NovelToon NovelToon
Mommy, My Angel

Mommy, My Angel

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Hamil di luar nikah / Single Mom / Cinta Terlarang / Chicklit / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: uma_bhie

Kisah ini menceritakan tentang perjuangan seorang ibu tunggal yang, memberikan kehidupan layak kepada putrinya. Menjadi tembok kokoh atau karang di lautan yang bersedia menghalau ombak juga badai yang akan menghantam putrinya.

Sosok ibu yang rela terluka dan menahan rasa sakit — demi sang putri. Rela berdiri tegak di ring pertarungan demi — mewujudkan impian putrinya.

Rela kehilangan salah satu anggota tubuh dalamnya, agar mendapatkan materi demi — memenangkan hak asuh putrinya.

Hingga akhirnya ia pun pergi selamanya, meninggalkan sepasang bola mata indah untuk putrinya.
Juga kenangan berharga penuh luka dan perjuangan.

"Ingatlah' pesan mommy. Jadilah, wanita kuat, mandiri dan jaga lah' selalu kehormatan yang berharga dalam diri kamu, hingga kelak seorang pria meminta dengan sebuah perjanjian dengan menyebut nama Tuhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uma_bhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

"Apa kamu serius ingin kembali, sekarang?" Austin begitu terkejut, saat mendapatkan kabar dari perawat yang menjaga Sandra. kalau wanita satu anak itu ingin kembali ke pulau terpencil.

Austin yang sedang berbincang-bincang dengan sang nenek pun, segera berlari ke kamar perawatan Sandra. Dimana wanita itu sudah bersiap untuk segera keluar dari rumah sakit.

"Saya tidak bisa terlalu lama di kota. Saya memiliki orang tua renta di pulau." Sandra menjelaskan alasannya ingin segera kembali kepada pria penyelamatnya.

Namun yang sebenarnya, Sandra tidak ingin terlalu sering bertemu dengan keluarga masa lalunya dan mengetahui tentang sang putri. Sandra terlalu takut membayangkan keluarga kaya itu mengambil alih hak asuh putrinya. Apa yang tidak mungkin mereka lakukan dengan segala kekuasaan keluarga itu.

"Apa karena pria, itu?" Tanya Austin mencoba menebak alasan Sandra ingin segera kembali.

Sandra tersentak mendengar pertanyaan Austin, ia tersenyum dan menggeleng pelan, menyangkal pertanyaan pria itu meskipun itu benar adanya.

"Tidak? Saya hanya terus terpikir dengannya. beliau sudah renta juga sakit-sakitan." Sandra menjelaskan keadaan nenek Grace agar pria rupawan di depannya bisa memahaminya.

Austin hanya bisa menarik nafas pasrah, meskipun berat untuk melepaskan wanita yang sudah mencuri perhatiannya itu, bersikeras untuk kembali. Austin tidak memiliki kuasa atas privasi wanita di depannya ini.

"Baiklah! Beruntung keadaan kamu sudah pulih begitu pun dengan baby, Aurora," timpal Austin dengan raut wajah tidak bersemangat.

"Terimakasih!" Seru Sandra dengan senyuman tulus.

Austin hanya bisa memalingkan wajahnya, ia begitu tidak sanggup melihat senyum indah wanita di hadapannya ini.

"Bolehkah kamu tidak tersenyum padaku?" Celetuk pria itu dalam hati.

Pria itu terkejut saat Sandra mengulurkan sebuah amplop coklat kepadanya, ia menatap amplop coklat itu dengan dahi berkerut dan menatap Sandra penuh tanya.

"Biaya selama saya di rawat di sini. Kata perawat biayanya segini. Beruntung saya memilikinya tanpa diduga," pungkas Sandra dengan kekehan lirih.

Austin mengetatkan kedua garis wajahnya dan menatap Sandra begitu tajam, apa wanita di depan ini tidak mengetahui identitasnya?"

"Tidak perlu!" Ketusnya sambil membalikkan badan.

"Tapi …."

