Ada alasan kenapa banyak orang menyebutnya Perfect Husband.
Leo J memiliki semua yang diimpikan seorang wanita. Ia setia, bertanggung jawab dan mencintai istrinya dengan cara yang membuat siapa pun iri.
Namun, cinta itu tidak pernah sederhana.
Leo J mencintai dengan cara yang berlebihan. Terlalu melindungi, terlalu posesif, terlalu takut kehilangan. Hingga terkadang, cintanya itu terasa menyesakkan.
Di masa lalu, pria yang kini begitu memuja istrinya itu... pernah mencintai wanita lain hingga rela memberikan seluruh dunianya.
Pada suatu hari, mereka dipertemukan dalam satu meja. Keheningan berubah menjadi sesak ketika Leo J menatap wanita yang pernah menjadi alasan hidupnya.
"Sekarang, Leo ada di depanmu, Kiara. Apa yang ingin kau katakan padanya?"
Yuna mengizinkan mereka berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta Restu 2
“Selamat malam, Om, Tante. Saya Arnis,” sapa gadis itu dengan sopan. Dia membungkukkan badannya memberi salam. Dia grogi setengah mati. Sekujur tubuhnya terasa membeku. Ini adalah pengalaman pertama baginya.
“Malam,” jawab Papa dan Mama Karel. Mereka menjawab dengan hangat.
Lalu Arnis melihat seseorang yang mirip dengan Karel versi remaja. Itu pasti adiknya.
“Hai,” sapanya ramah.
“Hai, Kak,” jawab laki-laki remaja itu. Arnis tersenyum lebar dan menawarkan kepalan tangannya untuk melakukan toss. Adik Karel dengan senang hati menyambutnya. Mereka toss bersama.
Ini membuat Papa dan Mama Karel saling melirik, entah apa yang tengah mereka pikirkan. Mereka kemudian mengajak mereka untuk makan malam bersama.
Tentang tata cara makan malam, bukan hal baru bagi Arnis. Biar bagaimanapun juga dia adalah putri salah satu konglomerat di pulau seberang, jadi dia sangat tahu bagaimana seseorang saat melakukan makan malam bersama.
Meskipun ada perbedaan antara dirinya dan Karel, dia tidak melihat itu. Sedari dulu, dia adalah wanita yang bebas. Tidak patuh pada peraturan yang orang tuanya terapkan. Dia bahkan memiliki banyak sekali teman-teman jalanan dan bahkan preman-preman jalanan adalah temannya. Jika nanti papanya tidak merestui dia dengan Karel karena status sosial, tidak masalah. Dia bisa kabur atau mengancam akan bunuh diri, hehhh. Ide yang bagus bukan?!
Dia tidak akan melepaskan Karel. Tidak akan. Laki-laki ini yang mampu menggetarkan hatinya kembali. Jadi dia akan memperjuangkannya dengan sangat baik. Tidak akan mundur begitu saja.
Karel memang sudah sukses sekarang. Memiliki restoran internasional, sekolah memasak dan acara sendiri di televisi tetapi itu bukanlah apa-apa dimata para konglomerat.
Setelah selesai makan. Arnis menoleh ke arah Karel dan memberi isyarat bibir.
“Apakah lipstikku belepotan?” tanyanya.
Karel menggeleng. “Cantik,” jawabnya dengan isyarat bibir juga. Jawaban yang membuat Arnis mengulum senyum merona.
Setelah sesi makan malam selesai. Mereka semua duduk di ruang tengah.
“Jadi kau tinggal di pulau seberang?” Papa Karel bertanya lebih dulu setelah Arnis bilang jika ia baru sampai tadi siang.
Arnis mengangguk. “Iya, Om,” jawabnya.
“Bagaimana kau bisa bertemu dengan Er, Nak?” kini Mama yang bertanya. Arnis tersenyum sebelum menjawabnya. Dia tersenyum karena mengingat pertemuan pertamanya dengan Karel. Mereka bertemu di acara besar yang diadakan oleh orangtuanya. Dan Karel adalah tamu undangan waktu itu.
“Asam di gunung, garam di laut. Bagaimanapun jauhnya, kalau jodoh pasti bertemu,” jawab Arnis penuh semangat. Dia menyenggol lengan Karel dengan lengannya. Dia kemudian menoleh ke arah Karel dan menggerakkan matanya. ‘Benarkan kataku?’ kira-kira seperti itu bahasa matanya.
