Kisah seorang wanita bernama Kiko, karena trauma masa lalu nya membuat Ia jijik jika di sentuh oleh seorang pria.
Lebih parahnya akan membuat Ia panik, gemetar bahkan Pingsan.
apalagi Pria itu Tampan.
kemudian Ia bertemu dengan seorang Pria Tampan dan anehnya Ia bisa bersentuhan langsung dengannya, Karena hal itu lah yang membuat Kesalah Pahaman ini Terjadi.
Kiko tidak tahu bahwa Pria tersebut adalah Pria mapan, tampan dan berhati dingin. banyak di Gilai oleh banyak kaum hawa.
Pria tersebut tak lain bernama Dion, pengusaha muda sukses yang memiliki kuasa serta segalanya.
ikutilah Kisah mereka, jangan di lewatkan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imelda Agustine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman Pertama
"begini, sahabatku itu akhir akhir ini jantungnya suka berdebar saat dekat dengan seorang pria"
"mungkin dia sedang jatuh cinta" sahut Riko menebak
"tidak mungkin, pria itu sangat dingin dan juga tidak mungkinlah"
"perasaan seseorang siapa yang tahu", sahut Riko membuatnya Kiko berpikir dan menghela nafas sejenak
"tapi dia benar sudah tahu kalau bahwa pria itu tidak mungkin membalas perasaannya" sambung Kiko merasa lelah
"itu ceritamu sendiri ya?" tanya Riko
"eh, bukan" Kiko mengelak
"sepertinya itu ceritamu", tegas Riko, "apa pria itu yang sedang tinggal dirumahmu?"
Kiko mengangguk pasrah, "iya"
Deg
jantung Riko serasa sakit namun tak berdarah, ada getaran hebat jauh menusuk disana, "lalu kenapa kau sangat yakin kalau dia tidak akan membalas perasaanmu?"
"dia pasti tidak akan pernah menyukaiku"
"kau itu cantik dan juga baik hati, dia tidak mungkin akan mengecewakanmu kecuali dia itu tidak normal", celetuk Riko sambil meneguk bir nya
"dia memang tidak normal"
Uhuk Uhuk, Riko langsung tersedak.
"apa katamu barusan?"
"kau mungkin tidak percaya, tapi dia memang bukan pria normal. dia juga sudah mengakuinya"
"ah syukurlah" gumam Riko yang terdengar
"maksudmu apa sih?"
"ya syukur aja, aku kan jadi punya kesempatan untuk mendekatimu"
"aku semakin tidak mengerti apa maksudmu?", Kiko mengerut kening bingung
"aku menyukaimu" ucap nya terus terang membuat Kiko membelalak kaget
Kiko tak menyangka bahwa pria didepannya ini adalah pria yang suka berterus terang, terlebih malah mengutarakan perasaannya saat Ia sendiri mengatakan kalau menyukai pria lain.
"apa yang kalian bicarakan, sepertinya asik sekali?"
Kiko keget pasalnya pria yang baru saja Ia bicarakan tiba tiba sudah menarik kursi lalu duduk disebelahnya.
"Oh Tuan Dion"
Kiko panik karena tidak menyadari kedatangan Dion, dan seolah olah Dion sudah berdiri disampingnya dan mendengar percakapan mereka berdua sedaritadi.
"Oh, sejak kapan Tuan datang?" tanya Kiko memastikan
"kenapa kau kaget aku ada disini?" ketus Dion masih dengan logat dinginnya, "aku baru saja datang lalu melihat kalian sedang asik berduaan"
"ah buka begitu kok", sahut Kiko gagap
Riko ingin menuangkan bir juga digelas milik Dion tapi dengan sigap Dion menolak, "aku tidak minum"
"kenapa kau terus minum, berhentilah!" Dion mencoba merampas gelas milik Kiko tapi tak berhasil karena dengan cepat Kiko meneguk dan menghabiskannya
Bukk
Kepala Kiko membentur meja karena Ia sudah tak sadar karena terlalu mabuk.
"mesum"
"Kiko"
mereka bersamaan berteriak kaget melihat kondisi Kiko yang tak sadarkan diri.
hendak Riko ingin memberikan saputangannya untuk menjadi alas untuk Kiko tapi dengan sigap Dion melangkah terlebih dahulu dengan memberikan telapak tangannya sendiri untuk menjadi sandaran.
"kelihatannya Anda sangat dekat dengan Kiko ya?" tanya Riko
"hm, bagaimana ya? kita memang sangat dekat, dan memang begitu dekat sekali", Dion menyunggingkan bibir, "lalu bagaimana denganmu, kelihatannya kalian baru saja kenal dan sudah sok akrab?"
"Oh ya, kalau begitu bolehkah saya memberikan sedikit saran?"
"saran?"
