NovelToon NovelToon
Nikah Dadakan Karena Salah Alamat

Nikah Dadakan Karena Salah Alamat

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika yang bekerja sebagai kurir harus menerima pernikahan dengan yoga Pradipta hanya karena ia mengirim barang pesanan ke alamat yang salah .
Apakah pernikahan dadakan Cantika akan bahagia ??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paksaan demi uang

Pukul 15.00, Desa Tridatu

Udara sore di Desa Tridatu ,yang dingin setelah hujan , biasanya tercium aroma bunga Kamboja yang di tanam di pemakaman desa setempat tercium hingga sampai ke pemukiman warga .

Namun, sore itu, yang tercium oleh Cantika hanyalah bau anyir keputusasaan. Panas matahari yang membakar kulit terasa sejuk dibandingkan dengan hawa kemarahan dan ancaman yang memancar dari rumah gubuk reyot yang ia sebut rumah.

Lastri, ibu tiri Cantika, berdiri di ambang pintu kamar kecil Cantika. Postur tubuhnya yang besar hampir memenuhi kusen, matanya yang kecil dan tajam menyapu penampilan Cantika dari atas ke bawah.

Cantika mengenakan kebaya lusuh berwarna krem yang dipaksa dipakainya, warisan dari mendiang ibunya. Lastri memaksa Cantika berpakaian 'layak pengantin ' karena sore ini adalah sore yang penting,yaitu pernikahan Cantika dengan tuan tanah di desa itu .dengan antusiasnya Bu Lastri mendadani Cantika .

“Sudah rapi, Cantika? Jangan cemberut begitu. Pasang wajah yang manis. Juragan Somad itu tidak suka melihat gadis yang tampak seperti mayat hidup,” ujar Lastri,

suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah. Ia meludah ke samping, lalu menyeringai.

“Kau tahu, Cantika, hidupmu akan berubah. Kau akan tidur di kasur empuk, makan nasi putih bukan lagi nasi tiwul Semua itu berkat aku, ibumu!”

Cantika menatap bayangan dirinya di cermin buram. Wajahnya, yang memiliki tulang pipi tegas dan mata teduh warisan almarhum ayahnya, kini dilingkupi selubung ketakutan yang dingin.

Lastri sudah dua tahun menjadi wali asuhnya sejak ayahnya meninggal karena sakit keras. Dua tahun itu pula Cantika harus menahan caci maki dan bekerja seperti budak, mencuci piring, menyapu lantai tanah, dan mencari rumput untuk kambing tetangga demi sesuap nasi. Lastri tak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengingatkan Cantika bahwa ia adalah beban.

Lastri menghampiri Cantika, tangannya yang kasar menjambak rambut Cantika pelan, memaksanya menoleh. “Juragan Somad itu sudah memberikan uang muka yang cukup untuk aku membeli cincin baru dan melunasi utang-utang bapakmu yang bodoh itu! Kau harus patuh. Kau bukan lagi anak manja yang bisa memilih hidupnya sendiri.”

“Aku tidak mau, Bu. Aku mohon,” bisik Cantika, mencoba melepaskan diri. Suaranya serak karena ia sudah menghabiskan malam-malam terakhir dengan menangis diam-diam di bawah selimut tipisnya. “Aku bukan barang yang bisa Ibu jual. Aku mau kuliah, aku mau kerja. Aku mau hidup normal.”

Lastri tertawa terbahak-bahak, tawa yang terdengar mengerikan seperti gesekan batu yang memecah kaca. “Kuliah? Di mana? Dengan uang siapa? Kau pikir hidup ini dongeng? Kau tidak punya apa-apa, Cantika! Kau yatim piatu, tidak punya harta warisan, dan satu-satunya hartamu adalah wajahmu yang lumayan ini!” Lastri mencengkeram bahu Cantika kuat-kuat. “Kau harusnya bersyukur ada pria kaya seperti Juragan Somad yang mau menikahimu. Dia juragan tanah, pemilik separuh Desa ini ! Kau akan jadi nyonya besar! Daripada kau berakhir di jalanan, menjadi gelandangan rendahan!”

Cantika menggigit bibir bawahnya hingga terasa darah. Lastri benar tentang satu hal: dia tidak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Ayahnya adalah satu-satunya pelindungnya. Namun, menyerahkan diri kepada Juragan Somad,pria tua dengan perut buncit dan mata keruh yang selalu menatapnya dengan pandangan menjijikkan,adalah akhir dari segala mimpinya.

“Aku Nggak mau menikah dengannya , lebih baik jadi gelandangan, Bu. Aku mohon, batalkan saja…”

Plak! Plak!!

Tamparan Lastri terasa pedas, panas, dan memekakkan telinga. Cantika tersungkur ke lantai. Kepalanya terasa berdengung. Lastri, yang memang terkenal cepat naik darah jika urusannya dengan uang diganggu, mencengkeram lengan Cantika, menariknya berdiri dengan kasar.

