Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DISNEY LAND
"Sini," ujar Owi menarik tangan Kya menuju ke toko souvenir di area Disney Land. Papa dan mama sedang asyik berfoto, pun dengan Adit yang juga mengekor Kya dan Owi hanya saja jaga jarak. Adit hanya melihat saja bagaimana sikap Owi pada sang adik, ya anggap saja penilaian sebelum nanti ada perubahan status pada Kya dan Owi.
"Cantik," ujar Owi memasangkan bando Minne Mouse di kepala Kyara, tak lupa ia memotret Kyara, mana Kya juga berpose imut lagi. Adit pun dari kejauhan tersenyum tipis, melihat keceriaan Kya memang dia terlahir sebagai princess tak patut disakiti oleh siapa pun.
Owi sendiri juga membeli bando Mickey Mouse, mereka berselfie seolah lupa kalau ke wisata ini bersama orang tua dan Adit, "Serasa dunia milik mereka berdua!" ujar Adit memotret keduanya secara diam-diam.
Adit pun keluar lebih dulu, khawatir diledek oleh sang adik mengekori dirinya. Ia bergabung dengan mama dan papa yang lagi asyik makan churros. "Mana Kya?" tanya papa.
"Beli bando couple sama Owi!"
"Tenang ya Mas, jadi nyamuk kita sementara," ledek mama sembari menepuk pundak si sulung. Adit hanya melengos saja. Baru kali ini dia jomblo, dan merasa kesepian di tempat seramai ini.
Saat berfoto bersama Owi kadang tak enak kalau diajak papa Kya, ia pun menolak dan papa tak memaksa. Owi sangat rela menjadi fotografer untuk keluarga gadis incarannya. Terlebih Kya begitu antusias saat minta foto sendiri, bahkan Owi sampai menjadi pengarah gaya. Tak lupa ia minta foto berselfie dengan Kya, meski ada syarat tak ada pikiran kotor saat menyimpan foto Kya.
Gara-gara keceplosan, Kya harus waspada pada tingkah Owi, takut disalah gunakan. Saat menonton pertunjukkan pun, Owi selalu di samping Kya, dan dilihat oleh kedua orang tua Kya. Papa dan mama melihat Kya sendiri juga nyaman dengan Owi, tak ada jaga image, saat Owi berbisik pun, Kya spontan menabok lengan pemuda itu, hingga keduanya terkikik geli.
Sebagai orang tua, papa tak mau mengulangi kesalahan seperti Bagas dulu, tak akan dibiarkan Kya pacaran lagi, dan waktu makan siang pun dipakai papa untuk mengobrol serius tapi santai tentang hubungan mereka.
"Kalian ini yakin hanya teman?" tanya mama sudah kongkalikong dengan papa untuk segera mengetahui kedekatan Kya dan Owi. Adit hanya berdehem, melirik sebentar pada Owi, lalu tersenyum. Merasa pemuda itu akan disidang oleh kedua orang tuanya. Tapi Adit juga mengakui kalau Owi punya keberanian yang patut diacungi jempol, mau dengan Kya, juga mau menjalin kedekatan dengan keluarga gadis itu. Salut.
"Mama apaan sih," Kya mengelak. Sedangkan Owi masih diam saja.
"Diam dulu, Dek. Mama dan papa ingin dengar jawaban Owi." Tentu saja Owi mendadak menahan nafas, dipandang oleh orang tua Kya, dan serius begini bikin keder juga.
"Lagi makan juga. Owi gak bisa nelen nanti!" masih saja Kya cerewet, spontan bibirnya dibungkam oleh Adit.
"Diam!" ujar Adit, lalu melepas bungkamannya, Kya jelas menabok tangan si kakak, dan cemberut. Owi melirik Kya, khawatir kalau dia jujur, Kya malah gak suka.
"Gak usah takut dengan respon Kya. Justru mama dan papa lebih lega dengan status kalian. Apalagi, Kya pernah di PHP oleh Bagas, yang jelas melukai kita semua," ujar papa membuat Owi semakin tegang.
"Hem, sebenarnya," Owi maju mundur untuk jujur, apalagi tangan Kya menepuk lengannya, seolah memberi tanda untuk tidak menjawab.