Karel mengangguk.
Papa dan Mama Karel tertawa kecil dan juga mengangguk.
“Iya, iya,” jawab Mama Karel. “Jika yakin sudah jodoh, segeralah menikah,” lanjut Mama Karel yang langsung meminta mereka untuk menikah. Membuat Karel terbatuk-batuk. Sementara Arnis menatap calon mama mertuanya dengan bahagia. Ucapan itu, artinya dia diterima sebagai calon menantu. Ya ‘kan, benar ‘kan. Ah, mantap.
“Tapi aku tidak bisa masak, Tante,” ucap Arnis jujur. Sedetik kemudian kejujurannya membuat ia takut, takut jika Mama Karel tidak suka dengan seorang wanita yang tidak pandai memasak.
“Ah, tidak apa-apa. Er sudah sangat pintar memasak,” jawab Mama. Jawaban yang membuat Arnis bernafas lega. Dia langsung menoleh kearah Karel dan nyengir memperlihatkan giginya.
Karel mengulurkan tangan dan merangkul pundaknya dengan sayang.
“Jangan pacaran lama-lama, jika merasa saling cocok satu sama lain. Segeralah menikah,” ucap Mama lagi. Arnis mengangguk-angguk setuju dengan pendapat Mama. Sementara Papa Karel lebih banyak diam dan mengingat-ingat wajah Arnis. Sepertinya beliau pernah melihat wajah ini. Tapi dimana.
Setelah berbincang. Arnis kini bermain game bersama adik Karel. Terlihat sangat seru. Laki-laki remaja itu langsung menyukai calon kakak iparnya.
Sementara saat ini, Karel duduk bersama Papa dan Mamanya. Dia bercerita siapa Arnis dan dari keluarga mana gadis itu.
Mama menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Sementara Papa nampak terdiam dan langsung ingat di mana beliau melihat wajah Arnis. Di majalah bisnis yang beliau beli bulan lalu.
“Er, kita tidak sepadan dengan mereka. Jangan paksakan jika keluarganya menolakmu. Mama tidak mau harga dirimu direndahkan. Kau adalah putra Mama yang Mama banggakan,” ucap Mama yang tiba-tiba merasa cemas.
“Jika saling mencintai, perjuangkan. Laki-laki tidak boleh lemah dan menyerah begitu saja,” komentar Papanya. “Jika saat ini kau merasa kurang pantas. Bekerja keraslah lebih giat lagi agar kau pantas dan layak untuknya.”
Karel mengangguk. Pun juga dengan Mama. Beliau berubah menjadi sedih melihat putranya. Dulu, saat Karel kecil, dia mencintai seorang gadis. Gadis imut yang keberadaannya disembunyikan. Dia mencintai gadis ini tapi karena suatu hal keluarga mereka memutuskan untuk pindah ke negeri asal Papa Karel. Setelah Karel kembali ke tanah air, ternyata gadis itu sudah menikah.
***@***
Sementara disana. Di rumah Dimas.
Anak-anak sudah bersama asisten masing-masing. Dimas dan Nora juga sudah selesai makan malam.
“Nonton di luar yuk,” ajak Nora.
“Banyak sekali pekerjaan. Bagaimana jika lain waktu saja,” jawab Dimas.
“Untuk hari ini saja. Bisakah kau meninggalkan pekerjaanmu dulu?” bujuk Nora.
Dimas menatapnya. “Ok.” Dia menyetujui. Nora tersenyum bahagia dan mencium pipinya.
“Aku dandan sebentar,” ucapnya.
Dimas mengangguk dan ia membuka ponselnya. “Kau mau menonton film apa?” tanyanya sebelum Nora pergi untuk mengganti baju.
“Apa saja yang romantis,” jawabnya.
Dimas mengangguk-angguk dan memilih judul film yang saat ini tengah tayang di bioskop. Dia bukan Leo yang selalu membooking sebuah tempat. Dia hanya memesan tempat yang ia butuhkan. Dan ia memilih tempat yang nyaman. Setelah memesan tiket. Dimas menyusul Nora ke kamar dan mengganti bajunya. Dia tidak mau kalah. Dia juga harus menawan malam ini.
boleh request gk kak... kpan² klo kiara ketemu yuna pas ada leo juga,pasti seru..