Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berduka dengan cara berbeda.
Usai menyiapkan makan malam dan menatanya dengan baik di atas meja, Liam ke kamar untuk mengambil ponselnya kemudian kembali ke meja makan. Ia menghela napas panjang dan tersenyum lebar melihat makanan di atas meja semuanya kesukaan Arumi.
Liam memotret makanan tersebut dan mengirim kepada kontak Cintaku yang merupakan nomor Arumi.
Sayang aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Semuanya makanan kesukaan kamu.
Aku lapar kapan kamu pulangnya? Apa nggak bisa pekerjaannya ditunda dulu dan pulang ke rumah?
Masih lama ya? Pamerannya pasti kacau banget. Ya sudah mas makan sendiri saja. Jangan lupa makan cintaku.
Liam meletakkan ponselnya di atas meja dan mulai menyantap makan malam seorang diri. Setelahnya membereskan hidangan yang sepertinya akan terbuang sia-sia sebab menunggu kepulangan seseorang yang tidak akan pernah datang.
Pria itu duduk di ruang tamu, memandangi layar tv karena bertekad menunggu istrinya pulang dari studio.
Sampai matahari terbit pun, Liam masih berada di ruang keluarga. Bedanya mata Liam terpejam dengan posisi setengah berbaring. Deringan ponsel yang selalu berada di genggaman berhasil membangunkan Liam. Awalnya ia tersenyum mengira itu dari istrinya, tetapi senyuman itu perlahan hilang tahu panggilan tersebut dari Seaven.
Liam menolak panggilan Seaven dan segera bersiap-siap untuk bekerja. Dan tidak lupa pria itu mengabari Arumi.
Sayang meski sesibuk apapun sempatkan sarapan.
Kamu tahu? Mas sebenarnya kesal padamu karena dihari pernikahan kita kamu malah sibuk di studio
Mas berangkat kerja dulu, kalau mau pulang kabari mas biar mas juga pulang.
Akhirnya Liam meninggalkan rumah barunya dan ke kantor sang papa untuk memenuhi tanggung jawabnya. Sesampainya digedung itu dia mendapatkan berbagai tatapan aneh dan bisik-bisik yang tidak bisa Liam dengar.
Keluarga Alexander juga Rocky sedang masa berkabung dan mempersiapkan takziah untuk siang harinya. Namun, Liam malah datang bekerja.
"Apakah tuan Liam nggak bersedih sama sekali kehilangan calon istrinya?"
"Sepertinya Tuan Liam stres deh ditinggal calon istrinya. Kemarin dengar-dengar Tuan Liam memaksa untuk melanjutkan resepsi padahal Bu Arumi sedang proses di kebumikan."
Banyak bisik-bisik yang terjadi di lobi, untungnya wakil direktur itu tidak mendengarnya.
Liam tampak santai, mengerjakan berkas-berkas yang berada di mejanya. Pria itu mendongak mendapati asistennya datang dengan raut wajah tegangnya.
"Tuan."
"Hm."
"Tuan besar menyuruh anda pulang sekarang."
"Tidak bisa, saya banyak pekerjaan. Kamu tahu itu," jawab Liam.
"Tapi Tuan ...."
"Liam kamu harus pulang sebelum om Cakra marah," ucap Seaven yang muncul tiba-tiba.
"Kenapa papa harus marah padahal aku hanya menjalankan amanah darinya?"
"Liam tolong banget pulang sekarang sebelum om Cakra murka. Terserah kamu mau kemana asal jangan datang ke kantor dulu."
"Ck." Liam berdecak, pria itu bangkit. Menyambar jasnya dan segera meninggalkan perusahaan.
Seperti permintaan papanya dia datang kekediaman Alexander. Dan baru saja melewati pintu, sebuah bogeman mendarat di wajah tampannya sehingga hidungnya mengeluarkan darah.
"Papa kenapa mukul mas?" tanya Liam mengusap hidungnya yang berdarah. Kening pria itu mengerut merasa aneh papanya memukul secara tiba-tiba dan ini yang pertama untuknya.
"Papa apa-apaan sih! Kok mukul mas kayak gini. Mas juga nggak mau kok kehilangan!" bentak Liora yang melihat darah segar di wajah putranya.
