Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*2
Manik mata Asha mulai berkaca-kaca. "Kalian sudah tahu, tapi kenapa tetap ingin menjodohkan aku dengannya? Aku ini anak kalian satu-satunya, Pa, Ma. Apa kalian tidak sayang padaku?"
"Kami sayang, Asha. Kami sayang sama kamu. Tapi keluarga Rahardi, kita punya utang budi yang sangat besar. Tanpa keluarga mereka, mana mungkin kita bisa hidup enak seperti saat ini. Kamu juga gak akan bisa kuliah seperti sekarang, Sha. Semua itu berkat dana dari mereka."
"Tapi aku gak mau dijodohkan dengan pria gemulai itu, Pa. Aku gak mau. Aku masih punya mimpi. Aku punya cita-cita. Aku punya harapan yang besar. Gak mau menikah sekarang. Terlebih lagi, menikah dengan pria yang sama sekali tak layak di sebut sebagai pria. Aku gak. mau."
"Asha!"
Suara papanya terdengar melengking. Asha pun sontak langsung terdiam. Sejak ia remaja hingga saat ini, papanya tidak pernah membentak dia. Tapi sekarang, bentakan itu ia terima hanya gara-gara seorang pria gemulai. Pria yang awalnya tidak ia sukai, sekarang malah menimbulkan rasa benci dalam hati untuk pria tersebut.
"Papa .... " Air mata Asha jatuh perlahan melintasi pipi.
"Tolonglah mengerti, Sha. Papa tidak punya pilihan lain. Perjodohan ini, mereka yang minta. Kita tidak bisa menolaknya, Ashanti. Tidak bisa."
"Aku tidak ingin menikah dengan pria itu. Tidak ingin," ucap Asha sambil menahan isak tangis yang sudah sangat-sangat tidak bisa ia tahan.
Setelah berucap, Asha langsung berlari meninggalkan papa dan mamanya. Si papa terlihat sedikit cemas, ia berusaha memanggil anaknya lagi.
"Asha."
"Mas, biarkan saja. Biarkan dia melepaskan bebannya untuk beberapa saat. Nanti, kita bicara lagi." Indah berucap dengan suara rendah namun tenang.
"Ma ... apa yang harus kita lakukan sekarang?"
"Sepertinya, tidak ada. Biarkan saja suasana sedikit tenang terlebih dahulu. Setelahnya, biar aku yang bicara dengan Asha. Aku yakin, Asha akan mengerti dengan keadaan kita ini. Dia akan memahami kondisi kita."
Rahman tidak menjawab lagi apa yang istrinya katakan. Dia hanya bisa melepas napas berat secara perlahan. Napas yang terasa sangat sesat, seperti ada yang sedang menghimpit dadanya sekarang.
Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di kediaman mewah keluarga Rahardi, satu keluarga juga sedang membicarakan hal yang sama. Soal perjodohan anak mereka.
"Ada yang ingin kami bicarakan sama kamu, Za. Ini soal masa depan kamu."
"Masa depan? Soal apa? Pendidikan? Atau hal yang lain, Pa?"
"Pernikahan."
"Pernikahan?" Wajah pria itu terlihat agak terkejut. "Kenapa tiba-tiba membahas soal pernikahan?"
Sang mama tersenyum manis. "Bukan tiba-tiba, sayang. Sudah lama kok direncanakan. Hanya saja, baru bisa dilaksakan sekarang."
"Maksudnya gimana sih? Aku gak ngerti sama sekali, Ma, Pa."
Kedua orang tua Irza saling bertukar pandang beberapa saat. Setelahnya, senyum manis terkembang di bibir mereka.
"Mama tahu ada yang kamu sukai selama ini, Irza. Jadi, kami sudah lama nunggu kamu bergerak. Hanya saja, anak mama ini ternyata terlalu banyak pertimbangan. Sampai detik ini juga gak ada kemajuan."
"Iya. Karena mama mu gak sabar lagi, maka dari itu, kami berniat untuk melamar gadis itu minggu depan."
"Apa? Tunggu. Kalian ngomong apa sih sebenarnya? Aku suka gadis, aduh ... aku gak ngerti sama sekali."
"Irza. Jangan pura-pura lagi, Nak. Kami tahu kamu suka Ashanti anaknya pak Rahman dan bu Indah. Karena itu, kami berniat untuk melamarnya agar jadi istri kamu. Bagaimana menurut kamu, Za?"