"Kya, tangan kamu gak usah usil. Biarkan Owi jujur!" mama gemas pada si bungsu.
"Maaf, Om, Tante, dan Mas Adit. Sebenarnya saya sudah mengakui kepada Kya terkait perasaan saya. Memang saya ingin menjalin hubungan lebih dari sekedar teman," ucap Owi sedikit takut, bahkan ia tak berani menatap wajah kedua orang tua Kya, hanya menunduk saja. Kepercayaan diri sebagai atlet nyungsep seketika.
Papa tersenyum, "Sudah papa duga!"
"Pa, tapi Kya," Kya spontan berhenti karena papa memberi isyarat jari telunjuk di bibir beliau. Pasti si bungsu akan mengelak, padahal interaksi mereka sudah menunjukkan lebih dari teman.
"Sebagai orang tua, papa tidak akan mengizinkan Kya pacaran kembali, Wi. Selain memang gak boleh sama agama, pacaran juga buang-buang waktu. Apalagi cinta saat pacaran itu cinta yang paling rendah levelnya."
"Iya, Om. Owi tahu."
"Sekarang papa tanya sama Kya dulu, kamu gimana dengan Owi?"
Kya diam, hatinya masih ingin sendiri. Trauma saja punya hubungan dengan atlet. "Kya hanya menganggap Owi sebagai teman, Pa. Kya masih trauma dekat dengan pria. Apalagi Owi berteman dengan Bagas, sempat khawatir dia punya sikap yang sama dengan Bagas. Maaf ya, Owi!" ucap Kya jujur, memang ucapan ini sudah Owi dengar sebelumnya, dan sekarang dipertegas di depan papa dan mamanya.
"Cinta bertepuk sebelah tangan nih!" si kompor Adit, mencairkan suasana tegang di antara mereka. Papa tersenyum saja.
"Iya, gak pa-pa kok Kya." Papa tertegun dengan jawaban Owi seperti tak ada usaha untuk membuktikan kalau dirinya berbeda dengan Bagas. Apa mungkin tahapannya masih kagum saja.
"Memang kamu merasa mirip sama Bagas, Wi?" tanya Adit. Owi hanya tersenyum.
"Kami memang berteman saat SMA bahkan mengambil jalur karir yang sama, secara prinsip dalam karir mungkin sama, tapi kalau secara karakter saya merasa berbeda sih Mas."
"Kalau menurutku sih kamu beda dengan Bagas," sambung Adit sok tahu, bahkan Kya saja mendumel pada Adit yang berpihak pada Owi.
"Bedanya apa, Mas?" tanya mama.
"Dia lebih ramah, dan tahu diri lah. Kalau mau dekat dengan perempuan sekalian saja kenal dengan keluarganya. Bagas kan enggak, sama aku aja mana pernah ngobrol hanya mengangguk saja."
Kya diam, terlalu banyak cela Bagas di mata keluarganya. "Bahkan papa sendiri mungkin sudah bisa menilai Bagas dan Owi seperti apa kan, Pa."
"Ya pastilah. Papa gak pernah ajak Bagas ikut liburan sama kita."
Owi hanya tersenyum saja, ia paham orang tua Kya bukan maksud membandingkan dirinya dengan Bagas, hanya mengungkapkan perbedaan saja. Terlebih kalau untuk menyeleksi siapa yang pantas mendampingi Kya, tentu ada patokan dalam penilaian beliau, dan tak dipungkiri Owi masih di atas Bagas.
"Kita sebenarnya tidak memaksa Kya mau sama siapa, asal gak usah pacaran. Ya niat papa kalau memang kalian sama-sama mau, mumpung kita di sini, ya sekalian saja nikah!" Kya dan Owi langsung tersedak kompak, mama dan Adit tertawa. Ditodong begini siapa coba yang tidak kaget.
"Papa!" protes Kya.
"Lah kenapa? Kalian sudah kenal sejak SMA, papa kira gak usah adaptasi lagi, ngapain tunggu lama-lama, malah bikin dosa baru saja. Langsung nikah saja!"
"Siap, Om!" jawab Owi gentle. Kya langsung menatap horor pada Owi.
"Dih, kamu mah kebelet kawin emang," ucap Kya tak suka hingga yang lain tertawa melihat responnya.
badai pasti berlalu