Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#22
#22
“Besok sepulang kerja aku jemput lagi.”
“Nggak usah, aku pulang naik taksi.”
“Sepertinya kamu bahagia kalau Eyang memarahiku.”
Dinda melirik ketus, “Kita bukan suami istri, jadi aku tak wajib melindungimu dari omelan Eyang.”
“Makanya ayo kita rujuk,” rengek Bagas.
Dinda menolehkan wajahnya, ratapannya dingin, dan serius. “Maaf, Mas. Aku masih dengan teguh dengan pendirianku, bagiku, perselingkuhanmu dulu belum bisa kumaafkan.”
Harus berapa kali Bagas menjelaskan, bahwa ia tidak pernah berselingkuh, tapi Dinda benar-benar keras kepala.
Setelah mereka bercerai, Bagas memilih tinggal di apartemen yang dulu ia tinggali bersama Dinda, awal-awal mereka menikah. Lalu kemana apartemen barunya? Bagas menjualnya, bahkan sebelum palu perceraian resmi di ketuk.
Tapi Dinda tetap kukuh dengan pendiriannya, dan Bagas menyesal karena akhirnya pasrah menyetujui ajakan berpisah tersebut.
Tapi, sesudahnya, Bagas hancur, kesepian, larut dalam penyesalan, hari-harinya hanya ia habiskan untuk bekerja, setelah itu ia mengurung diri di dalam apartemennya. Meratapi setiap kenangan yang dulu pernah ia rajut bersama Dinda di setiap sudut ruangan tersebut.
Rumah mereka hanya dihuni Bi Sani, sampai-sampai wanita itu protes karena ia tinggal sendirian di rumah, tidak mengerjakan apa-apa, selain makan gaji buta. Akhirnya Bagas mengambil keputusan berat, untuk mengosongkan rumah yang juga menyimpan banyak kenangan itu, tapi Bi Sani tetap diminta datang sebulan sekali untuk membersihkan rumah.
Karena hampir semua barang-barang Dinda masih ada di sana, kecuali make up. Bagas tak mampu menyingkirkannya, karena itu seperti ia dipaksa merelakan Dinda, padahal hatinya tidak pernah ikhlas.
Bahkan foto pernikahan mereka yang sempat hancur akibat kemarahan Dinda, Bagas perbaiki dan mengganti pigura nya dengan yang baru. Jadi setiap kali Bagas kembali ke rumahnya, ia akan ingat bahwa sampai kapanpun hanya Dinda saja wanita yang berhak ada di sisinya.
“Say—”
“Stop, Mas! Jangan pernah lagi memanggilku demikian,” larang Dinda tegas.
Tok!
Tok!
Pintu mobil Bagas tiba-tiba diketuk, dua orang yang ada di dalam mobil langsung menoleh ke arah ketukan. “Mama.”
Bagas menurunkan kaca jendela mobilnya. “Eh, Mama. Apa kabar, Ma.”
Mama Juwita hanya tersenyum sepintas. “Dinda, cepat masuk dan istirahat,” kata Mama Juwita, tenang namun, menunjukkan ketegasan.
“Iya, Ma.”
Dinda buru-buru keluar dari mobil, setelah memastikan Dinda masuk ke dalam rumah, Mama Juwita kembali bicara. “Mama mau bicara, turunlah!” katanya dengan nada suara seperti menahan marah. Jauh berbeda dengan Mama Juwita yang ramah serta baik ketika terakhir kali mereka bertemu dan berbicara di telepon.
Bagas segera turun, baiklah, ini kesempatan emas untuk mengutarakan niatnya rujuk dengan Dinda. “Kebetulan, Ma. Bagas juga ada sesuatu yang ingin Bagas bahas dengan Mama.”
“Selain di depan Eyang kamu, Mama harap kamu bisa menjaga jarak dengan Dinda.”
Deg!
Rupanya ucapan Om Bastian benar, Mama Juwita hanya bersikap baik ketika ada Dinda di dekatnya.
“Tapi, Ma, Bagas—”
“Sejujurnya, Mama lebih suka bila Dinda menerima lamaran Angga. Kenapa? Jika bersamamu, Dinda hanya akan ingat Abel yang sampai detik ini belum ditemukan. Jika bersamamu, Dinda hanya akan mengingat peristiwa pahit pengkhianatanmu.”
