah dengan hubungan mereka meski pun Dimas tahu kalau ucapan Luna tidak sepenuhnya salah.

"Dim ..." Luna mendengus, lalu tak melanjutkan ucapannya.

"Kita bisa pergi ke luar kota Luna. Membangun keluarga kecil yang bahagia. Kita akan menikmati indahnya kehidupan dengan penuh luapan cinta tanpa takut ketahuan seperti sore tadi." Dimas mencoba menggenggam tangan Luna namun wanita itu menolaknya.

"Kenapa?"

"Papamu datang." Luna menunjuk Surya yang datang dengan wajah heran.

"Kalian bicara apa, hm?"

...-- BERSAMBUNG --...

Bagi-bagi like dan juga commentnya donk readers yang budiman. Dukungan kalian bikin sy semangat baca. Ada masukan tidak untuk novel ini?? Tolong diskusikan ya ❤️❤️ makasih, happy Reading guys.

1
Suleman Hasan
baca atau apa ini😄😄
Suleman Hasan
tolong d baca ulang..luna sudah melayani surya tanpa nafsu🙏
Arsyila Syafika
🤭😍😍
echa purin
👍🏻
ayu cantik
bagus
Ninik Srikatmini
hadeeeeh anak tiri luknut..
Ninik Srikatmini
😇😇😇
Ninik Srikatmini
🤨🤨🤨
Ninik Srikatmini
pst anak tirimu lun.. ☺
3C
iya bener kata Karina, Luna wanita munafik yg sangat menjijikan
3C
ini jejak ku..
Yulay Yuli
orang suruhan Surya
Yulay Yuli
ko w ga iklas y Luna sama Surya. walaupun cara Dimas salah 😕
Yulay Yuli
cinta pertama luna kah??? Dimas
Siti Nina
oke
habibulumam taqiuddin
alhamdulillah. yg penting Luna dan Dimas bahagia.
namia khira
luar biasa /Good/
Erna Fadhilah
alkhamdulillah🤲🤲🤲 akhirnya luna dan dimas hidup bahagia
mia guspiami
terimakasih thor karyanya👍👍semoga semakin sukses
🌸Ar_Vi🌸
lanjuut..
lebih baik luma sembuh dan mereka berpisah.. jalani hidup masing2..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!