Rani Yuliana, harus merasakan kepedihan berumah tangga saat sang mertua ikut tinggal bersama mereka. Apalagi saat itu kondisi Ilham Hadiwijaya sedang tidak bekerja karena di PHK. Setiap hari Bu Rumiati memperlakukan Rina menantunya seperti seorang pembantu. Ilham sendiri diluar sana dia juga berselingkuh dari Rani
Apakah Rani bisa bertahan dengan kondisi rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RaRa69, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Entah sudah berapa lama Alvin dan Rani disekap dalam ruangan tersebut, selama itu pula Alvin tidak dapat berbuat apa-apa. Ia berusaha melepas ikatan di tangannya, bahkan tadi sebelum menutup pintu, para pria yang menyekapnya mengikat kaki mereka lebih dahulu.
Ditambah lagi, dengan kondisi Rani yang pingsan. Alvin sampai harus berteriak meminta pertolongan, tetapi tidak ada yang mendekati mereka. Di tengah situasi seperti ini tiba-tiba pintu depan didobrak hingga rusak. Dari balik pintu yang rusak tadi muncul sesosok pria berjaket hitam.
"Akhirnya ketemu juga." Ucap pria tersebut sambil mendekati Alvin dan membantu pria itu melepas ikatannya.
"Arman!" Alvin terkejut melihat siapa yang datang menolongnya, dia adalah Arman, sahabat sekaligus rekan bisnisnya.
"Bagaimana kamu bisa tahu kami ada disini?" Tanya Alvin sambil beralih membuka ikatan tangan Rani yang masih pingsan.
"Kamu masih pakai jam tangan itu, kan?" Bukannya menjawab Arman malah bertanya balik pada Alvin.
Alvin lantas melirik jam tangan yang dipakainya, jam tangan berwarna hitam itu mereka pesan dari luar negeri. Edisi terbatas dengan fitur canggih, salah satunya bisa mendeteksi keberadaan si pemakai. Ada lampu berwarna merah yang akan berpendar jika pemilik lain mencari posisi pasangannya. Alvin lupa kalau Arman bisa mengetahui posisinya sekarang lewat jam tangan ini.
"Oke, yang lain kita bahas nanti, sepertinya kita harus menolong wanita ini."
Arman membantu Alvin mengangkat tubuh Rani, pria itu terkejut saat wajah Rani menghadap ke arahnya.
"Rani!" Ucap Arman lirih, tanpa menunggu lagi ia dan Alvin membawa tubuh Rani keluar.
Sesampainya di depan sudah banyak polisi, mereka menangkap pria-pria yang menyekap Alvin dan Rani. Rupanya Arman lebih dahulu menghubungi polisi setelah menemukan mobil Alvin di terparkir di tepi jalan yang sepi dengan kondisi pintu mobil terbuka. Ia lalu menyalakan sistem pencarian di jam tangannya yang terhubung dengan ponsel, dan menemukan lokasi Alvin.
Alvin menyerahkan Rani kepada Arman, dan dia mencari keberadaan Ananta. Alvin menemukan sang putri digendong seorang polisi, gadis itu menangis mencarinya. Sementara itu Karina juga ikut diamankan, ia masih berada di lokasi saat penggerebekan berlangsung.
***
Rani membuka matanya dan mendapati dirinya berada di ruangan serba putih, matanya megerjap sekali lagi untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Benar, ia masih berada di ruangan serba putih tadi. Rani ingin bergerak untuk bangun, tetapi lengannya ditahan oleh seseorang.
"Jangan bergerak dulu, istirahatlah." Pria itu, Arman, melarang Rani untuk bangun.
Rani mengernyitkan dahi, ia tidak mengenal siapa sosok yang ada di hadapannya ini.
"Si-siapa, Anda?"
Arman memperhatikan wanita itu sesaat, "aku temannya Alvin." Jawab pria itu tanpa mau menyebutkan namanya.
Mendengar nama Alvin ia jadi ingat tentang kejadian yang menimpa merek sebelum dia pingsan.
"Dimana mereka?" Rani hendak bergerak lagi untuk bangkit dari tempat tidur.
"Mereka baik-baik saja." Jawab pria itu dengan tenang.
"Ananta?" Rani sebenarnya masih belum tenang jika belum melihat kondisi Ananta.
"Ananta baik-baik saja, dia sudah bersama ayahnya."
Rani mengangguk paham, "lalu bagaimana dengan Karina?"
Pria itu tak kunjung menjawab, ia malah menatap Rani semakin lekat. Membuat wanita itu bingung dibuatnya.
"Kamu masih saja mengkhawatirkan orang lain." Ucap pria itu yang membuat Rani bertanya siapa pria ini sebenarnya.
"Sebenarnya Anda ini siapa?" Tanya Rani memastikan.
"Sudah saya bilang kalau saya ini teman Alvin." Pria itu mengulang jawabannya yang tadi, dan itu membuat Rani tidak puas dengan jawabannya.
"Kenapa Anda berkata seperti tadi? Apa maksud Anda?"
Sebelum pria itu menjawab pertanyaan Rani, pintu kamar terbuka dan terlihat Alvin memasuki ruangan. Pria itu tampak baik-baik saja.
"Syukurlah kamu sudah sadar, bagaimana kondisimu? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alvin dengan raut wajah khawatir, sedang Arman melihat keduanya sambil menyilangkan tangan di dada.
"Saya baik-baik saja, Pak." Jawab Rani.
"Pak?" Tiba-tiba saja Arman menyela ucapan Rani.
"Iya, dia karyawanku di kantor, tetapi belakangan ini dia aku minta untuk mengurus Ananta." Jelas Alvin pada sahabatnya itu.
"Dari karyawan jadi babysitter?" Tanya Arman sambil menatap keduanya bergantian.
"Ya, seperti itu, karena Ananta ternyata bisa dekat dengan Rani."
"Oh, pantas saja Karina sampai marah."
Ucapan Arman membuat Alvin tidak terima, "hei, bukan begitu maksudnya, Karina aja yang udah bikin masalah." Ucap Alvin membela diri.
"Kalian sama-sama salah, sama-sama egois." Balas Arman sambil mengedikkan bahunya.
"Aku punya alasan, Bro, dan kau tahu itu."
Arman dan Alvin mereka memang sahabat dekat kuliah. Arman yang tumbuh di keluarga sederhana mengenal Alvin yang bersemangat dan selalu ingin tahu. Mereka bertemu saat sama-sama mendaftar sebagai mahasiswa. Kecocokan diantara keduanya menjadikan mereka sahabat, hingga lulus kuliah bahkan sampai sekarang.
"Oke, aku tahu, lebih baik kamu temani Ananta biar dia aku yang jaga." Arman mencoba memberikan solusi.
"Bagaimana keadaan Ananta?" Tanya Rani menyela perdebatan diantara dua sahabat itu.
"Dia baik-baik saja, dia juga nyariin kamu." Jawab Alvin.
"Kalian sudah sedekat itu?" Arman kembali menyela pembicaraan.
"Sudah kubilang, kan, tadi, kalau Tata dekat sama Rani." Alvin menjelaskan dengan sabar, ia sangat hapal sikap sahabatnya yang suka blak-blakan kalau bicara.
"Kamu nggak berniat menjadikannya mama baru buat Tata, kan, Vin?"
Pertanyaan dari Arman begitu menohok bagi Alvin, pria itu tidak bisa menjawabnya.
"Kalau iya memang kenapa?"
Suami dapat pembantu, Istri dapat boss ya🤣🤣
moga kak thor sukses selalu 😘😘
terbaiklah kak thor 👍👍