"Simpanlah! Aku tidak memerlukannya," ucapnya kembali ketus.

"Saya merasa …."

"Bersiaplah, saya akan mengantar kamu!" Titah pria itu dengan wajah begitu kesal.

"Apa maksud an …." Perkataannya kembali terpotong saat melihat pria baik hati itu sudah keluar dari kamar pasien yang ia tempati satu Minggu ini.

"Dia kenapa?" Tanya Sandra dengan wajah bingung dan kembali menyimpan amplop berisi uang itu ke dalam tas lusuhnya.

"Setidaknya, ini cukup untuk kembali ke pulau dan membuka usaha kecil-kecilan," gumam Sandra dengan niat dan tekad akan bangkit dari keterpurukannya demi sang buah hati.

"Kita mau kemana?" Sandra berjalan pelan di belakang pria berpostur tubuh tegap dan sempurna itu. Sedangkan pria yang mendapatkan pertanyaan masih nampak kesal. Wajah tampannya terlihat mengkerut cengkel.

"Mengantarmu," sahutnya singkat.

Sandra memajukan bibirnya dan berusaha berpikir. Putrinya Aurora berada di gendongan seorang perawat wanita yang berjalan di sampingnya.

"Kenapa kita harus melewati lift dan menuju ke atas? Bukankah seharusnya kita ke lantai dasar?" Cerca Sandra yang begitu penasaran.

Sandra tampak masih mengerucutkan bibirnya, yang berhasil membuat tuan muda Cooper semakin frustasi. Ia sejak tadi memperhatikan bibir ibu satu anak itu melalui dinding lift yang begitu mengkilap dan mampu menangkap pantulan begitu jelas.

"Kenapa dia harus melakukan itu?" Ucap pria itu ketus.

"Apa?" Sahut Sandra tiba-tiba.

"Tidak!" Jawab Austin dengan salah tingkah.

Pintu lift terbuka, Austin dan Sandra segera keluar di ikuti oleh beberapa pengawal bertubuh besar dan beberapa perawat wanita di belakang mereka.

"Kenapa kita kesini?" Tanya Sandra kembali saat berada di rooftop rumah sakit yang terdapat tanda khusus diperuntukkan untuk pesawat pribadi atau helikopter.

"Bukankah kamu ingin segera pulang?" Tanya Austin.

"Iya! Tapi kenapa kita harus kesini?" 

"Kita akan menggunakan, itu." Austin menunjukkan sebuah kendaraan udara merupakan helikopter yang masih berada di udara.

"Menggunakan itu?! Sahut Sandra tidak percaya dengan ekspresi tercengang dan melongo.

"Apa semua orang kaya akan berbuat semau, mereka?" Batin Sandra bertanya-tanya.

"Padahal aku bisa kembali, menggunakan kendaraan laut," batin Sandra.

……

"Biar saya memegangnya!" Pinta Austin saat mereka sudah berada di atas helikopter yang siap terbang itu.

Austin bisa menangkap raut wajah tegang Sandra saat berada di ketinggian.

"Ternyata kamu ketakutan ketinggian, rupanya." Austin terkekeh saat melihat wajah pucat Sandra.

"Entahlah, tapi saya begitu ketakutan," sahut Sandra yang memejamkan matanya erat dan mencengkeram sabuk pengamannya dengan kuat.

"Jangan takut semuanya akan baik-baik saja." Austin mencoba menenangkan Sandra dengan menggenggam salah satu telapak tangan lembab wanita di sampingnya.

"Percayalah kepadaku," lanjut Austin kembali.

"Tenanglah," ucap Austin begitu lembutnya.

Sandra pun mulai terlihat tenang dan tubuhnya sedikit rileks. Namun ia tidak melepaskan genggaman tangan Austin, ia bahkan membalas genggaman pria itu begitu erat hingga membuat ruas jari pria itu lecet.

Austin hanya bisa menikmatinya dengan terus memandangi wajah rupawan wanita itu dan memegang baby Aurora di sebelah tangannya begitu erat.

