Jhon, bertarung demi kehormatan di medan perang. mengalami penyergapan yang terpaksa membuatnya harus meledakkan kekuatan terakhirnya. Dia kehilangan ingatan, kehilangan kekuatan, kehilangan identitas, bahkan nyaris kehilangan segalanya. Dari Jenderal bintang lima, Dari seorang pewaris keluarga William, seketika berubah menjadi bukan siapa-siapa dan bahkan dianggap lebih buruk dari sampah.
Mampukah Jhon menemukan kembali kekuatan yang pernah dia miliki, mampukah Jhon kembali menemukan jati dirinya? Ikuti kisahnya dalam karya saya yang berjudul 'PEWARIS YANG HILANG 2'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edane Sintink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan lelaki tua
...Bab 20...
Jhon menghampiri lelaki tua itu lalu duduk di kursi yang tepat berada di samping lelaki tua tadi.
"Anak muda, siapa nama mu, dan apa nama keluarga mu?" Tanya lelaki itu tanpa nada sombong atau rendah hati. Tidak seperti satpam biasa yang ketika menghadapi seorang mahasiswa yang belum dia ketahui identitasnya, satpam tersebut akan berbicara dengan sopan dan hormat takut kalau-kalau perkataannya akan menyinggung seorang anak yang memiliki latar belakang kuat. Namun orang tua itu sama sekali tidak perduli dengan latar belakang orang lain. Bahkan walaupun dia membuka tutup barrier gate, sedikitpun dia tidak menoleh kepada siapa yang lewat seolah-olah dia menganggap yang lewat hanyalah angin saja.
"Nama ku Jhon. Dan aku tidak tau apa nama keluarga ku,"
Mendengar jawaban Jhon barusan, lelaki tua itu mau tidak mau kembali melirik ke arah pemuda yang baru dua kenal tersebut. Sesekali kening nya berkerut dengan tatapannya yang kadang menyipit kadang menajam.
"Darimana asal mu?" Tanya lelaki tua itu lagi.
Kali ini Jhon menghembuskan nafas berat tapi tetap menjawab juga. "Area pertanian!" Jawabnya singkat.
"Ada yang aneh dari diri mu anak muda. Apakah kau mengalami amnesia?"
Kali ini Jhon yang malah menatap tajam ke arah lelaki tua itu membuatnya merasa seperti ditatap oleh seekor harimau buas yang kelaparan.
"Pak tua. Kita baru kenal, tapi sepertinya anda dapat mengetahui keadaan saya dalam sekali pandang," Jhon sebenarnya tidak curiga. Lebih ke arah kekaguman saja. Lelaki tua itu bisa mengetahui tentang kondisi nya dalam sekali pandang saja, ini menandakan bahwa lelaki tua ini bukanlah orang sembarangan.
"Hehehe..," lelaki tua itu terkekeh menampakkan gigi-giginya yang sudah tidak lagi utuh. Lalu dia melanjutkan. "Bukannya aku hebat. Tapi dari jawaban mu, serta cara-cara mu sepintas orang akan dapat menilai bahwa ada sesuatu yang terjadi pada ingatan mu. Jika diperhatikan, tatapan mata mu nanar dan seperti ada sesuatu yang menggangu pikiran mu. Tapi aku tidak akan banyak bertanya. Aku hanya ingin tau, apa tujuan mu mendatangi ku?"
"Tidak ada yang terlalu khusus. Aku hanya berpikir bahwa untuk mendapatkan penghasilan, bagaimana jika aku juga bekerja sebagai satpam paruh waktu. Mungkin bisa di waktu malam atau selepas kelas ku selesai," jawab Jhon.
"Hmmmm. Kau memiliki kemauan. Sangat jarang ada anak muda di jaman ini yang mau menjadi seorang satpam. Aku lihat kau lumayan kuat. Apakah kau pernah berlatih ilmu bela diri?" Tanya lelaki tua itu. Bagaimanapun, mata tua nya dapat melihat kekuatan tersembunyi yang samar-samar terpancar dari tubuh pemuda lawannya bicara ini.
Jhon ragu-ragu menjawab. Dia tidak tau apakah dirinya tau bela diri atau tidak. Tapi setiap malam dia selalu duduk bersila sambil menerapkan metode semadi. Dia tidak tau apakah ini kebiasaan nya ketika sebelum kehilangan ingatan. Yang jelas, hal yang seperti itu seolah-olah sudah terbiasa dia lakukan dan itu mengalir begitu saja.
"Coba kau ulurkan tanganmu!"
Jhon menurut dan mengulurkan tangannya. Dalam hati dia berharap semoga saja lelaki tua itu bisa memberikan petunjuk. Andai tidak pun, dia tidak kecewa. Bagaimanapun, dia tidak terburu-buru untuk mendapatkan kembali ingatannya.