“Ma—” kata Bagas, lebih terdengar seperti sebuah permohonan.
“Sampai kapanpun, Mama belum bisa memberimu maaf atas perbuatanmu dulu yang sudah membuat anak Mama hancur dan menderita.”
“Tapi, kemarin Mama bilang—”
“Kemarin Mama pikir Dinda mendengar pembicaraan kita, tapi sekarang, Mama tak mau berpura-pura lagi. Mama juga akan memberitahu Dinda akan hal ini.”
“Mama masih waras dan takut dosa, orang tua mana yang rela melihat putrinya tidur satu kamar dengan pria yang bukan suaminya. Mulai sekarang sampai dua bulan perjanjian kalian berakhir, Mama ingin Dinda tetap pulang ke rumah saat malam. Kamu boleh menjemputnya pagi-pagi. Sekarang pulanglah!”
Sungguh sebuah pengusiran yang tragis, namun, Bagas tak bisa berbuat apa-apa selain menerima. “Iya, Ma. Selamat malam.”
Bagas mengulurkan tangan, bermaksud mencium punggung tangan Mama Juwita, tapi wanita itu menghindar, bahkan langsung berbalik pergi meninggalkan Bagas seorang diri.
Dengan terpaksa Bagas pergi, padahal niatnya belum tersampaikan. “Terimalah Bagas, inilah hukuman atas kelalaianmu dulu ketika masih menjadi suami Dinda. Artinya kamu harus berjuang lebih keras lagi mulai saat ini.”
•••
Esok harinya.
Sore hari setelah jam kerjanya berakhir, Bagas terburu-buru turun dari ruangannya, hari ini ia belum bertemu dengan Dinda sama sekali, karena pagi tadi Dinda mengirimkan pesan agar Bagas tidak menjemputnya. Maka Bagas pun beralasan pada Eyang, bahwa Dinda berangkat kerja pagi-pagi.
Tapi, ketika melintasi toko perhiasan milik Sharen, netranya menatap keberadaan Dokter Angga di tempat tersebut. Bagas berdiri mematung di tempatnya, ia menepi mencari tempat yang sekiranya memungkinkan baginya untuk mencuri dengar pembicaraan Dokter Angga dengan SPG yang saat ini melayani pemesanan.
“Saya mau ambil perhiasan yang saya pesan tempo hari.” Dokter Angga mengeluarkan surat bukti pemesanan yang telah ia bayar lunas.
“Sebentar, Tuan. Saya ambilkan dulu pesanan Anda.”
Sebenarnya Bagas sempat tidak peduli pada Dokter Angga, tapi mengingat ucapan Mama Juwita semalam, mendadak hatinya panas, karena ia bisa menebak bahwa perhiasan yang dibeli Dokter Angga itu adalah hadiah untuk Dinda.
“Silahkan, Tuan. Anda beruntung sekali, ini barang baru dan modelnya sangat cantik,” kata sang SPG dengan senyuman manisnya.
Dokter Angga menatap kalung pesanannya tersebut dengan kedua mata berbinar bahagia.
“Baik, tolong di bungkus.”
Setelah Dokter Angga pergi meninggalkan toko, Bagas pun masuk. “Mbak, aku mau perhiasan yang sama persis dengan yang dibeli pria itu tadi.”
Sebelum Dokter Angga memberikan perhiasan itu pada Dinda, Bagas akan melakukannya lebih dulu.
“Baik, Tuan. Apakah Anda cocok dengan harganya?”
“Berapa, sih?” tanya Bagas, gerah juga karena SPG itu tak mempercayai ucapannya. Padahal ia adalah putra pemilik mall yang kini juga menduduki kursi pimpinan.
“55 juta sekian, Tuan.”
“Baik, bungkus. Aku bayar sekarang!” Bagas langsung mengeluarkan kartu kredit unlimited dari dompetnya.
Dan tak lama kemudian kalung indah itu sudah berpindah ke tangan Bagas. Nah, sekarang ia bisa melanjutkan langkah dengan hati yang bahagia. Sejenak lupa dengan ucapan pedas Mama Juwita.
aku lupa nama Kaka nya bagas