"Kehilangan? Tapi berani datang ke kantor saat masa berkabung? Saat prosesi pemakaman dia bahkan nggak muncul. Rumah Rocky masih di penuhi papan ucapan duka dari rekan kerja tapi dia ...." Cakra mengelengkan kepalanya tidak tahu harus berkata apa lagi pada putra sulungnya yang baginya bersikap kurang ajar.
"Bisa dibicarakan baik-baik, Pa."
"Dibicarakan baik-baik bagaimana Sayang? Sedangkan Liam nggak menjawab satu pun panggilan dari kita?"
"Aku akan bicara dengan putra kita, mas bisa ke rumah Rocky lebih dulu," ujar Liora dan menarik putranya yang diam saja menyaksikan pertengkaran.
Bahkan saat di obati oleh mamanya, Liam diam saja. Tidak mengeluhkan sakit padahal pukulan papanya tidak main-main.
"Setelah ini kamu ke rumah orang tua Arumi ya? Papa bukan jahat sama kamu, papa hanya terbebani dengan pertanyaan rekan-rekan kerja yang selalu menyakan kamu sebagai calon suami yang ditinggal Nak."
"Maafin mas, Mas," lirih Liam.
"Iya mama maafin mas kok, tapi ...."
"Istri mas sibuk jadinya mas datang sendiri. Nanti kalau nggak sibuk, mas bawa ...." ucapan Liam berhenti ketika kotak p3k di tangan mamanya terjatuh begitu saja.
"Mama kenapa menangis hm? Mas nggak apa-apa kok." Mengusap air mata di pipi mamanya tanpa ia menyadari apapun.
"Sini peluk mama, Mas."
Liam langsung masuk ke pelukan mamanya, berusaha menenangkan wanita paruh baya itu padahal yang seharusnya ditenangkan adalah dirinya.
Di mata orang lain, Liam tidak ada bedanya dengan sebuah robot. Tidak memiliki emosi. Apakah itu sebagian dari trauma yang menguasai tubuh dan pikiran Liam hanya dalam waktu satu malam?
"Kak Liam kok baru muncul sih!" omel Leona, yang lebih nyaman memanggil kakak daripada mas. Gadis seusia Arumi.
"Ya maskan baru nikah dek, ya kali harus sama kamu terus," jawab Liam.
Leona hendak protes tetapi urung melihat kode dari mamanya. Alhasil gadis itu terdiam dan mengikuti langkah kakaknya yang keluar dari rumah.
Ternyata Liam berjalan menuju rumah orang tua Arumi yang tidak jauh dari rumahnya. Sepanjang jalan karangan bunga terpapang nyata tetapi belum bisa menyadarkan Liam akan fakta yang terjadi.
Kehadiran Liam sedikit menjadi perhatian, terlebih takziah sebentar lagi akan dimulai. Pria itu duduk di kursi paling depan, tepat disamping seorang pria yang usianya lebih muda dari Liam.
Tidak lama Seaven pun ikut duduk di samping Liam yang diam seribu bahasa. Bahkan saat takziah di mulai dan nama Arumi di sebut Liam tidak memberikan reaksi apapun. Hanya duduk mendengarkan layaknya robot.
Usai menghadiri takziah, Liam langsung meninggalkan rumah orang tua Arumi tanpa menyapa siapapun, bahkan calon mertuanya sendiri.
"Nggak perlu menyalahkan tuan muda. Tuan muda juga pasti merasa kehilangan seperti kita hanya saja dengan cara berbeda," ujar Rocky-ayah Arumi ketika Cakra hendak mencegah Liam pergi.
"Rocky benar, Mas. Yang harus kita lakukan bukan menyalahkan tapi berada di samping Liam agar dia nggak semakin larut," timpal Liora mengelus lengan suaminya.
"Maaf menyela Tuan, bagaimana dengan pameran bu Arumi? Tuan Liam menyuruh saya untuk melanjutkan sesuai rencana. Apa saya harus menuruti ...."
"Turuti saja Sevia, putri saya menghabiskan banyak waktunya untuk pameran tersebut. Liam mungkin mau mewujudkan keinginan terakhir Arumi."
"Baik Tuan." Sevia menundukkan kepalanya dan meninggalkan kediaman orang tua Arumi.
....
jijik