Tidak lama kemudian, Austin menarik lengan Sandra saat wanita itu mulai terbawa suasana dan akhirnya Sandra pun tertidur.

Cuaca begitu cerah, membuat perjalanan udara mereka lancar dan menyenangkan bagi seorang tuan muda Cooper.

Bisa merangkul dan merasakan kehangatan tubuh wanita yang membuatnya tertarik.

Tanpa segan-segan, Austin mendaratkan kecupan di puncak kepala Sandra berulang kali dengan penuh hati-hati dan kelembutan.

Senyum tampan pria itu tidak hentinya terlihat di wajahnya. Rasa kesalnya kini berganti kebahagiaan, karena bisa sedekat ini dengan wanita yang mulai mencuri perasaannya.

"Andai aku menghalanginya kembali, mungkin aku tidak akan bisa merangkul dan mengecupnya seperti ini," gumamnya dan sekali lagi mendarat kecupan di puncak kepala Sandra.

"Oh senangnya!" Selorohnya pelan dan raut wajah bahagia.

…….

"Bagaimana? Apa kalian sudah mengambil sampel darah bayinya?" Pertanyaan berasal dari sosok wanita anggun yang duduk di sebuah sofa tunggal mewah di salah satu ruangan yang begitu tampak elegan.

"Sudah nyonya," sahut pria berjas putih dengan tubuh tegang dan mimik wajah ketakutan.

"Bagaimana hasil?" Tanya nyonya Louis.

"Hasilnya akan keluar esok hari nyonya," jawab pria yang merupakan dokter pribadi keluarga Loius.

Tatapan wanita arogan itu menjadi kelam dan tidak terima dengan perkataan dokter pria itu.

"Aku menginginkannya nanti malam," sela sang nyonya besar Louis dengan wajah arogannya.

Sang dokter hanya bisa tercengang dengan keinginan nyonya besar di depannya ini.

Tidak mungkin ia menyalahi aturan dalam dunia medis. Hal normalnya menunggu tes DNA adalah esok hari atau bisa saja Minggu depan.

"Tapi …."

"Aku tidak ingin tahu, aku menginginkan jam 7 nanti!" Titah nyonya besar Louis dengan nada arogannya.

1
Mawardah Rizki
kapan ini kak belum up kisah pangeran dan Aurora nya penasaran dengan cerita Nya 😭
Ajang Edi
kok nggak ada
Nurul Huda
Lumayan
Sri Muryati
Luar biasa
Sri Muryati
Lumayan
Agustina Kusuma Dewi
Wis..nang kene disik wae lah..

krn nunggu aurora n pangeran e..
blm kunjung up
Agustina Kusuma Dewi
widih..
kog blm ada kabar nih..
mulai upnya..
jadi penasaran gemessss
Agustina Kusuma Dewi
hmmmmm
mantep tenan
Agustina Kusuma Dewi
hiihhssss... melting banget pangeran
Agustina Kusuma Dewi
surat nikah negara
Agustina Kusuma Dewi
makain jangan sok sok an aurora
lo buta ta
tp sok mo nolong
bikin susah org tua saja
suruh diam sok bgt bantu
tuh lihat ulahmu bikin mommy
malah jadi moster

nurut napa sih
jd geram juga gue, sama aurora kie

kak uma maaf ya, lo bikin emosi jg sih..
hehhehe..
membawa semanagt juang para mak rempyong kie..ke sandra go girl
Agustina Kusuma Dewi
waduh gawat hare
Agustina Kusuma Dewi
enak yo to
Agustina Kusuma Dewi
malah mantu luweh edian..
tp asyik
bisa menjaga miliknya seutuhnya
Agustina Kusuma Dewi
yeyyeyeue
Agustina Kusuma Dewi
mommy q, my moster angel
Agustina Kusuma Dewi
hayahhhh
108 / 109 sih
Agustina Kusuma Dewi
rasakno akan menerkam dan diterkam
Agustina Kusuma Dewi
oh my..anaknya wong sugeh kah
Agustina Kusuma Dewi
kapuokmu kapan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!