Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.
Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.
Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.
Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.
Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?
Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Contekan Gratis
Hari ini adalah jadwal ulangan harian matematika materi matriks. Hukumnya sudah pasti mutlak: tidak boleh ada yang mencontek.
Jangankan saat ulangan, di hari biasa pun ketahuan melirik lembar jawaban teman bisa berujung fatal. Kertas ujian disita dan diberi nilai nol besar tanpa ampun.
Di pojok belakang dekat jendela, Arka menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Ia memijat pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut nyeri.
Kepalanya benar-benar mubeng alias pusing tujuh keliling. Matanya dipaksa menatap barisan angka dan rumus rumit di lembar soal kertas ujiannya.
Sebagai atlet yang terbiasa menggunakan kekuatan fisik dan strategi lapangan, logika matematika di atas kertas seperti ini adalah musuh terbesarnya.
Lembar jawabannya masih bersih. Hanya terisi nama, kelas, dan nomor absen yang ditulis dengan tingkat kerapian maksimal.
Tuk.
Sebuah bunyi ketukan pelan yang sangat halus mendadak terdengar dari arah lantai di samping kakinya. Arka refleks menurunkan pandangannya.
Sebuah gumpalan kertas kecil berukuran sebesar ibu jari mendarat dengan mulus tepat di bawah kolong mejanya. Arka tidak langsung bergerak.
Ia melirik sekilas ke arah depan. Pak Samsudin saat ini sedang memunggungi barisannya karena sibuk menegur seorang murid di barisan depan.
Setelah dirasa aman, Arka mengalihkan pandangannya ke samping untuk mencari sumber pelempar kertas tersebut. Benar saja.
Di barisan seberang yang hanya berjarak satu lorong sempit darinya, Lintang sedang duduk dengan posisi menopang dagu.
Gadis mungil itu sedang mesam-mesem sendiri dengan wajah jenaka yang sengaja dibuat tampak bodoh. Seolah-olah ia tidak baru saja melakukan tindakan ilegal di tengah ujian.
Melihat Arka menoleh, Lintang langsung memberikan kode. Ia menggerakkan telunjuknya dengan cepat, menunjuk ke arah gumpalan kertas di lantai.
Lalu ia menunjuk ke arah meja Arka. Isyarat jelas agar cowok itu segera mengambil dan membukanya.
Arka mendengus pelan dalam hati. Dengan gerakan cepat dan terlatih berkat refleks atletnya, Arka menjatuhkan pulpennya ke lantai.
Saat membungkuk untuk mengambil pulpen, tangan kirinya dengan sigap menyambar gumpalan kertas kecil tersebut. Ia langsung menyembunyikannya di dalam kepalan tangan.
Ia kembali menegakkan punggung. Bersikap seolah tidak terjadi apa-apa saat Pak Samsudin kembali membalikkan badan dan berjalan ke arah belakang.
Begitu posisi Pak Samsudin menjauh ke pojok kelas yang lain, Arka perlahan membuka gumpalan kertas tersebut di bawah kolong meja secara sembunyi-sembunyi.
Matanya menyipit saat membaca deretan tulisan tangan yang rapi namun padat di dalam sana. Ternyata, itu adalah lembar jawaban matematika milik Lintang.
Lengkap dari nomor satu sampai sepuluh. Tidak hanya berisi pilihan jawabannya saja, tetapi juga dituliskan jalan penyelesaian rumusnya secara runtut dan jelas.
Lintang sengaja melakukannya agar Arka tidak dicurigai oleh Pak Samsudin karena langsung menuliskan hasil akhir. Gadis ekstrover minus malu itu baru saja memberinya contekan secara cuma-cuma.
Arka terdiam beberapa detik. Ia menatap kertas di tangannya dengan perasaan campur aduk.
Ia tahu Lintang itu pintar dan selalu selesai paling cepat di kelas. Tapi ia tidak menyangka kalau cewek yang baru saja ia hempaskan sampai jatuh di lapangan upacara tadi pagi, justru menjadi orang pertama yang menyelamatkan masa depan akademiknya pagi ini.
Arka kembali melirik ke arah samping. Lintang masih memperhatikannya.
Kini gadis itu sambil menaik-turunkan kedua alisnya dengan senyuman penuh arti. Seolah-olah berkata: Gimana? Lu butuh gue, kan?
Arka menimbang sebentar dalam diam. Pikirannya bergejolak hebat menatap deretan angka di kertas kecil itu.
Apakah dia harus menyontek atau mendiamkannya saja demi harga diri sebagai juara silat? Tapi... masa iya dia menolak cuma-cuma di saat otaknya sudah mau pecah seperti ini?
Kesempatan emas tidak datang dua kali.
"Lu dapet contekan, Ka?" bisik Leon tiba-tiba dari meja sebelah.
Matanya yang sedari tadi buram menatap soal ujian langsung berbinar tajam layaknya elang yang melihat mangsa.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Mengabaikan gengsinya sejenak, ia menyodorkan kertas dari Lintang itu ke arah Leon dari bawah meja dengan gerakan super mulus.
Leon membelalak kecil saat menerimanya. Ekspresi wajahnya seketika berubah drastis.
Ia tampak sangat bersyukur seperti baru saja mendapat syafaat untuk masuk surga secara instan.
"Tulis, cok! Tulis, cepetan!" bisik Leon setengah mendesak. Tangannya sudah gemetaran memegang pulpen, siap menyalin.
"Gak ah, lu aja," ujar Arka pelan dengan nada ketus yang tertahan.
