Jika langit punya pelangi untuk di banggakan, aku punya kamu untuk di perjuangkan.
Itulah kata terakhir yang di ucapkan Rain pada Rindu yang ternyata sudah memiliki jodoh di kampung halaman. Hatinya hancur berkeping tapi tekadnya tak luluh begitu saja.
Rain mundur bukan untuk menyerah, tapi ia membiarkan gadis kesayangannya itu menentukan pilihan.
Akankah Rain yang di pilih??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sampai di rumah Rindu, keduanya langsung turun dari mobil yang terparkir dekat garasi. Tapi sudah ada tiga mobil di dalamnya jadi tak memungkinkan Rain menaruh kendaraannya juga disana. Ada mobil Bani, mobil orang-tuanya dan juga mobil miliki orangtua Rindu yang masih ada tapi siapa saja yang memakainya.
"Mau langsung ziarah?" tanya Rain saat Rindu menatap lekat bangunan rumahnya yang nampak sepi.
"Iya, entah ada orang atau tidak di sana"
"Emang yang tinggal di rumah kamu itu orang?" ledek Rain sambil tertawa, dan itu sontak membuat Rindu menoleh lalu mendelik.
"Gitu-gitu juga mereka pernah baik, kamunya aja yang gak tau" sahut Rindu.
"Hem, yang pernah baik ternyata kalah ya sama yang selalu baik dan ada untukmu"
"Rain---"
Rain tersenyum simpul, dia begitu senang menggoda Rindu dengan sindiran sindiran halus agar gadis itu sadar lalu membuka matanya jika orang yang terikat janji dengannya itu adalah sebuah malapetaka dalam hidupnya kelak.
Rindu berjalan lebih dulu, sedangkan Rain hanya mengekor di belakangnya sambil terus menatap punggung Rindu yang pasti butuh sandaran yang nyaman.
Jalan yang di lalui gadis itu tak mudah, ingin mempertahankan miliknya namun harus mengorbankan perasaan. Tapi jika ia memilih perasaan, semua milik peninggalan keluarganya akan berpindah tangan pada orang-orang yang tamak.
"Kita baca dulu ya, Rin."
"Kamu bisa?" tanya Rindu yang nampak ragu dengan kemampuan Rain dalam berdoa.
"Ya salam!! baca doa beginian mah aku tutup mata, Rin. Udah di luar kepala dari kecil. Appa dan Amma aja lagi bahagia di sana karna selalu dapet doa dari cicitnya yang paling tampan ini" jawab Rain sambil terkekeh.
"Hebat! aku salut sama kamu."
"Harus dong, nanti mau ya kalau aku bacain Ar-Rahman pas abis ijab kabul?!
#Uhuk-uhuk
#GajahBatukKeselekIkanHiu..
.
.
.
Dalam doa yang di lantunkan oleh Rain, Rindu cukup hanya mengAamiinkan. Bait demi bayi itu terdengar begitu syahdu di tambah dengan angin yang menyejukkan. Rindu tak menyangka, anak manja yang menggemaskan itu ternyata bisa dan mampu dalam segala hal. Keluarganya mendidik Rain dengan sangat sempurna.
"Semoga mereka tenang disana ya" ucap Rain di akhir doanya.
"Aamiin. Aku taburi bunga dan air mawarnya dulu, habis ini kita pulang ya, Rain" balas Rindu yang bangun dari jongkok nya.
"Kamu gak bisa pulang!" sentak seseorang dari arah belakang Rindu yang ia sangat kenal suaranya.
"Bani"
"Kamu akan tetap tinggal disini denganku. Kamu tak bisa mengingkari janjimu, Rin. Terlebih pada orang tua mu yang sedang meregang nyawa" tambah Bani mengingatkan dengan tangan melipat di dada.
Rindu hanya diam, ia kembali menaburkan bunga yang di belinya di salah satu pasar saat di jalan tadi.
Rindu tersenyum kecil saat kedua makam orangtuanya kini sudah cantik dan harum. Padahal saat ia datang begitu kotor oleh daun kering dan rumput liar yang baru tumbuh.
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu"
"Tentu" sahut Bani. Senyum seringai nya ia tunjukkan untuk Rain.
Rindu meminta waktu pada Rain untuk bicara sebentar dengan Bani, dan Rain mengizinkannya asal tidak di dalam rumah, Rain takut Bani akan memukul Rindu lagi.
Rain memilih menunggu di dalam mobil sedangkan Rindu dan Bani berbicara di sebuah kursi kayu tepat di bawah pohon durian.
Dari yang Rain lihat, Banu begitu kesal sampai memaki Rindu dengan nada tinggi juga umpatan kasar sedangakan Rindu masih nampak santai seakan sudah terbiasa.
.
.
.
Teruntuk Jodohku, Semangat ya berantemnya