Seketika, wajah Irza berubah. "Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian tidak bertanya sama aku dulu sih, Ma, Pa? Aku-- "
"Kami tahu kamu suka dia, Irza."
"Mama tahu dari mana?"
"Kamu anak kami. Tentu saja kami tahu segalanya tentang kamu, Irza Rahardi."
"T-- tapi .... "
"Sepuluh tahun yang lalu, kamu bertemu gadis yang membuatmu tidak mampu untuk berkedip saat melihatnya. Kamu suka dia, tapi tidak berani mendekatinya. Delapan tahun yang lalu, perusahaan keluarganya hampir bangkrut gara-gara kehabisan dana. Kamu bujuk papamu dengan segala cara agar mau berinvestasi ke perusahan tersebut supaya perusahaan itu bangkit lagi. Enam tahun yang lalu, kamu kejar dia sampai rela melepaskan kesempatan untuk belajar di luar negeri hanya demi bisa melihatnya. Lalu, dua setengah tahun yang lalu, Irza, kamu rela lagi melepaskan pendidikan mu yang ditawarkan oleh dosen untuk berkuliah ke luar negeri dan lebih rela melanjutkan pendidikan di dalam negeri hanya untuk dia."
Ucapan panjang lebar dari sang mama membuat Irza kehabisan kata-kata. Karena sesungguhnya, apa yang mamanya katakan itu semuanya benar. Iya, dia benar-benar menyukai seorang wanita. Dia siap menjadi pengagum rahasia yang terus bersembunyi dan hanya siap mengamati dari kejauhan tanpa berani mendekat.
Benar. Meskipun dia pria gemulai yang katanya tidak mirip laki-laki, tapi dia adalah pria normal. Sama halnya seperti pria umumnya diluar sana. Dia juga punya perasaan. Punya cinta yang tumbuh dalam hatinya dengan sangat baik. Dan cinta itu berlabuh pada gadis cantik yang langsung mencuri hatinya saat pandangan pertama. Di usia yang tergolong masih sangat muda. Cinta itu jatuh pada Asha. Dan kekal di satu gadis selama sepuluh tahun lamanya. Tidak berubah sedikitpun.
"Mama .... "
"Kenapa anak mama terlalu penakut sih? Kenapa bisa mencintai selama sepuluh tahun tapi tidak berani menyatakannya?"
"Karena aku berbeda, Ma. Asha tidak akan suka padaku. Aku bukan pria impiannya."
"Kenapa tidak berani mencoba?"
"Karena .... "
"Cobalah, Nak. Jangan tunggu sampai dia diambil orang. Mama yakin, jika kamu berani menempuh badai, kamu bisa melihat sinar mentari yang cerah."
"Tapi .... "
"Mama kamu benar, Za. Jika kamu berani, kamu mungkin bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Di benci diawal akan lebih baik dari pada kehilangan dia selamanya, bukan?"
Irza menggenggam erat tangannya sendiri.
"Apakah ... kalian yakin aku mampu?"
"Tentu saja. Kami sangat yakin akan hal itu. Kamu mampu melakukannya. Meskipun, itu tidak akan mudah, Za. Itu akan sangat sulit dan terlalu berat."
"Iya. Di sana juga akan ada banyak luka yang mungkin bisa kamu dapatkan. Karena mencintai, memang harus siap terluka jika kamu ingin memilikinya."
Irza terdiam sesaat. Kemudian, perlahan, manik matanya berubah. "Baik. Aku akan coba. Jika ini adalah cara agar aku bisa memilikinya, aku akan menempuh jalan ini walau penuh dengan duri. Aku akan melewatinya, Ma, Pa."
Senyum kedua orang tua Irza terlihat agak lebar. Kembali, mereka berdua saling bertukar pandangan lagi.
"Kamu yakin sekarang?"
"Tentu saja aku yakin, Ma."
"Bagus. Jika kamu sudah yakin, maka jangan pernah mundur setelah maju. Mengerti dengan apa yang papa maksudkan, Za?"
"Iya, Pa. Aku mengerti."
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣
visualnya pas jadi manten itu kaya pemuda jepang jaman now yg jadi temennya Ani" kesepian
Thor pernah lihat dokumentasi ga Thor cowok jepang jaman now
ga gemulai lagi