“Cukup! Aku bilang diam, kau diam! Sebentar lagi Pak Lurah dan Juragan Somad akan datang untuk acara ‘pinangan’ sekaligus ‘penyerahan’ ini. Kau hanya perlu diam, tersenyum, dan menerima cincinnya.

kamu Mengerti?” Bentak Lastri. Lastri menyadari tamparannya meninggalkan bekas merah di pipi Cantika, membuatnya panik. Ia segera merapikan rambut Cantika yang berantakan. “Jangan sampai Juragan Somad melihat ini! Kau harus cantik, Cantika! Kau adalah kunci uangku!”

Lastri segera mengunci Cantika di dalam kamar dari luar.

Ia bergegas keluar untuk menyiapkan teh dan penganan yang ia beli dari hasil uang muka Somad, bersiap menyambut ‘calon besannya’.

Di dalam kamar yang sempit, gelap, dan berbau apek, Cantika duduk meringkuk. Keputusasaan menenggelamkannya. Ia mendengar suara Lastri berceramah riang kepada tetangga yang datang membantu menyiapkan acara. Lastri sudah mengumumkan pernikahan ini ke seluruh desa, menjadikannya fakta yang tak terhindarkan.

Tapi, saat itulah, kilasan kenangan muncul. Wajah Rani, sahabat karibnya sejak kecil, muncul di benaknya. Rani, yang pindah ke Jakarta setelah lulus SMA dan kini sukses bekerja di katering ternama.

Cantika teringat janji Rani saat terakhir kali mereka bertemu, setahun lalu. “Jika kau merasa Lastri keterlaluan, Cantika, jangan pasrah. Kabur! Hubungi aku. Jakarta selalu punya tempat untuk orang-orang yang berani lari.”

Cantika merangkak ke bawah kasur busa tipisnya. Ia mengambil pisau dapur kecil yang ia sembunyikan di sana, benda tajam itu terasa dingin di tangannya yang berkeringat. Ia menatap jendela kamarnya. Jendela itu kecil, terbuat dari terali kayu yang sudah lapuk dimakan rayap.

Inilah satu-satunya kesempatan. Sekarang atau tidak sama sekali.

Dengan hati-hati, ia mulai mengungkit engsel dan paku-paku yang menahan terali. Kriuk. Kriuk. Suara gesekan kayu itu terasa memekakkan di telinga sunyi malam. Ia harus berhenti setiap kali mendengar suara Lastri atau tamu lain yang mendekat. Jantungnya berdebar kencang, seolah siap meledak dari dadanya. Ia memaksakan setiap tetes kekuatannya untuk pekerjaan ini. Kekuatannya bukan lagi berasal dari otot, tapi dari tekad untuk hidup bebas.

Setelah satu jam yang terasa seperti setahun, terali itu akhirnya terlepas. Cantika menarik napas lega, merasakan udara dingin malam menyentuh kulitnya. Lubang jendela itu sempit, hanya cukup untuk tubuh rampingnya. Ia memasukkan beberapa helai pakaian, dompet kosong, dan pisau kecil itu ke dalam tas ransel lusuhnya, lalu menyelinap keluar.

Ia merangkak melewati ladang jagung di belakang rumah, menghindari jalan utama. Tubuhnya bergetar, bukan karena dingin, tapi karena adrenalin murni. Ia tidak berani menoleh ke belakang, takut melihat cahaya obor dan mendengar teriakan Lastri yang sudah pasti menyadari pelariannya.

Ia berjalan cepat selama dua jam, menembus kegelapan dan keheningan, menuju terminal bus kecil di kota kecamatan. Kakinya lecet, tenggorokannya kering, tetapi dia terus berjalan, didorong oleh satu pikiran: bebas.

Pukul 03.00, Terminal Bus Kecamatan.

Terminal itu sunyi. Hanya ada satu bus malam yang tersisa, mesinnya berderu pelan, siap berangkat menuju Jakarta. Cantika menghampiri kondektur bus yang sedang merokok di samping pintu.

“Jakarta, Mas?” tanya Cantika. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.

“Ya, Neng. Tinggal dua kursi lagi. Kelas ekonomi. Dua ratus ribu,” jawab kondektur tanpa menoleh.

Cantika mengeluarkan semua uang yang ia miliki,semua tabungannya yang ia kumpulkan dari upah mencuci pakaian tetangga,tidak lebih dari dua ratus ribu rupiah, ditambah uang receh.

“Ini, Mas. Semuanya. Tolong…”

Kondektur itu menghitung uangnya, lalu merobekkan tiket. Cantika naik, meringkuk di kursi paling belakang. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Rani, hanya satu kalimat yang penuh makna: “Aku di jalan. Aku akan menemuimu ."

1
kartini aritonang
lanjut thor
kartini aritonang
Ghea siapa thor ?
Marlina Armaghan
smangat Thor. bagus
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
kartini aritonang
menyimak
MayAyunda: jangan disimak kak dibaca 🤭😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!