Cerita ini bukan tentang siapa yang tercepat menjadi terkuat, melainkan tentang bagaimana seseorang yang dianggap paling lemah belajar memahami kekuatan yang sesungguhnya: kesabaran, ketahanan, kemampuan menahan badai tanpa tumbang, dan perlahan tumbuh melampaui batas yang dianggap mustahil oleh semua orang. Ia akan bertemu teman yang setia, menghadapi musuh yang meremehkannya, dan akhirnya mengungkap mengapa jalan kuno itu dihapus dari sejarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cldazxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Panggilan dari Utara Jauh
Saat keramaian di Jembatan Bumi perlahan mereda, Lin Mo tetap berdiri diam menatap ke arah utara jauh. Angin yang berhembus dari sana terasa dingin, membawa aroma es dan batu tua, dan di dalamnya terselip getaran halus yang memanggil namanya berulang kali—bukan dengan kata-kata, melainkan dengan rasa rindu yang mendalam, seperti akar yang mencari sumber air di musim kemarau.
"Kau merasakannya juga?" tanya Penjaga Punggung Laut yang kini berdiri di sampingnya, wujudnya kini lebih ringan dan terang karena beban kesepiannya sudah berkurang. "Itu bukan bahaya... tapi sesuatu yang sangat tua, yang terperangkap dan menunggu bantuan sejak sebelum benua ini terbentuk."
Guru Shan yang baru berjalan mendekat mengangguk dengan wajah serius. "Dalam catatan kuno yang hampir hilang, disebutkan bahwa di ujung utara dunia terdapat Puncak Akar Pertama—tempat di mana kehidupan pertama kali berakar ke dalam batuan dunia. Jika tempat itu terganggu, seluruh fondasi kehidupan di mana pun akan melemah perlahan."
"Dan sekarang tempat itu sedang kesakitan," tambah Lin Mo pelan. "Panggilan itu seperti suara yang melemah perlahan. Jika kita terlambat, mungkin tidak ada lagi yang tersisa untuk diselamatkan."
Berita keberangkatan kembali disampaikan. Kali ini, banyak orang dari Tanah Terbelah ingin ikut serta—mereka yang dulu tidak punya harapan, kini ingin berjuang melindungi sumber kehidupan yang baru saja mereka temukan. Namun Lin Mo hanya memilih rombongan kecil yang tangguh: Meng Chao, Zhang Hao, Guru Shan, Penjaga Punggung Laut yang kini bisa berubah wujud menjadi manusia, dan Penyambung Garis.
"Kalian tetaplah di sini menjaga kedua benua ini," pesan Lin Mo pada Kepala Batu dan sisa pengikut lainnya. "Pastikan jembatan ini tetap kokoh, dan ajarkan semua orang untuk merawat tanah yang kini sudah utuh kembali. Kita tidak akan membiarkan dunia terbelah lagi."
Perjalanan ke utara jauh berbeda dengan sebelumnya. Semakin jauh mereka melangkah, semakin dingin udaranya, tanah berubah menjadi bebatuan hitam yang tertutup lapisan es tebal, dan tidak ada satu pun tumbuhan yang terlihat. Langit di atas sana berwarna ungu gelap dengan bintang yang berkedip samar, seolah cahaya pun enggan mendekat ke tempat ini.
"Energi di sini tidak diputus," kata Lin Mo sambil menekan telapak tangannya ke es yang keras. "Ia diserap. Semua kekuatan kehidupan ditarik ke satu titik di depan sana, dikuras habis sampai tanah tidak mampu menumbuhkan apa pun lagi."
Mereka berjalan selama dua minggu melewati dataran es yang tak berujung. Suatu sore, saat badai salju mereda, mereka melihat sesuatu yang menakjubkan sekaligus menyedihkan.
Di tengah dataran kosong berdiri sebuah gunung es raksasa yang puncaknya menembus awan. Namun gunung itu berlubang di tengahnya, dan dari lubang itu menjulur ribuan akar raksasa yang warnanya sudah pudar menjadi putih pucat, ujung-ujungnya kering dan retak. Di tengah akar-akar itu terdapat sebuah bangunan kuno yang terbuat dari batu hitam, dan di pintu masuknya terpasang alat penyerap energi berbentuk corong besar yang berdenyut kelaparan.
"Ini Puncak Akar Pertama," bisik Guru Shan dengan mata berkaca-kaca. "Dan mereka sedang menyedot kekuatan sumber kehidupan dunia!"
Belum sempat mereka merencanakan langkah, bayangan bergerak dari balik tebing es. Puluhan sosok berbalut jubah es putih melayang di udara, membawa senjata yang mengeluarkan uap dingin mematikan. Di depan mereka berdiri sosok bertubuh tinggi besar dengan wajah dingin seperti patung es—Tuan Penyerap Kehidupan.
"Siapa pun yang mengganggu proses penyatuan kekuatan adalah musuh," suaranya dingin dan tanpa ampun. "Kekuatan yang tersebar lemah dan tidak berguna. Aku akan mengumpulkannya semua di sini, menjadikannya satu kekuatan mutlak yang tak terkalahkan."
"Kau tidak mengumpulkannya," bentak Lin Mo marah. "Kau memakannya sampai mati! Lihatlah akar ini—ia adalah ibu dari segala kehidupan di dunia ini. Kau membiarkannya kering agar kau sendiri menjadi kuat? Itu bukan kekuatan, itu keserakahan yang buta!"
Tuan Penyerap hanya tertawa dingin dan memberi isyarat serangan. Ribuan jarum es melesat menghujani mereka, dan tanah di sekitar kaki Lin Mo perlahan membeku keras, mencoba mengunci kekuatan akarnya.
"Kali ini tidak ada jalan damai," kata Lin Mo pelan sambil menancapkan kakinya kuat-kuat ke lapisan es yang paling tebal. "Kita harus menghentikannya sebelum sumber kehidupan ini mati sepenuhnya."