"sebaiknya Anda mulai sekarang jangan terlalu dekat dengan Kiko"
"cih, apa pedulimu. kau itu baru saja masuk dalam kehidupannya tapi sudah berani mengatur hidupnya" geram Dion
"ha ha saya tidak mengira Tuan akan selicik itu", ucap Riko berhasil mengalihkan pandangan Dion dan membuatnya kesal
"apa maksudmu?"
"ya, mengaku dirinya tidak normal demi tinggal dengan seorang wanita, apa itu bukan licik namanya?"
"hei, kau jangan asal bicara. aku tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu"
"saya tidak asal bicara", menunjuk Kiko, "dia sendiri yang mengatakannya pada saya"
"sialan, wanita mesum ini!" gumam Dion kesal lalu menarik tangannya kembali hingga..
Bukk
Kiko membentur meja lagi dan kali ini mengaduh kesakitan.
"aduhh", Kiko memegangi kepalanya tapi lagi lagi Dion tidak tega dan memberikan telapak tangannya kembali untuk menjadi sandaran.
"lalu kau mau apa jika aku benar telah menipunya?" tanya Dion masih dengan nadanya yang dingin
"saya menyukainya, jadi tolong secepatnya keluar dari rumah Kiko"
perkataan Riko menusuk bagai jantung Dion disambar petir
"apa hak mu?", balas Dion, "kau bukan kekasihnya, dia tidak mungkin menyukai pria sepertimu"
"saya sudah mengatakan perasaan saya padanya, saya hanya perlu menunggu jawabannya. jadi saya minta, ketika kita sudah resmi jadian. Anda harus secepatnya angkat kaki dari rumah Kiko"
"kau!" Dion mengepalkan tangan hendak memukul pria menyebalkan yang ada dihadapannya tetapi Ia urungkan
karena Kiko sepertinya sudah jatuh tertidur nyenyak di telapak tangannya, dan tak ingin membangunkan wanita yang dikasihinya.
"dengar ya! sampai kapan pun Kiko tidak akan pernah menyukai pria membosankan sepertimu!" Dion menggertakkan rahangnya penuh amarah
"ya kita lihat saja nanti siapa yang akan menang", sahut Riko penuh yakin.
Riko adalah pemuda yang penuh pengalaman soal wanita, jadi ketika mendekati wanita polos seperti Kiko, dia merasa hal itu sangat mudah baginya.
"cih, kau percayadiri sekali", decih Dion lalu mengangkat Kiko yang tertidur agar naik ke punggungnya.
"biar saya yang mengantarkannya pulang!" pinta Riko ingin mendekati dan menyentuh pundak Kiko
"jangan sentuh!", bentak Dion hingga orang seruangan menoleh padanya, "dia tidak menyukai jika dirinya disentuh oleh pria, apalagi sepertimu"
eh, maksudnya apa? kenapa dia tidak suka disentuh oleh pria.
Riko hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung ketika pria dan wanita yang disukainya sudah berlalu pergi dari hadapannya.
****
"ya Tuhan, kenapa kau berat sekali sih", cetus Dion lalu menurunkan tubuh Kiko diatas ranjangnya dengan kasar hingga Kiko menggeliat tanpa sadar.
"Aaa pusing", ucap Kiko parau masih tanpa sadar
"cih, makanya jangan banyak minum jika kau gampang mabuk. merepotkan sekali"
Dion membantu Kiko yang tak sadar membuka sepatu hak tingginya, memberikan kepala Kiko bantal untuk menjadikannya alas.
lalu Dion juga menarik selimut untuk menghangatkan tubuh Kiko yang tampak dingin juga kelelahan, terlebih dia mabuk.
Dion mendekatkan wajahnya melihat wajah Kiko yang begitu indah nan polos saat tengah tertidur, layaknya orang tanpa Dosa
"di lihat lihat kau cantik juga ya!" ucap Dion sambil mengusap anak rambut dari wajah Kiko.
Dion melirik bibir merah basah milik Kiko yang telah lama menggodanya, Ia ingin mendapatkannya sekarang tetapi Ia mengurungkan niatnya karena Ia tak mau menjadi pria brengsek yang suka mencuri kesempatan dalam kesempitan.
"Jangan pergi!", ketika itu pula tanpa sadar Kiko mengalungkan lengannya dileher kokoh milik Dion.
Dion hanya tersenyum menyeringai, terbesit hal licik dalam otaknya.
"jangan salahkan aku!"
Dion langsung mendekatkan dirinya, menyatukan bibir basah miliknya dengan bibir merah milik Kiko.
ciuman itu dalam dan menuntut, Dion merasakan aroma alkohol dalam ciuman pertamanya itu.
tentu Ia tidak ingin seperti ini, mencurinya diam diam seperti ini tapi apa mau di kata. Kiko telah membangkitkan hasratnya.
****