Di seberang lorong bangku, Lintang yang masih memperhatikan gerak-gerik mereka langsung membelalak kaget. Bibirnya refleks terbuka, hampir saja berteriak saking tidak terimanya.
Kenapa malah dikasih Leon!? batin Lintang histeris.
Capek-capek dia bikin jawaban untuk Arka, malah dinikmati oleh orang lain.
Gerakan Lintang yang terlalu heboh rupanya memancing perhatian di depan kelas.
"Lintang, hadap depan. Kerjakan soal sendiri," ujar Pak Samsudin dengan suara beratnya yang dingin. Matanya menatap tajam dari balik kacamata tebal.
Lintang kelabakan sedikit. Ia langsung buru-buru membetulkan posisi duduknya agar terlihat alim.
"Baik, Pak. Ini saya lagi meresapi indahnya angka matematika kok, Pak," sahutnya ngeles dengan senyum sok polos.
Begitu Pak Samsudin kembali membalikkan badan, Arka diam-diam mulai beraksi. Sifat gengsi tingkat dewanya menolak menyontek langsung dari kertas Lintang.
Tapi, matanya tidak bisa berbohong. Si atlet es batu itu mulai melirik-lirik ke arah kertas Leon.
Dengan posisi tubuh tegak formal, matanya memicing tajam ke samping. Diam-diam, dia malah menyontek jawaban Lintang lewat kertas Leon yang sedang sibuk menyalin.
Menurut logika Arka, ini namanya menyontek dari Leon, bukan dari Lintang. Harga diri aman, nilai terselamatkan.
Lintang yang penasaran kembali melirik sedikit ke arah belakang. Begitu melihat pulpen Arka bergerak aktif menyalin sambil matanya merem-melek mengintip lembar jawaban Leon, Lintang refleks nyengir lebar.
Gengsi banget mas crush. Jadi gemes! batin Lintang bersorak kegirangan. Hatinya langsung melonjak senang karena tahu umpannya tidak sepenuhnya meleset.
Brak!
Suasana sunyi itu mendadak pecah saat Pak Samsudin tiba-tiba menggebrak meja barisan tengah menggunakan penggaris kayu panjang.
Semua murid otomatis terlompat kaget di kursinya masing-masing. Termasuk Leon yang refleks menduduki kertas contekan Lintang agar tidak kelihatan.
"Bagus! Sapto! Kamu pikir mata saya ini pajangan?!" bentak Pak Samsudin. Hebatnya, ia berhasil menangkap basah Sapto yang lehernya sudah memanjang lima belas senti ke meja sebelahnya.
Sapto yang tertangkap basah langsung memasang wajah panik. Tapi dasar murid IPS, otaknya langsung berputar mencari alasan ngeles paling ajaib.
"Eh, anu, Pak! Demi Allah saya nggak nyontek!" kilah Sapto sambil memegangi lehernya dramatis.
"Ini leher saya tiba-kira salah urat, Pak! Tadi kecengklak pas nengok, jadi gak bisa balik lurus lagi. Sumpah, Pak, saya lagi menahan sakit ini!"
"Salah urat tapi mata kamu melotot ke lembar jawaban Zaenal?!" semprot Pak Samsudin, tidak mempan dengan akting murahan Sapto.
"Sini kertas ujian kamu! Nilai kamu nol!"
"Yah, Pak! Jangan dong, Pak! Kalau nilai saya nol, nanti ibu saya di rumah berubah jadi ras terkuat di bumi!" ratap Sapto pasrah saat lembar jawabannya ditarik paksa.
Seisi kelas langsung menahan tawa sampai pundak mereka bergetar hebat. Di pojok belakang, Leon mengembuskan napas lega yang sangat panjang.
"Aman... aman... untung bukan gue," bisiknya.
Tangan kirinya perlahan merapikan kembali kertas contekan Lintang ke bawah bokongnya.
Arka hanya melirik Sapto sekilas. Ia lalu kembali fokus menyalin sisa jawaban terakhir dari kertas Leon sebelum radar intel Pak Samsudin bergeser ke bangku pojok mereka.
Selesai dengan ulangan harian yang menegangkan itu, Arka bersandar di kursinya. Diam-diam, ia merogoh saku dan membuka ponsel.
Manik matanya langsung tertuju pada sebuah pesan chat dari kontak bernama Dr. Fandy yang masuk sejak setengah jam yang lalu. Rahang Arka mengeras samar.
Dengan gerakan pelan, ia mengklik kontak tersebut.
Dr. Fandy: Arka, bundamu masuk ICU lagi. Tadi dibawa ke rumah sakit sama tetangga. Sekarang kondisinya sudah lebih baik, tapi tetap, obat-obatan saja tidak akan cukup untuk bertahan hidup.
Arka menarik napas panjang. Sesak.
Masalah ini selalu datang berulang seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya.
Dengan jemari yang sedikit kaku, ia mengetik balasan: Terima kasih, Dok. Nanti pulang sekolah saya coba bujuk Bunda lagi agar mau ditangani lebih serius.
Arka memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan pikiran yang mendadak melayang jauh.
Di tengah riuh kelas yang mulai bersiap menyambut jam pelajaran Prakarya, cowok itu hanya menatap kosong ke depan. Ia menyembunyikan badai yang sedang mengamuk di dalam kepalanya rapat-rapat.
Dari seberang lorong meja, Lintang yang sedang bersiap memanggilnya mendadak terdiam sejenak.
Ia sempat menangkap perubahan drastis pada sorot mata Arka yang mendadak redup.
Arka kenapa, ya? Kok mukanya tiba-tiba kelihatan capek banget? batin Lintang ikut cemas.