Siapa sangka, kedatangan Mona di kediaman Risa adalah awal kehancuran rumah tangga yang baru beberapa tahun dibangun oleh Risa dan Arga.
Hampir setiap malam Risa mendengar suara derit ranjang dari dalam kamar yang ditempati oleh Mona.
Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Mona di dalam kamarnya?
Penasaran? Yukkk, ikuti kisah mereka 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aysha Siti Akmal Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penuturan Bu RT Dan Dokter
Bu RT mengajak Risa duduk di terasnya kemudian mulai bercerita.
"Sebenarnya begini, Nak. Bukannya Ibu ikut campur dalam urusan rumah tanggamu, hanya saja Ibu merasa tidak enak dan kasihan sama kamu," ucap Bu RT sambil menggenggam tangan Risa dengan erat.
"Beberapa waktu lalu ketika Ibu menjenguk salah satu kerabat Ibu yang menginap di Hotel X, tidak sengaja Ibu melihat suami dan adikmu chek-in di sana. Selain itu, Ibu juga pernah memergokinya mereka yang berbelanja di Mall. Saat Ibu tanya sih, suamimu bilang hanya menemani adikmu atas permintaanmu sendiri, Ris. Bener kamu sendiri yang minta begitu? Jujur ya, Ris. Ibu tidak percaya, secara mereka tidak malu berpelukan serta saling cium di Mall itu," tutur Bu RT.
Risa tampak sedih sekaligus malu. Sedih karena sudah dibohongi oleh pasangan itu dan merasa malu sama Bu RT.
"Aku tidak pernah tahu soal hubungan mereka, Bu. Sebab di rumah mereka tampak biasa-biasa saja dan tidak ada yang mencurigakan. Mereka bahkan jarang bertegur sapa," lirih Risa.
"Sepertinya mereka memang sudah merencanakan semua ini dengan sangat baik, Ris. Buktinya suamimu sengaja menunggu adik perempuanmu di depan sana agar tidak ada yang curiga," sahut Bu RT.
Akhirnya Risa menangis di sana dan Bu RT pun siap memberikan bahunya untuk Risa bersandar. Ia merengkuh tubuh kurus Risa seraya mengelus pundaknya dengan lembut.
"Aku malu, Bu. Aku benar-benar malu sama Ibu," lirih Risa di sela isak tangisnya.
"Yang sabar ya, Ris, dan kamu tenang saja, tak ada siapa pun yang tahu soal ini."
Setelah beberapa menit menumpahkan rasa sakit hatinya di pelukan Bu RT, Risa pun segera bangkit dan berpamitan.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih sudah bersedia mendengarkan keluh kesahku," ucap Risa dengan mata berkaca-kaca menatap Bu RT.
"Sama-sama, Nak. Jika kamu butuh sesuatu, bilang saja sama Ibu," jawab Bu RT.
Risa mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. Setelah berpamitan, ia pun melangkah keluar dari teras rumah Bu RT. Sementara wanita paruh baya itu hanya bisa menatap kepergian Risa dengan wajah sedih.
"Kasihan sekali kamu, Risa."
Risa melangkah gontai menelusuri jalan menuju kediamannya. Baru beberapa meter dari kediaman Bu RT, tiba-tiba Risa berpapasan dengan dokter yang kemarin bertugas memeriksa kondisi Mona. Kebetulan dokter itu baru saja selesai memeriksa pasiennya yang sedang sakit di salah satu rumah warga perumahan itu.
"Bu Dokter?" sapa Risa sembari mendekat, menghampiri dokter tersebut.
"Eh, Mbak. Gimana adiknya? Sudah mulai baikkan?" tanya Dokter itu sambil tersenyum manis menatap Risa.
"Bu Dokter, sebenarnya adik saya sakit apa? Apa dia sedang hamil?" tanya Risa tanpa basa-basi. Mengingat tadi malam Arga sempat memesan obat penggugur kandungan melalui sebuah aplikasi di ponselnya.
Dokter itu tersenyum tipis. "Loh, saya pikir Mbaknya sudah tahu. Soalnya obat yang saya kasih ke adiknya Mbak 'kan vitamin untuk ibu hamil."
Hati Risa benar-benar hancur setelah mendengar penuturan dari dokter tersebut. Ternyata firasat buruknya tentang Mona lagi-lagi benar. Walaupun saat itu perasaannya benar-benar hancur. Namun, Risa tidak ingin memperlihatkan kesedihannya kepada Dokter itu. Ia tetap mencoba tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa.
"Saya benar-benar tidak tahu, Bu Dokter. Saya juga tidak bertanya apa yang sebenarnya terjadi pada adik saya. Mungkin dia sengaja menyembunyikan kehamilannya agar bisa memberikan kejutan kepada seluruh keluarga kami," jawab Risa.
Dokter itu lagi-lagi tersenyum. "Ya, sudah. Saya pamit dulu ya, Mbak. Anak-anak pasti sudah nyariin saya," ucap Bu Dokter seraya berpamitan kepada Risa.
"Ehm, iya. Terima kasih, Bu Dokter."
Setelah wanita itu menghilang dari pandangannya, Risa pun kembali melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa.
"Ya ampun, Mona! Kenapa kamu tega sama Mbak! Selama ini Mbak kurang baik apa sama kamu. Memangnya tidak ada laki-laki lain yang bisa kamu dekati selain Mas Arga! Mas Arga juga sama. Kenapa dia tidak mencari wanita lain saja selain Mona," gumam Risa.
Tidak berselang lama, Risa pun tiba di kediamannya. Risa kembali melangkah dengan cepat memasuki rumah tersebut. Bi Surti yang sedang asik menggendong Lily, tampak bingung melihat Risa melewati dirinya begitu saja. Wanita itu bahkan tidak menoleh ke arah Lily.
"Non! Non Risa kenapa?" tanya Bi Surti.
"Tolong jaga Lily sebentar ya, Bi," jawab Risa sambil berlalu.
Risa memasuki kamar utama dan berjalan menuju nakas. Ia meraih kunci serap kamar milik Mona kemudian membawanya ke depan pintu kamar gadis itu.
Ceklek!
Risa membuka pintu kamar Mona. Perlahan ia masuk ke dalam dan mulai menggeledah ruangan itu tanpa terlewat sedikit pun. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Risa berhasil menemukan apa yang ia cari.
Tangannya bergetar saat memegang beberapa keping obat milik Mona yang diberikan oleh dokter. Bukan obat, melainkan vitamin untuk kehamilannya.
Risa terduduk di tepian tempat tidur Mona dengan wajah sedih. Ranjang yang selama ini menjadi saksi bisu percintaan panas antara Arga dan adik perempuannya.
"Ya, Tuhan. Apa yang harus aku lakukan?" gumam Risa.
Tepat di saat itu, Bi Surti tiba di kamar tersebut bersama Lily. Perlahan wanita paruh baya itu menghampiri Risa kemudian duduk di sampingnya.
"Non yang sabar, ya."
Risa menoleh ke arah Bi Surti dengan wajah heran. "Apa maksudmu, Bi? Apa selama ini Bibi sudah tahu soal hubungan Mona dan Mas Arga?" tanya Risa dengan alis yang saling bertaut.
Bi Surti menganggukkan kepalanya. "Maafkan saya, Non."
"Ya ampun, Bi! Kenapa Bibi tega sekali menyembunyikan hal ini dariku!" kesal Risa dengan mata membulat sempurna.
...***...