Lavinia Xerxes pergi dari Inggris menuju ke Amerika untuk mencari kakaknya yang tak ada kabar selama sebulan lamanya.
Hal itu membuat dirinya tinggal di apartemen sang kakak yang ditinggalinya bersama teman sekamarnya yaitu Rocco Robert yang sebenarnya adalah pemilik asli apartemen itu.
JANGAN LUPA FOLLOW
INSTAGRAM @ZARIN.VIOLETTA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
LavCo 33
Setelah sedikit tenang, Lavia mulai berpikir normal kembali.
"Apakah aku terlalu kasar pada Rocco?" gumamnya.
"Dia tak salah apa pun tapi aku meluapkan emosiku padanya." Lavia bermonolog.
"Hari ini dia ulang tahun dan aku bahkan memarahinya," bisiknya.
Lalu Lavia kembali keluar dari kamar dan melihat Rocco sedang membuat kopi di dapur.
Rocco yang melihat kedatangan Lavia, mendongakkan kepalanya.
"Ada apa?" tanya Rocco sambil mengaduk kopi panasnya.
"Sorry," ucap Lavia akhirnya.
"Ganti bajumu," kata Rocco dan berjalan menuju ke arah sofa ruang tengah.
"Aku akan tidur setelah ini jadi tak perlu kuganti. Ah ya, selamat ulang tahun. Maaf, aku tak tahu jika hari ini ulang tahunmu," ucap Lavia mengikuti Rocco ke ruang tengah.
"Terima kasih, tapi aku tak terlalu senang jika umurku bertambah tua. Sekarang, masuklah ke kamar dan jangan berkeliaran di depanku dengan baju laknat itu," kata Rocco.
"Baju ini tak terlalu buruk dan aku masih memakai baju, Rocco. Aku tak telanjaang, bukan?" sahut Lavia.
"Oh my ... Kau ...," ucap Rocco menggantung begitu melihat Lavia sudah ada di depannya lagi.
Pemandangan molek itu mulai merasuki mata dan otak kotornya.
"Aku cukup brengseek, Lavia. Masuklah ke kamar atau aku akan meraba-raba tubuhmu di sini," kata Rocco.
"Kau sudah pernah merabaku," jawab Lavia santai dan berjalan menuju kamarnya kembali.
Rocco menarik tangan Lavia dan membuat mereka kini saling berhadapan.
"Kau memancingku?" tanya Rocco dengan wajah yang sangat dekat dengan Lavia.
"No," bisik Lavia dan mendekatkan bibirnya pada bibir Rocco.
Kemudian Lavia mendorong dada Rocco dan memundurkan langkahnya menjauhi pria itu.
Lavia berjalan ke arah kamarnya dan Rocco baru menyadari bahwa bagian belakang baju itu sangat transparan hingga pria itu bisa melihat bokong Lavia dengan sangat jelas karena Lavia hanya menggunakan G-string di dalamnya.
Rocco melangkah maju dan merengkuh perut Lavia kemudian membawanya ke sofa dan melahap bibir merah itu.
Rocco merasakan rasa manis strawaberry di bibir Lavia dan itu justru membuatnya semakin lahao menguluum bibir Lavia.
Lavia menyambut ciuman itu dan melingkarkan tangannya di leher Rocco. Mereka saling berciuman hingga gaun tidur sutra yang dipakai Lavia semakin bergeser ke atas tubuhnya.
Rocco mengumpat dalam hati karena merasa tak bisa menahan nafsunya lagi.
"Aku tak bisa berhenti," ucap Rocco sembari menciumi leher Lavia.
"Aku tak menyuruhmu berhenti," sahut Lavia dengan nada suara yang menggoda.
Drrrttttt ... Drrrrtttt ...
Bunyi getaran telepon di meja membuyarkan konsentrasi mereka dan secara tidak langsung membunyikan kesadaran Rocco di otaknya.
Rocco menghentikan ciumannya dan menempelkan keningnya di kening Lavia.
"Kurasa aku sudah gila," bisiknya.
Lavia tertawa pelan dan mendorong tubuh Rocco dari atas tubuhnya.
Lavia tahu bahwa Rocco tak akan melanjutkan kegiatan panas mereka tadi dan Lavia tak masalah dengan hal itu.
Rocco mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu.
"Ya, Mom," sahut Rocco.
"Happy birthday, Sayang," ucap Velvet pada putra sulungnya itu.
"Thank you, Mom," jawab Rocco.
Lavia beranjak duduk dan membenarkan bajunya di depan Rocco.
Lavia bahkan menggoda Rocco dengan kerlingan matanya sebelum dirinya masuk ke dalam kamar.
Rocco mengumpat dalam hati karena merasa hasratnya tertahan akibat kesadarannya tadi.
"Bagaimana kabar Lavia?" tanya Velvet.
"Dia baik," jawab Rocco.
"Hubungan kalian?" tanya Velvet.
"Baik," sahut Rocco dengan jawaban yang sama.
"Perlukah mommy membatalkan pertunangan kalian melalui konferensi pers?" tanya Velvet.
"Tidak, jangan," jawab Rocco.