"Uuh..," tepat ketika jari lelaki tua itu menekan urat nadi di tangan Jhon. Dirinya seolah-olah seperti tersengat aliran listrik yang berkekuatan tinggi.
Dia dengan sengaja menyuntikkan energi untuk menelusuri titik-titik hawa murni dalam tubuh Jhon. Tapi yang tidak dia sangka adalah dirinya mendapatkan serangan balik yang nyaris membuat tangannya mengalami kelumpuhan.
Ketika aliran tenaga dalamnya memasuki tubuh Jhon melalui urat nadinya, secara alami tubuh Jhon memberikan reaksi secara spontan dengan perlawanan yang mendorong energi lelaki tua itu, membuat energi tadi berbalik dan menjadikannya seperti senjata makan tuan.
Pucat, namun dia segera menyembunyikan rasa sakit, kaget dan rasa takut di hatinya. Dalam hati dia bergumam, kekuatan ini bukanlah kekuatan biasa. Setidaknya, dia dapat menyimpulkan bahwa dulunya pemuda ini pasti lah orang kuat. Tingkat bumi jelas tidak. Apa lagi hanya batas tingkat pengumpulan energi. Ini jelas lebih tinggi bahkan berlapis-lapis. "Apakah anak ini seorang Grand master? Jelas tidak. Aku adalah seorang grand master. Tapi tanpa perlawanan dari anak muda ini, hanya tindak spontan dari tubuhnya pun mampu melukai ku. Tentu saja anak ini mungkin tingkat Raja. Di kota sekecil Canyon City ini, siapa yang memiliki tingkat Raja dengan usia yang sangat mentah seperti pemuda ini?" Mau tak mau lelaki tua itu berkelahi dengan pikirannya sendiri.
Yang tidak dia ketahui adalah, bahkan Jhon di masa jaya nya adalah seorang Jenderal kuat yang memiliki tingkat kultivasi bukan hanya di tingkat Raja, bahkan lebih tinggi dari tingkat kaisar. Tingkat transenden pun mungkin telah dilampaui olehnya. Di masa jayanya, bahkan pangeran Agung Utara yaitu Ryan Clifford pun berkali-kali dipecundangi olehnya ketika keduanya melakukan tarung tanding. Tentunya ketika kultivasi Ryan yang anjlok setelah di segel. Namun, walaupun tingkat kultivasi Ryan tidak tersegel pun, kemungkinan mereka akan berimbang tanpa ada yang kalah ataupun menang. Bagaimana lelaki tua itu bisa mempercayai ada orang yang mengerikan seperti Jhon ini. Andai dia mengetahui tingkat kekuatan Jhon, mungkin hari itu juga dia akan mati berdiri karena ketakutan.
Dengan penilaiannya, dia menyimpulkan bahwa Jhon ini pastinya anak jenius dari keluarga tersembunyi yang sengaja dilepaskan ke dunia sekuler untuk menimba pengalaman. Ingatannya sengaja di hapus untuk menjaga agar pemuda ini tidak memperlakukan orang-orang lemah di dunia sekuler ini semena-mena. Hanya itu yang bisa dia simpulkan. Dan sikapnya terhadap Jhon menjadi sangat hormat selain juga ada rasa takut.
"Pak tua. Apakah ada sesuatu yang kau temukan?" Tanya Jhon yang seketika membuyarkan lamunan lelaki tua ini.
"Eh. Tidak. Tidak ada yang aneh,"
Jhon mengernyit heran mendapatkan sikap lelaki tua itu menjadi aneh seperti sekarang ini. Tidak seperti tadi dan ini memaksa Jhon untuk bertanya dalam hatinya apakah lelaki ini sudah terlalu tua sehingga dia membutuhkan waktu istirahat. Namun Jhon terlalu malas untuk memaksa lelaki tua itu. Baginya biarkan lah. Kalau memang ada yang aneh, tentu saja lelaki tua itu akan menceritakan kepadanya tentang penemuannya.
"Anak muda. Jika kau membutuhkan pekerjaan, maka aku akan mencarikan pekerjaan untuk mu. Tapi ingat! Pekerjaan ini sedikit beresiko. Kau harus pandai berkelahi dan kau juga harus memiliki kesetiaan yang tinggi. Dedikasi pun tidak boleh diragukan. Jika kau siap dengan itu, maka aku akan menemui mu besok. Masalah upah, kau bisa menyebutnya dan aku akan berusaha untuk memenuhinya,"
Selesai berkata seperti itu, lelaki tua itu melenggang begitu saja meninggalkan Jhon yang tidak memiliki kesempatan untuk mengatakan iya atau tidak.